Senyum Dikit 3

thumbnail
Persetujuan Utang

Kreditur: Lihat, kamu belum melunasi utang kepada saya selama setahun.
Sekarang kita ambil jalan tengahnya. Aku akan melupakan separuh utangmu, oke?
Debitor : Baik aku setuju. Aku juga akan melupakan separuhnya lagi.

Ssst 3

thumbnail
- Aktor sexy Hollywood, Brad Pitt, sebenarnya lulusan fakultas jurnalistik. Ia lebih suka memakai kostum ayam-ayaman di Hollywood dalam awal karirnya ketimbang menjadi wartawan. Ternyata ia melejit sebagai aktor.

- Leonardo DiCaprio yang banyak digandrungi cewek itu, mendapatkan nama depannya ketika sang ibu merasakan tendangan pertama kandungannya saat melihat lukisan karya Leonardo Da Vinci.

Resensi Buku 3

thumbnail
Menguliti Kebingungan Partai Golkar

Judul : Harmoko, Quo Vadis Golkar – Mencari Presiden Pilihan Rakyat Penerbit : PT Kintamani, Jakarta, 2009
Penulis : Nirwanto Ki S. Hendrowinoto, MA, dkk
Tebal : 224 halaman
Kertas : HVS 80 gram

Ini fakta sejarah. Seorang karikaturis dalam perjalanan karirnya melesat menjadi seorang Menteri Penerangan selama tiga periode berturut-turut dan kemudian menjadi Ketua Umum Golongan Karya lalu menjadi Ketua MPR/DPR.
Ini cerita mengenak Harmoko, orang Kertosono, Jatim, yang muncul menjadi takoh nasional yang cukup fenomenal.
Ia memimpin Golkar dan menjadi Ketua MPR/DPR di saat kritis yaitu masa gejolak penggulingan rezim Orde Baru tahun 1998.
Sebagai mantan orang nomer satu di Golkar, Harmoko tahu banyak mengenai organisasi politik tersebut. Dalam bukunya terbaru, Harmoko, Quo Vadis Golkar – Mencari Presiden Pilihan Rakyat, ia membeber sejarah Golkar yang ia sebut sudah eksis sejak Proklamasi Kemerdekaan 1945 dulu.
Dalam buku yang ditulis Nirwanto Ki S. Hendrowinoto dkk ini, seniman Senen tersebut ia membagi tulisannya dalam dalam 6 (enam) Bab. Judul yang dipakai nampaknya untuk memanfaatkan momentum Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009 ini serta kekalahan Golkar yang “memilukan” dalam Pemilihan Legislatif sebelumnya. Harmoko terlibat dalam Golkar sejak 1964, yang waktu itu bernama Sekretrariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar) lewat Sentral Organisasi Kekeryaan Swadiri (SOKSI) pimpinan Soehardiman. Ia bercerita, dalam 10 tahun terakhir Golkar kehilangan sosok bapak, kehilangan roh, dan sepi dari rasa senasib sepenanggungan. Harmoko yakin ini akibat harakiri politik elite pimpinannya dan terjadi praktik semacam money politics (Hlm 211-212).
Analisis mau ke mana Golkar dipapar dalam dua setengah halaman (Hlm 213 – 215), sedangkan ‘masa depan’ partai itu ada di lima halaman berikutnya.
Partai pohon beringin itu dilihatnya mulai layu dan perlu reconditioning, agar dapat memenangkan pemilihan-pemilihan berikutnya.
Penulisan buku ini jauh lebih bagus ketimbang buku tentang Harmoko sebelumnya, Berhentinya Soeharto Fakta dan Kesaksian Harmoko (PT Gria Media, Jakarta, 2007). Alur cerita lancar. Tapi bagi pembaca yang cerewet, masih dapat menemukan flaws seperti inkonsistensi ejaan, dan kesalahan kecil lainnya.

Mutiara Hati

thumbnail
Mutiara Hati
Memoar H. Barkah Tirtadidjaja
Oleh Adji Subela

Bagian Ke 2

Ternyata pertahanan saya pun akhirnya goyah juga. Ketika petang itu masih termangu-mangu di belakang kemudi jeep hendak ke mana saya mau pergi, tiba-tiba ingatan melayang pada sebuah keluarga yang belum saya kunjungi. Aduh, alangkah salahnya saya ini. Keluarga itu amat sangat terkenal, terhormat, dan kharismatik. Di masa lalu keluarga ini menjadi sesembahan rakyat Melayu, kaya raya, dan berpengaruh. Mereka memiliki istana yang indah di Langkat, sekitar 30 kilometer dari Medan ke arah barat daya. Akan tetapi bila ke Medan, mereka biasa tinggal di sebuah rumah besar yang terletak di Jalan Yogya No.2. Dulu bernama Manggalaan. Ke sanalah saya hendak pergi. Lalu kunci starter jeep Willys saya putar dan mesin segera hidup. Tidak terlalu jauh letaknya tempat ini dari markas.
Rumah ini memang besar dan menjadi tempat tinggal di Medan bagi keluarga Sultan Langkat, Sultan Mahmud Abdul Aziz Abdul Djalil Rachmadsyah. Di sanalah saat itu tinggal Permaisuri Tengku Raudah binti al-Marhum Tuanku Al-Haji Muhammad Shah, serta kadang-kadang tinggal pula istri Sultan yang lain. Permaisuri Sultan Langkat adalah salah seorang putri Sultan Kualuh.
Sultan Langkat memiliki dua Istana yaitu di Tanjungpura serta satu lagi di Binjai. Sedangkan rumah yang ada di Medan ini tentulah megah sekali kala itu, dibangun agak tinggi dari halamannya. Di depan terletak beranda yang cukup luas untuk bersantai petang hari. Tapi kini, di mata saya, rumah kelihatan agak suram, senyap. Belum dua tahun berselang, keluarga ini dirundung musibah yang teramat berat untuk dipikul. Sultan mangkat di tahun 1948, karena menderita sakit. Sebelumnya, yaitu Maret 1946 Istana mereka diserbu gerombolan yang menamakan dirinya Front Rakyat, atau Volksfront, harta bendanya dijarah habis-habisan, termasuk intan sebesar 100 karat ikut raib. Mahkota serta perhiasan mahal-mahal lainnya pun lenyap, kursi kesultanan yang berlapis emas dijarah, benda-benda upacara yang umumnya terbuat dari emas dan banyak di antaranya bertahtakan intan berlian pun hilang. Sejumlah besar porselen serta barang-barang kristal juga dilarikan penjarah. Bermeter-meter ambal, permadani buatan luar negeri, juga dibawa. Bahkan kendaraan mereka yang sangat mewah di masa itu seperti Packard, maupun Maibach, dirusak. Putra menantunya, sastrawan besar pelopor Pujangga Baru, yaitu Tengku Amir Hamzah, yang belakangan diangkat sebagai Pahlawan Nasional, tewas pula. Putra Makota pun juga menjadi korban kerusuhan sosial itu, dan hingga kini tidak diketahui di mana dimakamkan. Dua tahun bukan waktu yang lama untuk dikenang, bukan pula waktu singkat untuk dilupakan. Keluarga tersebut saat itu boleh dikatakan remuk dalam kesedihan. Peristiwa itu amat menyayat hati mereka. Kemudian kehidupan keluarga besar Sultan Langkat amat bergantung kepada putri tertuanya, yaitu Tengku Kamaliah, yang juga istri almarhum T. Amir Hamzah.
Tengku Amir Hamzah lahir di Tanjungpura, Sumut, 28 Februari 1911. Beliau adalah seorang lulusan MULO di Medan, kemudian pindah ke Jakarta, setelah itu pindah ke Solo, Jateng, untuk mengikuti pendidikan di AMS (Algemene Middlebar School) bagian A atau Sastra Timur. Kemudian beliau meneruskan ke RHA atau Rechts Hooge School (Sekolah Tinggi Hukum) di Jakarta, dan lulus sebagai sarjana muda. Sastrawan ini turut mendirikan Majalah Pujangga Baru bersama dengan Armijn Pane dan Sutan Takdir Alisyahbana, yang kemudian mereka dikenal sebagai sastrawan Angkatan Pujangga Baru. Di kelompok ini, T. Amir Hamzah dikenal sebagai Raja Penyair Pujangga Baru.
Selain itu beliau juga aktif mengembangkan Bahasa Indonesia dan menjadi salah seorang motor Kongres Bahasa Indonesia Ke-1. Setelah kemerdekaan, suami Tengku Kamaliah ini diangkat sebagai Assisten Residen RI di daerah Langkat. Namun tokoh besar sastra ini menemui nasib yang mengenaskan. Beliau tewas di tangan perusuh dalam sebuah ‘revolusi sosial’ berdarah di Sumut tersebut, yang banyak memakan korban yang kebanyakan adalah keluarga para Sultan. Tengku Amir Hamzah diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1975 melalui SK Presiden RI No. 106/TK/1975. Di Jakarta, namanya diabadikan antara lain untuk sebuah mesjid di Kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), serta sebuah taman di daerah Matraman, Jakarta Pusat. Cerita tragis nasib penyair besar ini akan diungkapkan lebih lanjut di Bab Ketujuh.
Tengku Kamaliah adalah sosok yang teguh dan kuat. Almarhumah tidak lantas mendayu-dayu meratapi nasib keluarganya, tapi kemudian beliau turun gelanggang bertanggung-jawab terhadap kelangsungan hidup adik-adik serta seluruh anggota keluarga kesultanan lainnya termasuk ibu tiri serta putra-putri mereka. Beliau adalah seorang perempuan yang tangguh, lincah, serta memiliki bakat bisnis kuat. Tengku Kamaliah menjalankan bisnis otomotif bekerja sama dengan dr. A.K. Gani, Menteri Kemakmuran dalam Kabinet Sjahrir III (2 Oktober 1946 – 27 Juni 1947), Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet Amir Syarifudin I (3 Juli – 11 November 1947), kemudian kembali sebagai Menteri Kemakmuran Kabinet Amir Sjarifudin II (11 November 1947 – 29 Januari 1948). Selain berbisnis di bidang otomotif, Tengku Kamaliah juga menjadi penyalur gula pasir serta berbagai bahan pangan lainnya. Sebelum mengenal anggota keluarga Sultan Langkat lainnya, saya kenal beliau terlebih dahulu. Jadi petang itu saya bulatkan tekad untuk pergi ke keluarga mereka. Pada waktu itu saya tidak mengira bahwa kedatangan tersebut akan mengubah hidup saya hingga sekarang. Jadi kelihatannya itu kunjungan pertama dan yang paling penting buat saya, boleh dikatakan blessing in disguise, semacam berkah tersembunyi.

