Kamis, 21 Januari 2010

Artikel-8

Artikel-8
The Dead of Journalism?
Memperingati hari Pers Nasional 2010, 9 Februari
Pengantar
Sebuah pertanyaan menggelitik muncul dalam diskusi beberapa waktu lalu di sebuah komunitas pers, mengenai pers Indonesia: “Bagaimana membuat penerbitan yang laku? Apa ada resep ampuh?”
Maka saya sebagai salah seorang pembicara menjawab: “Kenali dulu baik-baik siapa calon pembeli produk penerbitan Anda, siapa mereka dan apa maunya. Lalu layani mereka baik-baik. Itu pun kalau Anda mampu mengikuti terus selera dan keinginan mereka, karena di jaman sekarang selera dan kemauan itu terus berkembang, berubah dalam waktu cepat.”
Ternyata pertanyaan dan jawaban itu sekaligus membuka diskusi hangat mengenai berbagai coreng-moreng mass media sekarang ini baik cetak maupun elektronik. Salah satu pertanyaan yang mencuat antara lain: “Gimana dong sama teori-teori yang kita dapat di bangku kuliah dulu?”
Jawaban saya pendek: “Semua teori itu sudah kuno. Kita sendiri sekarang yang membikin teori itu. Pokoknya bikin apa saja terserah Anda, yang penting ada yang membeli apalagi laris di pasar, sambil siap-siap berubah lagi mungkin tahun depan, bisa juga bulan mendatang.”
Satu kompi pertanyaan berikutnya bikin pusing, antara lain lalu gimana dong dengan tanggung jawab kita kepada publik? Gimana dengan kode etik? Dan masih banyak yang bikin pusing. Salah satunya bagaimana insan pers menghindari tuntutan hukum. “Nah, kalau soal itu, menulis menurut kaidah-kaidah yang pernah kita pelajari di bangku sekolah dapat menyelamatkan kita. Sisanya? Terserah Anda, yang pentign Anda tahu dan mau menghadapi risikonya,” jawab saya.
Memang di era yang serba cepat, tergesa dan tergagap-gagap ini tak ada teori permanen yang mampu menjawab persoalan-persoalan tersebut. Teori-teori itu hanya cocok menjawab permasalahan saat itu. Besok lain lagi, begitu pula wajah pers kita dapat berubah-ubah dan bermacam-macam wujudnya seperti mimik pemain pantomim.
Pergeseran Nilai
Dunia kini dihadapkan pada pergeseran nilai-nilai dari modern ke post-modernisme (posmo). Diduga ini akibat modernisme yang hanya membangun infrastruktur dan berproduksi, gagal menjawab sejumlah persoalan seperti kesenjangan sosial, ekonomi, politik, lingkungan hidup dan sebagainya.
Robert Dunn (1993) menandai adanya pergeseran yang menyertai budaya massal, yaitu dari produksi ke konsumsi. Dari pencipta ke penerima, dari karya ke teks dari seniman ke penikmat. Jurang pemisah antara penulis dengan pembaca semakin ciut dan kini telah hilang karena mereka sudah setara, seiring dengan semakin meningkatnya kadar intelektual masyarakat, serta makin banyak dan mudahnya fasilitas masing-masing individu untuk ekspresi diri. Semua orang adalah penulis, semua orang adalah pemain dari sebuah orkestrasi yang disebut masyarakat post-modernisme. Posmo dengan demikian menolak makna tunggal, lantas menerima makna sementara. Dunia adalah sebuah ruang kosong yang akan diisi terus-menerus oleh pembaca.
Terjadi juga dari keseriusan, intelektualitas, ke nilai-nilai permainan, populer, dari kedalaman ke kulit, dari universal ke partikular. Ia menandai juga kebangkitan nilai estetik era 60-an, kebangkitan kembali tradisi, primordial, dan nilai-nilai masyarakat lama lain.
Sementara itu John Naisbitt (2000) menandai, semakin kita menjadi universal, semakin tribal (tradisional etnik) tindakan kita. Dengan kata lain think globally, act locally. Ia (1984) juga menandai bergesernya peran pusat ke daerah-daerah, dari sentralisasi menuju ke desentralisasi, bergesernya ekonomi nasional menjadi ekonomi global. Negara-negara semakin tidak mandiri, saling bergentung serta didikte oleh MNC. Kita ingat pelarian modal Sony, Aiwa dan sejumlah pembuat sepatu klas dunia dari Indonesia, menghasilkan ribuan penganggur baru dan menimbulkan problem ekonomi tambahan.
Pauline Roseneau (1992) mengatakan posmo muncul karena modernisme gagal mewujudkan berbagai bidang, sering terjadi kontradiksi antara teori dan praktik, modernisme gagal mengatasi kemiskinan, pengangguran dan lingkungan akibat kemajuan teknologi. Ia menganggap ilmu pengetahuan modern terlalu terfokus pada dimensi fisik, kurang mistis dan metafisis.
Strinati (2003) bahkan menambahkan, selama ini modernisme telah mengorbankan konsumen demi peningkatan kualitas dan kuantitas produksi tersebut. Di masa posmo, di mana tingkat kemakmuran dan waktu luang meningkat, maka konsumen memegang peranan penting, ia punya banyak pilihan dan kemauan. Maka peranan budaya massa (pop) seperti TV, video, komputer, taman hiburan, pusat perbelanjaan, sastra pop semakin penting.
Bagaimana Keadaan di Indonesia?
Ariel Heryanto (1994) mengatakan, posmo adalah relativisme, sekedar methode kritik dan tradisi, ini sudah ada di Indonesia. Sebagai gerakan bersifat relatif, apa saja bisa terjadi, dan kapan saja. Posmo juga dianggap sebuah dekonstruksi, menghancurkan apa yang telah ada, dan terlahir terlalu dini ketika modernisme belum tuntas. Terakhir, menurutnya, posmo sulit dipahami.
Kita dapat melihat di Indonesia, semua tingkat kebudayaan masih ada, mulai dari budaya jaman batu hingga super modern. Dari rasionalisme hingga mistikisme, klenik, ds. Kucuran budaya luar negeri begitu deras masuk ke Indonesia yang relatif masih muda, membuat gegar budaya luar biasa, sehingga character and nation building yang hendak dibangun Sukarno tersentak-sentak. Barangkali Indonesia menjadi model penting untuk diteliti, di mana seni budaya tradisionalnya begitu kaya, dan kini harus menghadapi derasnya alur budaya massa luar dan terjadi gegar budaya luar biasa tadi. Belum lagi mengalami fase-fase budaya seperti yang terjadi di Barat, kita sudah menghadapi fase posmo yang sulit dimengerti dan diprediksi.
Jurnalisme Ikut Mati Pula?
Perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu pesat, yang a.l. di-geber lewat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, membuat media cetak bukan andalan utama masyarakat untuk mendapatkan informasi. Orang punya alternatif untuk memilih media guna memenuhi dahaga informasinya lewat radio, televisi, buku, yang semakin mudah didapat, jaringan internet yang makin luas dan meraksasa. Semuanya bisa didapat lewat jaringan telekomunikasi dan teknologi informasi yang semakin berkembang dalam hitungan jam, menit, bahkan per detik pun.
