Kongres Pelacur se Dunia (Bagian 3)

Kongres Pelacur se Dunia (Bagian 3)

Violetta, Belanda


- Menjadi pelacur
karena pilihan sadar
(Hanya untuk orang dewasa) Miriam asal Lebanon
Oleh Adji Subela
Satu tuntutan yang mengejutkan para orang Indonesia seperti saya yaitu bahwa mereka, para pelacur itu, minta agar mereka dapat menyediakan pelayanan pada kondisi yang sepenuhnya ditentukan oleh mereka sendiri, dan bukan oleh siapa pun juga. Sebagai orang-orang yang menganut kebebasan, maka tuntutan itu wajar sekali mengingat mereka menjadi pelacur atas pilihannya sendiri, dan menganggap pekerjaan itu sama terhormatnya seperti pekerjaan lainnya.
Itu belum apa-apa, mereka ini minta agar ada satu komisi khusus untuk menjamin perlindungan hak-hak pelacur, dan dapat menampung gugatan-gugatan dari anggota mereka. Entah kenapa mereka tidak mengusulkan ICPR menjadi Komisi Hak-hak Pelacur se Dunia.
“Komisi ini harus terdiri dari para pelacur dan profesi lainnya seperti pengacara, medis, serta para pendukung hak-hak pelacur,” demikian yang tertulis pada pernyataan pers.
Komisi Hak-hak Pelacur di Indonesia?

Dasar.....

thumbnail
Tiga orang serdadu dijatuhi hukuman masing-masing 50 kali cambukan di punggung. Komandannya mengatakan mereka boleh mengolesi punggungnya dengan minyak zaitun atau balsem sebelum hukuman dilaksanakan.
“Saya minta punggung saya diolesi minyak zaitun,” kata serdadu yang berdarah Inggris.
“Huh, saya tidak seperti si Inggris itu, saya tidak pakai apa-apa di punggung karena saya orang kuat, tangguh,” kata orang berdarah Irlandia.
“Permintaan kamu apa buat punggungmu sebelum dicambuk?” tanya komandan kepada serdadu berdarah Yahudi.
“Tolong pasang orang Irlandia itu di punggung saya.”
*****
Seorang Inggris, seorang Australia, dan seorang Skotlandia diundang ke sebuah pesta. Orang Inggris menenggak enam botol Guiness, orang Australia enam kaleng bir, sedangkan orang Skotlandia menenggak milik teman-temannya itu.

Kongres Pelacur se Dunia (Bagian 1)

Kongres Pelacur se Dunia (Bagian 1)

Gambar kanan: Saya dipotret teman wartawan Le Provencal, Marseille, Prancis, di depan gedung Parlemen Eropa, Rue Belliard, Brussel, Belgia.


- “Tolong ceritakan pada saya....”

(Hanya untuk orang dewasa)

Tulisan ini bersifat laporan jurnalistik. Isinya bukan berupa pendapat pribadi dan tidak menggambarkan persetujuan penulis, tapi laporan sesuai apa yang dilihat, dan didapatkan keterangan lainnya mengenai materi kongres, sesuai perannya sebagai reporter. Kalau di sana-sini ada terselip pandangan pribadi, tidak menunjukkan persetujuannya, dukungan atau penolakannya terhadap materi liputan.

Oleh Adji Subela

Saya girang sekali menemui bulan Oktober 2011 ini. Ada keinginan untuk merayakan satu karya ‘masterpiece’ yang pernah saya buat tepat 25 tahun lalu. Satu ‘mahakarya’ dalam pekerjaan saya di bidang jurnalisme sejak 1977 hingga tahun 2004 (27 tahun) setelah saya memutuskan untuk menjadi penulis lepas saja.

