Resto payah!

thumbnail

          Seorang pria bawel mengomel karena menurut dia masakan resto yang mahal dan bertaraf internasional itu tidak enak sama sekali, tidak sesuai dengan harganya yang mahal.
Pria          : Pelayan! Masakan kalian sungguh tidak enak, padahal harganya mahal. Mana    manajermu? Aku ingin bicara!
Pelayan    : Dia sedang pergi keluar untuk makan siang Pak!

Apa beda hamburger & steak?

thumbnail

Seorang pria cerewet bertanya pada pelayan restoran bertaraf internasional:
Pria           : Hei, Bung, apa bedanya steak dan hamburger di resto Anda ini?
Pelayan    : Tuan, hamburger-nya kami buat sehari sesudah steak-nya.

Betawi apa Jakarta?

Betawi apa Jakarta?






Jurnal yang “wajib” dibaca oleh pemerhati masalah sosial-budaya, terutama Betawi yang termasuk jarang.

Judul                                        :Stamboel: Journal of Betawi Socio-Cultural Studies (Dari Batavia sampai Jakarta)”.
Penerbit                                    : Penerbit Padasan dengan Betawi Center Foundation dan Forum Sastra Betawi.
Edisi                                         : Pertama, terbatas 100 eksemplar
Dewan Penasihat       : Abdul Chaer, Ahmad Iskandar Bait, Biem Benjamin, Ichsanuddin Noorsy,DR.Margani M Mustar, DR. Mona Lohanda, Sarnadi Adam, Prof. DR. Wahyu Wibowo, DR. Zeffry Alkatiri.
Redaktur Senior                         : David Kwa, Heryus Saputro, Lilik Sofyan Ahmad, Sam Mukhtar Chaniago, Yahya Andi Saputra.
Dewan Redaksi                          : Chairil Gibran Ramadhan (CGR), Fadjriah Nurdiarsih, Fadly Kurniawan, Fifi Firman Muntaco, Kiftiawati, Mh Hamdan.
Produksi                                   : Ali Siregar.
Perancang sampul & isi              : Sarifudin Anwar.
Kertas                                       : Bookpaper, soft-cover.
Ukuran                                      : 15x23cm, 118 hlm.
            ISSN: 2302-5484. 
Harga                                       : Harga: Rp. 65.000,- plus ongkos kirim Rp. 15.000,- (Jawa) dan Rp. 20.000,- (luar Jawa). 


            Masih banyak orang luar – non-Betawi – yang menilai sifat, watak, tindak-tanduk orang Betawi seperti stigma yang diciptakan lewat cerita-cerita lenong, sinetron murahan, dan dongeng dari mulut ke mulut. Padahal warga asli Betawi banyak sekali yang sudah menyandang gelar kesarjanaan mulai dari Strata-1 hingga S-3, bahkan hingga tingkat rektor.  Ejekan mengenai orang Betawi yang hanya pandai berjualan buah, kusir delman, dan supir terhapus sudah ketika banyak sekali orang Betawi menjadi cendekiawan, negarawan, pejabat tingkat kelurahan hingga tingkat nasional. Begitu banyak bidang yang mereka kuasai.
            “Kelemahan” lain yang masih hidup di kalangan tertentu bahwa keluarga Betawi hanya “jago kandang”, tak mau merantau, juga sudah terkikis dengan banyaknya generasi mudanya yang bekerja di luar daerah. Memang, sebagai “orang Melayu di Pantura Jawa” mereka sangat menyayangi keluarga besarnya. Mereka senang melakukan apa saja bersama-sama, saling dukung, saling menolong di antara mereka, gotong-royong. Kalau masih ada yang terpengaruh stigma lama seperti disebutkan sebelumnya, berarti menafikan jerih-payah pemerintah selama ini guna meningkatkan taraf pendidikan rakyat.
            Satu lagi hal yang cukup mengganggu, ada orang luar yang tidak mampu membedakan antara “orang Jakarta’ dan “orang Betawi”, hanya karena keduanya sering memakai dialek yang sama. Padahal banyak perbedaan adat-istiadat, filosofi, tingkah-laku, kehidupan sosial mereka yang berbeda. Betawi memiliki budaya sendiri setinggi suku-suku lainnya di Nusantara. Perbedaan antara dua kelompok ini sering tidak disadari orang luar hanya karena mereka sama-sama memiliki KTP DKI Jakarta, berbicara memakai dialek yang sama, dan lahir di ibukota negeri ini. Distingsi keduanya hanya dapat terasa bila kita hidup intensif di kalangan mereka.