Di masa awal milenium yang lalu, pengetahun atau informasi diberikan secara diktaturial, sender menjadi superior dan receiver hanya inferior. Di masa aristotelian ini receiver relatif pasif.
Di jaman modern, posisi itu setidaknya mulai brimbang, ada interaksi aktif antara sender dan receiver.
Memasuki fase pos-strukturalisme, posmo, receiver sebagai konsumen seolah menjadi superior punya kemampuan mendikte kemauannya, serta terjadi diversivikasi luas sifat karakteristik mereka.
Seperti dikemukakan sebelumnya, kemajuan teknologi informasi (information technology) serta komunikasi sekarang ini, membuat satu produk ilmu pengetahuan cepat menyebar dan mempengaruhi gaya hidup orang. Alvin Toffler (1970) mengatakan, mesin cetak mempengaruhi tingkah laku masyarakat setelah hampir 50 tahun kemunculannya, radio kira-kira 20 tahun, televisi 10 tahun dan komputer semakin pendek lagi. Kini dengan semakin menyebarnya alat-alat komunikasi dan gadget yang semakin canggih, hari ini sebuah produk keluar, maka esok hari sudah terjadi kehebohan temporer.
Seperti dikatakan Charles Handy, produksi yang membanjiri pasar sangat berlebihan, di luar kemampuan serta keinginan riil masyarakat. Industri menciptakan barang-barang yang dipaksa untuk menjadi keperluan orang, seperti cat rambut, pemutih kulit, penurun berat badan, serta produk kosmetik lainnya, berbagai alat olahraga aneh-aneh, obat-obatan, gaya hidup dan sebagainya. Bahkan sejak 1961 Herbert N. Casson menengarai, para produsen memaksakan produk yang sebenarnya tidak terlalu penting kepada masyarakat, lewat propaganda, promosi terus-menerus.
Di tengah banjir besar produksi barang-barang modernisme ini, maka persaingan semakin keras, dan promosi memegang peranan kunci.
Media massa, terutama cetak, yang di Abad Ke-XIX menjadi diktatur besar yang mendikte audience-nya, kini harus bertekuk lutut di depan pengusaha, atau yang oleh Handy disebut tegas, yaitu MNC. Jumlah media massa, khususnya media cetak, yang semakin banyak, membuat pembaca memiliki banyak kebebasan untuk memilih – dan persaingan semakin ketat.
Jumlah pembaca koran di Indonesia yang belum mencapai seperempat populasinya, harus dicabik-cabik menjadi kepingan kecil-kecil.
Maka slogan kebebasan pers yang digembar-gemborkan menjadi tanda tanya besar, karena kehidupan mereka kini tergantung kepada para pemasang iklan yang nota bene dikuasai produsen klas dunia. Jurnalisme mulai bergeser dari NETRAL, OBYEKTIF, BERSIH DARI OPINI, dan slogan-slogan besar mulai dipertanyakan, dan muncul narasi-narasi kecil yang menyuarakan kepentingan kontemporer.
Dahulu berita dituntut agar seperti itu, tapi kini kita disodori berita yang memasukkan opini wartawannya, penilaian, bahkan “pengadilan”. Pertanyaan wartawan TV banyak yang sudah memojokkan narasumber sebelum narasumber itu sempat menjawab. Wartawan sudah dipenuhi prasangka sebelum mewawancara, bukan satu hipotesa yang harus diadu kebenarannya dengan berbagai sumber pengimbang. Narasumber seolah dipaksa untuk mengiyakan pendapat wartawan itu, agar tontonan TV-nya berhasil.
Saya sedih ketika mendengar dari seorang rekan wartawan, bahwa ada sebuah koran yang membuat judulnya dahulu, sedangkan “beritanya” dibuat belakangan, sehingga hal seperti di ataslah yang terjadi.
Sangat menyedihkan bagi wartawan-wartawan yang pernah mengalami “indoktrinasi” bahwa berita harus “bersih”, ketika kemudian membaca “berita” yang ternyata isinya melulu memuji-muji sebuah produk tertentu. Celakalah pembaca yang tidak kritis, tidak memiliki referensi lain, sehingga mereka “tertipu” mentah-mentah dengan mempercayai 100 persen isi “berita” itu.
Koran kita sekarang harus ‘mengemis’ kepada pemasang iklan dan untuk itu diadakan kompromi-kompromi. Berita sudah tidak murni sebagai informasi innocent, tapi sudah mengalami polesan promotif, baik dari pengusaha, selebriti dan dan kini merembes ke politisi. Kekuatan sekaligus kelemahan media massa mampu membuat orang tak dikenal menjadi ‘pahlawan’ dan untuk kemudian hilang entah ke mana setelah absen dari hiruk-pikuk pemberitaan ‘barang sedetik pun’.
Sudah sejak lama media massa menjadi alat propaganda politik atau perang, namun kini semakin kental sebagai promosi bisnis. Teori-teori perang kini masuk ke dunia bisnis, dari doktrin Clausewitz, pengusaha kini bergeser ke Sun Tzu yang luwes, ulet. Game theory-nya von Neumann yang berbasis zero-sum, telah diganti game theory-nya John Nash yang memungkinkan semua pihak mendapatkan kemenangan (win-win solution). Semua pihak harus mendapatkan hak yang sepadan dengan kemampuannya, dan terjadi simbiosis antara pihak-pihak yang dulu kita duga tidak mungkin.
Tiga pilar komunikasi massa, yaitu jurnalistik, iklan dan hubungan masyarakat kini semakin bergeser, di mana jurnalistik tertepikan dan iklan serta humas semakin dominan.
Bahkan di medan perang pun, seperti Perang Teluk II, fungsi propagandis dan intelejen sudah diambil alih oleh pakar humas komersial. Pemerintah AS mengontrak pakar humas sebuah produk shampoo yang juga terkenal di Indonesia, yaitu de Beers, serta sejumlah kantor kehumasan lainnya untuk menangani perang Teluk.
Mereka merekayasa peristiwa seolah-olah rakyat Irak menyambut kedatangan pasukan AS, padahal apa yang sebenarnya terjadi adalah, orang-orang lokal itu dibayar untuk show-nya perusahaan Public Relation (PR) yang disewa pemerintah Presiden George Bush.
Seperti dikatakan sebelumnya, model seperti ini banyak terjadi di bidang apa saja, di mana performance lebih penting ketimbang substansi, dan anehnya itulah yang diterima sebagai kebenaran oleh publik. Terlalu banyak informasi yang masuk ke ruang publik semaikin sulit kita mencermati secara kritis satu per satu.
Oleh karena itu tidak ada satu pun rumus ampuh yang berlaku universal untuk menjawab persoalan pers dewasa ini.
Nampaknya media massa boleh berbuat apa saja sepanjang ada audience yang mendukungnya. Itu sudah cukup karena selera publik pun dapat berubah setiap waktu. Sinyalemen Naisbitt bahwa kecenderungan orang kembali memalingkan perhatian ke masalah lokal serta etnik, artinya menjadi lebih sempit, dapat menjadi acuan [sementara] bagi para calon pengelola mass media.
Tapi sejauh mana dan seberapa lama, maka kembali, pergeseran minat masyarakat yang sangat cepat di era posmo ini tak dapat diramalkan pasti.
(Paper ini dikembangkan dari pengantar diskusi jurnalistik di Harian Terbit , Jakarta, 23 Agustus 2005)