Perkenanlah saya menyombongkan diri sedikit sebab sudah lama sekali saya tidak melakukannya. Saya sebutkan tadi ‘mahakarya’, karena sejak karya itu muncul di SKH Pos Kota, dari tanggal 20 hingga 26 Oktober 1986, saya tidak pernah mampu membikin artikel yang begitu banyak dibaca orang, dan banyak pula mendapatkan reaksi dari pembaca, baik langsung maupun tidak. Isinya macam-macam, dari petuah agama hingga dorongan moril untuk “terus berjalan ke arah maksiatisme”, atau kritik-kritik teknis. Pro dan kontra. Dan gara-gara artikel ‘menggegerkan’ itu pula saya kehilangan kesempatan untuk memacari seorang gadis cantik dari keluarga sangat baik-baik dan terhormat, yang berdomisili di daerah elite di Jakarta. Orangtuanya belum paham benar tugas wartawan itu macam apa. Tapi di kalangan kolega para wartawan, termasuk para senior yang bekerja di koran-koran besar, mereka menyatakan salut, selain ada yang sinis dan bercuriga. Beberapa pertanyaan meluncur, di antaranya, “Kok Anda tahu-tahunya ada kongres begituan,” atau, “Wah, asyik dong..ssshhh hemm...hemmm.....,” begitu salah seorang kolega asyik berfantasi sendiri.

Wartawan senior dari SKH Kompas Bung Agus Parengkuan, bilang, sebetulnya kalau artikel itu ditulis selama sebulan lebih, pasti masih banyak orang yang membacanya. Sayangnya redaksi saya tetap minta cukup seminggu saja. Barangkali itu salah satu upaya untuk “menyelamatkan” saya juga. Sampai beberapa minggu, asal saya bertemu dengan pejabat pemerintah atau narasumber selalu dikenalkan nama, jabatan dan apa yang saya kerjakan di awal Oktober 1986 hingga apa yang saya tulis kemudian. Banyak di antara mereka ketawa dan berkomentar, “Aduh hebat, dong.”

Saya yakin rata-rata mereka mengira saya langsung gila seperti Kaisar Ketiga Kekaisaran Romawi yaitu Caligula yang hidup antara 16 Maret 37 Masehi hingga 24 Januari 41 Masehi dulu itu. Berpesta-pora orgy tanpa batas. Mereka lupa saya cumalah seorang wartawan, reporter, pelapor atas kejadian yang ada. Di samping itu dompet saya menjadi salah satu penghambat efektif untuk mencegah lebih dari pekerjaan saya. Begitu banyak efek pada saya gara-gara artikel itu.

Maka pantas ‘kan? Kalau saya merayakan 25 tahun ‘mahakarya’ ‘masterpiece’ itu? Pada kenyataannya, tidak banyak wartawan yang mendapatkan kesempatan emas untuk hadir di satu peristiwa yang membikin semua orang – terutama perempuan – bergidik kejijikan. Tentu saja saya tulis pengalaman ini dengan risiko bahwa orang akan menganggap saya sebagai bagian dari komunitas yang akan saya liput, atau paling apes seorang pendosa. Mungkin saya pendosa tapi bukan di bidang itu.

Saya memaklumi itu semua, sebab tidak banyak orang yang memahami pekerjaan wartawan. Orang selalu mengira wartawan ‘pasti’ terlibat dalam apa yang ditulisnya. Padahal prinsip dasar pelaporan jurnalistik itu, justru wartawan tidak boleh larut dalam sumbernya, sebab tidak akan obyektif. Dia mewakili semua golongan pembaca yang tentu berbeda-beda pendapatnya. Inilah doktrin jurnalisme yang diajarkan kepada saya di sekolah dulu dan saya praktikkan di bawah bimbingan para senior yang profesional.

Tentu prinsip atau doktrin demikian ini pada saat sekarang dipertanyakan eksistensinya karena para wartawan muda tidak tahu atau pun mungkin tak mau lagi memegang prinsip obyektif, faktual, steril, berimbang. Ini menyedihkan.