Eksistensi Betawi masa lalu dan kini
            Sekelompok anak muda Betawi mampu menunjukkan bahwa “orang Betawi” bukanlah apa yang digambarkan dongeng-dongeng stereotipe. Mereka lewat Yayasan Betawi Center dan Penerbit Padasan, berjuang keras untuk menunjukkan eksistensi “orang Betawi” dan orang Betawi “baru”, yang cerdas, bersemangat tinggi dan gigih sama seperti suku-suku lain. Setelah sukses menerbitkan buku Kembang Goyang, yang mampu menarik perhatian stasiun TV nasional untuk mewawancarai penerbitnya, mereka juga menerbitkan sejumlah buku bermutu. Satu lagi yang mereka suguhkan ke publik nasional dan internasional adalah sebuah jurnal sosial-budaya Betawi yang mereka beri nama Stamboel: Journal of Betawi Socio-Cultural Studies (Dari Batavia sampai Jakarta). Jurnal ini berisi berbagai artikel, sesai dan karya tulis lain mengenai Betawi kontemporer terentang dari sejak kota ini bernama Batavia hingga Jakarta sekarang ini. Sebuah usaha keras untuk mengenalkan satu generasi baru “orang Betawi”, yang kritis, obyektif, dan terbuka dan mampu menjawab serentetan pertanyaan dan tantangan jamannya.
            Tidak mengherankan bila sejumlah perpustakaan dalam dan luar negeri menjadikan jurnal ini koleksi mereka guna memungkinkan berbagai pihak mengadakan studi lanjut. Bahkan Prof. Dr. Wahyu Wibowo dari FIB Univ. Indonesia mengatakan dalam pengantarnya, “…suatu kebudayaan tanpa pengawalan penulisan jurnal, diandaikan akan mematikan nilai-nilai kebudayaan tersebut.”  
            Dr. Wahyu Wibowo menyatakan hal ini harus dianggap penting, mengingat eksistensi Stamboel akan kian mantap justru sebagai wadah percurahan pemikiran kalangan akademik yang bergerak di lapangan kebudayaan Betawi, baik mereka yang berasal dari kalangan Betawi sendiri maupun yang berasal dari perguruan tinggi
            Sebagaimana visi yang diharapkan, yakni sebagai ”wadah percurahan hasil penelitian kebudayaan Betawi dan sekaligus wadah ekspresi seni dan budaya Betawi”, Stamboel memang diharapkan menampilkan diri sebagai sosok kuat pengawal kebudayaan Betawi. Tentu saja harapan ini mudah dipahami, mengingat penelitian dan hasil ekspresi seni dan budaya Betawi tersebut mewujud sebagai ”rekaman” karena ditulis. ”Rekaman” ini pada akhirnya akan menjelma sebagai dokumentasi yang dapat dijadikan rujukan oleh generasi muda Betawi dalam berkehidupannya, atau kalangan lain yang menaruh perhatian pada luasnya Dunia Betawi. Ingatlah, bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki budaya tulis-menulis. Semoga saja.
            Akhirnya, Stamboel harus dipandang sebagai sumbangan kaum muda Betawi maju yang ingin mengekspresikan eksistensi Betawi baik di masa lalu maupun tentu saja masa kini. Tentu saja mereka akan menghadapi banyak tantangan dan justru inilah daya tarik si jurnal.
            Sebuah jurnal yang “wajib” dibaca dan diikuti terus oleh para pengamat-pemerhati seni-budaya, khususnya Betawi yang termasuk jarang. 


