Sisi human interest sejarah NKRI

Sisi human interest sejarah NKRI
Buku

Judul                            : Ngungak Sejarah – NKRI Limang Jaman
Penulis                         : Soebagijo IN
Bahasa                         : Bahasa Jawa populer
Penerbit                        : Pena Kreasi
Editor/Penglaras            : Goenarso TS
Jumlah halaman            : 426
Ukuran buku                  : 16 cm x 24 cm
Harga                           : Rp.175.000,- plus ongkos kirim
Kontak                          : Goenarso TS no. HP 0813 1578 7850

           
Bosan membaca buku sejarah yang kaku, formal-resmi, dan sering terlalu subyektif tergantung siapa yang menuliskannya? Sebaliknya, Anda ingin membaca latar belakang atau peristiwa yang terjadi di belakang adegan heroik momen-momen sejarah? Yang sangat menarik, dan menunjukkan sisi manusiawi di balik peristiwa akbar itu?

Terbayangkah oleh kita bagaimana Bung Karno susah-payah menahan kencing dalam penerbangan memakai pesawat tempur Jepang dari Vietnam ke Singapura? Kemudian tokoh proklamator itu terpaksa buang air kecil di sebuah lubang yang berakibat air seninya berhamburan lalu membasahi tokoh proklamator lainnya yaitu Bung Hatta? Dan Bung Hatta tertawa terpingkal-pingkal seperti yang beliau tuturkan dalam memoirnya?

Bagaimana penjahat perang Jepang Jenderal Tojo berusaha mengakhiri hidupnya dengan menembak dirinya sendiri tapi gagal, dan dengan terluka parah ia justru ditolong pasukan Amerika Serikat?

Atau bagaimana tingkah-polah arogan gembong PKI Muso yang sebenarnya kampungan?

Dialog-dialog atau kejadian apa di balik rapat akbar Lapangan Ikada, bagaimana para pemuda penculik Soekarno-Hatta mendapatkan semprotan karena gegabahnya, juga menarik untuk diketahui.

Buku sejarah bukan lagi satu teks mati dengan satu penfasiran, tapi kini diberi keleluasan untuk memaknainya berdasarkan peristiwa di balik sejarah.
Soebagijo IN (5 Juli 1924- September 2013)

            Silakan baca buku tulisan Soebagijo IN (almarhum) berjudul Ngungak Sejarah – NKRI Limang Jaman (Menengok Sejarah, Lima Zaman), yaitu cerita di balik peristiwa sejarah berbobot human interest kental. Oleh karena itu buku ini menjadi sangat menarik, bukan saja untuk mengingatkan kita akan sejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia, tapi juga segala tingkah polah para pengukir sejarah nasional.

            Acuan zaman yang dipakai dalam buku ini menurut penulisnya berdasarkan peristiwa sejak masa Revolusi, Liberal, Demokrasi Terpimpin, Orde Baru, dan Reformasi.

            Di samping menyajikan peristiwa sejarah yang baku dan sudah sering kita simak, buku karya wartawan senior dari LKBN Antara ini memuat kejadian-kejadian lucu, menyedihkan, atau menegangkan. Dari buku semacam ini pembaca bias belajar bahwa tidak mudah melakoni peran sebagai pengukir sejarah. Semua jerih-payah yang “manusiawi” ini mengingatkan kita agar tidak menempatkan para tokoh sejarah sebagai “dewa” tanpa kesalahan sebab mereka semua ini manusia juga. Tentu saja cara pandang tersebut tidak boleh berarti merendahkan para tokoh sejarah kita, akan tetapi justru menambah bumbu penyedap sejarah. Peristiwa-peristiwa yang dibeber di buku merupakan cukilan dari buku-buku lama berbahasa Belanda milk Pak SIN.

            Sayang, buku ini ditulis dalam Bahasa Jawa popular sehingga menyulitkan pembaca yang tidak memahami bahasa tersebut. Semula isi buku adalah artikel bersambung karya Soebagijo IN – atau yang terkenal dengan singkatan SIN – di salah satu majalah mingguan berbahasa Jawa yang terlama yaitu Panyebar Semangat terbitan Surabaya. Tulisan dimuat antara 4 September 2010 hingga 17 Maret 2012 lalu.

            Tulisan tersebut dikumpulkan, diedit, dan diselaraskan kembali oleh Goenarso TS, wartawan senior di SKH Pos Kota, lulusan Pendidikan Guru Agama yang memilih menjadi wartawan, dan juga mantan Pemimpin Redaksi majalah berbahasa Jawa, Damar Jati, Jakarta, yang juga pengagum berat almarhum Pak  SIN. Selain sekedar mengedit tulisan, Goenarso TS juga menambah banyak foto dari berbagai sumber, juga kotak-kotak yang berisi kejadian yang diketahui Pak SIN tetapi belum dituliskan kembali, serta tata letaknya.