Artikel

thumbnail
Negeri Serba Terbalik

Oleh Adji Subela

Setujukah bila bendera nasional kita dibalik hingga persis milik Polandia? Atau nama negeri kita ini diubah menjadi Aisenodni, misalnya?
Masalahnya, apa yang tidak terbalik di negeri kita ini? Negeri paradoks kita memiliki segalanya yang serba tengkurap. Korupsi jelas diharamkan oleh agama-agama, dilarang oleh undang-undang, tapi nyata-nyata dilaksanakan dengan bangga. Tak ada yang malu disebut sebagai koruptor, dan tampil penuh percaya diri.
Seorang perampok menjawab pertanyaan pers dengan enteng, bahwa perbuatan kriminalnya ia lakukan karena terdesak kebutuhan akan Lebaran. Simbol agama ia pakai semau-maunya untuk melegitimasi kejahatannya. Di masa silam – yang lama dulu – orang pasti malu berbuat hal-hal seperti itu, tapi kini terbalik.
Di masa lalu – yang belum lama benar – apa yang dikatakan pemimpin sebagai “tidak”, berarti “ya” di dalam praktik. “Harga BBM tidak naik,” kata para pemimpin. Lalu tak lama kemudian harga minyak bumi betul-betul naik. Rakyat pernah dipaksa-paksa untuk melaksanakan Pancasila dan UUD 45 secara murni dan konsekuen, tapi dalam praktik “pelajaran” itu malah tidak dilaksanakan secara murni maupun konsekuen, mulai dari tingkat puncak hingga akar rumput. Dalam buku-buku serta sumpahnya, pejabat haruslah melayani masyarakat. Dari dulu hingga sekarang malah rakyat yang harus melayaninya.
Nasi goreng dan sate tak bisa dipisahkan dari nama Indonesia. Tapi remaja kita dari kota hingga ke desa-desa sudah akrab dengan pizza, spaghetti, fried chicken, donat. Alasannya, itu makanan global, kita hidup di era globlalisasi. Para remaja lupa, setiap gigitan mereka menggerogoti devisa kita, dan globalisasi juga bermakna penjajahan gaya baru. Bung Karno menyebutnya neo-kolonialisme.
Tempe adalah makanan khas Indonesia. Dunia mengakui makanan itu lebih baik dan sehat ketimbang junk foods yang dijual di gerai-gerai mewah. Tapi sekarang, apa pun mengenai teknologi pertempean, kita harus minta ijin Jepang sebagai pemegang patennya untuk mendayagunakannya. Terbalik lagi. Batik pun kini dimiliki orang asing yang tak punya tradisi membatik seperti kita.
Malaysia dikabarkan akan mematenkan kesenian angklung, padahal kesenian itu diperkenalkan tahun 60-an oleh seniman Jawa Barat ke negeri itu (Kompas, 9/11/06). Sedangkan kita semua, termasuk pemerintah, justru acuh tak acuh. Paling-paling berlagak mengamuk di belakangan hari nanti, tapi telat hingga menggelikan.
Negeri kita tepat terletak di garis katulistiwa. Sinar matahari berlimpah-ruah, tapi kita kesulitan energi. India mampu mempopulerkan kompor matahari, dan terbukti irit. Kompor matahari di sini tidak populer, dan kompor kertas yang dikenalkan di era 70-an juga “dicuekin”. Sebaliknya kita mengganti kompor minyak tanah pakai kompor gas, yang jauh lebih mahal. Industri kompor gas untuk sementara mendapat proyek dadakan, tapi rakyat miskin jelas takkan mampu bertahan mengantri Bantuan Langsung Tunai (BLT) sambil memasak pakai kompor mewah itu.
Mau tambah lagi? Boleh.
Di era 60-an, Thailand belajar ilmu pertanian ke negeri ini, tapi sekarang kita kebanjiran produk pertanian unggul dari negeri Gajah Putih itu, hingga ganti belajar ke sana. Di era yang sama Malaysia menimba ilmu perminyakan ke Pertamina, namun sekarang Petronas mampu menantang bekas gurunya yang harus ganti banyak mendaras ilmu dari mereka. Pada era 60-an itu juga, banyak guru Indonesia yang diimpor oleh Malaysia, kini mahasiswa kita ramai-ramai belajar ke sana, karena masih banyak guru di negeri itu, sedangkan di sini sekedar pengajar saja.
Almarhum Presiden AS John F. Kennedy punya slogan yang terkenal di seluruh dunia yaitu: “Jangan tanyakan apa yang bisa diberikan negara kepadamu, tapi tanyakan apa yang bisa kamu berikan kepada negara”. Di negeri kita, slogan itu berubah terbalik menjadi “Jangan tanyakan apa yang kamu berikan kepada negara, tapi ambillah apa yang negara punya”. Anggota DPR, DPRD, dan para birokrat dari tingkat atas hingga ke bawah pasti paham akan maksudnya.
Di era 50-an, kalau ada benda yang bertuliskan: Milik Negara, maka orang tidak mau mengganggu, malah ikut menjaganya. Logika sekarang harus terbalik. Begitu melihat atau mengetahui barang itu milik negara, mereka beramai-ramai menjadikannya “hidangan pesta”.
Di negeri-negeri lain, orang berusaha kuat-kuat untuk menyederhanakan organisasi, sedangkan kita ramai-ramai membangun lembaga ini-itu sampai ke tingkat desa dengan alasan macam-macam. Alasan pokoknya, masa reformasi harus dinikmati siapa saja dengan cara bagaimanapun pula, semua orang merasa berhak menyantap kue nasional. Semua orang gedean sudah, yang kecil tak mau jadi penonton saja.
Oleh karena masyarakat kita sudah diajari untuk berlogika serba terbalik-balik, maka orang yang berusia 50 tahun lebih tentu mengalami gegar budaya. Petuah, petatah-petitih yang mereka dengar di masa kanak-kanak, kini sungguh kebalikannya.
Warga yang berusia 30 tahun ke bawah, sudah total hidup dalam kondisi lingkungan serba terjungkir itu tadi. Oleh karenanya jika di masa gelegar reformasi dahulu ada usul untuk memotong satu generasi, maka lapisan umur mana yang harus “dipotong”? Mereka yang tua-tua tapi masih pernah tahu etika lurus, ataukah generasi yang tidak mengenalnya sama sekali tapi sudah terindoktrinasi konsep serba terjungkir seperti itu?
Minum Obat Secara Terbalik
Orang sering bertanya, lantas apa yang harus kita kerjakan agar Indonesia tetaplah sebagai bangsa dan negara yang memiliki tiga ukuran seperti yang ditanamkan oleh para pendiri bangsa dahulu yaitu: berdaulat di bidang politik, mandiri di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan?
Apakah kita membiarkan keadaan ini terus berkembang biak dengan risiko negeri kita hancur tak tersisa? Ataukah usaha itu harus dimulai dari sekarang? Dari mana, dari siapa dan oleh siapa?
Jawabannya tentu banyak sekali, karena jikalau di negeri lain orang bersemboyan: “Sedikit bicara banyak bekerja”, di negeri kita harus terbalik, yaitu: “Banyak bicara dipuja-puja, sedikit bekerja tak apa-apa”.
Indonesia kelihatannya harus menjalani masa nestapa ria berkelanjutan dahulu. Seorang budayawan, Ketua Badan Kerjasama Kesenian Indonesia (BKKI) H. Soeparmo mengatakan, bangsa ini harus menderita, compang-camping sampai titik nadir serendah-rendahnya, sehingga nantinya muncul generasi muda yang terpicu untuk bangkit membangun negeri. Itu kalau mereka sadar atau eling. Prof. Dr. Sardjono Jatiman (almarhum), sosiolog Universitas Indonesia, pernah berujar bahwa sepahit apa pun perjalanan bangsa, kita harus menerimanya karena ini proses untuk menjadi Indonesia sebenarnya.
Sebenarnya kita dapat manfaatkan sifat suka terbalik bangsa kita untuk menyembuhkan penyakit tersebut yaitu berupa “minum obat dengan cara terbalik”. Artinya bukan meminum obat dengan cara menggantung kepala di bawah, tapi berbalikan dari apa yang kita harus tuju. Mulai sekarang kita perlu menganjurkan untuk berkorupsi, melanggar hukum, melanggar aturan, hidup seenaknya, berselingkuh sedapat-dapatnya, menipu, dan sebagainya. Bukan sekedar anjuran, tapi sudah harus jadi doktrin nasional seperti yang kita alami di masa penataran Tubapi (Tujuh Bahan Pokok Indoktrinasi) di era 60-an serta Penataran Penghayatan dan Pengalaman Pancasila (P4) di dasawarsa 80-an dahulu!
Mudah-mudahan masyarakat akan berbuat sebaliknya sehingga mereka hidup normal dengan etika-etika lurus seperti yang diajarkan kitab-kitab suci, di dalam syair-syair pujangga, serta petuah-petuah orang tua kita. Mudah-mudahan cara pengobatan yang aneh ini manjur, karena selama ini tak ada lagi apa-apa yang mujarab. Persoalannya, orang yang menganjurkan “doktrin” itu akan ditahan, dituntut dengan tuduhan menganjurkan orang lain berbuat jahat, persengkongkolan jahat, hendak makar menggulingkan negara, dan lain-lainnya. Pasal untuk itu banyak sekali.
Apakah orang yang ditahan itu perlu berdoa agar praktik hukum terjadi sebaliknya? Boleh saja, sebab di negeri ini segala sesuatunya bisa saja terjadi, sebuah fenomena lainnya yang memusingkan kepala juga.

Ssst-3

thumbnail
- Aktor sexy Hollywood, Brad Pitt, sebenarnya lulusan fakultas jurnalistik. Ia lebih suka memakai kostum ayam-ayaman di Hollywood dalam awal karirnya ketimbang menjadi wartawan. Ternyata ia melejit sebagai aktor.

- Leonardo DiCaprio yang banyak digandrungi cewek itu, mendapatkan nama depannya ketika sang ibu merasakan tendangan pertama kandungannya saat melihat lukisan karya Leonardo Da Vinci.