MRT bisa bahayakan Kota Tua

MRT bisa bahayakan Kota Tua






            Tak dapat disangkal, Jakarta memerlukan sarana angkutan massal, Mass Rapid Transportation (MRT), guna meringankan beban kepadatan lalulintas di jalan raya. Mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo sudah menandatangani pembangunan MRT tersebut. Jalur MRT dari Lebak Bulus hingga Dukuh Atas berada di atas (elevated) sedangkan jalur dari Dukuh Atas hingga Kampung Bandan berada di bawah tanah (subway).
            Jalur terowongan ini akan melewati bawah Sungai Kalibesar di Kota Tua Jakarta, kemudian berbelok ke arah timur di dekat Menara Syahbandar, Museum Bahari, menuju ke Kampung Bandan. Rencana ini dibuat oleh badan kerjasama internasional Jepang dan tengah dipelajari oleh Pemprov DKI Jakarta. Malahan dikabarkan PT KAI sudah menyiapkan stasiun Kampung Bandan.
            Sejumlah konservasionis, pemerhati masalah pelestarian Kota Tua Jakarta, mengingatkan agar pembangunan terowongan MRT tidak membahayakan kelestarian bangunan tua berusia ratusan tahun di wilayah Kota Tua. Mereka mengkhawatirkan getaran tanah dari terowongan akan akan merusak bangunan kuno yang berstruktur bata merah. Apalagi sifat tanah di Jakarta Kota adalah lunak berbeda dengan Eropa daratan. Bahkan di daerah itu, getaran kereta bawah tanah masih bisa dirasakan dari permukaan tanah.
Museum Sejarah Jakarta (MSJ) bekas gedung Balaikota VOC (Stadhuis) selesai dipugar tahun 1974. Gedung ini menjadi ikon Kota Tua Jakarta. (Foto: Ir. W.P. Zhong)
Para pakar pelestaraian bangunan kuno mengingatkan agar Pemprov DKI Jaya, PT KAI, dan instansi terkait dengan proyek itu mengadakan penjajakan serta studi analisa dampak lingkungan yang komprehensif agar pembangunan MRT tidak mengganggu lingkungan Kota Tua. Peringatan itu mengemuka dalam “Workshop Konservasi Bangunan Struktur Bata” yang diselenggarakan oleh Balai Konservasi, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, di Gedung Candranaya, Jakarta Kota, pertengahan Oktober 2012.
Praktisi, pelatih senior bidang konservasi yang berpengalaman dalam pelestarian candi Borobudur dan lain-lainnya yaitu Hubertus Sadirin, mengatakan bahwa terowongan MRT akan dibangun 20 meter dari permukaan tanah, sehingga diperkirakan tidak terlalu mengganggu bangunan tua. Namun ia mengingatkan perlu studi yang mendalam dan komprehensif mengenai dampak getaran karena struktur bangunan kuno di Kota Tua sebagian besar menggunakan bata yang rentan getaran.  Mengenai ide agar jalur MRT dibelokkan ke timur sebelum daerah Glodok, Sadirin mengatakan, yang penting stasion pemberhentian dapat bersambung dengan stasiun yang ada serta dekat dengan terminal Transjakarta. “Barangkali berbelok di bawah stasiun Jakarta Kota menuju ke Kampung Bandan tidak terlalu mengganggu bangunan tua, masih bersinggungan dengan terminal-terminal busway serta stasiun Jakarta Kota,” ucapnya.
Untuk kedalaman 20 meter, menurutnya masih cukup aman bagi artefak sejarah Batavia (Jakarta), karena biasanya benda cagar budaya semacam itu terdapat di kedalaman maksimal 10 meter. “Namun bila di kedalaman 20 meter masih terdapat artefak, maka harus dipikirkan kembali jalur di bawah Kalibesar tersebut,” tambahnya. Ia berpendapat, pelestarian benda cagar budaya di Kota Tua sangat penting.
Perlu diketahui, pemugaran wilayah Jakarta Kota dilaksanakan di era Ali Sadikin sebagai Gubernur DKI Jakarta, dimulai tahun 1972 dan harus rampung di tahun 1974. Ide pemugaran datang dari seorang pakar keramik UNDP (United Nations Development Programme) asal Amerika Serikat berdarah Italia, Sergio Dello Strologo dan asistennya, Soedarmadji (Adji) Damais. Pemugaran itu pertama dilakukan di Indonesia dan Asia Tenggara terhadap satu kawan perkotaan yang begitu luas dan meliputi sejumlah gedung kuno. Sejumlah ahli dari Singapura dan Malaysia datang ke Jakarta untuk belajar mengenai pemugaran bangunan kuno tersebut.
Ratu Elizabeth II mengunjungi Stadhuis Maret 1974, didampingi Gubernur Ali Sadkin (kiri). (Foto: Ir. W.P. Zhong).
Ir. Han Awal, arsitek sekaligus konservasionis yang pernah menangani pemugaran Gedung Arsip Nasional di Jalan Gajah Mada, mengatakan, pembangunan MRT memang harus dilaksanakan, tapi perlu studi mendalam bersama dinas-dinas serta institusi/lembaga yang terkait. Memang sulit mempertimbangkan masalah teknis dengan konservasi, namun pasti bisa dicarikan jalan keluar.
Sementara itu pakar teknik sipil dari Fak. Teknik Universitas Indonesia, Dr. Ing. Josia Rastandi, mengatakan pembangunan terowongan MRT di bawah Kota Tua perlu berhati-hati sebab kondisi tanah di Jakarta yang aluvial lebih peka terhadap getaran, dibandingkan dengan struktur tanah di Eropa yang padat. Di negara-negara itu pun getaran masih bisa dirasakan hingga ke permukaan tanah. “Harus dicari kendalanya dulu, jangan sampai setelah bangunan jadi, lalu muncul masalah, kita baru cari-cari penyebabnya,” katanya.

