Senyum dikiiit - 0

thumbnail
Pengacara, wartawan, dan tentara

Bintang film Hollywood beken era 30-40an, Errol Flynn, menulis dalam otobiografinya bahwa, katanya, Tuhan menciptakan semuanya serba sempurna. “Hanya satu kesalahan yaitu ketika Ia menciptakan pengacara,” tulisnya. Jelas saja ia sewot kepada pengacara, sebab ketika dirinya bercerai dengan istrinya, ia digugat hartanya habis-habisan. “Pengacara istriku menguliti aku hidup-hidup,” keluhnya. Akibat gugatan itu ia bangkrut hartanya habis.
Sastrawan Inggris William Shakespeare dalam ceritanya berjudul Cade’s Rebellion menulis: Kill all lawyers. Begitu ekstrem ya?
Para akhir era 70-an, Majalah Tempo, mengadakan polling kepada para orangtua mengenai siapa calon mertua ideal mereka. Dokter terbukti menempati urutan pertama, disusul insiyur kemudian pengusaha.
Siapa menantu yang tidak mereka sukai? Urutan pertama ditempati pengacara, kemudian wartawan dan berikutnya tentara!

Artikel - 9

thumbnail
Always Sex

Oleh Adji Subela

Sungguh menyedihkan ketika muncul berita seorang gadis hilang “digondol” cowok yang baru dia kenal beberapa hari sebelumnya lewat jejaring sosial facebook. Berita tadi lantas memancing tersiarnya kasus serupa yang ternyata banyak juga terjadi di daerah lain. Bukan cuma ‘penculikan’ saja tapi menyangkut segala jenis skandal yang pada intinya berkisar pada masalah susila, jelasnya saja seks!
Tak heran bila ada ulama Islam yang mengharamkan facebook untuk disimak kaum muslimin/muslimah. Tentu saja fatwa itu merugikan ummat sendiri. Essensi sebenarnya adalah bagaimana kita memakai, mengelola facebook itu sehingga dapat mengambil manfaat sebesar-besarnya dan menghindari mudharat hingga sekecil-kecilnya. Ibarat pisau, bisa dipakai sebagai alat untuk menyejahterakan manusia dan dapat pula untuk tindak kejahatan. Masalah utamanya bukan pada wahana facebook, tapi kerangka berpikir rakyat kita.
Rakyat perlu diajar, dididik, diarahkan bagaimana memanfaatkan facebook atau jenis jejaring sosial lainnya guna meningkatkan harkat hidup serta martabat mereka. Itulah tugas ulama dan umara serta semua komponen masyarakat termasuk media massa.
Luar biasa banyak manfaat yang mampu kita gali dari jejaring sosial seperti ini. Wahana ini dapat menemukan kembali teman yang terpisah puluhan tahun, bertukar-menukar informasi-pengalaman-pengetahuan, mencari peluang-peluang bagi kesejahteraan bersama dan masih banyak lagi. Kenapa harus dilarang?
Memang harus diakui, guna mendidik masyarakat agar lebih pintar dan bijaksana jauh lebih sulit ketimbang mengeluarkan larangan-larangan.
Sex dan sex lagi
Seorang kenalan saya, seorang asing, pernah mengeluh kepada saya, kenapa orang-orang Indonesia selalu berpikir dan berkutat pada masalah seks. Ia mengritik kenapa energi untuk itu tidak disalurkan ke arah yang produktif untuk meningkatkan kualitas hidup pribadi dan lingkungannya. Terus terang saya agak tersinggung mendengar keluhannya, tapi akan lebih lucu kalau saya marah dan memberi argumentasi ngawur. Pada kenyataannya, apa yag dikeluhkan itu fakta!
Seorang kawan saya yang selbih senior bercerita, ketika ia menjalani program pendidikan non-degree di Amerika Serikat, ia hidup sekamar dengan seorang rekannya dari Nigeria, Afrika Barat. Si Nigeria itu menguji “pengetahuan” teman saya itu tentang kenapa para muda-mudi Barat itu berasyik-masyuk dengan pasangan masing-masing di taman umum. Hari itu hari Kamis.