Cerpen

thumbnail
Pria yang Diselamatkan

Oleh Adji Subela

Ketika aku berdiri di gundukan tanah ini, lalu menghadap ke arah timur, tampaklah olehku sejalur jalan tikus yang berliku-liku, naik turun, berkelit-kelit di antara gundukan tanah coklat serta semak-semak meranggas. Jalan itu mirip ular tanah yang menggeliat-geliat menghindari panas terik matahari. Panas sekali memang udaranya kala itu.
Kemudian ketika aku menoleh ke kanan, tampak olehku sejumlah pompa angguk yang mengisapi minyak dari kandungan bumi. Mereka memompai benda cair itu tak kenal lelahnya siang maupun malam, tak hirau akan hujan angin ataupun terik matahari seperti siang yang gersang ini.
Kacamata rayban-ku seolah tak mampu meredam ganasnya sinar surya tersebut, apalagi kerongkonganku pun mulai meronta minta dibasahi sesuatu minuman. Pelan-pelan aku turuni gundukan tadi kemudian kususuri jalan tikus yang mengular tadi, juga pelan-pelan. Bagaimana pun juga hawa hutan belantara masih juga pekat menyodoki hidung. Masih ada aroma segar yang bisa kuhirup.
Baru saja aku berjalan kira-kira sepuluh ayun langkah, tiba-tiba dari balik gundukan tanah kuning coklat dan semak-semak kering di sebelah kanan, muncul seorang anak perempuan yang masih berseragam SLTP, putih-biru. Di pundaknya tergantung tas kumal yang nampaknya penuh diisi buku-buku oleh yang empunya. Demi melihat orang asing berjalan di tempat tersebut, si gadis cilik itu terkejut dan menghentikan langkah serta menatapku dengan pandangan penuh curiga. Melihat sikapnya ini, maka tahulah aku bahwa tempat ini nampaknya tidak cocok buat seorang pria sepertiku, seorang pria muda berperawakan atletis, berkulit hitam manis dan bercelana jeans biru serta kaus oblong serta rayban bertengger di wajah halus ini. Segera aku tersenyum kepadanya sambil melambaikan tangan.
“Halo! Apa kabar dik, baru pulang sekolah?” tanyaku dengan suara yang kubuat seramah mungkin. Tiba-tiba di belakang gadis cilik itu muncul pula seorang budak laki-laki yang berseragam sekolah dasar. Anak ini tampak lucu. Rambutnya setengah gundul, wajahnya bulat, coklat berkilat-kilat. Matanya bulat dan penuh semangat.
“Dari mana Pak?” tanya si gundul itu kepadaku, mendahului kakaknya.
“Hai, oh, aku jalan-jalan dari kampung ujung sana,” jawabku sambil tersenyum ramah, supaya mereka tak takut atau curiga.
“Ukur tanah?” tanya si gundul lagi.
“Oh, tidak, tidak, hanya berjalan-jalan cari angin. Kalian baru pulang sekolahkah?”
“Iya, Pak, saya tunggu kakak lantas kami pulang lah sama-sama,” jawab di gundul sembari berjalan di sisi kananku. Kakaknya berjalan mengikuti dari belakang dengan wajah yang masih agak takut.
“Di mana kalian bersekolah?” tanyaku kemudian.
“Di sana Pak, di depan.........,” jawab si gundul sambil mengacungkan tangannya tinggi-tinggi guna menunjukkan bahwa sekolahnya itu jauh letaknya.
“Di Babusalamkah?”
“Betul, Pak.”
Aku kini paham. Tempat itu cukup jauh, kira-kira empat kilometer dari tempat sekarang kami berada. Itu kalau mereka pergi lewat jalan semestinya. Kedua anak ini kukira telah memotong jalan lewat perkampungan, rawa-rawa serta tanah tandus seperti yang ada sekarang ini. Hanya berdua saja di tengah teriknya siang!
“Kamu namanya siapa?” tanyaku kepada si kecil.
“Namaku Adi Pak! Ini kakakku namanya Lilis,” jawabnya dengan suara lantang. Gadis cilik itu tersenyum, malu-malu sambil menunduk.
“Kamu duduk di klas berapa Lilis?” begitu aku bertanya padanya, sambil menggandengnya pakai tangan kiriku.
“Klas satu, Pak, tahun lalu aku tinggal klas,” jawabnya.
“Kalau aku klas empat Pak, belum pernah tinggal klas. Aku pandai Pak, kakakku sedikit bodoh,” kata si gundul tanpa ditanya.
“Eeeeeee...banyak cakap kau! Rasakan nanti kau di SLTP. Di sana pelajaran sulit, tahu tak kau....,” potong kakaknya.
“Memang kau bodoh..ueeek....dia tak pernah mau belajar Pak, selalu dimarah Bapak!” teriak si gundul bersungguh-sungguh.
“Bohong dia Pak, dialah yang sering hendak dipukul Bapak karena sering lambat pulang.....benar tak?”
Aku ketawa.
“Sudahlah tak baik kalian bertengkar. Tak ada gunanya. Kalian bersaudara, jadi harus baik-baik, saling tolong-menolong....,” ujarku menghibur. Aku benar-benar menikmati kepolosan dan ketulusan anak-anak ini. Mereka tak malu-malu dan berterus-terang. Doaku, tentu, keteruaterangan itu mereka bawa hingga kelak jika mereka jadi orang penting di negeri ini.
Kami berjalan terus hingga sampai di sebuah pohon yang kebetulan daunnya agak rindang. Aku mengajak mereka untuk berteduh sebentar. Si gundul masih saja mengoceh mengenai sekolahnya. Katanya, tahun lalu sekolahnya libur seminggu karena atap bangunannya runtuh ketika turun hujan angin berjam-jam. Beruntung sekali mereka, karena kejadian itu berlangsung petang hari menjelang malam, hingga tak ada lagi murid-murid di sana. Sedangkan Lilis mengadu tentang sebagian gurunya yang jarang datang ke sekolah. Para guru itu, begitu tutur Lilis, suka mengajar di beberapa tempat lain.
Kukeluarkan sebungkus permen yang berisi sepuluh biji dari bermacam-macam rasa, lalu kutawarkan pada mereka. Si gundul menyambutnya dengan mata berbinar-binar sedangkan Lilis menerimanya dengan agak malu-malu. Terbayang pada wajah mereka kesenangan luar biasa mengulum permen yang murah harganya itu. Mengharukan memang.
Kami berjalan lagi dan beberapa saat kemudian melewati suatu tempat pembuatan batu bata milik ayah Adi dan Lilis. Segera saja keduanya berlari menghampiri ayahnya yang tengah memotongi gumpalan lumpur bahan pembuat bata.
“Pak, aku diberi permen Bapak itu! Kakak dapat juga!” teriak si gundul jenaka.
Ayahnya tersenyum padaku sambil mengangkat gumpalan tanah liat ke luar dari lubang pengadukan.
“Silakan, Pak!” ujarnya ramah.
Aku lulu duduk di sebongkah batu di bawah pohon kelapa yang tumbuh di tepi kubangan itu.
“Begitulah Pak, nakal ‘kali anak-anak nih,” ujarnya lalu melemparkan gumpalan tanah ke dekat seorang perempuan, istrinya. Perempuan itu pun tertawa sambil mengaduk gumpalan tanah pemberian suaminya lalu ditaruhnya dengan sedikit dibanting di sebuah cetakan batu bata. Tangannya yang kurus ternyata terampil menekan-nekan adonan itu ke dalam cetakan tersebut, lalu setelah ruangan-ruangannya terisi padat, ia potong bagian atasnya dengan sebilah kayu tipis. Ketika cetakan itu diangkat, maka ada sepuluh batang batu bata tercetak di bawahnya. Perempuan itu lalu membasuh cetakan batanya dengan air di ember, lalu siap mencetak lagi. Berulang-ulang ia melakukannya.
Bapak Adi lalu berhenti mengaduk tanah liat, lalu memanjat ke luar dari kubangan itu.
“Wah, maaf, Pak, tangan aku kotor ‘kali nih,” ucapnya.
“Tak apa-apalah Pak, namanya juga kerja ‘kan,” jawabku kemudian.
“Yah, beginilah Pak, kerja kasar. Banyak tenaga keluar hasilnya sikit. Mau apa lagi Pak, kami ini tak ada pendidikan, SD pun tak tamat kami nih.”
“Sudahlah Pak, yang penting ‘kan halal dan anak-anak baik-baik, sehat semuanya,” begitulah aku menghibur pria yang kuyakini wajahnya tampak jauh lebih tua daripada umur sebenarnya. Si Adi kulihat langsung melepas baju seragam sekolahnya, dan berganti dengan celana lusuh yang digantungkannya di pasak tiang gubuk pembuatan bata orangtuanya. Tak lama kemudian ia sudah sibuk membantu mengangkati bata yang sudah agak keras ke luar, ke tempat penjemurannya. Sedangkan kakak perempuannya lalu membuka bungkusan besar yang ternyata berisi sebuah bakul. Rupanya mereka bersiap hendak makan siang.
“Marilah Pak, kita makan seadanya. Bapak sudah datang jauh-jauh tentunya perlu isi tenaga dululah,” ujar Bapak Adi dengan ramahnya. Aku tahu persis, di saat seperti itu kita tak boleh menolak tawaran mereka. Itu sebuah penghormatannya kepada orang lain, sehingga kalau ditolak, mereka tentu bersedih hati, atau bisa saja bathinnya terluka.
Jadilah aku makan bersama mereka. Nasi pera yang sulit untuk dikunyah serta sayuran yang direbus dan diberinya berbumbu. Lauknya ada ikan sepat kecil-kecil yang dipanggang. Bapak Adi bercerita minyak goreng pun belakangan sudah mahal.
“Aneh Pak. Di Riau ini banyak ‘kali perkebunan kelapa sawit, tapi harga minyak gorengnya nih, mahal ‘kali. Bagaimana pula kita ini Pak?” tanyanya yang tentu aku tak mampu menjawabnya.
Sungguh, baru kali ini aku merasakan nikmat makan yang sebenarnya, selama aku tinggal di Riau beberapa pekan ini. Semilir angin membasuh badan dari panasnya matahari, dan suasana tulus ikhlas memberi bumbu yang sedap pada masakan sederhana ini. Kulihat Adi begitu lahap mengunyah makanannya, sedangkan kakaknya – seperti juga Ibunya – lebih halus dan sesekali melayani Bapak dan aku juga.
Air minum dituang Ibu Adi dari botol plastik bekas air mineral dan dituangkannya ke cangkir yang sudah patah gagangnya. Terus terang untuk ukuranku – pria muda yang sedang gila makan – jumlah nasi yang kutelan masih menyisakan ruang di dalam lambungku. Tapi tentu aku tak bisa menambah makan lebih banyak lagi, lantaran khawatir mereka berempat tak akan kebagian makan malam nanti. Air di daerah ini agak keruh, apalagi di musim kemarau seperti sekarang ini. Tentu saja orang akan menjadi maklum kalau tahu bahwa daerah ini termasuk wilayah Kelurahan Air Jamban. Namanya sudah begitu kumuh, sekumuh kehidupan di sana. Begitu sumpek, menyesakkan dada.
Apa pun wujudnya, air itu kuminum dengan nikmat. Masalahnya tak ada lagi air yang lain, apalagi memimpikan air mineral atau air soda di tempat seperti ini.
“Pak, kalau mau istirahatlah di gubuk kami, tak jauh dari sini, biar anak-anak yang antarkan,” ujar Bapak Adi.
“Oh, terimakasih Pak, saya masih ingin melihat proses pembuatan bata di sini,” jawabku.
“Silahkan sajalah Pak, mudah-mudahan tak kepanasan di sini.”
Ah, biar di sini atau di gubuk mana pun letaknya, Riau tetap menyediakan hawa panas yang merepotkan bagi orang yang datang dari daerah pegunungan sepertiku. Kota Duri sudah seperti oven dapur. Dari atas kita diteriki matahari yang tepat berada di atas ubun-ubun, karena tak jauh dari lintasan garis katulistiwa, lantas hawa panas pun seolah muncul dari tanah yang kita pijak. Banyak orang yang percaya bahwa udara panas juga muncul dari dalam tanah karena di wilayah ini banyak terdapat sumur minyak, jumlahnya sampai ribuan.
Setelah beristirahat barang sebentar sambil menikmati rokok kretek yang kusodorkan, Bapak Adi beberapa saat kembali terjun ke kubangan tempat tanah liat bahan batu bata diolah. Bapak Adi, sahabat baruku itu, bercerita bahwa tanah di daerah ini sebenarnya kurang bagus untuk batu bata. Tapi mau apa lagi? Orang seolah kehabisan akal untuk mencari sesuap nasi, bahkan untuk yang pera seperti yang baru saja kumakan tadi.
Tapi orang-orang di Air Jamban itu punya akal yang jitu. Daripada mengolah tanah dengan tenaganya sendiri, mereka memakai jasa kerbau supaya lebih hemat tenaga. Dua ekor kerbau – hewan yang punya hobi berkubang – dibiarkan menginjak-injak lumpur di dalam lubang tanah dan diatur agar mereka mengaduk-aduk lumpur itu supaya lebih liat. Untuk itu, pembuat bata menyewa kerbau-kerbau dari orang lain selama setengah hari dengan bayaran tertentu.
Setelah liat, tanah itu diinjak-injak lagi sebentar oleh yang empunya lubang, kemudian bahan batu bata itu diangkat dan dicetak. Kalau cuaca sedang kering dan panas, maka dalam tempo dua hari batu bata itu siap untuk dibakar selama kurang lebih sehari semalam. Jika bata sudah matang, pembuatnya membiarkan dagangannya menumpuk sampai ada tengkulak datang menawarnya.
Paling-paling mereka mendapatkan uang sekitar sepuluh ribu rupiah per hari. Dan itulah biaya hidup Bapak Adi sekeluarga. Kalau hujan mengguyur daerah itu berhari-hari, maka sudah tak dapat disangkal lagi, mereka tak mampu membuat batu bata, tak akan ada penghasilan. Lantas hidup bertambah berat lagi serta godaan semakin besar.