            Ditanya mengenai kenapa Pak SIN menuliskan artikelnya dalam bahasa Jawa, Goenarso mengatakan, hal itu disengaja agar selain memelihara bahasa yang mulai dilupakan penuturnya juga sebagai “eksklusif” tidak biasa.

            Menjelang wafatnya bulan September 2013 lalu, Pak SIN menyatakan kepuasannya atas kerja Goenarso TS. “Beliau untungnya sudah sempat menerima langsung royalty atas buku ini,” tutur Goenarso. Menurut orang Purworejo yang mengasah kemampuan jurnalistik dalam bahasa Jawanya di Majalah Parikesit, Surakarta, era 70-an ini, buku sudah terjual 100 eksemplar.

            Para pembeli buku ini kebanyakan adalah orang-orang yang suka pada kisah sejarah serta para pemerhati maupun penggemar bahasa Jawa.
           
            “Kapan diterjemahkan ke bahasa Indonesia?” Tanya Bella.Jurnal
            “Pertama ini merupakan warisan asli dari Pak SIN, saya ingin mengabadikannya. Kalau nanti permintaan meningkat, mungkin akan diusakan penerjemahannya,” jawab Goenarso TS.

           

Warteg "spiritual"

Warteg "spiritual"
            Bentuk warung tegal (warteg) satu ini biasa saja, sederhana, mirip sosok warteg yang ada di Jabodetabek. Tapi jangan kaget, di warung makan satu ini pelanggan bisa bersantai sebentar, setelah menikmati makanan yang rasanya cukup enak, untuk membaca buku atau majalah yang ditaruh di rak di salah satu pojok warung. Jumlah koleksinya lumayan, ada puluhan judul.
Ahmad (tengah) melayani pelanggannya dengan akrab
            Bukan itu saja. Di warteg ini orang yang sedang galau bisa berkonsultasi dengan pemiliknya, Ahmad A. Rahman, yang di lingkungannya sering dipanggil “Mbah”. Berbeda dengan para penasehat spiritual tertentu yang menarik biaya di luar akal, Ahmad mengaku lebih sering memberi makan atau sekedar ongkos pulang “pasiennya”. Masalahnya yang datang berkonsultasi adalah para warga yang secara ekonomi, sosial, dan spiritual memang memerlukan bantuan benar-benar.

            Warung yang diberi nama Warteg “NN Pos Tiga” ini terletak di Jalan Hankam Raya, Jatimurni, Pondok Melati, Bekasi. Lokasinya tak jauh dari Kantor Cabang Pembantu Bank BNI dan Mandiri, di sisi timur jalan yang lumayan ramai arus lalulintasnya.
            Selain “perpustakaan” di wartegnya, Ahmad juga mendirikan Taman Bacaan Umum yang gratis di rumah pribadinya di kampung Kresek, Pondok Melati, Bekasi. Taman bacaan yang diberi nama Ibnu Sina itu juga didirikan di kampung asalnya, Bulakamba, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

            Jadi selain menyajikan masakan olahan istrinya yang berasal dari Lirboyo, Kediri, Jatim, yang memberi kepuasan fisik ini, warteg NN Pos Tiga juga menyediakan menu mental-spiritual baik bahan bacaan maupun doa-doa.
            Perjalanan hidup pria yang biasa dipanggil Ki Reksobumi ini, cukup unik. Ahmad adalah lulusan Fakultas Sosial Politik Universitas Diponegoro, Semarang. Lulus dari PTN tersebut ia menjadi wartawan majalah yang isinya sebagian besar masalah ghaib dan spiritualisme. Di sela-sela kesibukannya, Ahmad memperdalam ilmu peninggalan kakeknya, sehingga lama-lama bukan lagi sebagai reporter, ia malah menjadi “narasumber” untuk urusan kebatinan/spiritual. Banyak orang yang berkonsultasi kepadanya.

Membaca sebelum bersantap siang
            Tiba-tiba saja arah hidupnya berbelok secara mengejutkan. Ahmad merasa mendapatkan “wisik” alias bisikan ghaib yang memintanya berhenti menjadi pegawai dan menantang hidup untuk berwiraswasta serta menolong orang lain. Pilihan menjadi pengusaha warteg dia ambil karena banyak anggora keluarganya yang terjun di bidang ini dan ia banyak mengambil pengalaman. 