Senyum dikiiit

Senyum dikiiit - 7

Etiket 1

Kita harus memegang teguh etiket pergaulan. Kita dilarang berpamitan pulang kepada tuan rumah sebelum pesta usai. Sebaiknya kita menunggu hingga selesai dan membawa pulang sisa-sisa hidangannya!

Etiket 2
Seorang pria masuk lalu duduk ke sebuah restoran. Ia lalu mengambil serbet dan mengikatkannya dengan rapi ke lehernya. Manajer restoran berkata kepada pelayan dengan serius: “Tolong tanya dengan hati-hati dan sesopan mungkin, apa yang diinginkan pria itu. Kita belum pernah mendapat tamu seperti itu.”
Pelayan itu dengan patuh mendekati tamu penting itu lalu bertanya: “Mohon maaf Tuan, Anda ingin potong rambut atau cukur kumis dan janggut saja?
Mutiara Hati – 7

Penulis Adji Subela
Bagian Ke-7

Acara ijab khabul berlangsung lancar, dan selesailah sudah pernikahan itu, sekarang kami sudah resmi sebagai suami-istri. Acara yang begitu sakral tersebut berlangsung sederhana sekali. Kami lantas berdoa bersama-sama dan tidak ada pesta. Kami hanya makan minum sekedarnya, lalu selesai sudah. Itu saja. Tidak seperti pengantin jaman sekarang yang begitu hebat pestanya, apalagi pada saat ini para muda itu senang mengadakan acara pre-wedding serta resepsi di hotel-hotel atau gedung-gedung yang bertarif mahal. Pernikahan kami sederhana dan murah, karena memang begitulah model acara pernikahan di jaman dahulu itu.
Kendati diadakan di luar Istana, namun tata cara pernikahan tetap dilakukan seperti halnya para bangsawan Melayu menikah. Istri saya tidak dihadirkan dalam satu ruangan dengan saya, dan naib pun tidak pernah menanyakan kesediaan calon istri saya. Masalahnya, bila ditanyakan kepadanya apakah dia bersedia menikah dengan saya, maka jawabannya itu dapat diartikan ganda. Kata iya, dapat berarti tidak. Diam, diartikan iya dan sebagainya. Jelas itu akan menjadikan urusan bertambah rumit.
Mutiara dari Kesultanan Langkat sekarang telah saya sunting dan saya rekatkan dalam hati saya, sehingga kemilaunya yang anggun terus menerangi hati sanubari saya hingga sekarang.
Akan tetapi sebagai perwira saya harus mengadakan resepsi pernikahan tersebut. Resepsi diadakan di rumah Kucik di Jalan Yogya No.2 itu, pada tanggal 14 Januari, tiga hari sesudah ijab kabul. Saya tak ingin mengadakan resepsi di Balai Prajurit kami di Jalan Perwira, karena ingin acara ini lebih leluasa, lebih bebas hingga malam hari pun. Saya sendiri tak menyangka resepsi itu berjalan amat meriah. Semula acaranya dimaksudkan sederhana saja. Namun ternyata dihadiri oleh ratusan teman, handai taulan, pejabat setempat, para pejabat Angkatan lainnya termasuk dari Kepolisian, jawatan-jawatan, serta para anggota keluarga, kecuali keluarga dari pihak saya, sebab orang tua sudah memberitahu mereka tidak bisa datang. Ya sudah, ini pun sudah amat meriah, apalagi datang pula dua orang wartawan dari dua koran terkemuka di Medan atau Sumatra Utara yaitu masing-masing dari SKH Waspada serta SKH Mimbar Umum.
Nampaknya pernikahan kami itu menggegerkan masyarakat Medan. Bayangkan, seorang putri Sultan yang belum lama menderita akibat kerusuhan, tiba-tiba memutuskan menikah dengan seorang tentara! Dan yang berbeda suku pula! Pernikahan kami itu mereka sebut sebagai the wedding of the year. Benar-benar membanggakan kami semua.
Saya pun juga terkejut dan juga bangga karena ternyata Komandan KMK Medan, Mayor Djamin Ginting hadir bersama nyonya. Beliaulah yang memberi kata sambutan sekedarnya. Kepala Staff kami, Pak Kartakusuma hadir juga berdua. Tentu saja tidak lupa Kapten D.I. Panjaitan dengan nyonya, serta para staf dan anggota lainnya. Sayangnya, atasan saya sendiri Panglima Territorium I Kolonel Simbolon tidak hadir. Sejumlah perutusan dari beberapa kesultanan di Sumatra Utara juga ada dalam resepsi kami, termasuk keluarga Sultan Deli. Mereka ingin berkenalan dengan suami putri almarhum Sultan Langkat. Tapi beberapa keluarga Sultan sendiri tidak hadir, karena masih ragu-ragu mengenai perlu tidaknya mereka muncul dalam resepsi tersebut.
Sebagai penghangat suasana, kami undang pula satu kelompok orkes atau band yang membawakan lagu-lagu yang populer saat itu. Beberapa lagu irama keroncong mereka bawakan. Kemudian oleh karena atmosfer perjuangan masih kental pada waktu itu, maka lagu-lagu perjuangan Ismail Marzuki pun ikut berkumandang, serta tak lupa tentu saja lagu-lagu berirama Melayu yang di kala itu sangat populer.