“Berat, Pak. Kalau tak kuat-kuat nih iman, ikutlah kami dengan teman-teman kami yang sesat itu,” ujar Bapak Adi, beberapa waktu kemudian setelah berhenti mengangkati tanah liat.
“Yah, banyaklah Pak, teman-teman yang tergoda mencari besi-besi buat dijual,” ujarnya lagi. Ia menunjuk ke pompa-pompa minyak yang mengangguk-angguk bergantian.
Di sana, katanya ada logam-logam yang bisa diambil lalu dijual per kiloan kepada tengkulak yang datang ke sana. Ada kabel-kabel tembaga yang sering dipotong untuk kemudian dikumpulkan lantas dijual. Ada tutup instalasi listrik, barton chart, kabel reda, ada lagi aluminium tray tempat kabel-kabel disatukan, lalu transformator, tiang-tiang besi atau pagarnya sekalian. Check valve dan gate valve yang berukuran tiga sampai empat inchi sering disikat pula. Di kemudian hari aku dapat dengar bahwa dua alat terakhir ini berharga sekitar 40 dolar AS per buahnya. Sedangkan barton chart yang dipergunakan untuk mengalirkan air panas, bisa mencapai 400 dolaran.
“Saya sih tahu siapa-siapa yang jadi pancilok di sini, Pak, tapi buat apa saya ikut mencampuri urusan mereka? Paling-paling mereka memusuhi saya nantinya,” kata Bapak Adi dengan sungguh-sungguh.
Di musim paceklik, sejumlah warga di sana beralih membuat perkakas dari kayu. Ada kulihat rak-rak yang modelnya meniru furnitur knock down dari merk-merk terkenal. Ada juga yang kulihat membuat barang-barang dari bahan seng bekas.
“Tapi pasarannya seret jugalah Pak, sulit laku,” tutur Bapak Adi, “malahan batu bata pun belakangan sulit juga terasa Pak.” Pria itu menghela nafasnya dalam-dalam setelah menghembuskan segumpal asap rokok kretek Jie Sam Soe yang kuberikan padanya.
“Kalau saja pemerintah di sini nih, mau sikit saja membantu kami, misalkan pemasaran batu bata nih, tak usahlah kami repot-repot Pak,” tambahnya lagi. Selama ini mereka tak mampu membentuk koperasi untuk memasarkan batu bata atau perkakas kayu. Mereka akan kalah dengan perusahaan yang lebih besar yang mampu memberi komisi banyak kepada panitia pembelian barang-barang pemerintah.
Yang mereka sanggup sekarang ini, adalah melilitkan sabuk kelaparannya semakin dalam saja. Ada beberapa tempat ibadah di situ. Dan bila mereka sadar, berdoalah mereka di tempat-tempat semacam itu dan menghindari kemaksiatan, seperti mencuri misalnya.
Bagian dari wilayah Air Jamban ini seakan terlupakan oleh aparat pemerintahannya. Ada RT di sana ada RW pula di sana, dan mereka masih ditariki berbagai sumbangan desa. Tapi fasilitas dari pemerintah tak ada. Orang-orang itu memenuhi dirinya sendiri dengan segala akalnya, ada yang baik dan ada pula yang buruk.
Tak ada listrik. Yang ada hanyalah lampu minyak tempel atau petromaks seperti di warung Opung. Minyak di sana berharga antara 1.600 sampai 1.800 rupiah per liternya, lebih mahal dari harga di Pulau Jawa. Padahal, pompa minyaknya pun berada tak jauh dari tempat mereka tidur, hanya beberapa puluh meter saja. Malahan, pada pertengahan musim kemarau sebelumnya, minyak tanah tiba-tiba menjadi sulit didapatkan, dan barisan antrean pembeli minyak mengular tak jauh dari pipa minyak bumi.
Lalu adalah Tulang Sihol yang punya banyak akal. Ia membeli diesel generator kecil buatan RRC, lalu aliran listriknya dibagi-bagikannya kepada para tetangganya. Setiap rumah mendapatkan satu lampu ukuran lima Watt. Untuk itu per minggunya ia memungut tiga ribu rupiah. Tambah bola lampu akan menambah biaya sewa listrik ini pula. Celakanya, ketika genset itu beroperasi belum lagi tujuh bulan, pistonnya rusak dan kampung Adi kembali ke jaman kegelapan.
Kelihatannya satu-satunya orang yang amat peduli dengan kampung Adi itu hanyalah Apek, seorang warga keturunan Cina yang tiap hari rajin mengunjungi daerah kering itu. Ia mengendarai sebuah mobil Colt station yang lebih sering masuk ke bengkel dari pada masuk ke garasinya sendiri. Apek membawa barang dagangan kebutuhan warga Air Jamban. Ada rokok, tepung, gula, air mineral makanan kecil buat anak-anak, minuman botolan, air mineral dan lain-lainnya. Semuanya berharga murah, karena buatan lokal dengan merk yang aneh-aneh.
Kulihat Adi membeli minuman botolan di warung Opung. Minuman itu satu merk, tapi memiliki botol yang berbeda-beda. Di botol yang beraneka ragam itu dimasukkan cairan warna coklat mirip Coca Cola, lalu ditutup pakai prop dan di botol itu ditempeli merk yang mirip merk minuman botolan terkenal. Apek menjualnya Rp600 per botol kepada warung-warung di situ, dan pemilik warung menjualnya kepada warga seharga Rp1.000. Rasanya dahsyat luar biasa, membikin peminumnya bertambah haus dan bisa jadi pulang dengan batuk-batuk. Rasa manis dibuat dari gula biang (sakarin) yang bila kelebihan sedikit saja akan terasa pahit menyengat, dan aromanya sungguh mengerikan. Tapi hanya minuman seperti itulah yang mampu mereka beli.
Makanan kecilnya pun tak kalah menyeramkan pula. Wujudnya mirip pelet makanan ayam yang dipanggang sembarangan, dan keropos. Bau pengharumnya menyengat, dan lagi-lagi menggunakan pemanis buatan. Alangkah kasihannya anak-anak di sana itu.
Bapak Adi bercerita bahwa ia dan teman-temannya datang ke perbatasan wilayah PT Caltex itu sejak empat tahun lalu ketika krisis melanda ekonomi negeri kita. Ia dan keluarganya sudah putus asa untuk melangsungkan hidupnya. Kala itu ekonomi amatlah berat membebani keluarga sederhana itu dan mereka tak tahu harus berbuat apa. Daya tarik Riau yang gemerlap membawanya ia beserta istri dan dua anaknya yang masih kecil-kecil untuk mengadu nasib ke bumi Lancang Kuning tersebut dan terdamparlah ia di tepi selokan perusahaan minyak itu, menyelip di antara semak-semak perdu pinggiran hutan. Mereka membabati semak itu lantas mendirikan rumah gubuk mereka. Lantas hidup barunya dimulai walaupun tak ada ubahnya dengan keadaan di tempatnya yang dulu di ujung selatan Sumatra Utara.
Pria itu menceritakan, dirinya masih beruntung punya ketrampilan membuat perkakas dari kayu. Kalau saja tidak, katanya, ia tak ubahnya dengan teman-temannya yang suka mencuri barang-barang logam di kompleks perusahaan minyak. Berbagai cara mereka cari agar mendapatkan logam untuk bisa dijual. Para pegawai kontraktor yang suka nakal, terkadang membantunya dengan mengendorkan mur-mur atau baut dan membiarkannya hingga malam harinya untuk diambil temannya, tetangga kampung itu. Dan paginya mereka sudah ketawa-ketawa mendapat sabetan lumayan.
“Tak lah Pak, aku malu kalau harus ikut-ikut macam tuh,” kata Bapak Adi, “hidup jadi tak tenang, lantas apalah guna uang itu Pak?”
Aku kembali untuk kesekian kalinya menarik nafas panjang, panjang sekali lalu melempar pandanganku ke kejauhan sana, ke tempat pompa-pompa mengangguk-angguk menggali uang dari haribaan bumi Lancang Kuning. Uang yang selama dua tahun terakhir ini telah ikut memakmurkan negeri yang kaya raya, negeri kaum pujangga Abdul Kadir Munsyi serta Raja Ali Haji dan pahlawan-pahlawan perang seperti Hang Tuah, Hang Jebat dan lain-lainnya.
Tak terbayangkan olehku, kalau saja penyedotan minyak itu terganggu lantas apa yang terjadi dengan rakyat Riau? Bukankah penduduk seharusnya menjaga tambangnya itu agar hasilnya lebih besar dan anggaran pendapatan yang mereka dapat akan lebih besar lagi?
Tak terasa hari sudah mulai petang. Matahari mulai menukik ke kanopi langit sebelah barat. Aku duduk di sebuah bangku yang terbuat dari papan kayu, yang dipaku di pohon. Seorang demi seorang warga kampung kecil dan kumuh itu pulang ke rumah mereka. Ada yang menjinjing keranjang, dan ada pula yang menaruhnya di atas kepala mereka. Ketika melihat aku, seorang asing, reaksi mereka bermacam-macam. Ada yang biasa-biasa saja, ada yang menganggukkan kepala – yang tentu kubalas dengan anggukan dan senyuman – dan ada pula yang memandangku dengan sinar mata tak ramah. Mungkin kejemuan akan penderitaan membuatnya ia harus bercuriga kepada siapa saja. Atau karena ia merasa memiliki kesalahan yang ia simpan dan takut terbongkar oleh orang di luar lingkungannya, sepertiku, yang mungkin juga dikiranya aku ini seorang reserse. Di luar orang seperti ini, kuakui mereka sebenarnyalah ramah-ramah.
Petang itu semakin menggelap dan sudah pula terdengar suara genset dinyalakan orang. Beberapa detik kemudian, lampu-lampu kecil berpijaran di rumah-rumah gubuk itu. Sebuah kemewahan mereka sendiri. Rumah gubuk berfasilitas listrik, lima Watt. Dunia memang punya putarannya masing-masing. Dan di putaran kampung itu, lima Watt adalah luxury.
Bayangkan. Rumah-rumah itu dibuat dari kayu albasiah yang bertumbuhan di sana-sini. Atapnya dari daun kirai kering yang dianyam lalu ditumpuk bersap-sap di atasnya. Jendela adalah sebuah lubang di dinding kayu guna membiarkan sinar masuk sekedarnya dan juga biar angin sedikit menghibur raungan pengap itu.
Pada awalnya, kasur yang tersedia hanyalah hamparan tanah kuning coklat. Lalu ketika sekeping dua keping uang receh mereka dapatkan, orang-orang itu membeli tikar plastik sederhana. Supaya tidak masuk angin, katanya. Dan orang-orang yang hidup di tempat sekumuh itu pun mengenal ketakutan akan masuk angin. Masuk angin akan berarti sakit, dan tidak akan mampu bekerja. Artinya hari itu tak akan ada uang masuk. Artinya keluarganya akan kelaparan.
Jadi bukan hanya orang kaya-kaya saja yang takut setengah mati pada masuk angin, karena orang-orang dari Air Jamban pun ngeri pada penyakit itu walau dengan motif yang berbeda. Mereka takut tidak makan esok harinya. Orang kaya takut tak bisa berbelanja ke luar negeri.
Bunyi belalang atau pun cengkerik makin lama semakin riuh. Dan di kejauhan malam bertambah kelam saja, dan nampak pula kerlap-kerlip lampu proyek yang memompa minyak. Bapak Adi dan anak istrinya mungkin kini tengah istirahat, meluruskan lagi tulang-tulangnya yang pegal setelah bekerja seharian dan melemaskan lagi otot-otot yang kaku. Aku lantas berlalu berjalan di kegelapan.
“Ojek, Pak?” teriak seorang pemuda dari arah kegelapan.
“Baik. Berapa ke pasar?”
“Limo, Pak.”
“Tigo lah.”
“Ndak laaah dah malam kali ni.”
“Ayolah.”
Deru mesin dua tak sepeda motor tua itu menyedotku dari Air Jamban.
*******
Sebulan kemudian aku kembali ke kampung istimewa itu. Aneh, siang kali ini lebih panas, dan lebih sepi. Tak ada dua budak kecil berjalan berpanas-panas pulang ke rumah dari sekolah mereka. Kutemui kubangan yang pernah kusinggahi dulu kini telah kering dan mulai ditumbuhi rumput liar. Gubuknya pun telah rusak berat diterpa kekosongan. Rumah gubuk albasiah telah sepi, menganga berserakan. Opung berjalan mendekatiku. Di tangannya ada tas plastik kecil berwarna hitam.
“Orang itu sudah meninggal, Pak, sakit, kira-kira tiga minggu lalu,” kata Opung kepadaku, ketika ia melihatku termangu di depan gubuk Bapak Adi.
“Lalu ke mana keluarganya, Opung?” tanyaku padanya.
“Ah, pulanglah dia Pak. Mana tahan hidup di tempat seperti ini. Perempuan tua dengan dua anak pula. Aku dengar ke Kisaran mereka pulang......”
Aku kecewa dan juga sedih, lalu kusandarkan tubuhku ke tiang rumah yang kecil itu. Inilah hidup. Sebulan yang lalu ia menyambutku dengan keramahan yang tulus dan seminggu berikutnya ia meninggal karena sakit. Tak ada bayangan kesakitan atau kesengsaraan di wajah keluarga itu dulu, mereka begitu optimis menghadapi hari-hari yang berat menekan itu. Ia menjalani hidupnya dengan tawakal. Dalam hati aku bertanya-tanya. Mungkin ia diselamatkan oleh Tuhan supaya tidak menjadi pencuri, seperti beberapa kawannya yang tak mau ia sebutkan namanya.
Duri, Riau, Juni 2003.
thumbnail
thumbnail
Senyum dikit-2