            Sang istri yang semula bekerja sebagai staf pabrik konveksi, harus merelakan berhenti bekerja dan membedah tabungannya untuk modal usaha. Ahmad mendirikan lima warteg sekaligus pada tahun 2005. Semula maju-maju semua, tapi ternyata berbisnis tidak semudah yang ia perkirakan. Banyak tantangan terutama kejujuran para pegawainya. Maka ia tutup empat di antaranya dan tinggal satu yang dipertahankannya yaitu NN Pos Tiga itu.

            Di warung ini ia bekerja bertiga yaitu dirinya, istri dan anak perempuan tunggalnya yang masih duduk di klas tiga SLTP. Ahmad bercerita, mengambil pembantu warung dewasa ini sulit. Selain harus mengeluarkan uang muka Rp.500 ribu untuk “commitment fee”, si pembantu pun suka menuntut, minta hanya di depan, tak mau memasak apalagi mencuci piring atau bersih-bersih, dan minta digaji Rp750 ribu per bulan, plus hari libur Sabtu Minggu.

            “Bukan main deh,” tutur pria yang murah senyum ini kepada JURNAL BELLA, “itu aja kalau betah beberapa bulan masih mendingan. Umumnya baru dua bulan sudah minta berhenti, dan kita harus membayar lagi lima ratus ribu kalau pesan lewat agen di kampung.”
Ahmad memeriksa koleksi buku di rumahnya di Kampung Kresek, Pondok Melati, Bekasi
            Maka dari itu sejak beberapa tahun terakhir ia turun tangan sendiri bersama istrinya. Pelanggan warung tegalnya lumayan banyak, terutama para karyawan kantor di sekitarnya plus para pedagang keliling. Mereka akrab dengan si pemilik warung, karena selain menikmati makanan mereka bisa mengisi jiwa mereka dengan membaca atau berkonsultasi dengan pemilik warung yagn memang ramah.

            Masakan di warung ini lumayan enak untuk klas warteg yang sederhana. Ahmad menyediakan banyak menu guna melayani pelanggan yang selera dan minat makanannya berganti-ganti setiap harinya.
            Hasil dari wartegnya itu ia sisihkan sebagian untuk Taman Bacaan serta nantinya ia berambisi untuk mendirikan pos bantuan hukum bagi warga kebanyakan.
             
               

Quo Vadis 50 Tahun Roket Kita

Quo Vadis 50 Tahun Roket Kita
Roket Kartika I kebanggaan Indonesia (dulu) sebelum diluncurkan pada 14 Agustus 1964.
            Bulan Agustus mendatang  tepatnya  14 Agustus 2014persis 50 tahun kita meluncurkan roket pertama yaitu Kartika I di pantai Cilauteureum, Kawedanaan Pameungpeuk, Kabu. Garut, Jabar.
            Namun perkembangan roket Indonesia seolah “jalan di tempat”. Tahun 2009 Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN) dikabarkan bertekad untuk meluncurkan roket dan mengorbitkan satelit sendiri tahun 2014. Banyak pemerhati antariksa dan roket nasional berharap banyak agar ambisi itu terwujud.
            Tak dinyana, alih-alih meluncurkan satelit buatan sendiri pakai roket made in dalam negeri, Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin menyatakan, kita akan meluncurkan roket dan mengorbitkan satelit sendiri nanti 25 tahun lagi ! (Kompas, Sabtu, 10 Mei 2014 halaman 13).
Rupanya sudah menjadi “penyakit” bangsa kita – yang seolah ditularkan oleh pemerintah – selama 10 tahun terakhir, kita biasa menunda harapan kebahagiaan. Sering kali pejabat pemerintah menyebutkan, Indonesia mencapai kemakmuran pada tahun 2030. Artinya mereka seakan minta rakyat agar memahami bahwa sekarang ini pemerintah tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan harapan saja harus tertunda begitu lama. Begitu juga roket yang seharusnya menjadi kebanggaan bangsa dan mampu sebagai alat “penggentar” bagi pertahanan Indonesia.
Jika roket dan satelit itu benar-benar terwujud (marilah kita doakan dengan sepenuh hati yang tulus bersih dan dengan penuh permohonan ampun kepada Tuhan YME, agar janji yang berkepanjangan itu terpenuhi) maka baru tahun 2039 rakyat Indonesia yang sekarang masih bayi menyambut gembira momentum itu. Sedangkan yang sekarang berada pada tingkat lansia dan pernah menyaksikan kejayaan dan kebanggaan bangsa Indonesia tahun 1964 semua sudah mati! Atau yang lebih parah lagi kita semua sudah lupa.
Oh, ya, doa kita tadi termasuk permohonan agar janji itu pada tahun 2039 tidak mundur lagi hingga tahun 2100 misalnya. Masalahnya jangan sampai pada saat itu yang namanya satelit dan roket rancangan kita sudah jadi barang antik mainan anak-anak.
            Sebelumnya ada harapan lembaga itu mengembangkan roket berbahan bakar cair dan serangkaian percobaan roket serie 240-X. Lembaga itupun sudah berhasil membuat satelit A-1 bekerjasama dengan salah satu universitas di Jerman, serta A-2 yang sudah dibuat sendiri. Roket berukuran nano serta mikro berbentuk dadu.
           