“Tidak tahu,” jawab teman saya.
“You know, mereka itu sedang pemanasan untuk nanti malam Minggu. Itu harus dikerjakan sekarang karena mereka dingin sekali,” jawab si tman dari Afrika tersebut.
Nampaknya penduduk di daerah tropik mengalami masalah sejenis yaitu bagaimana mengelola dorongan seks mereka. Dan itu nampaknya bukan pekerjaan mudah. Di Indonesia terjadi seperti itu juga.
Maka tak mengherankan bila nafsu seksual berlebih-lebihan semacam itu ingin disalurkan lewat berbagai acara kegiatan sosial yang semula bertujuan luhur dan suci. Banyak kegiatan yang bertujuan baik pada awalnya belakangan diselewengkan untuk menunjukkan kejantanan dan kebetinaan. Tentu saja ini hanya pekerjaan “oknum”, satu istilah yang populer di jaman Orde Baru dulu itu, bukan gambaran umum. Akan tetapi anehnya, skandal-skandal yang membikin kegiatan-kegiatan baik itu menjadi mandeg antara lain ya seks itu, di samping masyarakat kita rata-rata suka ikut-ikutan, latah tanpa mengerti esensi kegiatan yang diikutinya, pamer untuk memuaskan ego mereka dan sebagainya.
Sebelum facebook merajalela seperti sekarang ini, dulu kita mengenal kegiatan radio antarpenduduk (citizenband). Perangkat radio itu dipakai agar penduduk dapat saling berhubungan, bersosialisasi, tukar menukar informasi, saling tolong-menolong, dan sebagainya. Kesibukan di jaman modern membuat orang sulit bertemu muka antara sesamanya. Dipakailah radio itu sebagai sarananya.
Di Indonesia, pernah dilanda demam radio semacam itu. Luar biasa kegiatannya, seolah-olah tak ada kegiatan lain yang bernilai. Bermacam-macam acara diadakan. Orang yang tak tahu teknik radio pun tergila-gila dan menjadi trend, gaya hidup, life-style. Wadhuh luar biasa sekali. Padahal kegiatan amatir radio sebelumnya sejak akhir era 60-an sudah ada, hanya di kalangan para penggemar teknik elektronika, utamanya pemancar. Mereka yang menjadi anggota harus punya kualifikasi tertentu, ditest dalam masalah elektronika. Radio antarpenduduk tidak, karena semua perangkat banyak ditemui di pasaran kendati organisasi mereka punya aturan ketat juga. Jadi siapa pun mampu bermain-main.
Tapi ya itu tadi. Setelah demam itu menyebar, maka terjadi pembiasan. Tujuan mulia berubah jadi ngeres. Istilah copy darat menjadi populer, yaitu pertemuan para pemakai radio itu dengan sesamanya; tidak di udara tapi bertemu fisik. Lalu banyak terjadi skandal, apalagi kalau bukan seks. Hobby yang semula bermanfaat jadi rusak. Setelah itu masyarakat kita yang hebat-hebat itu bosan, kegiatan itu hilang begitu saja, kecuali para penggemar murni, yaitu mereka yang suka pada masalah elektronika.
*****
Demam sebelumnya adalah interkom. Ini ketika radio antarpenduduk belum masuk masyarakat. Interkom, alat komunikasi dua arah yang masih memakai kabel sebagai penghantarnya, menjadi ramai. Kelompok-kelompok penggemar interkom berhimpun guna bersosialisasi kemudian menjadi seksualisasi. Tak sedikit skandal seks yang muncul sebagai efek negatif kegiatan itu. interkom pun hilnag karena orang kita cepat bosan.