Kami ‘mengusir’ ‘mentor’ pernikahan
Sesuai dengan adat Melayu setempat, ada satu proses yang harus kami lalui, suka maupun tidak suka. Memang bagi saya yang berasal dari tanah Parahyangan, prosesi itu betul-betul ganjil serta berat untuk dilaksanakan. Ada rasa sungkan, enggan, dan malu. Tapi harus bagaimana lagi? Saya berada di tanah Melayu, istri saya pun putri Sultan, dan semua proses pernikahan juga dilaksanakan dalam adat mereka, walau pun tidak secara mendetail penuh, misalnya saja biasanya pengantin Melayu dimandikan air limau sebelum upacara, dengan harapan dapat membersihkan diri kami lahir batin, dan lain-lainnya.
Tiada satu proses teramat penting yang benar-benar harus dilalui tapi justru merisihkan hati saya. Terus terang saya belum pernah mendengar atau tahu satu proses adat ini, sehingga benar-benar mengagetkan. Bayangkan saja, dalam malam pertama kami diwajibkan menerima seorang ‘mentor’ atau semacam instruktur perkawinan, seorang perempuan tua. Si perempuan ini nanti akan tidur di bawah ranjang kami dan secara lisan akan memberi ‘bimbingan teknis’ tentang apa saja yang harus kami lakukan. Bayangkan! Dalam moment yang begitu intim buat berdua, ternyata harus ada orang ketiga yang memberi aba-aba tentang apa saja yang harus kami perbuat!
Sebenarnya ini satu langkah mulia, di mana para remaja di jaman dahulu masih bersih suci, tidak mengetahui barang sekecil apa pun mengenai hubungan paling pribadi antara suami-istri. Saya dan Kucik menganggap, biarlah kami berdua sendiri yang menemukan jalan itu, tidak perlu ada guide atau sejenisnya. Ngapain?
Saya sebagai seorang anggota militer sudah terbiasa mendengar dan memberikan aba-aba tapi tentu tidak pernah dalam urusan yang super pribadi ini. Ternyata Kucik berpendapat serupa. Bagaimana pun pula ia sudah terdidik secara maju, secara Barat, sehingga masalah privacy sangat dihormatinya. Akhirnya dengan berbisik-bisik saya memberi isyarat kepada Kucik agar berbicara baik-baik kepada si ‘mentor’ atau ‘instruktur’ kami itu. Dengan hati-hati agar dia tidak tersinggung, karena telah melanggar kehormatan profesinya, kami berbicara dengan perempuan yang malang itu. Di luar dugaan, dia setuju dengan usul ‘win-win solution’ kami, tapi karena dia telah memegang janji serta demi menjaga ‘profesionalismenya’, maka dia harus tetap berada di luar kamar guna memantau segala sesuatunya, dan bersiaga memberi bantuan bila ada masalah. Mudah-mudahan saja tidak!
Akan tetapi ‘penderitaan’ saya ternyata belum berakhir juga. Sesuai dengan adat-istiadat mereka, sejumlah anggota keluarga terdekat ternyata masih saja memantau perkembangan situasinya dari kamar sebelah, bahkan ada yang di dekat pintu kamar. Mereka memasang telinga lebar-lebar.
Akhirnya tugas mulia itu dapat kami jalankan dengan lancar. Kucik menampung tetesan darah bukti kesucian di secarik kain putih. Pada jam yang telah ditentukan, kami harus menunjukkannya kepada mereka. Ini dilakukan karena keluarga harus yakin bahwa anak mereka benar-benar masih suci ketika malam pertama itu. Menyaksikan bukti tersebut mereka bersuka cita, dan kami terbebas dari penderitaan itu.
Kain putih itu harus disimpan oleh pengantin perempuan selama-lamanya sebagai simbol kesucian, ketaatan, kesetiaan kepada suami dan keluarganya. Kucik menyimpan kain itu hingga akhir hayatnya.
Pada pagi harinya, diadakan upacara adat tepung tawar, guna menyambut pasangan pengantin ini. Kami didudukkan di pelaminan, ditutupi kain renda putih. Kemudian setiap anggota keluarga serta handai taulan memberikan doanya kepada kami, setelah itu mereka menaburkan beras kuning yang diberi bunga, dan sebagainya. Setelah itu Kucik memberi sembah kepada Ibunda, serta para kakaknya. Sedangkan adik-adik ganti memberi sembah padanya.
Ada adegan yang lucu. Ketika adik-adiknya hendak menyembah, Kucik marah, katanya:
“Ah, sudahlah, jangan macam-macam pakai sembah segala…cium tangan bolehlah.”
Mereka ketawa. (Bersambung)

Minggu, 15 November 2009

Sssst - 7

Sssttt – 7

- Aktor Nicholas Cage yang sering jadi jagoan di film itu ternyata mengidap penyakit vertigo atau gampang pusing keliling tanpa sebab jelas.
- Nicholas Cage juga pernah punya mobil merk Lamborghini yang dulunya milik Shah Iran.
- Siapa sangka nama Nicholas Cage yang asli itu adalah Nicholas Coppola. Dia memakai nama Cage gara-gara gandrung pada tokoh komik Luke Cage.