MRT a la Bang Ali
            Sebenarnya Memorandum of Understanding (MOU) proyek Mass Rapid Transportation (MRT) itu sudah ditandatangani sejak masa Gubernur Ali Sadikin pada hari Selasa, 1 April 1975 (Merdeka, 2/8/1975, Hlm.2). Pada waktu itu namanya Samaja (Sistem Angkutan Umum Massal Jakarta). Rencananya Samaja akan dibangun oleh konsorsium swasta asing, dengan partner konsorsium dalam negeri a.l. terdiri dari PT Lamtorogung Persada, Steady Safe, Bukaka, Bakrie, Pembangunan Jaya. Ketika itu rute yang direncanakan berasal dari Blok M menuju ke Jakarta Kota sepanjang 14 Km, dan jalur lain sekeliling Jakarta sepanjang 480 Km. Akibat berbagai kendala, pembangunan angkutan massal cepat itu tertunda hingga baru sekarang dilanjutkan lagi.
Di bawah pemerintahan Gubernur DKI Jaya yang baru, Joko Widodo, skema pembiayaan MRT ditinjau ulang guna mendapatkan efisiensi yang tinggi. 

Teks foto paling atas:
Ir. Han Awal (kiri) menjelaskan proses pemugaran Gedung Arsip Nasional, didampingi Hubertus Sadirin (tengah, bertopi).

WNI pionir TCM, antikanker

WNI pionir TCM, antikanker








Pria asal Sukabumi, Jabar, itu berpenampilan sederhana, dan berpembawaan tenang. Tapi siapa menduga? Bahwa ia adalah pelopor sistem pengobatan gabungan antara tradisional China dan modern di Indonesia? Jauh sebelum sistem TCM  (Traditional Chinese Medicine) itu sendiri mulai populer di Tiongkok?
Malahan sejumlah dokter asal Tiongkok yang berpraktik di Indonesia sekarang ini, justru pernah “magang” di kliniknya di Sukabumi.
Selain itu si pria, yaitu Dr. (HC) Haji Mochammad Yusuf, juga menemukan formula obat antikanker serta tumor berbasis bahan-bahan obat tradisional China pada awal tahun 1990.
Begitu banyak klinik pengobatan tradisional asal China yang kini beroperasi di Indonesia terutama di Jakarta. Namun banyak orang yang tidak tahu bahwa pembuat obat antikanker yang sering menjadi spesialisasi mereka, adalah justru orang Indonesia asal Sukabumi, Jawa Barat, tersebut. Obatnya banyak digunakan di berbagai rumahsakit di Tiongkok. Dia pun setiap bulan pergi ke Guangdong, Guangxi dan provinsi lainnya untuk berpraktik serta membuat ramuan obat antikankernya.
Ruang perawatan VIP Klinik Citra Insani di Jl. Raya Selabintana, Sukabumi. Foto paling atas, Dr. (HC)  Moch. Yusuf ketika memberi ceramah di Universitas Sun yat Sen
Riwayat penemuan ramuan obat itu penuh derita. Selain karena susah-payahnya membuat, mencoba dan memproduksi, maka ketika hendak memintakan penganalisaan terhadap obatnya ia menghadapi pengalaman menyakitkan.          