           
Roket “penggentar”

            Marilah kita tinggalkan kisah pilu ini, dan kembali “memamah biak” mengunyah kebanggaan masa lalu (mau apa lagi?), di mana kita sebagai bangsa benar-benar merasa memiliki harga diri dan harapan besar. Ekonomi saat itu boleh saja menderita, akan tetapi kita punya kebanggaan lain selain capaian fisik serta pengenyangan perut semata. Bung Karno sering mengatakan (mengutip peribahasa Belanda) bahwa manusia tidak hanya hidup dengan roti, “de mens leeft niet van brood aleen”. Kemudian olehnya diterjemahkan lebih jauh sebagai “een natie leeft niet van brood aleen”, sebuah negara tidak hanya hidup dengan roti (makanan pokok lain). “Ada national pride,” kata Bung Karno dalam pidato pelantikan Ali Sadikin sebagai Gubernur Daerah Khusus Istimewa Jakarta 28 April 1966.
Ada kebanggaan nasional! Itulah intinya, bukan sebagai bangsa budak yang diperintah, didikte negara asing sedangkan secara ekonominya pun tidak membanggakan apa-apa.
            Maka Kartika I menjadi salah satu upaya strategis berupa roket sepanjang 10,5 meter dan berbobot 220 kilogram buatan dalam negeri, sebagai hasil kerjasama Angkatan Udara RI, LAPAN, ITB, dan Pusat Industri Angkatan Darat (PINDAD), dalam Proyek Pengembangan Roket Ilmiah dan Militer Awal (PRIMA). Ini merupakan sub-proyek dari Proyek Roket Ionosfer Angkasa Luar atau Proyek S, dipimpin Laksamana Muda Udara Budiardjo dan Kolonel Udara J. Salatun.
            Sebuah proyek ambisius yang didorong oleh Bung Karno untuk memacu kemampuan ruang angkasa Indonesia mendahului negara-negara berkembang di dunia, utamanya Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Bahkan di Asia waktu itu baru Jepang yang berhasil meluncurkan  “roket pensil” mereka di Tanageshima.
            Ketika itu Bung Karno berambisi besar untuk menjadikan Indonesia sebagai negara berkembang pertama yang meluncurkan roket, satelit dan bom nuklir. Tentu saja ambisi itu menakutkan negara-negara yang ia sebut sebagai neo-kolonialis atau nekolim.
            Jika sekarang kita mendengar kejayaan roket pendorong yang mampu berfungsi sebagai misil balistik antarbenua buatan Korea Utara, Tiongkok, India, Pakistan, Iran, maka pada tahun 1964 negara-negara tersebut belum “berbunyi” sama sekali.
            Kepeloporan Indonesia dalam bidang peroketan (antariksa) sekarang disalip secara menyedihkan oleh negara-negara tersebut.
            Bulan Agustus 2009 lalu Korea Selatan meluncurkan satelit pertamanya memakai wahana roket buatan dalam negerinya, Vehicle-1 (KSLV-1). Roket sepanjang 33 meter, berbobot 140 ton dan senilai US$400 juta (Rp.3 trilyun) dibuat atas kerjasama para ahli Korsel (negeri sekutu AS) dengan Rusia, diluncurkan dari Goheung. Di bulan yang sama AS meluncurkan lagi pesawat ulang alik Endeavour-nya.
            Republik Rakyat China berhasil mengorbitkan astronot pertamanya tahun 2008. Tak disangka, negeri Tirai Bambu itu diam-diam mengembangkan roket mereka di Gurun Gobi, yang menurut desas-desus dibantu oleh ahli roket dari Jerman yang ikut mengembangkan perekonomian Tiongkok hingga seperti sekarang ini. Malaysia tahun 2009 mengorbitkan satelitnya sendiri lewat roket Rusia. Bukan tidak mungkin negeri jiran ini kelak menyalip kita.

Roket Kartika I buatan Indonesia melesat ke angkasa pada 14 Agustus 1964, tepat pada HUT Pramuka.



















