Langsung ke konten utama

Senyum dikiiit - 0

Pengacara, wartawan, dan tentara

Bintang film Hollywood beken era 30-40an, Errol Flynn, menulis dalam otobiografinya bahwa, katanya, Tuhan menciptakan semuanya serba sempurna. “Hanya satu kesalahan yaitu ketika Ia menciptakan pengacara,” tulisnya. Jelas saja ia sewot kepada pengacara, sebab ketika dirinya bercerai dengan istrinya, ia digugat hartanya habis-habisan. “Pengacara istriku menguliti aku hidup-hidup,” keluhnya. Akibat gugatan itu ia bangkrut hartanya habis.
Sastrawan Inggris William Shakespeare dalam ceritanya berjudul Cade’s Rebellion menulis: Kill all lawyers. Begitu ekstrem ya?
Para akhir era 70-an, Majalah Tempo, mengadakan polling kepada para orangtua mengenai siapa calon mertua ideal mereka. Dokter terbukti menempati urutan pertama, disusul insiyur kemudian pengusaha.
Siapa menantu yang tidak mereka sukai? Urutan pertama ditempati pengacara, kemudian wartawan dan berikutnya tentara!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ikan Bakar Mak Etek Pontianak

Warung ikan bakar Mak Etek (Si Paman kecil) di Pasar Menara, di tengah Kota Pontianak, Kalbar, ini sederhana saja. Tempatnya di tengah los-los pasar seperti yang lain. Tapi ketika kita mendekati warung milik Mak Etek yang nama aslinya Bagindo Alizar (82 tahun) ini, maka indera pertama yang terangsang adalah bau harum ikan bakar yang dijamin menggugah selera makan. Kemudian indra penglihatan segera menangkap kepulan asap tebal dari proses pembakaran ikan yang dikerjakan di samping warung itu. Warung berukuran empat kali sepuluh meter ini dipenuhi delapan meja plastik bundar, dengan masing-masing empat kursi. Hampir setiap saat meja-meja itu dipenuhi pelanggan yang begitu nikmat menyantap ikan bakar, ikan gulai, gulai petai, taoge rebus, daun ubi kayu. Suasana di warung ikan bakar Mak Etek bertambah khas dengan teriakan pelanggan yang meminta tambah nasi atau ikan, serta teriakan pelayan. Begitu riuh, dan berselera di tengah udara panas Pontianak yang berada di garis khatulistiwa, kendat…

Nasi Goreng Madura di Pontianak

Minyak Srimpi

Pada era 50-an tak banyak produk minyak wangi yang beredar di pasaran, terutama yang harganya terjangkau oleh mereka. Oleh karena itu, minyak pengharum badan itu banyak diproduksi perusahaan-perusahaan kecil guna memenuhi kebutuhan pasar akan pengharum. Oleh karena formulanya sederhana dan memakai bahan-bahan atau bibit minyak wangi yang terjangkau, maka dapat dikatakan hampir semua minyak wangi yang beredar waktu itu baunya nyaris seragam.           Satu merk yang popular pada saat itu, dan ternyata masih eksis hingga sekarang adalah minyak wangi cap Srimpi. Minyak ini dikemas dalam botol kaca kecil berukuran 14,5 ml, dengan cap gambar penari srimpi, berlatar belakang warna kuning.           Pada masa itu minyak Srimpi dipakai oleh pria maupun perempuan klas menengah di daerah-daerah. Baunya ringan, segar, minimalis, belum memakai formula yang canggih-canggih seperti halnya minyak wangi jaman sekarang.            Ketika jaman terus melaju, maka produk-produk minyak wangi yang lebih “…