Baiklah sebenarnya apa ‘masterpiece’ yang saya gembar-gemborkan dengan agak berlebihan itu? Ceritanya begini:

Ide dari berita sekolom

Pada suatu siang di bulan September 1986, saya sudah lelah ke sana ke mari mencari narasumber tak bersua juga. Pagi-pagi saya ke DPR RI di Senayan, Jakarta, tapi tak mendapatkan narasumber yang saya kehendaki. Maka saya pun meluncur ke Press Room Markas Besar Hankam/ABRI di Jalan Merdeka Barat. Di sana enak sebab sepi (jarang wartawan mau singgah di tempat ini dengan alasan “seram”) AC-nya dingin dan ada banyak kenalan di situ.

Tanpa sengaja saya baca bundel SKH Sore Sinar Harapan edisi kemarinnya. Salah satu rubrik yang saya tidak pernah lewatkan adalah berita kecil-kecil dari luar negeri, karena banyak isinya yang menarik. SKH Kompas juga memiliki rubrik seperti itu yang saya ikuti sejak 1975. Cara penulisannya, singkat dan kocak.

Tiba-tiba mata saya menangkap berita kecil, hanya satu alinea, yaitu mengenai rencana penyelenggaraan Kongres Pelacur se Dunia Ke II di Brussel, Belgia. Lho, yang kedua? Kok aku baru tahu ya? Yang pertama diadakan di Amsterdam, Belanda, tahun sebelumnya. Kongres ‘barang antik’ ini akan diselenggaran awal Oktober 1986 itu juga. Wah, ini menarik sekali.

“Ntar kalo nyampe di kantor gua mau kasih tahu redaksi,” ujar saya kepada teman sejawat.

Nah, belum lagi sepuluh menit berlalu, datanglah telepon dari redaksi Pos Kota ke Press Room. Nampaknya redaktur saya, Pak Syukri Burhan, mencari-cari di mana saya berada. Maklum HP belum ada saat itu.

“Udah baca SH, Bela,” tanyanya dari seberang sana. Feeling saya bicara, ini tentu menyangkut kongres gendeng itu. “Sudah, di Belgia awal Oktober ‘kan?” jawab saya. Pak Syukri ketawa, “Tahu aja kamu,” katanya, “jadi kamu ditugasi redaksi meliput kongres itu. Datang ke kantor cepat buat mengurus semuanya.”

Entah karena kesenangan atau apa, saya pacu mobil Citroen seri GS ke kantor Pos Kota di Jalan Gajah Mada, Jakarta Kota. Di kantor semua sudah dipersiapkan, tinggal saya mengurus visa ke Kedubes Nederland. Dengan satu visa maka dapat saya pakai untuk Belgia, Nederland, dan Luxembourg (Benelux).

Saya tahu, redaksi memilih saya karena kemampuan Bahasa Inggris saya di atas rata-rata teman sejawat. Bayangkan, begitu hebatnya bahasa Inggris saya sampai orang Inggris pun tidak paham! Satu bahasa dengan tata bahasa “sekolahan”, dengan dialek Jawa Timuran, pronounciation amburadul, kosa kata terbatas, maka dialog harus ditambah dengan kemampuan saya dalam bermain pantomime, salah satu ketrampilan seni yang saya kuasai. Saya temukan kemudian ternyata banyak ‘bahasa tubuh” yang sama secara internasional. Bagaimana bahasa untuk makan, tidur, menangis, dan menjepit jempol tangan di antara telunjuk dan jari tengah! Semua sama. Kenapa susah-susah belajar bahasa asing ya?

Tolong ceritakan pada saya nanti ya?

Esoknya pagi-pagi saya mengurus visa ke Kedubes Belanda di Jalan Rasuna Said, Jakarta. Di pos depan, seorang nyonya staf lokal dengan angkuh bertanya mau ketemu siapa? Saya bilang dengan atase pers, saya wartawan. “Oh, itu Meneer...., tapi beliau itu sibuk” jawabnya dengan gaya lebih Belanda dari orang Belandanya sendiri.

“Saya kira tugas Anda menyampaikan pesan saya saja,” jawab saya agak sombong juga.