 Qua vadis roket Indonesia

            Nilai strategis peroketan dan persatelitan tentu tak usah diragukan sama sekali. Ketika manusia sudah mulai melirik planet lain untuk berimigrasi dari bumi yang sudah renta penuh sampah, jelas sekali antariksa menjadi strategis, apalagi dikaitkan dengan fungsi pertahanan atas kedaulatan bangsa dan negara.
            Kita bisa lihat bagaimana pentingnya memiliki satelit sendiri ketika sebuah bank plat merah, BRI, akan membeli satelit untuk urusan bisnis mereka. Sebelumnya berbagai satelit komunikasi sudah kita miliki walaupun (mohon ampun kepada Allah SWT) harus dibeli atau disewa (!) dari negara asing. Satelit Palapa menjadi kebanggaan Indonesia sebab ketika itu negara anggota ASEAN lain belum memilikinya.
            Ketika dengan bangganya seorang menteri memamerkan satelit Palapa, seorang wartawan muda yang agak “bodoh” bertanya kenapa Indonesia tidak membuat sendiri satelitnya? Jawaban pak menteri cukup “hebat”, katanya kenapa harus susah-susah bikin, membeli lebih hemat. Masya Allah ampuni kami ya Allah, mendapatkan pejabat yang bermental pedagang atau makelar seperti itu.
            Memang selama Orde Baru masalah antariksa dan peroketan dikesampingkan secara meyakinkan. Pertama pemerintah harus memberi makan rakyat yang sudah kelaparan parah. Kedua, harus memenuhi kebutuhan mereka akan sandang, papan, serta alat transportasi. Maka masalah antariksa benar-benar ada di awang-awang jauh di sana, apalagi semangat Orba ya seperti kata menteri di atas itu: beli saja daripada bikin sendiri.
            Maka semangat seperti itu kemudian keterusan, apalagi pemerintah Orba lebih memilih mengembangkan sistem ekonomi “kekeluargaan” alias mementingkan bisnis keluarga pejabat saja.
            Proyek antariksa merana. Tidak ada perhatian serius apalagi dana, selagi para ahli peroketan dan satelit bertambah banyak.
            Kalangan peroketan pun mengeluh katanya sulit bekerjasama dengan negeri lain sebab roket dan satelit menjadi obyek strategis. Bahan bakar roket pun, kabarnya, baru bisa dibuat di dalam negeri sendiri baru beberapa tahun belakangan.
            Tapi pertanyaan besarnya kenapa negara lain bisa mengembangkannya? India diduga mendapatkan keahlian itu dari Uni Soviet (waktu itu), Pakistan juga, Korea Utara apalagi. Iran mendapatkan kemampuannya atas “bocoran” dari China.
            Kenapa Indonesia tidak bisa?
            Jerman berhasil membangun roket berbahan bakar cair pertama di dunia melalui proyek Peenemunde selama 10 tahun, meskipun tidak dihargai apalagi dibantu oleh Adolf Hitler. Hanya Angkatan Darat mereka yang bersikukuh hingga dihasilkan roket V-1 dan V-2 yang pada saat-saat terakhir kekalahan Jerman justru terbukti berhasil memporak-perandakan Sekutu.
            Kita berharap jangan sampai “kebodohan” Hitler itu terulang justru di Indonesia.
            Beruntung sekali, alih-alih tidak jadi-jadi membuat roket besar dan tidak kunjung mengorbitkan satelit sendiri, LAPAN kini bekerja sama dengan Kemhan, PINDAD, dan lain-lainnya memproduksi alat utama sistem pertahanan (alusista) .
            Jangan sampai keenakan “berdagang” lantas menunda harapan rakyat akan satelit dan roket Made in Indonesia.
            Kini kita di persimpangan jalan. Apakah kita membuat sendiri roket dan satelitnya atau cukup mengimpor atau menumpang saja. Ini sekaligus mengukuhkan kemampuan baru bangsa kita yaitu apa-apa serba impor, mulai dari daging sapi, garam, bawang, cabai, dan sebagainya hingga singkong. Ada alasan yang bagus, yaitu roket dan satelit adalah obyek strategis sehingga kita pun harus didikte negara asing. Sudah tanggung, semua arah hidup bangsa disetir negara lain bahkan untuk mengurusi Taman Kanak-kanak pun harus kalah (semoga tidak) dengan negara besar patron kita.
Ini roket Kappa-8. Bukan buatan Indonesia, tapi dibeli dari Jepang guna penelitian yang hasilnya untuk sumbangan data peroketan bagi IQSY (International Quiet Sun Year). Pada tahun 1964 diadakan proyek crash program untuk mendirikan pusat antariksa di Pameungpeuk, Garut, Jabar. Proyek dipimpin oleh Dr. A. Baiquni dari Univ. Gajah Mada. Baiquni adalah ahli atom/nuklir pertama Indonesia yang disekolahkan pemerintah ke luar negeri.
            Semoga kita segera mampu meluncurkan roket dan mengorbitkan satelit yang semuanya Made in Indonesia sebelum saksi sejarah kebanggaan Kartika I pada mati kehabisan umur, yaitu mereka yang juga sekaligus saksi kelambanan sebuah pemerintahan!!

