Rumah di akhir jalan tak berujung

Cerita Pendek


Oleh Adji Subela

    Panas membakar. Terik. Tak ada terdengar suara orang-orang. Burung-burung  pun semuanya membisu. Dan jalan itu lurus membujur kaku menuju arah yang jauh sekali. Sepotong jalan tanah, sempit berdebu seolah tergolek tak berdaya didera siang jahanam.
    Rel kereta api yang sudah tak terpakai lagi di samping jalan pun tergeletak teramat kaku, seolah meluncur ke arah jauh tak terlihat, tak terduga.
   “Kak, aku haus…,” keluh si Kecil.
   “Sebentar Dik, sudah dekat tak jauh lagi..tahanlah,” kata Kakak membujuk.
   “Tak ada air minum, Kak? Aku haus sekali.”
   “Nanti ya Dik,” bujuk Kakak lagi. Ia sendiri pun merasa sangat haus, haus luar biasa. Tak ada air, tak ada rumah orang tempat ia hendak meminta air minum. Kakak teramat bingung. Hendak ke mana meminta air? Ke mana mereka akan pergi? Kakak tak tahu. Ia hanya akan berjalan ke arah mana saja, ke mana saja dua kaki kurusnya membawa pergi. Apa yang sudah pasti adalah mereka kini berjalan ke ujung jalan, ke ujung, berharap ada tempat indah di sana. Ada rumah besar, indah, sejuk, berhalaman luas serta rindang,dan orang-orang ramah menyambut keduanya.
   Lelah kini merambati tubuh mungil si Kecil, bibirnya pun kian kering seolah berkerak. Ia lalu berjongkok. Kakak pun menghentikan langkahnya ikut berjongkok.
   “Kak, kita akan ke mana?” Tanya si Kecil.
   “Kita akan ke rumah besar Dik. Di sana ada air putih, dingin. Juga ada buah-buah manis segar. Akan ada kue-kue. Orang-orangnya ramah, baik hati.”
Mata si Kecil menyorot harapan sekilas, lalu tunduk lesu. Haus mengeringkan semangatnya pula.
   “Tapi sampai ke mana Kak, masih jauh?”
   “Tidak Dik, kita harus berjalan sebentar lagi.”
Pandangan si Kecil pun mulai sayu, pandangan matanya kosong.
   “Adakah Ayah-Ibu di sana Kak?”
   “Mudah-mudahan ada Dik. Mereka akan menyambut kita.”
   “Kenapa Ayah-Ibu mendahului kita ke sana?”
    Sebentar Kakak gundah hendak menjawab pertanyaan si Kecil. Ia tak mampu mengeluarkan suara, hanya memandang jauh ke ujung jalan tak berakhir. Si Kakak pun kini mulai dicekau kesedihan yang sejak semalam ia usahakan ditumpasnya. Kini ia kalah. Ia benar-benar mengharapkan akan ada rumah besar betul-betul, berhalaman luas dan rindang, ada kue-kue dan buah-buah segar-manis. Tapi ia tahu benar belum tentu angan-angan itu bernyata dan malah ia pun yakin khayalannya benar-benar menipunya. Bahkan ke pada dirinya pun Kakak sudah tak percaya lagi, apalagi pada khayalan. Terlalu banyak ia memakainya dan sering pula ia ditipu khayalan itu sendiri.
    Ia merasa harus berjalan, meninggalkan gubuk tuanya. Satu tempat tinggalnya yang compang-camping mirip hidupnya. Kakak sudah tak mampu lagi menghidupi diri dan adiknya. Tak ada lagi umbi-umbi. Kermarau membunuh semuanya. Tak ada lagi air berlimpah, panas terik meghisapnya dalam-dalam.
   Dan hutan itu kian meranggas mengusir binatang kecil-kecil yang selama ini ikut menghidupi keduanya. Ayah dan Ibunya telah berangkat lebih dahulu ke tempat yang jauh dan tak terjangkau manusia hidup. Orang harus mati agar dapat mencapai tempat itu. Tapi Kakak tak mau mati. Ia ingin hidup. Adiknya harus hidup, harus tidak lapar walaupun perutnya sendiri harus mengalah. Si Kecil adalah adiknya. Satu-satunya, tak ada lagi kerabat. Mereka entah ke mana.