Mr. X, si atase ini, sangatlah ramah. Rambutnya hitam dan sudah banyak diselingi warna abu-abu. Wajahnya justru mirip orang India. Dia menyuruh stafnya untuk mengurus visa saya dan cepat terlaksana. Tapi atase pers ini nampaknya suka berbincang-bincang tentang apa saja, dan kami keasyikan mengobrol. Sadar bahwa saya harus ke Kantor Imigrasi Bogor untuk minta exit-permit, saya minta diri. Dia mengantarkan saya langsung hingga ke pintu terdepan.

“Bila sudah sampai sudilah Anda datang ke sini. Ceritakan pada saya. Saya ingin mendengar kejadian unik itu langsung dari Anda,” katanya dengan sopan. Sayangnya saya tak pernah mampu menepati janji itu. Saya tak tega bercerita di depan Atase Pers mengenai Kongres Pelacur se Dunia, selain kemudian kesibukan menelan waktu saya bulat-bulat.

Tanpa buang waktu saya ngebut ke Bogor ke kantor imigrasi. Siang hari urusan exit-permit rampung lalu saya mengurus tiket ke Belanda. Berdasarkan saran teman, saya disuruh mengambil perusahaan penerbangan dari salah satu negara di Asia Tenggara juga.

“Maskapai nasional kita servisnya payah kepada orang pribumi, tapi berlebihan pada orang bule. Mana pramugarinya jelek-jelek, judes lagi,” tuturnya menilai maskapai nasional waktu itu.

Singkatnya saya terbang 16 jam ke Schiphol, Belanda. Teman saya benar. Pelayanan maskapai penerbangan itu prima, penumpang dimanjakan tanpa memandang warna kulit atau isi dompetnya. Selama itu kami disuguhi macam-macam jenis makanan hampir tidak pernah berhenti!

Oleh karena waktunya masih sangat longgar, maka saya bersenang-senang sedikit di Amsterdam untuk “studi banding” rumah-rumah pelacuran di kota itu. Negeri ini amat liberal. Pelacur (ah, sekarang pakai nama PSK, dulu WTS, padahal wujudnya ya itu-itu juga) di sana disamakan dengan pekerja, ditarik pajak, tapi juga diberi hak-hak seperti buruh lainnya. Para pelacur datang dari berbagai negara, seperti Turki, Yordania, Siprus, dan beberapa negara Eropa bahkan Afrika. Mereka bebas dan tenang saja sebab dijamin hak-haknya. Leidseplein sangat terkenal sebagai daerah “lampu merah” Amsterdam.

Menjelang akhir bulan saya naik kereta api ke Brussel. Keretanya bersih, nyaman, dan sangat tepat waktu (oh, PT KAI-ku yang malang).

..........bersambung .......

Kongres Pelacur se Dunia (Bagian 2)

Kongres Pelacur se Dunia (Bagian 2)