*****
Jogging menjadi trend setelah tersiar foto Presiden AS Jimmy Carter ber-jogging bersama para pengawalnya. Kegiatan itu jadi mode seluruh dunia dan tentu saja termasuk Indonesia. Di mana-mana orang bicara jogging, diskusi berdebat, berkumpul, lalu hilang begitu saja. Tak ada atlet marathon yang mendunia dari kegiatan itu dari Indonesia seperti di masa almarhum Gurnam Singh, pemuda asal Medan. Yang beruntung tentu saja para pabrikan dan penjual sepatu olahraga. Sisanya adalah skandal-skandal di jalan dan lapangan.
*****
Sepeda gunung! Alangkah hebohnya kegiatan bersepeda gunung. Mountain bike! Fun bike! Tiap hari Minggu, di sana-sini. Ngobrol sepeda gunung, diskusi berdebat, berkumpul dan kemudian belum ada atlet balap sepeda yang muncul mendampngi Lance Amstrong. Lagi-lagi yang terlihat adalah cengengas-cengenges dua manusia beda jenis, lalu kegiatan itu hilang lagi. Masih beruntung sekarang ini kegiatan bersepeda masih ramai, dan lagi trend (lagi-lagi trend, lagi-lagi trend) sepeda lipat. Entah sampai kapan kegilaan ini berlangsung, mendampingi kegilaan penggemar sepeda onthel yang suka mejeng dengan pakaian aneh-aneh.
*****
Era 70-an ditandai dengan menjamurnya night-club serta panti pijit di Jakarta. Pusat kegiatan seperti itu dulu ada di Jalan Sabang (sekarang Jl. H. Agus Salim) dan Jalan Blora, dan Arena Pekan Raya Jakarta, di Monas.
Sebenarnya night-club semula bertujuan baik, yaitu tempat berkumpul orang yang tak suka tidur sore. Sejak dari sononya, night-club memang sudah punya konotasi kurang baik. Ketika sampai di Indonesia yang kurang baik itu nampaknya berkembang lebih subur.
Panti pijit atau massage-parlour adalah tempat orang untuk melonggarkan otot setelah bekerja berat. Mereka mencari ahli pijit untuk mengendorkan otot yang kaku itu di parlour tersebut. Ide itu ditangkap oleh orang Indonesia dan banyak yang kemudian cepat berkembang menjadi tempat mesum. Panti pijit lalu mendapat embel-embel tradisional dan sebagainya, hingga tempat pijit yang betul-betul perlu memberi tambahan predikat: Pijit untuk keluarga.
Begitu kreatif, mudah, serta cepatnya orang-orang Indonesia (terutama prianya) untuk mengubah tempat itu menjadi lokasi mesum.
*****
Tentu saja saya tak punya angka persis untuk menunjukkan bukti-bukti penyelewengan itu. Tentu perlu penelitian serius tentang hal itu, apalagi kalau peristiwanya sudah lewat, jelas sulit mendapatkan informasi-informasi. Namun rasanya kita tidak pula gampang membantah sinyalemen seperti itu, karena fakta-faktanya ada di sekitar kita.
Apa yang ingin saya sampaikan adalah, kenapa kita hanya kreatif dalam masalah-masalah negatif seperti itu? Kenapa kita selalu memaknai sesuatu dengan kerangka seksual seperti itu?
Maksud saya, tidak semua dikerangkai dengan seksualitas. Kita banyak kreatif misalnya di bidang otomotif. Modifikasi menjadi thema menggelegar. Kita jago berkreasi dalam modif (itu istilah keren mereka) kendaraan bermotor.
Bagi saya, kreatif harus mampu mencipta yang baru. Itu intinya. Kita selalu keliru dan salah jalan. Kalau saja kita di track yang benar, maka kita menjadi negara jempolan, karena pada intinya kita secara individual manusia kreatif. Kalau kita kalah dengan Cina (padahal Pembangunan Lima Tahun mereka 10 tahun lebih lambat dari kita) itu kesalahan “struktural” mulai dari kebijakan pemerintah masa lalu yang salah jalur serta masyarakat yang kurang produktif.