Ancaman berbudaya

Suatu kali, para anggota dinas pemadam kebakaran kota Frankenberg, Jerman, jengkel karena penduduk enggan menyumbang dana guna pembeli slang-slang baru. Maka petugas pemadam kebakaran mengeluarkan selebaran. Isinya, mereka akan bikin pementasan konser oleh para anggotanya, guna mendapatkan dana.
Hasilnya hebat, dana cepat terkumpul. Warga yang penyuka konser musik berkualitas tinggi itu tahu betul anggota pemadam kebakaran mereka tak pandai main musik dan suaranya jelek-jelek sekali.
thumbnail
Ssst-2

u Aktor ganteng mantan suami Nicole Kidman, Tom Cruise, ternyata berhati lembut dan dermawan. Suatu hari ia menemukan seorang nenek korban tabrak lari di jalan. Tom Cruise membawa nenek itu ke rumah sakit dan membiayai perawatannya hingga sembuh. Patut ditiru.

u Masih soal lalulintas. Aktor ganteng dan kocak Woody Harrelson pernah ditahan polisi gara-gara menari-nari di tengah jalan hingga lalulintas macet dibuatnya. Itu terjadi tahun 1983 waktu dia belum populer.
thumbnail
Artikel-2

Capres tak bicara soal pengentasan PSK!
Oleh Adji Subela

Seorang perempuan pekerja seks komersial (PSK) di Tangerang tewas tenggelam di Sungai Cisadane akibat dirazia Satuan Polisi Pamong Praja baru-baru ini. Yang mengenaskan, para anggota Satpol PP itu dikabarkan tidak menolong, padahal korban tak bisa berenang.
Tragedi itu melengkapi nasib hitam PSK, ‘komoditas’ yang tak henti-hentinya dicaci, dijauhi, dinistakan, tapi juga diperlukan. Buktinya mereka tetap eksis dalam keadaan apa pun, menunjukkan permintaan (demand) akan jasanya tetap tinggi. Kelihatannya setelah dibayar persoalan selesai, dan kaum perempuan itu diuber-uber lagi. Siapa bisa menjamin bahwa di antara pria yang mencaci maki, menghina, menistakan, atau mengobrak-abrik praktik PSK itu bukan salah satu pelanggannya?
Persoalannya, jasa PSK hanya diperlukan untuk urusan syahwat liar sementara, dan setelah itu mereka tetap najis yang harus dikutuki, demi keyakinan agama, peraturan dan gengsi pria. Tabir pemisah antara diperlukan dan najisnya sangat tipis.
Masyarakat pun malu berdiskusi masalah ini, padahal persoalan itu ada, utuh wujudnya di depan mata, sehingga pemecahan persoalan prostitusi tetap tak pernah bulat. Eksistensi PSK abadi karena didorong sifat konsumennya yang cenderung poligamis, sisa budaya masa silam, selain tekanan ekonomi.
Larangan praktik prostitusi di negeri kita sudah ada sejak jaman kolonial Belanda. Gavin W. Jones dkk mengungkapkan dalam The Sex Sector (ILO, 1998), bahwa pada era 1600-an sudah ada larangan berzina bagi warga Belanda guna mencegah penularan penyakit kelamin. Tahun 1650 lebih maju lagi, pemerintah mendirikan semacam penjara bagi PSK. Berikutnya banyak aturan lainnnya sampai tahun 1913 diterbitkan Undang-undang Moralitas Publik hasil adopsi dari Negeri Belanda.
Usaha semacam itu juga gagal di Eropa. Kita kenal Abbaye yang diintrodusir di Prancis, juga usul Bernard Maudeville guna mendirikan bordil di Inggris di Abad Ke-XVII. Dalam perkembangannya sejumlah negara Eropa mengakui kegiatan prostitusi legal dan dikenai pajak pula, bukan membasminya.
Organisasi Buruh Internasional (ILO) mencatat kegiatan prostitusi berkembang menjadi sektor ekonomi sendiri, baik resmi maupun tidak, berhubung banyaknya kesempatan kerja yang berkaitan dengannya. ILO dalam penelitiannya di tahun 1995 menemukan sirkulasi ekonomi sektor ini di Indonesia berkisar 1,2 hingga 3,3 milyar dolar AS (ibid). Kalau angka ini benar, itu jelas fakta hebat atau malah memalukan.
Yuyu A.N. Krisna di dasawarsa 70-an menulis buku Menyusuri Remang-remang Jakarta. Ia menemukan mayoritas PSK terpaksa menjalani profesi ini. Kelihatannya saat ini prostitusi sudah jadi pilihan sadar pelakunya, terutama di klas menengah ke atas dengan segala bentuk selubungnya. Banyak kasus yang menyimbolkan hal itu. Untuk kelas bawah pendorongnya disebut tetap akibat tekanan ekonomi, antara lain kurangnya pengetahuan-ketrampilan perempuan, di samping pemaksaan dan tipu daya.
Ketika buku Jakarta Undercover ditulis oleh Muamar, kondisinya PSK tetap, tapi modus makin canggih sesuai permintaan konsumen. Kongres Pelacur II di Brussels, Belgia, tahun 1986 menengarai, profesi sebagai PSK di negara maju umumnya karena pilihan sadar, sama derajatnya dengan profesi lainnya. Di dunia ketiga waktu itu, prostitusi diamati sebagai keterpaksaan, pengkhianatan, penipuan, dan penindasan. Nampaknya kecenderungan negara maju itu sudah menular ke Indonesia pula di awal Abad Ke-XXI ini, sedangkan ciri prostitusi negara Dunia Ketiga masih tetap berlangsung.
Kenapa masyarakat dari waktu ke waktu risih bicara masalah prostitusi secara terbuka? Padahal sejarah membuktikan kehidupan sejumlah pemimpin bangsa dekat dengan kaum PSK yang tentu saja klas atas. Filsuf kondang Socrates akrab dengan PSK bernama Aspasia. Perempuan ini berpengaruh dalam pemerintahan Yunani saat itu. Kaisar Romawi Claudius mengalaminya, begitu juga Raja Louis XV dari Prancis jatuh antara lain akibat ulah Madame du Barry. Banyak contoh lain di dunia yang menggambarkan antara harta, tahta, dan wanita memang dekat, bisa saling mendukung atau menjatuhkan. Evita Peron pernah menjalani masa kelam dalam hidupnya sebelum berhasil sadar dan menjadi ‘malaikat’ penyelamat rakyat miskin Argentina.
Jadi siapa bilang PSK itu nista, najis, tak bermartabat? Kelihatannya tergantung klasnya. Makin tinggi klas permainan PSK dan mampu menembus lingkaran kekuasaan, ia dianggap hebat, mungkin malah dipuji-puji dan dielu-elukan dan bisa jadi pahlawan. Pada tingkatan ini orang boleh bicara sambil melupakan latar belakang atau motivasi utama pelakunya.
Tapi bagi PSK klas cere, klas teri yang beroperasi di jalanan, jatahnya tetap saja yaitu dicaci maki, dinista, ‘diludahi’, diuber-uber. Mereka sering jadi korban kriminalitas, tewas terbunuh, dimutilasi dan jarang anggota keluarganya yang membelanya mati-matian, kendati hasil kerjanya mereka nikmati.
Masalah mereka persoalan kita juga, penyakit sosial yang harus dihadapi bersama. Selama ini mereka cukup ditangkapi, ‘dibina’, lalu dilepas untuk ditangkap lagi dalam razia berikutnya. Masalah utama PSK jalanan sudah jelas, yaitu faktor ekonomi. Mereka perlu pembinaan strategis dan tepat antara lain diberi kursus ekonomi seperti pendidikan kewirausahaan, modal, informasi yang cukup serta akses memadai guna memasarkan produk mereka, di samping pendidikan moral keagamaan. Jadi perlu pembinaan berkelanjutan. Kini sudah banyak LSM yang menangani mereka, yang kita harapkan menangani dengan tepat sehingga para PSK bermetamorfosis menjadi pengusaha yang mampu menarik kaumnya bekerja di jalur aman moral dan hukum.
Kita perlu bertanya berapa jumlah pengusaha yang mengentaskan kaum PSK untuk menjadi mitra binaannya dalam arti bersih dunia akhirat? Masalah prostitusi memang jelas ada di mata tapi kita pura-pura tak melihat. Jijik. Jadi tak usah dibicarakan terbuka, saru!
Oleh sebab itu kalau prostitusi tak pernah dibicarakan secara terbuka seperti halnya sektor-sektor lainnya, maka masih akan ruwet dan jatuh korban-korban lagi seperti di Tangerang.
Tanpa melihat potensi perputaran ekonominya (anggap saja mereka dalam posisi sebagai pengangguran), kenapa tidak ada usaha terbuka untuk membenahinya, sama seperti program pengentasan kemiskinan dan pengangguran. Bahkan anggota DPR yang terhormat merasa tak terhormat untuk mengundang mereka dalam sidang dengar pendapatnya. Melihat perputaran ekonominya yang besar, sudah semestinya prostitusi menjadi masalah nasional, dibicarakan serius. Kegagalan negara-negara lain untuk mengatasi masalah ini bukan halangan tapi menjadi tantangan.
Dari wacana itu kita tak berharap prostitusi hilang, sebab sebagai profesi ia konon tertua di dunia. Paling tidak mari kita memandang prostitusi dengan kacamata baru, dengan terbuka, dan dan berhati nurani.
Jika tidak demikian, PSK tetap tersisih secara sosial, tertindas, tereksploitasi oleh orang-orang, bahkan dari oknum birokrat tingkat rendah yang menarik keuntungan dari perputaran ekonomi sektor ‘nista’ serta ‘menjijikkan’ ini.
Dalam program-program yang dijanjikan para capres tak ada yang menyinggung pengentasan PSK yang mungkin jumlahnya signifikan, apalagi dalam kesulitan ekonomi sekarang ini. Mungkin mereka jijik bicara soal saru satu ini sambil menutup mata sebelah [saja], padahal di tengah akibat krisis global maka sirkulasi uang di sex sector itu cukup signifikan, hingga perlu dimaknai macam apa prostitusi ini.
Tahun 1986 ada PSK klas tinggi Amerika, Norma Jean Almodovar, kampanye buat menjadi calon wakil Gubernur California. Mantan polisi yang libertarian ini bilang, antara pelacur dan politisi ada persamaannya. Katanya, siapa yang dapat dibayar dengan kekuasaan untuk berbuat apa saja, itu juga pelacuran namanya. Aduh, definisi itu keras sekali. Apa gara-gara itu masalah prostitusi tak pernah disentuh politisi secara terbuka?