Suara Sunyi seorang putri

Suara Sunyi seorang putri
Judul                            : Suara Sunyi
Penulis                         : Rose Widianingsih
Kurator                          : Malkan Junaidi
Desain isi dan sampul    : Malkan Junaidi
Lukisan sampul dan isi   : Andry Deblenk
Penerbit                        : Indie Book Corner
                                    Yogyakarta
Edisi                             : Cetakan pertama, April 2014
Jumlah halaman            : x + 130
Ukuran buku                  : 15 cm x 21 cm
ISBN                            : 978-602-1599-75-4

            Tiga puluh enam tahun lalu. Seorang reporter muda mengajukan pertanyaan bodoh kepada salah seorang maestro pelukis tanah air, S. Sudjojono, ketika ia sedang mengadakan pameran tunggal di Taman Ismail Marzuki, Jakarta: “Pak, lukisan Bapak ini termasuk aliran apa?”
            Pertanyaan dungu ini mendapatkan jawaban cerdas dari sang maestro.
            “Sebagai seniman kita ndak usah berpikir atau terikat pada aliran-aliran, isme-isme. Berkarya saja sesuai keinginan. Aliran atau isme-isme itu urusan para kritikus, biarkan saja,” begitu kira-kira jawaban Sudjojono sambil mengorek cangklong kesayangannya dengan sebatang paku.
            Jawaban itu seakan sekilat petir yang gelegarnya masih terngiang hingga sekarang ini di dalam  ruang telinga sebelah kanan si wartawan muda, yaitu (harus saya akui dengan rasa sesal) adalah saya.
            Geledek kedua saya terima di pertengahan dekade 1980-an, ketika sutradara Prancis kondang, André Tessiné, berkunjung ke Indonesia untuk promosi filmnya bersama aktris cantik Sandrine Bonaire. Ketika itu “aliran” (nah) strukturalisme masih dianut dengan setia oleh sejumlah pengamat dan seniman barangkali sebagai simbol intelektualisme. Saya pun dengan lancang bertanya mengenai bagain akhir film André yang mematikan semua tokoh di dalam filmnya saat itu. Begitu mudahnya seolah ia lari dari beban untuk menyelesaikan masalah dalam cerita.
Dengan enteng sekali André menjawab: “Saya membuat film, bukan membuat skripsi.” Nah, lho. Ini tamparan bagi orang sok tahu seperti saya, yang begitu ngawur tidak mempertimbangkan filosofi dasar seniman Prancis yaitu l’art pour l’art serta l’art est l’art. Seni untuk seni, dan seni adalah seni itu sendiri. Begitu liberal, bebasnya orang Prancis memaknai seni dalam setiap cabangnya, sehingga ide-ide “gila” sering muncul dan beberapa di antaranya diadaptasi bulat-bulat oleh “kapitalis seni” di Hollywood. 
Jawaban itu terus mengiang di rongga telinga saya sebelah kiri hingga kini.
Oleh sebab itu ketika membuka-buka buku antologi “puisi” karya Rose Widianingsih yang berjudul Suara Sunyi, saya sudah siap untuk tidak mempersoalkan bentuk, atau alirannya tapi tetap tertarik pada gaya, teknik atau daya ungkapnya. Menyimak karya Rose ini maka lupakanlah isme-isme itu karena yang terutama adalah sejauh mana karya itu memengaruhi pembacanya. Itu intinya ketika seorang seniman atau pekerja seni berkarya.
Buku ini kumpulan karya Rose Widianingsih, seorang ibu rumah tangga dari kota Pasuruan, Jawa Timur, antara tahun 2010 hingga 2011. Hanya dari rentang waktu setahun itu, Rose menghasilkan 72 karya yang terpilih, tidak terhitung berapa jumlah karya lainnya.