   “Adik harus hidup, aku lebih baik mati daripada melihatnya dia mati. Kelak aku ingin mati dulu sesudah adikku hidup senang, aku tak ingin merenggut rasa senangku itu, ketika melihat adikku jatuh sengsara hidupnya,” tekadnya dalam hari semalam ketika ia berencana hendak meninggalkan gubuk tuanya dan akan berjalan entah ke mana.
   Siksaan hidup telah membuatnya dewasa sebelum ia sempat akil balik.
   Kini mereka sudah jauh dari gubuk tuanya dan kebimbangan menindih hati Kakak. Apakah dia akan pulang kembali? Ke gubuk tua yang ingin ia tinggalkan dan lupakan? Ataukah hendak berjalan terus tanpa tahu akhir pengembaraannya!
   “Kak, aku lapar,” rintih si Kecil.
   “Kita berangkat lagi ya Dik? Di sana mungkin ada orang yang mau membagi kita makanan dan air mereka.”
   “Tapi aku lapar sekali Kak.”
   “Sedikit saja kita berjalan di sana aka ada rumah yang punya makanan enak-enak. Ada air sirup dingin, ada buah mangga, manggis, dan rambutan. Kamu mau?”
   “Mau, Kak, aku mau.”
   “Ayolah Dik, kita berjalan lagi ya? Sedikit lagi, sudah dekat barangkali.” 
   Dengan malas si Kecil berdiri lantas berjalan mengikuti Kakak. Jalannya kian pelan, tak ada lagi tenaga. Perutnya tak terisi sejak semalam. Rasanya sudah tak tertahankan lagi sengsaranya. Ia mulai merengek.
   “Tenang Dik, sabar, sebentar lagi. Lihat di sana ada semak-semak. Itu mungkin halaman rumah besar itu.
   Kaki si Kecil sudah tak tertahankan. Pegal-pegal, dan urat-uratnya mencengkeramnya lebih keras. Ia ingin menangis. Dan menangislah ia tanpa suara, kecuali isak-isak kecil. Jalannya pun melambat. Kakak memegang tangan kiri si Kecil dan membimbingnya pelan-pelan ke ujung jalan tanpa berketentuan itu.
   Air mata si Kecil sudah hampir habis, tinggal lelehan tipis yang menuruni pipi dekilnya. Dan air mata itu ia jilatinya, agar dapat menghisap air, sesedikit apa pun.
   Kedua makhluk Tuhan yang sedang sengsara itu meneruskan perjalanannya, satu pengembaraan yang mungkin saja sia-sia. Tapi hanya itulah harapan keduanya. Kesia-siaan tetap satu harapan yang harus diperjuangkan.
   Kakak pun kini mulai merasakan pegalnya kaki. Tapi ia harus berjalan membimbing adiknya, menuntunnya ke ujung jalan yang entah di mana. Si Kecil kian melambat langkahnya. Wajahnya kini betul-betul memuncratkan kesengsaraan tak terhingga. Isak-isak kecil sudah habis, air mata sudah kering.
   Panas kian membakar, melecuti rasa sengsara.
   Si Kecil akhirnya jatuh terduduk. Kakak berjongkok. Ia pandangi kedua mata adiknya. Satu pandangan kosong. Bahkan sirat permintaan pun sudah tak ada. Satu pandangan suci, tanpa rasa tanpa harap. Nafas si Kecil tersengal menghempas-hempas dari mulutnya yang makin mengering.
   Kakak tersedak hatinya. Ia pegangi, ia rabai wajah adiknya memakai kedua tapak tangan dengan lembut.
   “Jangan mati, Dik. Jangan mati. Di sana rumah besar menanti. Kakak ingin adik ikut menikmatinya,” bisik Kakak. “Di sana ada nyanyian Ibu yang ia lagukan ketika Adik hendak bobok. Nyanyian yang merdu Dik, merdu sekali.”