Ayam Sumatra

Ayam Sumatra
Oleh: Adji Subela

Blauwe sumatra's (Ayam gallak) zijn een zeldzame verschijning. Foto: Wanda Zwart
“Siaaaaap!!” teriaknya keras-keras sambil berdiri tegak dan mengangkat telapak tangan kanannya ke pelipis.
Ia tetap berdiri tegap dan berteriak lagi:
“Siap laksanakan perintah Komandan!!”
Tentu saja hampir semua manusia yang berjejal-jejal di pintu masuk Bandara Sultan Syarif Kasim, Pekanbaru, terhenyak, lalu berusaha sekuat-kuatnya untuk menoleh pada pria tua yang bersemangat tinggi ini. Ia baru saja diminta oleh petugas agar memasukkan barang-barangnya ke sebuah kotak besi besar yang menganga di depannya.
Nama: Ruswandi
Tempat, tanggal lahir: Tempatnya jelas, yaitu di salah satu desa di Banyumas, Jawa Tengah sana.
Tanggal lahir? Ini yang tak pernah jelas.
Tapi emaknya selalu bercerita, bahwa ketika terjadi penggempuran benteng Cilacap oleh tentara Dai Nippong, Ruswan – begitu ia selalu dipanggil oleh kawan-kawannya – baru bisa berlari-larian di halaman tempat tinggal neneknya.

Jadi tanggal lahirnya, ya, kira-kira waktu Gunung Merapi meletus pada hari Selasa Kliwon, begitulah selalu yang dikatakannya pada siapa saja yang bertanya tentang tanggal yang memusingkan kepala itu.
Alamat: di suatu jalan di dekat tikungan, di mana di depannya ada tanah telantar luas. Di sana ada gubuk kecil bekas tempat orang beronda. Tanah itu boleh dikatakan sebagai hutan kecil, sungguh lebat. Di sana orang sering menemukan ular sawah, musang, tupai, burung puyuh, burung ketilang, dan masih banyak lagi. Oh ya, di sana ada serta ayam liar. Bukan ayam hutan, tapi benar-benar ayam kampung yang lepas tak berpemilik dan menjadi liar di situ. Jadi mereka ini sudah terbiasa dengan manusia, sehingga tidak takut-takut lagi keluar masuk kampung. Tidak peduli. Orang-orang di kampung itu pun tak peduli dengan ayam-ayam itu.

Pada suatu hari, pohon-pohon di hutan di depan alamat Pak Ruswan ditebangi, semak-semak dipangkasi. Sebuah ruang ekologi kecil telah dipunahkan, hendak diganti dengan bangunan rumah gedung milik seorang pejabat provinsi. Musang-musang berlarian, burung-burung berterbangan ke sana ke mari, sedangkan ayam kampung liar berhamburan ke rumah-rumah di sekitarnya.

Pak Ruswan juga kebagian rejeki. Dia mendapatkan seekor ayam dara berbulu warna abu-abu. Bukan main gembiranya pria itu. Ayam tersebut hendak dipeliharanya baik-baik, dan akan dibawanya pulang ke Banyumas kelak jika sempat cuti.

“Ah, ‘kan ayam kampung di sini sama saja dengan ayam di Jawa sana......,” komentar seorang teman kerjanya.
“Ya, jelas beda kok....,” jawabnya dengan nada bicara yang tertekuk-tekuk, berlipat-lipat, “ayam di sini badannya kecil, bulet, kakinya panjang-panjang. Ayam di kampung saya badannya besar-besar, seperti kotak, kakinya pendek-pendek.”
Ruswan bercita-cita hendak mengawinkan ayam sumatra itu dengan ayam di kampungnya sana agar dapat diternakkan anak cucunya.
“Lebih baik dipanggang saja Pak, di sini, lantas kita makan bersama-sama. Daripada jauh-jauh membawanya, ‘kan? Repot!” Ujar salah seorang teman kerjanya. Ruswan menolak.
“Pokoknya, apa pun wujudnya, biar seekor pun, ini ayam sumatra! Titik!” Bantahnya. Kawan-kawannya segera tahu, manakala Ruswan mengatakan.... “pokoknya”......maka segala persoalan sudah berakhir, debat ditutup dan kemenangan ada di tangannya.
Ketika mendapatkan kesempatan cuti, maka Ruswan menggunakan kesempatan itu untuk memboyong ayam sumatranya ke kampung halamannya.

Persoalan pertama: Bagaimana membawa ayam sumatra itu keluar dari pulaunya menggunakan pesawat terbang? Mudah sekali. Ruswan mencari kotak kosong bekas pembungkus mie instan, dan dengan sedikit ketrampilannya, barang itu lalu berubah fungsi menjadi kontainer pengangkut ayam, seekor! Si ayam pun kini naik gengsinya, yaitu hendak naik pesawat terbang bersama Tuannya dari Pekanbaru hingga Yogyakarta.
Persoalan kedua: Bagaimana meloloskan ayam sumatra istimewa itu melewati permiksaan sekuriti bandara.
Seperti juga para penumpang pesawat lainnya, Ruswan kini mengantre hendak masuk ke ruang check-in. Demikian ia memasuki pintu, ia sudah berhadapan dengan sebuah alat besar seperti kuda nil yang menganga mulutnya. Semua barang bawaan penumpang diharuskan dijejalkan ke dalam perut kotak besi gendut itu. Dengan patuh Ruswan ikut memasukkan barang-barangnya: sebuah koper kecil, sebuah travel bag dan sebuah kotak bekas pembungkus mie instan. Ia lalu berjalan melewati bingkai besi yang akan menjerit-jerit jika orang yang melewatinya sedang mengantungi kunci atau barang-barang logam lainnya.

Hari itu petugas kotak ajaib mendapatkan kejutan yang tak kalah-kalah anehnya. Terlihat olehnya di layar monitor sebuah kotak yang berisi tulang-belulang sesuatu binatang yang berkaki dua, bersayap dan berparuh. Pada pikirnya, ini tentu tulang burung purba seperti yang pernah ia lihat di programa televisi bertajuk Discovery . “Tentu ini usaha penyelundupan fosil binatang purba dari Sumatra, pasti oleh sindikat internasional,” pikir seorang petugas Satpam yang mengoperasikan alat pembantu keamanan itu.
Belum lagi ia hendak beranjak, tiba-tiba ia melihat pemandangan yang mengejutkan di layar pantau. Tulang-belulang itu bergerak-gerak! Mengibas-ngibaskan sayapnya seperti ayam yang kepanasan, lalu berhenti karena mesin itu harus menghentikan gerakan barang agar isinya bisa diamat-amati petugas keamanan. Jelas, itu tulang belulang binatang purba yang sedang mengibaskan sayapnya! Apa mungkin fosil purba bisa menari-nari seperti itu?

Lewat handie-talkie-nya, ia segera menyuruh kawannya memeriksa kotak misterius itu.
“Ini kotak siapa?” Tanya seorang anggota Satpam.
“Siap! Saya!” Teriak Ruswan lagi tanpa mengurangi volume suaranya. Lagi, para calon penumpang terkejut dibuatnya.
“Pak, Bapak tak boleh sembarangan membawa ayam hutan, harus ada ijin dari Dinas Kehutanan,” kata si Satpam.
“Bukan, ini bukan ayam hutan, ayam kampung biasa, kok!” Jawab Kuswan.
“Benar begitu, Pak? Apa mungkin Bapak susah-payah bawa ayam kampung ke Jawa?”
“Iya ini lho, niiiiiiiih ayam biasa ‘kan?” Jawab Ruswan sembari menarik paruh ayam sumatranya ke luar kotak. Ayam itu terkejut, meronta-ronta kelabakan di dalam kotak sembari berkeok-keok tak berketentuan. Mungkin ia mengira akan dipotong lehernya.

“Sudahlah, sudahlah, itu urusan bagian dalam nanti,” ujar seseorang, mungkin komandan Satpam.
Di bagian check-in, terjadi ketegangan lagi. Ruswan tetap bersikukuh untuk membawa ayamnya ke kabin penumpang dan menolak memasukkan kotak ayamnya ke bagasi. Ayam sumatra yang istimewa itu tentu akan mati tergencet barang-barang, atau juga mampus kedinginan di dalam ruang bagasi pesawat. Kalau di kabin penumpang, dingin AC tak akan membahayakannya, karena toh manusia saja bisa bertahan di situ, demikian jalan pikiran Ruswan.

Kalau saja petugas tidak melihat betapa padatnya antrean di belakang Ruswan, tentu ia akan mati-matian berdebat dengan teman kita ini. Ia akhirnya meluluskan permintaan pria Banyumas itu, dengan harapan biarkanlah persoalan diatasi oleh awak kabin nantinya.