Artukel-7


Artikel tamu


Hollywood

Oleh FX Bachtiar
Apa yang muncul di benak kita saat membaca judul tulisan di atas? Sebuah kawasan di California, Amerika Serikat, dimana sejak awal Abad Ke-XX menjadi pusat industri film AS yang hasil produksinya telah berhasil menguasai pasar dunia, tidak tersaingi oleh produsen fim negara mana pun.
Menikmati hiburan produk Hollywood saya mulai dari berbagai film segala umur (istlah masa itu) di awal tahun 50-an seperti Peter Pan, Snow White and the Seven Dwarfs, meningkat ke yang untuk 13 tahun ke atas seperti 20,000 Leagues to the Bottom of the Sea, around the World in 80 Days, Sinbad, Robin Hood, kemudian setelah cukup umur mulai menonton yang untuk 17 tahun ke atas, entah sudah berapa ratus judul dan jenis cerita, ada drama yang serius, ada komedi yang konyol, ada aksi laga yang menegangkan dan lain-lain. Sebagian latar belakang di samping nuasnsa sejarah seperti jaman Romawi, masa perang saudara Utara-Selatan, Perang Dunia I dan II, perang Pasifik, perang Vietnam sampai perang di Timur Tengah, banyak ditampilkan keragaman geografi, demografi, dan kondisi sosial seprti panasnya gurun di Arizona dan Nevada, rawa-rawa yang menyimpan misteri di Florida, gersangnya padang rumput dan ladang minyak di Texas, terjalnya tebing-tebing Rocky Mountains di Colorado, gemerlapnya kasino di Las Vegas, hiruk-pikuknya kehidupan di New York, indahnya pantai Hawaii, kokoh dan ketatnya penjara Alcatraz di Teluk San Fransisco, mistisnya kehidupan kaum Indian, kerasnya komunitas cowboy penggembala sapi, ganasnya kriminalitas di kota-kota besar, hebatnya Secret Service, FBI dan SWAT, canggihnya sistem pengamanan Gedung Putih dan pesawat terbang kepresidenan Air Force One, luasnya jaringan CIA, ampuh dan berani matinya personel Green Berrets, Delta Force, US Marine, Navy SEAL, dan para penerbang tempur US Air Force.
Dari nonton film saya lebih banyak mengingat nama-nama bintang film daripada nama-nama teman satu klas dan tetangga, bahkan kerabat. Nama-nama Jerry Lewis, Alan Ladd, Rock Hudson, Tony Curtis, Yull Bryner, Stewart Granger, Gary Cooper, Audy Murphy, Johnny Weismuller, John Wayne, Jack Palance, Robert Wagner, David Niven, Anthony Quinn, Burt Lancaster, Franco Nero, Dirk Bogarde, Liz Taylor, Brigitte Bardot, Claudia Cardinale, Gina Lolobrigida, disusul generasi berikutnya seperti Chuck Norris, Clint Eastwood, Robert Redford, Harrison Ford, Tommy Lee Jones, Sylvester Stallone, Barbara Streisand, Julia Roberts, Whoopy Goldberg, Pierce Brosnan, Sandra Bullock, dan puluhan nama lainnya, seakan tidak mungkin hilang dari ingatan. Akting mereka membekas sebagai the good guys atau the bad guys, the winners atau the losers, the lovers atau the cheaters.
Dulu saya rasakan bahwa film apa pun darinegara mana pun termausk produk Hollywood,menyuguhkan pelajran tentang bagaimana hal-hal baik (cinta, kejujuran, kesetiaan, kepintaran) pasti mengalahkan semua yang buruk (kedengkian, keserakahan, kecurangan, kebodohan). Paling tidak film masa itubenar-benar memberi hiburan segar kepada para penontonnya. Dampak yang muncul kemudian adalah tumbuhnya rasa kagum terhadap AS, terhadap orang Amerika, terhadap produk buatan Amerika dan terhadap gaya Amerika yang secara perlahan lalu memunculkan jiwa bebasa a la Amerika di kalangan masyarakat Indonesia terutama generasi muda waktu itu. Celana jeans ketat atau cutbray, rambut divaseline, rok can-can, musik ngak-ngik-ngok (rock and roll), juga kemudian muncul grup-grup crossboys di kota-kota besar yangmenjamur begitu luas smapai-sampai pemerintah Indonesia masa itu merasa perlu mengambil langkah tegas untuk memagari budaya Indonesia.