Karya Rose memang cenderung “feminin” oleh karena ia memang seorang perempuan. Satu deretan panjang pengamatan dan pengalaman pasif atas satu keadaan tertentu. Kalau saja harus diberi bentuk, maka tulisan Rose memang mirip prosa liris, namun tidak sepenuhnya demikian, sehingga seperti di awal tulisan ini, bentuk tidak menjadi penting. Penuangan renungannya amat ekspresif penuh perenungan dalam.
            Dalam Ayunan di Tiang Gantungan (hlm.7) ia bercerita tentang dirinya yang hanya pecundang yang menyerah pada waktu, seakan terlilit tiang gantungan berupa sulur tanaman anggur. Satu keputusasaan khas cucu Hawa yang hanya mau menerima nasib yang tiba.
            Rose pun merasakan tekanan rindu yang ia gambarkan sebagai mantra doa yang bersambung-sambungan (litani), di tengah gelora hati yang digambarkannya seperti ombak yang menampari batu karang di lautan. Lewat Litani Rindu ia seolah menyerahkan rasa rindu yang membedah hatinya pada angin yang ternyata juga menyerah pada nasib, dan rindu itupun ia biarkan tenggelam dalam lautan yang ia gambarkan berwarna biru safir (hlm. 31-32).
            Lagi, sebentuk rindu atau barangkali rasa cinta yang terpendam, ia sebut sering menyusup ke dalam hatinya yang tak berbentuk. Satu tempat yang menurutnya justru tidak ia ketahui sendiri. Ia akhirnya tetap pada kepasrahan pada si dia yang ia rindui tanpa tahu seberapa besar telah menyesaki hati, yang menurutnya tidak mampu ia kenali sendiri. Tempat Tak Berwujud Bernama Hati (hlm. 104-105, 2011).
Satu karya singkat yang ia namai Buat Lampu, berisi betapa benda ciptaan Thomas Alva Edison di Abad Ke-19 tersebut mampu mencengkeram dirinya karena dapat merekam memori ketika kekasihnya mengecup dirinya pada suatu malam. Atau ketika ia menitipkan hatinya di lampu itu agar setiap keremangan tiba dapat menyala kembali. Dan, sisi romantik yang agak nakal muncul saat Rose menulis, ia berterimakasih pada si bola lampu untuk meredupkan sinarnya agar kekasihnya dapat menjangkau dirinya. Buat lampu (hlm.110. 2011).
Membaca buku Suara Sunyi, kita bersiap dan harus sabar mendengarkan keluhan atau desahan gelisah seorang putri cantik yang merajuk ingin meremas perhatian kita. Tegakah kita meninggalkannya sendiri? Buku yang nampaknya merupakan hasil kolaborasi kompak antara para seniman dari empat kota, yaitu Ponorogo, Pasuruan, Blitar, serta Yogyakarta, itu menarik. Ilustrator buku ini seorang muda dari Kota Reog, Ponorogo, Andy Deblenk, yang memang kuat dalam aliran (nah!) kubisme a la Picasso.  
Sebaiknya bacalah karya ibu dari empat orang anak kelahiran Yogyakarta, alumnus Fakultas Hukum Univ. Brawijaya yang lebih suka menorehi buku hariannya ketimbang membolak-balik KUHAP yang pasal-pasalnya sering dipelintir oleh para koruptor itu. Ia sekarang tinggal di Pasuruan, Jatim, sebagai ibu rumahtangga dan mengelola toko jamu tradisional. Dan catatan-catatan buku hariannya mungkin mampu menjadi jamu inspiratif untuk isi kepala yang mulai pejal oleh berita-berita politik selama 2014. 
Membaca karyanya seolah kita menyumbu seorang putri cantik itu tadi, bukan menyumbui pria seniman muda berkulit legam berambut panjang yang suka bergadang nongkrong di warung kopi atau nasi pecel di tengah pasar!    