Mutiara Hati - 8

thumbnail
Penulis Adji Subela
Bagian Ke-8

Kunjungan kejutan seorang sahabat
Setelah sederet upacara kami jalani, maka selama seminggu saya masih tinggal di rumah di Jalan Yogya. Saya hanya mendapat cuti dua hari. Kami semua masih berkumpul di rumah istri saya dengan segala keriangannya. Selama itu sejumlah sahabat masih juga datang menemui saya dan istri. Biasanya kami duduk mengobrol hingga malam larut.
Dalam pada itu, saya mendapat tugas untuk memperbaiki asrama kami yang sudah tua. Anggaran sudah kami ajukan ke Jakarta untuk perbaikan kesatrian itu. Saya juga sudah menyiapkan sebuah rumah untuk kami berdua. Rumah ini cukup besar, memiliki tiga kamar yang luas-luas, halaman belakang yang cukup untuk membua lapangan badminton, sebuah garasi dan halaman depan yang lega. Tanah keseluruhannya mencapai luas kurang lebih 400 m persegi.
Pada suatu petang, ketika saya duduk-duduk di beranda bersama istri untuk menikmati sore yang cerah, tiba-tiba masuklah seorang pria yang gagah ke halaman rumah. Sekilas saya tak mengenalinya. Tapi ketika sudah dekat dan dia tersenyum, maka ingatlah saya akan seorang sahabat saya ketika masih duduk di MULO di Jakarta dulu.
Pria itu adalah putra Sunan Surakarta, Solo, Jawa Tengah. Namanya Gusti Pangeran Haryo (GPH) Suryo Suksoro. Saya kaget sekali, bagaimana mungkin dia menemukan alamat saya dan datang ketika saya sedang menjalani bulan madu seperti itu.
“Lho, kamu tahu dari siapa aku ada di sini?” tanya saya. Dia cuma tertawa, sambil menjabat tangan saya erat-erat.
“Ada yang memberitahu. Selamat ya?” ucapnya.
“Aku benar-benar enggak sangka kamu datang ke sini Sur,” sambut saya, “apa kamu ada bisnis di Medan?”
“Tahu enggak? Aku dapat kabar dari kakak iparmu Tengku Kamaliah, aku senang ketemu kamu lagi setelah sekian tahun.”
Setelah duduk, Suryo bercerita bahwa dia punya hubungan bisnis dengan Tengku Kamaliah di Jakarta. Tanpa diduganya, kakak istri saya itu bercerita bahwa dia habis mengawinkan adiknya dengan seorang perwira asal Jawa Barat, namanya Barkah Tirtadidjaja. Mendengar nama itu, Suryo berteriak bahwa itu nama yang bukan asing lagi baginya. Memang, kami bersahabat. Ia bergabung ketika saya sudah berada di klas 3 MULO Jakarta. Kami sering bermain bridge, atau piknik bersama-sama. Ia tahu saya ikut berjuang selama perang kemerdekaan. Maka kami pun mengobrol ke sana ke mari. Sudah bertahun-tahun kami berpisah, terutama sejak Jepang menduduki tanah air, hingga perang kemerdekaan. Baru sekarang saya bertemu kembali dengannya. Dia sendiri hanya ngobrol soal kenangan masa lalu kami, dan tidak bicara masalah bisnis sama sekali. Pada malam harinya dia pamit pulang ke hotelnya. Teman saya semasa di MULO itu sekarang sudah almarhum.
Pindah rumah
Sepekan setelah itu, kami pindah ke Jalan Supeno No. 4. Bersama kami ikut pula beberapa orang keluarga, yaitu Tengku Seri Banun, yang kehilangan suaminya dalam kerusuhan dulu. Empat putranya tinggal bersama sanak keluarga lainnya yang selamat. Seorang anak angkat Kucik, gadis kecil bernama Hetty, ikut kami serta seorang pembantu.
Rumah ini besar, halamannya di depan maupun di belakang luas. Jalan Supeno ini mengambil nama seorang Menteri Pembangunan dan Pemuda dalam Kabinet yang dipimpin oleh Wakil Presiden/Perdana Menteri Muhammad Hatta (29 Januari 1948 – 4 Agustus 1949). Menteri ini gugur dalam Agresi Militer II, diberondong serdadu Belanda di Nganjuk, Jatim, 24 Februari 1949, dan ia disebut sebagai Menteri termuda di dunia waktu itu.
Saya juga mengajak seorang kopral anak buah saya, bernama Salam, untuk tinggal di Jalan Supeno dengan istrinya. Mereka belum punya anak waktu itu. Rombongan keluarga besar ini menyemarakkan rumah kami. Dengan demikian itu Kucik tidak pernah merasa kesepian setelah menikah dengan saya. Sekali lagi ini tidak biasa saya jumpai di kampung halaman saya di Jawa Barat. Biasanya kami dilepas berdua setelah menikah. Semangat kekeluargaan yang tinggi dan selalu ingin bersama merupakan salah satu ciri orang-orang Melayu. Saya pun tidak merasa kikuk untuk hidup berumah tangga untuk pertama kalinya, karena saya sejak kecil sudah terbiasa mandiri. Selama masa perjuangan di hutan dulu pun saya juga hidup sendiri.