Semula tak dilirik di negeri sendiri     
Ironis. Sama nasibnya dengan produksi lokal lainnya, temuannya yang sangat berharga itu tak dilirik di dalam negeri  pada awalnya. Ketika Pak Yusuf berjuang agar obat kanker temuannya diakui dan dibuat secara massal di negerinya, tak ada institusi yang mendukung. Maka Mochammad Yusuf, pria kelahiran Bandung tahun 1942 dan dibesarkan Desa Parungkuda, Sukabumi, tersebut harus pergi ke Guangzhou dan justru mendapatkan dukungan dari salah satu rumah sakit kanker besar di Republik Rakyat China (RRC).
            Rumah Sakit Provinsi Guangdong, di Guangzhou, ibukota Provinsi Guangdong, memberi kesempatan padanya untuk membuat obat antikanker yang terdiri dari 20 bahan pokok serta 200 bahan pendukung. Obat itu dicobakan pada 3.000 pasien dengan masa pengobatan masing-masing selama 15 hari. Hasilnya membuat para dokter di negeri Tirai Bambu itu terheran-heran sebab ternyata positif.
            Ia pun kemudian ditawari untuk bekerjasama dengan RS tersebut. M. Yusuf diberi kesempatan menuntut ilmu sebagai dokter pengobatan tradisional China dan menjadi dokter terbang. Setiap dua bulan ia ke Guangzhou untuk menjalankan praktik di RS tersebut. Selain itu pria bershio Kuda tersebut juga diberi kesempatan untuk membuat obat antikankernya di sana dan tetap memegang hak patent atas obat tersebut.
            Hanya dia yang berwenang membuat obat tersebut, rahasia formulanya tetap dia pegang hingga kini dan RS yang bersangkutan tetap menghormatinya.