(Hanya untuk orang dewasa)
- Menuntut status hukum jelas
Oleh Adji Subela
Saya tiba di kota Brussel, Belgia, 28 September 1986. Tentu saja, seperti kota-kota lain di Eropa, kota ini bersih, teratur, dan lalulintasnya tertib. Pada jam-jam kerja, keadaannya sepi seperti kota mati. Warganya bekerja diam-diam tanpa banyak kata di dalam gedung-gedung jangkung. Pada pagi hari, manusia menyemut keluar dari liang-liang kereta api bawah tanah (subway), lantas sepi kembali, setelah mereka terserap ke dalam gedung-gedung itu. Pada jam-jam pulang, mereka menyemut kembali berarak masuk liang bawah tanah dan lalu kota sepi lagi.
Tempat Kongres Pelacur se Dunia itu adalah Gedung Parlemen Eropa di Rue Belliard nomer 97 – 133 dekat ke wilayah Luxembourg. Sungguh luar biasa, kongres seperti ini mendapat tempat terhormat. Ini tak lain atas usaha ICPR (International Committee for Prostitutes’ Rights) serta GRAEL, satu organisasi perempuan anggota parlemen Eropa yang peduli terhadap masalah-masalah perempuan.
Koran-koran lokal edisi 29 September menyebutkan, sejumlah pelacur dari berbagai negara sudah berdatangan di Brussel dan menginap di berbagai hotel. Tak dijelaskan di hotel mana mereka menginap, mungkin demi keamanan calon peserta itu sendiri walaupun dari segi bisnis tentu menguntungkan adanya publikasi semacam itu. Beberapa di antaranya bahkan sudah mendaftarkan diri di Gedung Parlemen Eropa yang megah dan berwibawa itu tanpa diketahui umum. Bahkan resepsionis gedung itu sendiri tidak tahu bakal ada acara istimewa di gedung tempat mereka bertugas.
“Apa? Kongres pelacur se dunia?” tanyanya terlonjak dalam bahasa Inggris patah-patah dan nampak terkejut bukan main seperti tersengat sepuluh ekor lebah di pantatnya. Setelah saya menyebutkan nama ICPR, ia baru paham bahwa tanggal 1 Oktober memang ada acara organisasi itu di tempat tersebut. Lega hati saya.
Saya datang tanggal 30 September pagi-pagi guna mencari tahu ihwal kongres tersebut. Di lift saya berjumpa dengan dua orang perempuan Asia, dua orang yang cantik-cantik dan mungil-mungil. Saya tanya mereka dari mana. Katanya dari Thailand.
“Apa kalian akan ikut kongres?” tanya saya.
“Tidak, kebetulan kami ada keperluan di sini,” jawabnya, “apa Anda dari Thailand juga?”
“Bukan, saya orang Indonesia,” jawab saya. Mereka segera pergi cepat-cepat begitu pintu lift terbuka. Aneh. Apa mereka takut saya perkosa? Bagaimana mungkin? Di siang hari bolong di tempat terhormat seperti itu?
*******
Tanggal 1 Oktober 1986. Pukul 14.30 waktu setempat.
Gedung Parlemen Eropa terbelah menjadi dua bagian oleh sejalur jalan kecil. Nomer 97 terletak di selatan sedangkan gedung utama di seberangnya. Di gedung nomer 133 terdapat pengumuman untuk pers yang menyebutkan konperensi pers mengenai The 2nd World Whores Congress atau Kongres Pelacur se Dunia II diselenggarakan di gedung nomer 97 pukul 15.00.
Satpam gedung menyuruh kami menunggu di lobby. Di sana terlihat ada 5 (lima) wartawan lain yang menunggu. Salah seorang di antaranya berkulit hitam metalik, kepala plontos, hidungnya mancung. Kira-kira ia datang dari Afrika bagian Utara, melihat ciri-ciri fisiknya. Dia pun tertarik akan saya, karena berpotongan badan pendek, berkulit sawo matang, kontras dengan para bule di sekitar saya.
“Anda wartawan dari mana?” tanya si hitam kepada si coklat.
“Dari Indonesia,” jawab saya. Ia terbelalak, nampaknya ia kenal betul dengan nama negara saya itu.
“Apakah Anda koresponden di Belgia?” tanya lagi lebih serius.
“Tidak, saya datang langsung dari negara saya?”
“Jakarta?”
“Betul”
Ia pun lalu menjabat erat tangan saya sambil ketawa, “Nama saya C.B. dari Ethiopia, saya bekerja di Belgia sini.” Mungkin itu satu ekspresi kegembiraan bahwa negaranya telah kita sumbang gabah 100 ton ketika kita sedang jaya-jayanya swasembada beras, guna mengurangi beban kelaparan di negeri itu.
C.B. begitu antusias sampai berteriak kepada teman-temannya bahwa ada wartawan “culun” dari Indonesia yang datang khusus untuk meliput kongres tersebut. Saya menjadi satu-satunya wartawan tembak langsung dari Asia, khusus untuk acara ganjil tersebut. Tiba-tiba saya jadi narasumber pertanyaan bertubi-tubi, kenapa soal seperti ini begitu penting bagi koran saya, dan kenapa sendirian? Tak ada wartawan foto?