"Tukang kayu" Tapi Akuntan

"Tukang kayu" Tapi Akuntan






                Sering sekali profesi seseorang itu berbeda atau tak ada hubungannya sama sekali dengan jenis kegemaran atau hobby mereka. Tentu saja yang ideal adalah jika jenis pekerjaan sesuai dengan hobby sehingga diharapkan mampu berprestasi lebih baik.
                Tapi tidak selamanya demikian. Ada orang yang merasa kegemarannya yang berbeda dengan jenis pekerjaannya membuat ia semakin bergairah, karena tidak bosan, dan menganggap sebagai selingan yang inspiratif.
                Bagaimana ya kira-kira kalau seorang auditor atau akuntan pemerintah yang ternyata sekaligus merangkap sebagai “tukang kayu”?  Pria kelahiran Kutoarjo, Jawa Tengah, 63 tahun yang lalu ini semula adalah PNS di Kementerian Keuangan sebagai auditor di Badan Pemeriksa Keuangan Pembangunan (BPKP). Menjelang memasuki masa pensiunnya ia kemudian pindah ke Direktorat Jenderal Anggaran.
H. Untung Sunaryo
                Di sela-sela kesibukannya ia mengerjakan hobby yang sudah ditekuninya sejak remaja yaitu bertukang, baik untuk pekerjaan kayu maupun bangunan. Di kota asalnya, Haji Untung Sunaryo, nama pria itu, aktif dalam berbagai kegiatan masyarakat seperti “sinoman” atau menjadi peladen pada pesta hajatan, lalu Karang Taruna, serta kerja bakti. Sebagaimana kebiasaan masyarakat waktu itu, gotong royong merupakan kebiasaan untuk saling membantu sesama tetangga bersama-sama. Biasanya untuk pekerjaan pembangunan atau perbaikan rumah, pekerjaan musim tanam maupun panen, hajatan untuk pernikahan, dan masih banyak lagi.
                Dari kegiatan kerja bakti atau gotong royong itulah H. Untung banyak belajar mengenai seni bertukang. Ketika lulus SMA, ia meninggalkan rumah neneknya di Kutoarjo dan bergabung dengan orangtuanya di Depok, Jawa Barat, tahun 1970. Ia diterima bekerja di Departemen Keuangan sebagai staf biasa. Di waktu luangnya ia banyak belajar pada tetangganya yang tukang bangunan dalam ketrampilan pertukangan. Ia belajar lebih lanjut bagaimana menguasai teknik menggergaji, menyerut (mengetam), melepa dinding, mengaduk semen, dan masih banyak lagi.
                Ketika menikah dan berpindah ke Perumnas Depok Timur, H. Untung rajin membantu para tetangganya yang sama-sama baru menghuni perumahan itu sehingga perlu membangun lebih lanjut.
                Lama kelamaan ia dimintai tolong tetangganya untuk membuat almari, bupet, dan lain-lainnya. H. Untung mengerjakan itu semua secara suka rela tidak pernah menghitung biaya, kecuali paling-paling rokok atau kopi hitam. Sudah. Maka namanya pun populer di lingkungannya sebagai orang yang gampang membantu khususnya bertukang.
                Tentu saja para pemesan itu harus bersabar, tidak boleh menentukan batas waktu jadinya karena H. Untung sering bertugas ke luar daerah. Selama beberapa hari ia bertugas kemudian pulang lantas berangkat kembali. Oleh karena itu ia sering mengerjakan garapannya pada malam hari. Kembali, semua dikerjakan karena kecintaannya pada seni bertukang, tidak pernah menghitung untung rugi.
H. Untung sedang bekerja. Nampak sejumlah perabotan yang belum selesai di belakangnya
                “Beliau selalu untung,” komentar tetangganya, merujuk pada nama Untung miliknya itu.
                Tentu saja kegiatannya bertukang menarik perhatian orang yang lewat di depan rumahnya yang tidak jauh dari Pasar Musi, Depok Timur. Dahulu  umumnya orang mengira H. Untung memang seorang tukang kayu profesional, tidak tahu apa yang menjadi pekerjaan sebenarnya.
                “Tidak jelas apakah profesi beliau ini PNS Departemen Keuangan atau tukang kayu,” kata tetangganya yang lain berseloroh.
                Memasuki masa pensiunnya beberapa tahun lalu, kegiatan bertukang H. Untung bertambah. Ia mendapatkan banyak “order” dari para anggota keluarganya sendiri. Sebagai anak sulung dari delapan bersaudara, ia sering membantu adik-adiknya membuat perabotan rumah tangga. Kini, setelah pensiun, “order” bertambah banyak dari keluarganya.
                Yang lucu, orang-orang yang lewat di depan rumahnya lama-lama memperhatikan kegiatan H. Untung, dan mengira dia sudah menjadi tukang kayu betulan. Mereka sering mampir untuk memesan dibuatkan perabotan rumah tangga. Dengan sabar H. Untung menjawab akan menerima pesanan tersebut jika pekerjaannya sudah selesai.
                Menurut para tetangga dan kawan-kawan yang pernah memesan perabotan, buatan H. Untung memang kuat. Ada sebuah bupet yang bertahan selama 25 tahun walaupun terendam banjir setiap musim hujan.
                Karena hobby yang tidak sesuai dengan pekerjaannya itu, tentu saja ia sering menjadi sasaran salah sangka. Suatu saat ada yang mencoba memasukkan dia pada acara kuis “Siapa Dia” di stasiun TVRI di awal dekade 80-an, tapi belum sampai terlaksana acara itu keburu ditutup.