Berangkat dari rasa kecewa
            Dr. (HC) Haji Mochammad Yusuf lahir dari keluarga sinshe turun-temurun. Ayahnya berpraktik di desa Parungkuda. Dari sekian saudaranya hanya dia yang diberi ketrampilan itu sejak masih duduk di sekolah dasar. Banyak buku serta resep kuno yang diturunkan ayahnya kepadanya.
            Pada awal dekade 80-an ketika ia menjadi akupunkturis di RS Islam Cibolang, Sukabumi, ia mulai menggabungkan sistem pengobatan modern dengan sistem pengobatan tradisional China. Ia menganggap dua sistem itu dapat digabungkan. Ternyata memang bisa dan ia praktikkan terus. Pada awal tahun 90-an ia menemukan teknik untuk mematikan sel-sel kanker dengan meramu berbagai bahan obat-obatan tradisional China setelah belasan tahun mencobanya. Obat itu ternyata cukup manjur.
            Ia sebelumnya menggali berbagai informasi dari sumber-sumber pengobatan tradisional China. Bertumpuk-tumpuk buku ia baca guna mencari bahan pembunuh sel-sel kanker. Salah satu buku peninggalan sinshe di Tiongkok yang diterbitkan kira-kria 2.000 tahun SM, berisi keterangan mengenai penyakit bisul yang menyebabkan penderitanya bisa mati. Setelah dipraktikkan ternyata obat itu sudah tidak mempan lagi bagi manusia modern yang memiliki ketahanan berbeda dengan manusia jaman itu. Pak Yusuf, begitu ia akrab disapa, mencari terus formula antikanker sehingga terciptalah resep antikanker yang membunuh sel-sel kanker secara langsung.
Dr. (HC) Mochammad Yusuf (no.2 dari kiri) tengah berpraktik di ruang radiasi di RS Militer Guanzhou, sedang diwawancarai wartawan TV lokal.
            Pak Yusuf mencobakan ramuannya terhadap enam orang pasiennya. Semula hasilnya tidak memuaskan. Formula itu dia perbaiki kembali dan dicobakan kepada 10 orang pasiennya. Hasilnya, fifty-fifty, lima orang sembuh lima orang tidak. Pak Yusuf pun menyempurnakan rumuannya kembali dengan menggabungkan beberapa unsur lain. Dari 10 pasien yang diobati dengan formula barunya, 8 (delapan) orang sembuh. Dua lainya tidak, karena sudah sangat terlambat berobat.  
Gembira akan hasil itu M. Yusuf kemudian mendatangi salah satu lembaga penelitian obat resmi sambil membawa sample obatnya, agar diketahui unsur-unsur kimiawinya. Itu terjadi di tahun 1990. Ternyata prosedurnya tidak mudah. Ia harus menyerahkan satu kilo bahan obat tersebut dengan biaya penelitian sebesar Rp.250.000,-. Kendati angka itu cukup berat baginya, tapi ia turuti juga agar mendapatkan kepastian formulanya.
            Sampai pada waktu yang telah dijanjikan, M. Yusuf kecewa, karena sample obatnya dikatakan telah hilang. Dia diminta datang lagi membawa sekilo obat yang sama. Dengan sabar ia turuti permintaan itu. Ternyata hilang juga! Ia disuruh membawa lagi obat antikankernya. Selain kehilangan sample obat, M. Yusuf juga kehilangan kesabarannya. Sebab, untuk membuat sekilo obat, biayanya sangat mahal karena sebagian besar bahannya harus dia impor dari Tiongkok.

Data tak boleh diberikan
            Selain mengirim sampel obat ke lembaga ilmiah yang berada di Bogor, Pak Yusuf juga mengirim ramuannya ke sebuah Fak. Farmasi sebuah universitas negeri yang terkenal di Jakarta. Ia berharap, kali ini berhasil. Pada waktu yang telah dijanjikan Pak Yusuf datang hendak meminta hasilnya.
            Alangkah kecewanya dia, sebab hasil analisis terhadap unsur-unsur ramuan itu tidak boleh diberikan kepadanya, a.l. karena alasan ilmiah. Pria Sukabumi ini pulang ke kotanya dengan penuh rasa sedih dan kecewa.
            “Sayang sekali, saya harus pergi ke Tiongkok. Sebenarnya saya berharap obat itu bisa diakui dan diproduksi di dalam negeri agar kita mendapatkan nilai tambah, misalnya mengekspornya,” kata pria yang berpembawaan tenang ini. “Yah, apa bolah buat, saya sudah tidak ada biaya lagi, dan juga sudah kecewa sample obat saya dua kali dihilangkan dan sekali tidak diberikan.”

Terpaksa ke Tiongkok
            M. Yusuf kemudian mendatangi Kedutaan Besar RRC di Jakarta minta informasi. Ia disuruh datang ke RS Guangdong, karena sejak akhir dekade 80-an, secara kebetulan rumah sakit ini juga mengembangkan teknik campuran antara pengobatan tradisional China dengan ilmu kedokteran modern. Kalau dulu obat-obatan China hanya dimakan atau untuk ditempel, maka bahan itu sudah dapat dimasukkan ke pasien lewat suntikan, infus, dan ditelan. Obat-obatan itu pun sudah diolah berupa puyer yang bisa dimasukkan ke dalam kapsul, bahan cair dalam kantung infus atau ampul, tablet, dan lain-lainnya.
            Setelah obatnya terbukti mampu membunuh sel-sel kanker, M. Yusuf ditawari untuk belajar menjadi “dokter” pengobatan tradisional China modern yang sekarang populer disebut TCM tersebut. Ia harus ditest guna menentukan tingkat kemahirannya. Oleh karena ia telah mendapatkan bimbingan dari ayahnya, ditambah pengalamannya sendiri ketika menggabungkan dua cara pengobatan itu maka M. Yusuf hanya memerlukan dua tahun untuk merampungkan pendidikannya.
            Kemampuannya sebagai dokter TCM diakui secara baik sehingga M. Yusuf ditawari untuk menjadi dokter di RS itu juga. Kesempatan itu tidak disia-siakan sebab selain bekerja, ia akan dapat menggali atau menyerap peerkembangan teknik baru.
            Pembuatan obat antikankernya juga diserahkan padanya. Bila stock sudah habis, ia dipanggil ke Guangzhou untuk membuatnya kembali dalam volume yang besar.