Ia pun merasakan ada bisikan lagu nina-bobok yang kerap mereka dengar menjelang pelukan lelap. Satu nyanyian ikhlas sepenuh hati, di bawah keremangan sinar rembulan dari celah-celah atap rumbia gubuk mereka. Dan Ayah terbatuk-batuk melipati pakaian anak-anaknya setelah kering ia cuci siang hari.
   Nyanyian itu kini terdenagr mendayu lembut merayu hati Kakak. Ia ingin adiknya ikut mendengar lagu itu, sama ketika Ayah dan Ibu ada.
   “Adik, kau dengar nyanyian nina-bobok Ibu? Dengar, beliau menyanyikannya dengan lembut, Dik. Kau dengar?”
   Sepi telah mencengkam begitu dalam. Bahkan suara unggas pun tak ada lagi. Angin pun tidak. Tapi nyanyian Ibu terus mendenging di kepala Kakak. Adik merapatkan kelopak matanya. Tak ada nyanyian. Sesedikit apa pun. Ia kian lemah, dan badannya jatuh di pelukan Kakak, yang mulai ketakutan bahwa adiknya akan mati. Mati sebelum melihat rumah besar dengan Ayah dan Ibu di sana menyambutnya, memberinya kue-kue lezat, sirup merah dingin mengembun di gelasnya. Dan buah-buahan itu!
   “Adik, Adik janganlah mati dulu. Ayolah kita berjalan lagi. Sudah dekat, Dik. Di rumah besar, ada Ayah ada ibu. Di sana ada kue-kue lezat. Dik, mau yang mana? Roti manis kesukaanmu dulu, yang diberi Bu Lurah? Ada Dik. Makanya jangan mati dulu, jangan mati dulu, jangan mati dulu….” harap Kakak dengan cemas, gelisah sejadi-jadinya. Si Kecil kian lemas, nafasnya ke luar satu-satu.
   Kakak pun kini mulai mengambang air matanya. Siang hari telah rembang. Panas kian kejam menyiksa tanpa ampun-ampunnya lagi. Ia kini benar-benar panik. Adik tak boleh mati. Kalau pun ia mati nanti, ia harus di tempat yang lebih baik dari gubuknya apalagi di tempat seperti ini. Ia tak boleh sengsara walau telah mati sekali pun.
    Si Kecil kian melemah, Kakak pun mengangkat badan adiknya ke punggungnya. Ia berdiri susah payah dengan menggendong tubuh kurus si Kecil. Terasa berat sebenarnya, tapi Kakak melupakannya.
   “Ia tak berat. Ia adikku, ia adikku, aku ingin bersamanya menuju ke rumah besar….rumah besar…. kue-kue lezat….buah-buah segar…..air sirup dingin…ya rumah besar..Ayah dan Ibu menanti aku dan adikku….ia adikku,” ia mulai meracau sambil berjalan terseok-seok menggendong Adik.
   “Aku akan ke rumah besar….ia tak memberatiku…ia adikku…kami akan ke rumah besar….,” katanya serak.
    Dari jauh terlihat makhluk kecil celaka itu berjalan terbungkuk-bungkuk di bawah serangan matahari yang panas ganas, dengan tubuh adiknya di punggungnya. Makin jauh berjalan meninggalkan tiupan debu kecil-kecil di belakangnya.
   Adakah orang yang dapat memberitahunya ke mana mereka harus pergi?

Selesai

Cerita pendek ini ditulis berdasarkan inspirasi lagu the Hollies, He ain’t heavy, he is my brother  dan secarik foto dua kakak-beradik milik Henry Prasetya, Mojokerto, Jatim, yang dipasang di status facebook-nya. Semoga Allah melimpahkan berkah dan rahmatNya kepada kita semua. Amin.

Rumah di akhir jalan tak berujung

Rumah di akhir jalan tak berujung ditulis oleh
10/10 based on 10 ratings from 10 reviewers
Ayo berkomentar dengan baik!
Komentar menggunakan sistem moderasi. Gunakan nama asli / alias untuk berkomentar, bukan judul post atau nama produk. Komentar dengan link mengarah ke post / produk mungkin tidak akan ditampilkan. Berkomentarlah dengan bahasa yang sopan, terima kasih.

0 comments:

Posting Komentar