Sekarang, di mana teknologi informasi telah berkembang sedemikian cangguh dan tidak lagi bisa dibatasi oleh waktu maupun ditangkal oleh kedaulatannegara, Hollywood pun (sengaja atau tidak) telah berkembang perannya dari yang semula hanya memproduksi hiburan untuk dunia, menjadi agen pembentuk opini bagi kepentingan Amerika Serikat di seantero dunia. Melalui layar perah, di bioskop Grup 21 atau di layar tancap, disebarkan berbagai kisah tentang kebobrokan negara dan pemerintahan komunis, tentang kekejaman teroris (baca: Islam fundamentalis), tentang petaka mengerikan kalau nuklir digunakan negara selain AS yang semua itu dibuat dengan dukungan tkenologi perfilman modern dan penggapran script secara halus untuk bis amenumbuhkan kebencian penontonnya terhadap pihak-pihak yag dianggap berbahaya bagi AS. Para penontonnya, terutama di luar AS, dijejali pemahaman bahwa amannya AS adalah amannya dunia, menyerang AS berarti menyerang dunia.
Disadari atau tidak, dewasa ini kota bansa Indonesia telah terjerumus ke dalam suasana kehidupan berbangsa dan bernegara yang disukai oleh Sang Adikuasa, ikut membenci lawan-lawannya tanpa terlebih dahulu berusaha memahami akar permasalahan sebenarnya yang melatarbelakangi munculnya sikap dan tindakan memerangi kepentinan AS. Kondisi ini apabila tidak kita sikapi secara cerdas dan bijak pasti akan mendisharmoni hubungan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lain yang dibenci AS, yang apabila benar-benar trjadi maka berakhirlah komitmen bangsa Indonesia untuk bersikap bebas-aktif dalam percaturan antarbangsa.
Di dalam negeri tumbuh rasa caling mencurigai dan dicurigai. Di bidang kehidupan beragama, sebagian warga negara Indonesia pemeluk agama minoritas (non-muslim) menjadi gelisah dan libung berada di lingkungan pemeluk agama mayoritas (muslim) yang oleh Hollywood digambarkan sebagai berpihak kepada teroris yang mengancam kedamaian dunia, sementara di sisi lain sebgaian kaum muslim terpancing untuk menampilkan arogansi mayoritas. Di bidang ideologi, para keturunan ex-PKI tetap emrasa terkucilkan dari kehidupan bermasyarakat sehingga ada yang laluberupaya keluar dari himpitan psikologi itu dengan menyatukan diri, berkegiatan dalam organisasi-organisasi yangmereka bentuk, sementar di sisi lain fobia terhadap komunisme masih tetap ditampilkan dalam sikap penolakan tanpa kompromi.
Di bidang teknologi, rakyat yang takut terhadap bahaya nuklir berhadapan dengan pemerintah yangbernafsu membangun PLTN tanpa (mudah-mudahan sudah) memperhitungkan kemungkinan adanya kecerobohan dari pekerja yang masih belum trbiasa menempatkan masalah keselamatan sebagai bagian budaya kerja terpenting dan kemungkinan bahaya lain yang justru non-teknis yaitu bahwa pada suatu hari nanai bisa saja dimunculkan kecurigaan adanya penyalahgunaan nuklir oleh Indonesia (ingat Irak dan Korea Utara) sehingga Indonesia harus dihukum.
Lebih hebat lagi di bidang kebudayaan, indikasi hilangnya jati diri bangsa dan sopan santun ajaran adat ketimuran terliaht dan terdengar hampir setiap saat terutama di layar televisi, aa tayangan acara musik country yang sangat saya gemari namun menontonnya sambil geli atas tingkah para cowboy sato matang yang kebanyakan belm pernahmenunggang kuda dan bahkan sama kuda delman saja takut, ber-country dance lengkap dengan boots, kemeja kotak-kotak dan topi Stetson, lalu ada tayangan infotainment yang terlalu blak-blakan, ada ungkapan kekesalan penuh caci-maki, ada acara dialog langsung (live) diwarnai adegan saling memotong pembicaraan bahkan dengan gerak tangan yangmuda menunjuk-nunjuk wajah lawan bicara yang lebih berumur, sebuah kebebasan berekspresi yang di Amerika pun tidak semua orang menyukainya, sebuah lompatan yang luar biasa.
Akan menuju ke manakah kita? Kalau seluruh bangsa Indonesia tidak segera mengubah arah perjalanan saat ini yang jelas-jelas menuju perpecahan, tidak segera kembali ke arah perjalanan sesuai cita-cita proklamasi di atas landasan adat budaya bangsa. Mari kita kubur dalam-dalam impian kita untuk menjadi bangsa yang besar yanghidup di Bumi Nusantara yang tata tentrem kertaraharja gemah ripah loh jinawi.
Nasib dan masa depan Indonesia akan sangat tergantung kepada Sang Adikuasa. Mari kita tonton terus film-film made in Hollywood dan resapi salam-dalam ucapan Clint “Dirty Harry” Eastwood setiap akan menghabisi lawan dengan Colt Phyton kaliber 44 Magnum-nya: “MAKE MY DAY”.