“Indonesia sebenarnya bisa…”
            Berkali-kali ia menyesal kenapa orang-orang Indonesia kurang memperhatikan potensi alamnya yang kaya. Banyak bahan yang bisa diproduksi atau didapatkan di sini. “Sayangnya, kita tidak melirik potensi ini, dan tidak mengembangkannya,” keluhnya.
Pak Kiki, ahli obat tradisional China sedang meramu obat antikanker di Klinik Citra Insani
            Diakuinya, Tiongkok memiliki pengalaman ribuan tahun dalam pengobatan tradisional. Beberapa teknik, seperti akupunktur, kini diakui di negara-negara Barat. Bahan-bahan seperti tanaman (dengan berbagai bagiannya), bagian tubuh binatang, bahan mineral, fosil, dll sudah memiliki standard mutu.
            “Bahkan bahan tanaman itu sering harus dipanen pada saat-saat yang khusus, misalnya ada yang diambil saat puncak musim dingin,” tuturnya. Disebutkan berbagai tanaman obat hanya boleh ditanam di daerah tertentu karena kondisi alamnya membuat kualitasnya prima.
            “Di Indonesia masih belum ada data serinci itu, tapi bisa diusahakan asal bersungguh-sungguh,” tambahnya.

Tetap ada efek sampingnya
            M. Yusuf menegaskan, adalah keliru jika orang menganggap obat-obatan tradisional itu tidak menimbulkan efek samping. “Pada dasarnya segala jenis obat itu bersifat racun, baik yang kimiawi maupun yang alami,” katanya. Oleh karena itu pembuatan dan pemakaian obat tradisional tidak boleh sembarangan, harus dilakukan oleh orang yang berpengalaman dan memiliki pengetahuan yang dalam.
            “Sebab terkadang dua bahan yang nampaknya memiliki daya sembuh, kalau digabung malah menjadi racun. Jadi harus berhati-hati,” imbuhnya.

Perlu pengalaman
            Salah satu kekhasan sistem pengobatan kankernya, adalah obat itu tidak sama antara pasien satu dengan lainnya. Semuanya harus disesuaikan dengan kondisi pasien, baik bawaan maupun akibat sakitnya. Selain itu, setiap bagian tubuh memerlukan komposisi berbeda-beda. Misalnya bagian kepala, dada dan bawah. Itupun masih dilihat lagi, bagian mana yang terkena kanker. Oleh karena itu, menurut M. Yusuf, diperlukan pengalaman mendalam untuk memakai obat antikanker tersebut.
            Tidak heran kalau ia sering diundang memberi kuliah atau ceramah di berbagai univesitas dan rumah sakti di Tiongkok serta beberapa di dalam negeri.
            Sejak tahun 1981 M. Yusuf mendirikan kliniknya sendiri, Citra Insani, yang berukuran kecil hingga akhirnya sekarang memiliki lokasi yang cukup luas dan lengkap di Jalan Raya Selabintana No. 113, Sukabumi, Tlp (266) 221467 dan (266) 230414. Selain Traditional Chinese Medicine (TCM) di klinik ini warga juga bisa mendatangi bagian pelayanan kesehatan umum di mana ada beberapa orang dokter umum dan spesialis yang siap melayani pasien.
            “Ini merupakan pelayanan kesehatan terpadu,” tuturnya.