Harapannya terwujud juga. Awak kabin perusahaan penerbangan itu berusaha mati-matian menolak kotak Ruswan untuk ikut dibawa masuk ke kabin penumpang. Ruswan tetap nekat.
“Pokoknya kotak ini harus masuk di sini sama-sama saya. Kalau enggak boleh, saya protes keras!” gertak Ruswan. Akhirnya purser perusahaan penerbangan itupun membolehkan Ruswan masuk membawa kotak ajaibnya. Sebuah kemenangan bagi perantau dari Banyumas itu. Dan tentu juga ayam sumatranya pantas berbangga mempunyai Tuan yang melindungi dan mengangkat derajatnya sedemikian rupa. Petugas yang masih muda dan gagah itu berpikir, orang keras kepala ini nanti akan terkena batunya dengan penumpang lainnya di dalam kabin. Benar juga.

“Pak jangan ditaruh dibawah lah kotak itu, sempit ‘kan, rosak pemandangan,” kata penumpang yang duduk di samping Ruswan. Kotak itu sebenarnya cukup kecil jika ditaruh di dalam kotak bagasi di atas tempat duduk penumpang, tapi yang empunya khawatir isinya akan mati lemas sesampainya di Jakarta nanti. Jadi diletakkannya di ruang di depannya yang sempit. Kakinya pun ternyata tak punya cukup ruangan. Lalu ia pindahkan ke gang. Seorang pramugari tergopoh-gopoh datang untuk membawa pergi kotak ajaib itu.

“Lho, lho, lho mau dibawa ke mana kotak saya?” tanya Ruswan.
“Pak, kalau di taruh di gang, nanti mengganggu penumpang lain serta merepotkan pelayanan kami,” begitu pramugari yang berkulit hitam manis itu menjelaskannya dengan cara yang sama-sama manisnya.
“Tapi itu ayam sumatra saya, nanti kalau mati, situ mau tanggungjawab?” ancam Ruswan. Ribut-ribut itu membuat purser menghampiri mereka, lalu menawarkan pilihan yang adil.
“Begini saja Pak, bagaimana kalau Bapak pindah ke kursi di bagian belakang, kebetulan agak longgar, Bapak bisa bawa kotaknya sekalian,” katanya dengan lembut. Usul itu diterima Ruswan dengan gembira..............

Lelaki itu kini boleh lega hatinya. Di sepanjang penerbangan ke Cengkareng, ia melamun. Alangkah beruntung nasib dirinya itu. Ia merantau meninggalkan desanya untuk bekerja sebagai tukang batu di Pekanbaru. Kota itu kini sedang gila membangun ruko di mana-mana. Demikian banyaknya ruko yang dibangun itu sehingga orang tak mampu mengisinya. Lalu seorang tokoh menyindir, keadaan kota Pekanbaru itu sebagai Kota Seribu Ruko. Pada tahun 1995 Ruswan berkunjung ke ibukota Riau itu untuk menemui seorang kerabatnya. Di sisi selatan kota, suasananya masih rimbun, rawa-rawa ada di mana-mana dan bermacam-macam satwa ada di sana. Kini, otonomi daerah membikin provinsi itu kejatuhan rejeki yang banyak dan Pekanbaru telah berbedak berpupur diri. Hutan-hutan di pinggiran kota telah berubah wujud menjadi deretan ruko kosong.

Di Pasar Bawah yang dulu indah dengan bangunan lamanya, kini sudah mempercantik diri dengan gedung-gedung megah, penuh tokoh-toko bertingkat seperti di Jakarta. Pekanbaru menjadi megah, tapi tanpa wajah. Ia sama saja dengan kota-kota lainnya.

Tetapi kehidupan masih saja tetap sulit buat penduduk tempatan. Gedung-gedung memang banyak, mobil-mobil semakin indah, tapi kampung-kampung kumuh masih tetap saja tegak tegar berdiri. Kampung itu tak tahu harus berbuat apa, karena pejabat-pejabat tak pernah bertegur sapa. Kalau kemudian diperbaiki, paling hanya jalan-jalan serta rumah-rumah di bagian depannya.

Gedung-gedung memang tinggi, tapi hanya buat investor, kata orang-orang pintar. Nantinya, jika roda ekonomi lancar diputar oleh para penanam modal itu, maka pada gilirannya rakyat mengenyam kemakmuran pula. Kemakmuran yang menetes kecil-kecil dari atas, melayang di udara lalu lenyap entah ke mana. Lalu pembangunan spektatuler itu mendatangkan kejayaan pada seorang dua orang yang lantas kabur entah ke mana bila waktunya dianggap tiba. Siapa peduli nasib orang-orang terbuang? Tapi yang jelas mesin ekonomi menggemuruh terus dan laporan pembangunan baik-baik selalu.

Gemuruh uang itu membuat kota menjadi ramai dan orang membangun gedung indah-indah. Ketika hendak membangun ruko dahulu, induk semangnya berpantun:
Tegak rumah di tanah dusun
Atau berdiri di bekas purun
Rezki datang turun-temurun
Hidup selamat sepanjang tahun
Ruswan lantas jatuh tertidur..............

********
Perjalanan darat dari Yogyakarta ke Banyumas menjadi titik balik yang menyedihkan. Cuma satu setengah jam mereka mengalami kemewahan naik pesawat terbang, dan kini Tuan dan ayam sumatranya naik angkutan yang ortodoks: bus rombeng. Berjam-jam mereka berdua, Tuan dan ayam sumatranya, terguncang-guncang terantuk-antuk. Perjalanan selama tiga setengah jam yang panas-pengap membuat Ruswan kelelahan, dan tertidur hampir selama itu. Jawa telah penuh oleh manusia-manusia, penuh bangunan dan sarat persoalan.

Alangkah melelahkannya perjalanan ke kampung halaman Ruswan ini. Akhirnya, di terminal bus, dia disambut bagaikan seorang pahlawan perang yang pulang dari medan laga. Tuan dengan ayam sumatranya.
“Ini, kubawakan kalian ayam sumatra. Kalian pelihara baik-baik,” katanya kepada anak-anaknya setibanya di rumah.
“Mana ayamnya, Pak?” Tanya si bungsu.
“Itu di dalam kotak,” jawab Ruswan.
“Yaaa........ ayamnya kok begini bentuknya Pak!”
“Iya itulah keistimewaannya ayam sumatra!”
“Bukan begitu, bentuk ayamnya aneh.”
“Memang, maka dari itu Bapak bawa ia pulang.”
“Alaaa, bentuknya tak jauh berbeda dengan ayam di sini, kok, cuma kok enggak bergerak-gerak?”
“Ah, apa iya?”
“Iya, lihat saja sendiri, nih,” tutur anaknya.
Betul juga. Ketika Ruswan mengintip ke dalam kotak ajaibnya, ayam itu sudah terkulai tanpa napas lagi. Kini ia sudah bukan ayam sumatra lagi, tapi seonggok bangkai ayam yang terkapar melingkar hendak membusuk.
“Ostogfirulohngalajim.....aduh Gusti Allaaaaah minta ampuuuuuun.......”

Duri, Riau, 2003
thumbnail
Artikel – 3

Jabatan, Komoditas Baru

Oleh F.X. Bachtiar

Ada komoditas baru dalam dunia perdagangan Indonesia yang booming dewasa ini: JABATAN.
Disebut barang dagangan karena tentu ada penjual dan pembelinya, yang menganut kaidah ekonomi yaitu: Kalau pembeli banyak dari yang dijual maka harga akan murah. Sebaliknya kalau yang dijual terbatas, semacam limited edition, maka harga akan mahal bahkan akan dilakukan cara lelang untuk menjaring pembeli dengan harga tertinggi.
Apakah jabatan terbatas? Ya! Mengapa? Karena memang sistem menetapkan begitu. Coba kalau jabatan presiden-wakil presiden ada 1.000, gubernur-wagub 50.000, walikota-wakilnya ada 1.000.000. apakah pembeli banyak? Jawabnya: Banyak sekali!Mengapa?
Pertama, karena JABATAN dianggap lapangan pekerjaan yang prestisius dan merupakan pintu menuju kualitas hidup yang jauh lebih baik.
Kedua, karena tingkat pengangguran sangat tinggi, mulai yang penganggur murni karena belum pernah mendapat kesempatan bekerja, penganggur karena kena PHK, dan mereka yang sebenarnya menurut usia tidak termasuk dalam golongan angkatan kerja misalnya para pensiunan, purnawirawan, mantan pejabat, dan sebagainya, tetapi masih sangat ingin mencapai kualitas hidup yang lebih baik.
Karena penganggur murni dan korban PHK tidak mungkin menyalurkan minatnya ke JABATAN karena harganya mahal maka mereka pilih yang harga ekonomis saja misalnya satpam Rp1 sampai Rp3 juta, TKI Rp5 sampai Rp20 juta, bintara Polri konon ,Rp30 juta.
Jadi siapa-siapa yang berminat membeli JABATAN? Mari kita mulai dulu dari penjualnya. Apakah negara yang menjual? Apakah rakyat?
Kalau bukan mereka lalu siapa si penjualnya? Ternyata ada yang jeli seperti jelinya pemulung yang melihat bahwa plastik bekas, koran bekas, botol bekas, besi bekas, kaleng bekas, bisa jadi komoditas yang menghasilkan uang hanya dengan modal tenaga dan kerajinan mengais timbunan sampah.
Apakah di penjual JABATAN juga bisa dimasukkan dalam kategori pemulung? Pasti tidak, karena pemulung harus bekerja keras berpanas-panas danberkotor-kotor sebelum bisa menjual hasil kaisannya, sedangkan penjual JABATAN tidak perlu berpayah-payah mencari/mengais dan menawarkan karena pembelinya berebut dan pasti beruang (baca: punya banyak uang) dan bahkan kelak di saat JABATAN itu habis masa berlakunya, maka yang akan jadi mantan pun siap untuk berebut membeli lagi bahkan dengan harga yang lebih mahal karena sudah banyak tabungan banyak sekali.
Si penjual adalah meeka yang betul-betul jeli memanfaatkan peluang membisniskan JABATAN yang tersedia gratis dan legal karena bukan barang curian atau selundupan. Berarti kalau harus ada yang salah pasti si pembeli.
Juga tidak! Bingung? Kenapa jadi salah kalau mekanisme untuk menjadi bakal calon pemangku JABATAN saja harus direstui oleh si penjual? Bisnis jual-beli JABATAN baru akan masuk ke wilayah pelanggaran hukum bila dalam tahap lanjutan terjadi tindakan pembeli membli suara atau mengintimidasi pemilih menjelang PILJABAT (Pemilihan Pejabat). Tahap berikutnya kalau pembeli setelah duduk pada JABATAN yang dibelinya melakukan korupsi untuk melunasi kewajiban pembayaran kepada penjual dan si penjual menerima pembayaran dengan uang hasil korupsi.
Bagaimana kalau si pembeli ternyata tidak terpilih padahal sudah setor “down payment” kepada penjual? Jawabannya: EGP..Emang Gue Pikirin. Silakan saja kedua pihak adu argumentasi tentnagn awal deal-nya. Mudah-mudahan paling banter kedua pihak menggunakan jasa pengaara profesional di jalur hukum yang sehat, bukannya mengerahkan pasukan debt collectors atau bodyguards baik preman maupun “aparat”.
Kesimpulannya, si penjual adalah wiraswastawan yang cerdik sedangkan si pembeli adalah investor yang berani tetapi maaf, STUPID.