Senin, 09 November 2009

Mutiara Hati

Penulis Adji Subela
Bagian Ke-6

Bagi saya tidak ada kata mundur, sama seperti ketika bertempur dulu. Maka jadilah acara lamaran sederhana kami laksanakan di Jalan Yogya No.2. Tidak ada acara adat, tidak ada formalitas. Kelihatannya mereka semua sudah maklum dan menerima saya apa adanya, perantau dari tanah Parahyangan ini. Semuanya berlangsung lancar, dan kemudian diadakan tukar menukar cincin. Pada hari itu juga, kami resmi bertunangan. Alangkah bahagianya!
Saya masih ingat Kucik waktu itu memakai baju kurung Melayu terbuat dari kain satijn berwarna hijau serta kain Pelekat. Pakaian inilah yang menjadi kebanggaan kaumnya pada waktu itu. Bahkan setelah kami menikah dan berkunjung ke Jakarta, Kucik masih tetap mengenakan pakaian adat itu ke mana-mana sampai banyak orang yang melihatnya dengan keheran-heranan. Adapun cincin pertunangan itu, hingga sekarang masih tetap saya pakai. Bentuknya sederhana, hanya berupa sigar penjalin atau rotan dibelah dua, tidak seperti model cincin tunangan jaman sekarang. Di bagian dalam ada tertulis nama kami berdua. Selain cincin itu, saya hingga sekarang pun memakai cincin bermata zamrud hadiah perkawinan kami dari Ibu Permaisuri. Bentuknya sederhana tapi indah dan tetap bersinar hingga sekarang. Tentu saja kedua cincin itu sudah beberapa kali saya besarkan ukurannya agar tetap enak dipakai.
Acara bertunangan itu pun terlaksana juga dengan sangat sederhana, dihadiri oleh sekitar 20 orang kerabat. Tunangan itu diadakan diam-diam guna menghindarkan diri dari para saudara yang tidak setuju dengan hubungan kami berdua. Sebenarnya saya bisa saja berbuat semaunya, karena saya seorang militer, kenyang dalam pertempuran sehingga apa saja siap saya lawan, apalagi menyangkut kehormatan. Namun keutuhan keluarga Kucik tetap harus dipertahankan sebaik-baiknya, ibarat menarik benang dari tepung, benang tertarik tepung tak berserak.
Selesai acara penting itu, tak ada lagi kegiatan khusus, seperti selamatan misalnya. Kalau soal makan, setiap kali berkunjung saya selalu diajak makan bersama mereka, tidak perlu suasana tertentu. Bila tiba waktu makan mereka mengajak menyantap hidangan yang tersedia di meja besar. Dan itulah kebiasaan mereka, spontan, tidak berbasa-basi, hubungan menjadi akrab dan hangat. Hanya saja setelah bertunangan itu, Ibu sering memasak hidangan khusus untuk saya, umumnya dari bermacam-macam jenis ikan laut serta udang galah yang besar-besar itu. Bagi saya ini suatu keistimewaan, sebab ketika masih di kampung halaman, jenis ikan yang kami tahu hanya ikan darat dari balong (kolam, tebat) itu saja seperti ikan mas, gurami, mujair, dan sebagainya. Kebiasaan itu Ibu lakukan hingga saat kami bertugas di Singapura maupun Jakarta. Istana mereka pun dahulu selalu terbuka bagi masyarakat umum. Siapa pun boleh bertandang dan selalu ada acara makan bagi mereka.
Setelah kami bertunangan, Kucik mulai ikut kegiatan kemasyarakatan saya seperti bermain badminton, tenis, atau bridge dengan para kenalan, handai taulan. Di sanalah ia berkenalan dengan keluarga Kartakusuma, yang kemudian menjadi sahabat dekat kami hingga sekarang ini. Lagi-lagi, kami masih tetap mendapat pengawalan dari sanak saudaranya, walau pun jumlahnya tidak ‘satu peleton’ seperti ketika menonton film dahulu itu. Hubungan saya dengan para kerabat perempuan lebih erat lagi. Mereka biasa memanggil saya dengan sebutan adik, bahkan dengan menyebut nama Barkah saja, seperti Ibunda Kucik memanggil saya. Ada yang memanggil saya dengan menyebut pangkat saya, Kapten. Lucunya, Atok atau Eyang Kucik selalu memanggil saya dengan sapaan Kapten, tidak peduli saya sudah berpangkat Kolonel sampai Brigadir Jenderal sekali pun.
Menikah di kota lain
Menjelang akhir tahun 1950 itu keputusan untuk segera menikah semakin kental. Namun dengan ketidak setujuan para paman Kucik, maka hal ini merepotkan juga. Salah seorang kakak laki-laki Kucik harus mengasingkan diri ke Singapura dengan biaya kami, karena ia tidak ingin menyulitkan posisi kami dalam perkawinan itu. Dalam adat mereka, jika sebuah pernikahan tidak direstui secara bulat oleh seluruh keluarga, maka pernikahan harus dilangsungkan di tempat lain, menjauh.
Atas persetujuan para anggota keluarga yang mendukung, saya menyiapkan tempat menikah di kota lainnya. Pilihan saya jatuh ke kota Pematang Siantar, kira-kira 120 km dari Medan ke arah tenggara. Tempat itu cukup baik, aman, dan para kolega saya di Komando Militer Kota (KMK) setempat sangat mendukung, dan mereka menjadi semacam panitia untuk melaksanakannya termasuk yang mengatur semuanya. Saya pikir mungkin atas instruksi Pak D.I. Panjaitan.
Tempat pernikahan kami adalah Hotel Siantar. Bukan di aulanya, tapi cukup di salah satu dari dua kamar yang dipesan teman-teman KMK. ‘Panitia’ lokal itu terdiri dari tiga orang, termasuk Komandan KMK-nya, walau pun dalam acara sesungguhnya ia tidak hadir. Tentu saya sangat berterimakasih kepada mereka ini. Sedangkan rombongan dari Medan terdiri dari kira-kira 10 orang, berangkat menggunakan dua mobil. Komandan KMK sangat mendukung rencana saya itu. Malahan dua orang anak buahnya bertindak sebagai saksi pernikahan tersebut. Di antaranya tentu saja Tengku Kamaliah, termasuk Ibu tiri Kucik. Ibu ini mengerti sekali kesulitan yang saya hadapi, dan dengan sabar selalu mendampingi kami.
Surat nikah pada waktu itu masih sangat sederhana terdiri dari selembar kertas tebal dilipat menjadi dua. Yang mengeluarkan surat itu adalah Djawatan Agama Daerah Sumatra Timur, Medan, diserahkan melalui Kotapradja Pematang Siantar.
Kami menikah 11 Januari 1951 atau tanggal dua bulan empat tahun 1370 Hijriyah. Usia saya genap 27 tahun, suatu umur yang cukup matang untuk menikah, sedangkan calon istri saya 18 tahun, cukup dewasa untuk menjalani hidup berumah tangga.
Bertindak sebagai kadhi atau naib kadhi adalah H. Abdul Halim, yang sekaligus menjadi wali nikahnya. Sedangkan para saksi terdiri dari Rasyid Ali, kemudian dua orang kolega saya anggota KMK masing-masing Letnan Dua Suwarsono, serta Letnan Muda J. Arsyad.
Saya tahu betul siapa Letnan Dua Suwarsono. Ia adalah bekas anggota Tentara Pelajar dari salah satu kota di Jawa. Prestasinya sangat baik, dan dia ditugaskan ke Teritorium I oleh karena kemampuannya itu. (Bersambung)
Cerpen - 6

PENGANTAR:
Cerita pendek ini pernah dimuat di harian Sinar Harapan, Jakarta, Sabtu, 20 Desember 2003 di Halaman 12, juga dikutip di berbagai situs lainnya. Kini cerita saya turunkan lagi di blog ini gara-gara gegap-gempita masalah korupsi dan bagaimana wajah intitusi-institusi penegak hukumnya saat ini.
Selamat mengikuti.

Mari Berkorupsi!