Saya baru tahu waktu itu, wartawan Eropa sangat ketat membedakan wartawan tulis dan foto. Padahal di negeri saya, kalau mungkin satu orang wartawan bisa merangkap fotografer, sekaligus tukang setting, opmaak dan tukang cetak sekaligus supaya irit!
Tak mudah menjawab pertanyaan tersebut. Tapi buru-buru saya sadar bahwa ini negara Barat yang semuanya terbuka, jujur. Saya sebutkan, koran saya adalah koran kota dengan penekanan berita pada masalah kriminal, olahraga, perkotaan, dan sedikit aktivitas dunia “lampu merah”.
Mereka paham dan tidak ada yang memberi saya kuliah agama atau kuliah filsafat gratis tapi tanpa diminta seperti di negeri dewek. Soal agama atau kepercayaan adalah masalah pribadi yang sangat mereka hormati.
Akhirnya ada sekitar 20-an wartawan yang berkumpul di situ termasuk mereka yang dari stasiun tv setempat. Pas pukul 15.00 pintu dibuka dan kami naik ke lantai dua gedung. Di sana sudah menunggu sejumlah tokoh Konges Pelacur se Dunia Ke II. Ada seorang dokter asal New York, AS, Don Desjardais. Lalu perempuan langsing dengan rambut kehitaman potongan pony, memakai baju berwarna hijau zaltun, namanya Margot St. James. Dia ini salah seorang pendiri ICPR dan juga pendiri LSM Coyote (Call Off Your Old Tired Ethics – Buanglah Etika Usang Anda). Jangan main-main dengan perempuan ini, sebab dia kandidat doktor dari sebuah universitas ternama di negerinya sana. Di dekatnya ada aktivis hak-hak pelacur Amerika Serikat, seorang perempuan berkulit hitam dengan postur badan tinggi besar, Gloria Lockheed.
Seorang lagi perempuan asal Prancis yang mengenakan topeng berbentuk matahari kuning-hitam. Ia sudah meninggalkan karirnya sebagai pelacur dan meningkat menjadi....germo!
Suratkabar lokal pagi itu mewartakan, sekelompok pelacur asal Prancis dihadang polisi mereka di perbatasan, ketika diketahui mereka hendak ikut Kongres akbar tersebut. Hal ini agak mengherankan mengingat Prancis adalah salah satu negara yang liberal dalam soal apa pun.
Margot mengatakan, Kongres kedua dimaksudkan untuk mengevaluasi hasil kerja keputusan Kongres Pelacur se Dunia I di Amsterdam, Belanda, setahun sebelumnya.
“Belum ada hasil signifikan selama setahun ini,” kata Margot. Pada kongres sebelumnya, para pelacur peserta menolak pajak khusus terhadap mereka, baik perorangan maupun dalam kaitan “bisnisnya”. Mereka menuntut profesinya disamakan dengan professi lainnya sehingga hak dan kewajibannya seperti membayar pajak dll disamakan supaya adil.
Piagam dunia untuk hak-hak pelacur yang diterbitkan pada kongres tahun sebelumnya menyebutkan mereka minta perhatian negara-negara untuk tiga hal pokok, yaitu
  • pertama, menyangkut status hukum. Mereka menuntut agar pelacuran tidak dikategorikan sebagai tindak kriminal dalam segala aspeknya pada orang-orang dewasa sepanjang profesi itu dipilih secara pribadi dan sadar. Tuntutan lainnya ialah agar mereka terhindar dari segala kecurangan, pemaksaan, kekerasan, kejahatan seksual dan mencegah pelacuran anak-anak.
  • kedua penghormatan kepada hak-hak asasi manusia. Mereka menuntut agar pelacuran diberi hak-hak asasi dan hukum sesuai sesuai dengan standar bisnis yang berlaku. Dalam ini perlu dicantumkan klausul khusus untuk mencegah penyiksaan, penyalahgunaan serta penistaan terhadap para pelacur. Menuntut jaminan untuk kebebesan sipil, meliputi a.l. kemerdekaan mengeluarkan pendapat, perjalanan, imigrasi, bekerja, menikah, serta tunjangan pengangguran.
  • ketiga kenyamanan dan keamanan kondisi kerja para pelacur. Mereka menuntut dihapuskannya peraturan atau UU yang mengisolasi serta melokalisasi ddi satu tempat tertentu. Pelacur punya hak menentukan sendiri tempat kerja serta tempat tinggalnya.
Mengejutkan
Bagi saya, orang yang masih berpikiran sempit, bodoh dan datang dari negeri yang berlandaskan Pancasila, maka tuntutan-tuntutan semacam itu sungguh mengejutkan karena amat sangat terlalu maju. Pelacur di negeri saya dicaci-maki sebagai pendosa, disingkir-singkirkan, tapi tetap diperlukan. Mustahil mereka tetap beroperasi dan terus marak tanpa ada pengguna jasanya. Siapa tahu para langganan pelacur lokal kita justru orang yang berteriak-teriak tentang moral dan aturan pada siang harinya. Siapa yang dapat menjamin?
----bersambung -----