Artikel tamu ini karya pengamat masalah sosial-politik, pertahanan, tinggal di Jakarta.
thumbnail
Buku Mutiara Hati-1

Memoar Mayjen TNI (Purn) H. Barkah Tirtadidjaja mengenai pernikahannya yang kontroversial dengan salah seorang putri Sultan Langkat. Kesultanan Langkat menjadi salah satu korban “revolusi sosial” yang digerakkan orang-orang komunis di Sumatra Timur awal tahun 1946, yang memakan korban ratusan orang bangsawan Melayu termasuk penyair Tengku Amir Hamzah. Sebagai orang Sunda, H. Barkah menemukan nilai-nilai kebudayaan Melayu. Didampingi sang istri, Tengku Nurzehan, ia menjalankan tugasnya di bidang intelijen, diplomat, birokrat, dan orang swasta yang cukup menarik dan terkadang dramatis.

Berikut ini petikan buku Mutiara Hati yang akan disajikan bersambung. Ikuti terus blog belazipper.blogspot.com ini, karena juga akan memuat artikel-artikel menarik yang terus diperbarui.


Bab Kesatu

Mutiara Istana Sultan Langkat

Udara petang itu terasa panas. Kota Medan memang berbeda cuacanya dibandingkan dengan kota asal saya, Purwakarta, sebuah kota kecil yang sejuk dan indah di Jawa Barat. Kendati pun angin laut masih dapat saya rasakan bertiup, akan tetapi cuaca Medan memang berbeda. Selain itu, penduduk di kota ini padat, dan datang dari berbagai-bagai bangsa seperti dari daratan China, anak benua India, Pakistan, serta jazirah Arab. Demikian pula banyak suku-suku di Indonesia dapat kita jumpai di sana.
Saya keluar dari kantor petang itu, masih berpakaian dinas harian, menuju ke jeep dinas. Setelah duduk di belakang kemudi, saya berpikir keras, hendak pergi ke mana petang ini? Sudah menjadi kebiasaan, setiap petang sepulang dari kantor, saya selalu singgah ke tempat para kenalan baru guna menghabiskan waktu untuk kemudian pulang kembali ke mess perwira. Sama seperti asrama militer lainnya, suasana di sana selalu kaku, penuh disiplin militer, dan jenjang kepangkatan benar-benar nampak, sehingga hal ini kurang memberi saya nafas untuk bergaul dengan masyarakat lainnya. Sebagai seorang pria bujangan dengan pangkat Kapten di tahun 1950-an, tentulah saya menjadi orang yang harus dihormati di mess. Selain itu saya juga menjunjung beban berat, karena harus mampu memberi contoh kepada para anak buah, sehingga gerak-gerik pun menjadi terbatas.
Padahal ketika itu saya baru saja ‘pulang dari hutan’ berjuang bertahun-tahun selama revolusi kemerdekaan, beradu nyawa melawan musuh yaitu tentara Belanda, di hutan-hutan dan pegunungan di Jawa Barat. Ketika itu saya setiap saat harus bertanggung jawab atas keselamatan atasan saya yaitu Kolonel A.E. Kawilarang, selain menyiapkan segala keperluan dinasnya serta mendampinginya dalam setiap pertempuran. Tidak lama setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Belanda di tahun 1949, saya dipindah tugaskan ke Medan, sebagai Kepala Staf IV Bidang Logistik Tentara Territorium I Sumatra Utara yang meliputi Sumatra Utara, Aceh, Sumatra Barat, Riau Daratan, dan Riau Kepulauan, dengan pangkat Kapten, pangkat yang sudah amat tinggi di kala itu.
Barangkali sebagai imbangan atas kehidupan militer saya yang cukup keras selama perang kemerdekaan, serta guna mengenal lebih dalam masyarakat Medan, maka setiap pulang dinas saya meluangkan waktu untuk bersilaturahmi dengan para keluarga terkenal di kota itu. Saya berkenalan dengan para keluarga yang berasal dari Aceh, Tapanuli, Minang, Melayu, Jawa, dan sebagainya, serta para keluarga keturunan Tionghoa, Arab maupun India dan Pakistan. Saya berkeliling berkenalan dengan mereka satu per satu. Tentu saja kunjungan saya mendapat sambutan istimewa. Bayangkan, mereka dikunjungi oleh seorang pejabat militer, masih bujangan, dan memiliki masa depan. Apalagi saya selalu mondar-mandir ke sana ke mari memakai jeep dinas.
Suasana tahun lima puluh itu masih hangat oleh romantisme perjuangan kemerdekaan, semangat heroik masih sangat tinggi. Anggota tentara menempati posisi yang khusus, oleh karena perjuangan mereka selama mempertahankan kemerdekaan. Di samping itu, saya memiliki semangat manunggal dengan rakyat yang kuat. Kami bukan tentara bayaran, tapi tentara rakyat. Selama berjuang dahulu, kami selalu mendapat dukungan dari rakyat. Dengan mereka kami saling menjaga dan melindungi serta saling membantu seada-adanya waktu itu. Maka tidak mengherankan bila orang menyebut bahwa antara tentara dan rakyat itu ibarat ikan dengan air. Tali silaturahimi itu saya teruskan. Perkenalan saya dengan berbagai keluarga dari bermacam-macam suku berjalan lancar, dan penuh dengan suka cita dan pengalaman yang menarik. Saya semakin mendalami bagaimana adat istiadat mereka masing-masing. Terpikir kemudian, langkah saya itu penting pula untuk membantu pembinaan territorial waktu itu. Kegiatan saya yang lain untuk bermasyarakat adalah berolahraga, teristimewa badminton serta tenis. Kadang-kadang saya bermain bridge dengan para kenalan, salah satu hobby yang telah saya geluti sejak saya masih bersekolah di MULO (Meeruitgebreid Lager Onderwies). Dari sini saya banyak mendapatkan kawan, dan harus saya akui bahwa banyak di antaranya gadis-gadis cantik pula. Posisi saya waktu itu rupanya banyak menarik para gadis itu, tapi saya belum tersentuh untuk menyintai salah seorang di antaranya.
Tentu saja di antara keluarga itu, saya lihat ada terdapat pula ‘bunga-bunga’ indah bermekaran. Maksud saya mereka juga memiliki anak-anak gadis yang cantik-cantik. Akan tetapi pergaulan pada masa itu amat diwarnai dan diatur serta diawasi begitu ketat oleh adat-istiadat sehingga pola hubungan muda-mudi amat terbatas dan terkenal dengan pergaulan gaya Siti Nurbaya. Saya tahu bahwa di antara keluarga-keluarga itu ada yang menginginkan saya menjadi menantu mereka. Siapa yang tidak bangga jika memiliki menantu pejabat militer berpangkat Kapten pada waktu itu? Tapi hati ini belum tergetar sedikit pun. Tujuan saya bersilaturahmi masih murni untuk berkenalan dan saling mempelajari adat istiadat masing-masing. Negara kita belum lama diproklamirkan, dan rakyat kita terdiri dari ratusan suku bangsa yang memiliki budayanya masing-masing. Hasrat untuk saling mengenal masih tinggi waktu itu. (Bersambung)
thumbnail
Resensi Buku – 2

Api Nan Tak Kunjung Padam Menguber Kasus Korupsi

Judul : Memburu Koruptor, Based On True Story
Penulis : Urip Sutomo
Penerbit : Binar Publishing, Yogyakarta, 2009
Format : 13 x 19 cm, kertas HVS 80 gram
158 halaman hitam putih

Buku mungil dengan tatamuka yang cukup membetot perhatian ini berbeda. Di bagian atas tertulis: Novel Jurnalistik. Apa pula nih?
Setelah membacanya sampai habis, kita baru paham bahwa ini sebuah buku yang dimaksud sebagai novel, tapi isinya adalah kisah nyata perburuan penulisnya, Urip Sutomo – seorang wartawan – dalam mengungkap berbagai kasus korupsi di Kediri, daerah yang kaya oleh hasil pertanian dan industri terutama rokok kretek merk Gudang Garam, dan kota-kota sekitarnya. Jadi cerita ini tentang kegiatan jurnalistik, yang diaduk dengan bumbu kental subyektivitas penulisnya, juga bersifat memoar, dan ditulis bergaya novel.
Kasus-kasus itu tidak saja yang menimpa orang lain atau masyarakat, tapi juga penulisnya sendiri ketika masih menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kantor Departemen Penerangan Kabupaten Kediri, Jatim. Ia menolak adanya Surat Perjalanan Dinas (SPJ) fiktif. Selain itu penjualan bangunan kantor oleh Kepala yang baru bermasalah, dan Urip dituduh sebagai pembocor informasi. Penulis itu percaya, kedekatan dirinya dengan Bupati Kediri, para pejabat lain, posisinya di DPC Golkar, serta aktivitasnya di kewartawanan menambah konflik dengan atasannya. Penulis tahu siapa sebenarnya yang menulis berita kasus itu di koran lokal.
Akhirnya bencana datang ketika seorang mayor TNI AD datang dari Laksusda Jatim dan memaksa kawan-kawannya menandatangani surat bahwa Urip Sutomo memang suka menentang atasannya, dll. Banyak yang menolak tapi ada pula yang melakukan ‘pengkhianatan’ dengan dugaan penulis berlatarbelakang iming-iming jabatan. Intimidasi psikologis, baik oleh sang mayor – yang penulis ketahui menginap di hotel dan menikmati fasilitas “all-in” atas biaya kepala kantor – ditambah pejabat Deppen tingkat Provinsi Jatim membuat ia jengah.
Teror itu tak pernah berhenti. Sangking jengkelnya, suatu hari Urip merebut formulir dari tangan sang mayor dan mendatanganinya, lalu mencampakkannya di meja sebelum berlalu tanpa kata. Sejak itu ia dicap terlibat G30S/PKI Golongan B. Ketika kudeta gagal itu terjadi ia masih klas dua SMP. Luar biasa. Ini stempel kejam di masa Orde Baru guna membungkam kritik. Ia pun terpental dari PNS setelah tiba SK Menpen Harmoko yang memecatnya. Tapi Urip Sutomo tak patah semangat, dan terus berkarya kendati hatinya remuk runtuk. Ia lalu melupakan Kediri dan bekerja di Jakarta sebagai sales executive selama 15 tahun.
Campuran antara fakta jurnalistik, kisah hidupnya yang warna-warni, dan penulisan yang memikat, membuat buku ini menarik dibaca dan memaksa pembaca mengikuti terus aliran emosi penulis sampai habis di halaman 158.
Urip Sutomo adalah alumnus Akademi Penerangan, Jakarta, Angkatan Ke-XV, kemudian melanjutkan kuliah di sebuah PT swasta. Sejak remaja ia terlibat aktivitas kesenian, diskusi politik, kebudayaan. Dibesarkan di lingkungan budaya pesisir yang serba terbuka dan terus terang, yaitu Pekalongan, ia menjadi orang kritis berani menentang kemungkaran. Karena itu tak cocok di lingkungan ambtenaar.
Ia mendirikan surat kabar mingguan Optimis delapan tahun lalu dan tetap berjalan hingga sekarang. Menikah dengan teman sekampusnya, ia dikarunia tiga anak dan empat cucu. Semangat menentang ketidakadilan terus membara di hatinya, seperti semboyan Departemen Penerangan dulu, Api Nan Tak Kunjung Padam. Maka ia pun terpukul ketika wartawan kebanggaannya terlibat penipuan, ketua LSM yang ia kagumi menyerah, dan pengacara yang ia percayai ambil langkah menyimpang. Semuanya karena tekanan ekonomi. C’est la vie. Inilah kehidupan. Penuh rona.