Kami sering mengundang kawan-kawan untuk bermain badminton di rumah kami, setelah itu makan bersama. Hobby saya yang lain adalah menyetir mobil hingga ke luar kota. Demikian pula Kucik. Ia pandai menyetir mobil, sehingga sering mengantar Ibunya untuk berobat atau berbelanja. Dahulu ketika almarhum ayahandanya masih hidup, istri saya itu sering menemaninya berkendara mobil mewahnya. Di masing-masing pintu mobil tersebut, terutama Maibach-nya, terdapat simbol kerajaan Langkat.
Kucik pun punya hobby bermain piano. Ia sudah belajar sejak berusia sembilan tahun dan suka berlatih pada saat-saat luangnya. Selain istri saya itu, di Istana ada Tengku Latifah yang piawai sekali memainkan alat musik akordion. Biasanya alat ini dimainkan para pria saja, tapi ternyata dia mampu menggunakannya.
Agar hobby dan kemampuannya bermain piano itu terpelihara, maka saya menemui sahabat saya, seorang Belanda yang menjadi aneemer atau kontraktor, namanya van der Heuvel. Ia punya toko peralatan musik yang cukup terkenal di kota Medan. Ia menjual sebuah baby piano kepada istri saya. Kelak di Singapura saya juga membeli piano untuknya. Istri saya itu memang penggemar seni, seorang seniwati, bukan saja pandai bermain musik tapi pandai mengarang lagu pula. Banyak lagu-lagu yang ia ciptakan, terutama lagu-lagu yang bernada melankolik seperti lagu-lagu perpisahan, dan sebagainya. Kemungkinan karena dia lahir dan hidup di lingkungan Istana yang serba berkecukupan dan termanjakan itulah sehingga ia justru suka pada suasana melankolis, romantik semacam itu.
Kelak ketika kami bertugas di Kairo, Mesir, ia mengumpulkan para istri diplomat dan staff lainnya untuk bermain musik. Istri saya bermain organ untuk mengiringi nyanyian rekan-rekannya. Itu dilakukan pada pagi hingga tengah hari. Oleh karena ruang kerja kami tak jauh dari tempat mereka bermain, maka suara-suara mereka itu bisa kami dengar pula dari kantor.
Demikianlah kehidupan kami mengalir dengan indahnya, seperti aliran Sungai Deli yang saat itu masih jernih airnya dan sejuk suasananya.
Akhirnya pada tanggal 4 Oktober 1951, anak kami yang pertama lahir, yaitu seorang putri, lalu kami beri nama Maurina. Ia lahir di rumah sakit milik dokter Belanda.
Menurut adat istiadat Melayu, pada usianya yang ke 40 hari, bayi diberi upacara khusus, namanya turun sungai. Berbeda dengan tedhak siten untuk masyarakat Jawa, atau turun tanah untuk bayi berusia tujuh bulan, upacara ini sekaligus juga dilaksanakan dengan potong rambut. Oleh karena Ibunya keturunan ningrat, maka sebelum mengikuti upacara potong rambut, orang menguncir rambut si anak, kemudian memasanginya cincin emas. Nantinya kunciran atau ikatan itu akan dipotong oleh para keluarga, pejabat, atau tokoh masyarakat, dan cicin akan menjadi kenang-kenangan untuk mereka.
Upacara itu meriah, apalagi karena kedua orang tua saya juga datang untuk menjenguk cucunya. Mereka berdua naik kapal KPM dari Tanjung Priok, dan untuk pertama kalinya dalam hidup mereka pergi berlayar ke tanah seberang selama tiga hari. Baginya ini pengalaman yang menarik. Kepada saya mereka bercerita alangkah indahnya perjalanan memakai kapal laut itu. Banyak kenalan baru mereka dapatkan, dan umumnya ramah-ramah. Saya sendiri menjemput ayah dan ibu yang datang dari jauh itu, ke Pelabuhan Belawan memakai kendaraan dinas, dan langsung ke rumah kami di Jalan Supeno. Kedua orang tua saya begitu gembira melihat cucunya lalu dibacakannya doa keselamatan untuknya.
Permata mutiara dari Kesultanan Langkat itu telah menghadiahi saya seorang putri yang cantik, mungil, dan menggemaskan. Segera saja bayi itu menjadi rebutan pada saudara untuk menggendongnya. Saya merasakan semangat hidup saya bertambah besar. Ada semacam kebanggaan memiliki bayi putri mungil itu, dan semangat kerja saya pun meningkat. Ada semacam rasa bahagia luar biasa dan bahagia tak terperikan saat memandangi anak kami itu. Masa depan menanti kami sekeluarga entah di mana, hanya Tuhan yang tahu ……..