Indian Street di kota Kuching

Indian Street di kota Kuching

Teks foto: Indian Street di kota Kuching, Serawak. Dulu namanya Keling Street lalu diubah guna menghindari kesan rasisme. Mirip Pasar Baroe bukan? Tapi lebih bersih dan lebih teratur.

Pasar Baroe Punya Kembaran di Kuching, Serawak
Oleh Adji Subela
Sama seperti Jakarta, kota Kuching, ibukota Serawak, Malaysia Timur, juga memiliki daerah pertokoan yang mirip Pasar Baroe, di Jakarta Pusat itu.
Sama seperti di Pasar Baroe tempo doeloe, daerah pertokoan ini dulunya juga didominasi oleh para pedagang asal India yang umumnya beragama Islam, dan sama-sama terhubung oleh sepotong jalan ke daerah yang juga disebut Gambir. Persis sama seperti di Jakarta.

Mengeruk Gunung Mengais Rejeki

Mengeruk Gunung Mengais Rejeki


Mengeruk Gunung Mengais Rejeki
Oleh Adji Subela
Jika Anda berjalan-jalan ke Kecamatan Sampung, Kab. Ponorogo, Jatim, maka pemandangan pertama yang mengikat mata adalah hutan jatinya. Yang kedua di kejauhan nampak gunung kapur yang krowak (terkeruk) dengan menyisakan batu-batu kapur atau batu gamping mentah putih kekuningan.
Batu gamping (limestone) ini menjadi komoditas penting Sampung sejak puluhan tahun lalu. Batu kapur yang sudah masak dipasarkan di dalam kota hingga ke luar kota lainnya seperti Madiun, Ngawi, Surabaya, dan sebagainya.
Proses pembuatan batu gamping ini sebetulnya sederhana saja. Bongkah-bongkah batu kapur mentah dibakar mencapai suhu k.l. dua ratus derajat Celcius selama 24 jam guna mengeluarkan kandungan air di dalamnya. Setelah ‘masak’ maka batu kapur telah berubah menjadi batu gamping yang memiliki kandungan kalsium lebih murni lagi.

Delivery Order Sate Ayam Ponorogo ala Bu Togog

Delivery Order Sate Ayam Ponorogo ala Bu Togog


Delivery Order Sate Ayam Ponorogo a la Bu Togog
Oleh Adji Subela
Sudah 70 tahun lebih daerah “Segitiga Emas” Ngepos, Ponorogo, menjadi pusat penjualan sate ayam. Di sana berkumpul paling tidak sepuluh orang penjual sate yang masih mempertahankan ciri mereka, yaitu tetap memajang angkringan yang di jaman dulu dipikul ke sana kemari, serta tempat pembakaran sate dari terakota (anglo) yang bentuknya khas dari Kota Reog itu.
Kini Gang Sate di Desa Nologaten juga sudah menjadi pusat sate ayam lainnya.