Oleh Adji Subela
Ketika larangan itu anjuran, saat hukuman cuma senyum kecil di bibir manis dan tatkala dosa dan neraka cuma kata-kata kempis di mimbar khotbah, maka Tengul berteriak-teriak di Bundaran di depan Hotel Indonesia, di bawah lambaian Patung Selamat Datang, melambai orang-orang lewat untuk menggalakkan hidup berkorupsi.
Sewaktu seorang sahabatnya menyebutnya gila dan bisa dituntut karena menganjurkan orang lain untuk melanggar hukum, Tengul cuma nyengir menangkis: “Siapa sih manusia yang paling bersih di negeri kita? Hayo?”
Belakangan ini gejolak batin Tengul memang tak terkira-kira besarnya. Sering ia merasa eneg hendak muntah mendengar tuntutan setiap detik setiap hari agar korupsi diberantas hingga ke akar-akarnya. Berpuluh-puluh organisasi antikorupsi didirikan orang, dan diberi nama gagah-gagah dengan tujuan luhur dunia akhirat: memberantas korupsi dan dan menciptakan pemerintahan yang bersih dan berwibawa, selalu memikirkan dan berpihak kepada wong cilik!
“Siapa yang menjamin sih, kalau korupsi lantas berkurang? Siapa yang berani bertanggung jawab kalau organisasi-organisasi itu nanti tidak korup sendiri?” ia tetap bertahan pada prinsipnya.
Di depan teman-temannya ia selalu serius berpidato bahwa di zaman Orde Lama, pemerintah tak menyuapi rakyatnya pakai makanan, tapi menyekokinya dengan Tujuh Bahan Indoktrinasi alias Tubapi. Rakyat tetap tak berubah, masih saja kelaparan sambil mendengarkan pidato-pidato. Di zaman Orde Baru, rakyat makan setengah kenyang, sambil melihat pejabat-pejabat dan keluarganya berkorupsi sembari dicekoki Penataran P4, dengan lauk harian berupa peringatan-peringatan, ancaman dan intimidasi. Korupsi menjadi-jadi gilanya, dan orang malah bangga menjadi koruptor, lalu korupsi menjadi yang lebih utama. Hasilnya dipamerkan ke mana-mana.
Zaman reformasi ini, Tengul menamainya sebagai Orde Bingung, orang seperti kethek ditulup (1). Kebobrokan peninggalan Orde Baru terlalu banyak, sulit dituntasi seketika. Penguasa seperti tak ada, lantaran mereka sendiri bingung mana yang benar dan mana yang salah. Tengul melihat yang banyak cumalah kebingungan dan keluhan, tuntutan, teriak-teriak tak menentu, kritikan konstruktif maupun yang ngawur asal bunyi, dan juga muncul komentar-komentar bodoh sementara korupsi malah disebutnya tidak marak sama sekali!
“Ah, bohoooong,” seorang temannya tak percaya.
“Sungguh! Tidak marak! Tapi korupsi sudah jadi way of life masing-masing individu warga negara dan sudah meresap dalam darah dagingnya dan jadi acuan-tindak untuk hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tinggal menunggu adanya pejabat yang berkata – darah daging saya koruptor, itu saja.” Korupsi telah jadi bukan persoalan dan yang berteriak-teriak antikorupsi bagi Tengul cuma orang yang kurang pekerjaan saja.
Resep yang paling baik, adalah menganjurkan setiap orang untuk berkorupsi sedapat-dapat dan semampu-mampunya. Malahan diharuskan. Tengul tetap percaya bahwa kalau semakin dilarang, orang Indonesia akan diam-diam mengerjakannya. Sedangkan kalau dianjurkan, malah tidak dikerjakan!
Dalam sebuah diskusi kecil di ruangan mewah hotel berbintang lima, Tengul meyakinkan para peserta bahwa anjuran berkorupsi harus dituangkan dalam seperangkat aturan yang memungkinkan pembinaan dan pelaksanaannya berjalan baik.
Gerakan meningkatkan kegiatan korupsi ini bagi pria ceking tersebut begitu serius sehingga ia ia ngotot agar Dewan Perwakilan Rakyat harus dilibatkan secara aktif. Semua komponen masyarakat yang mendukung maupun yang kontra korupsi harus diundang untuk merumuskan pelaksanaannya.
“Bagaimana kalau kelompok antikorupsi di luar maupun di dalam parlemen gigih menentang rencana gila kamu itu?” kata Sodrun, yang dalam hatinya sebenarnya setuju saja.
“Bagi kita mudah, kita bikin saja pemungutan suara secara tertutup alias rahasia. Aku kira hasilnya akan positif. Sebelumnya kaum antikorupsi kita lobby dulu, lalu kita ajak studi banding ke luar negeri,” ini jalan keluar Tengul.
“Lho LSM-LSM yang antikorupsi bagaimana? Apa mereka tidak teriak-teriak?” sambar Sodrun lagi.
Tengul yakin itu perkara mudah saja. Solusinya? Beri mereka Proyek Penelitian Pelaksanaan Korupsi dari Pusat Hingga Daerah, Antara Fakta dan Harapan. Beri kebebasan mereka untuk menyampaikan hasilnya. “Berapa saja besarnya rencana biaya yagn diajukannya kita lipatkan tiga saja, karena program ini penting untuk kelangsungan hidup bangsa di masa mendatang. Mereka tentulah senang,” enteng betul si Tengul itu menjawabnya.
“Bung apa sampeyan (2) pikir MPR akan setuju?” Drs Ir Sastro Kenthir MPA, MM, MBA, Phd mengujinya.
“Ya inilah masalahnya. Tapi semua anggota DPR ‘kan merangkap jadi anggota MPR juga? Mudah-mudahan bisa diatur. Teknis di lapangannya, nanti kita adakan demonstrasi alias unjuk rasa mendukung korupsi secara mantap dan berkelanjutan. Orang-orang untuk itu sudah siap tinggal call saja. Ini semacam pressure saja, biasalah.”
Tengul berencana melibatkan para artis-selebritis, karena hanyamerekalah kini yang dipercaya orang. Yudikatif tidak sama sekali, eksekutif telah bolong dan legislatif dianggapnya lebih serakah. Akan dibikinnya promosi besar-besaran, karena oran Indonesia paling gampang termakan iklan. Apa yang dikatakan iklan ditelan bulat-bulat tanpa dilihat.
Pria ceking itu menyambung lagi: “Pendeknya, kehidupan berkorupsi sudah meresap hinga ke sel-sel otak dan hati kita semua. Tinggal direalisasikan atau kita lembagakan saja secara terbuka, daripada sembunyi-sembunyi dan malu-malu kucing, wong ini sudah bukan barang aneh dan menjijikkan kok. Saya yakin gerakan ini akan didukung banyak orang secara diam-diam. Kalau pun ada yang menentang, itu karena mereka belum mendapatkan pencerahan dan penjelasan yangkomprehensif, atau ragu-ragu apakah mereka bisa memanfaatkan gerakan ini apa tidak, itu isa diatur kok, tenang saja.”
Pria ceking tokoh kita ini meyakinkan mereka, bahwa kebocoran APBN rata-rata 30% karena berbagai sebab – tentu di atnaranya korupsi – itu prestasi manajemen yang canggih, yaitu bagaimana mengatur-atur agar copetan mereka tak ketahuan. Ini memerlukan skill tinggi.
“Bung Tengul, apakah Anda tidak takut dicap antirevolusi, antipembangunan, ekstrem kiri-kanan, tengah, depan, belakang dan apakah Anda bisa menangkis tuduhan unsur keterpengaruhan. Nanti Anda akan deitanya teman dekat Anda itu siapa saja dan apa organisasinya,” Sastro mengingatkannya dengan serius.
“Mudah. Unsur keterpengaruhannya banyak. Kita tanya para pemeriksa kita, para jaksa, hakim serta pengacara. Siapa yang tidak pernah berkorupsi? Hayo ngacung (3). Siapa yang pernah berkorupsi? Ngacung.”
“Kalau mereka mereka mengaku berkorupsi?” tanya Sastro.
“Itu calon anggota kita!”
“Kalau mereka mengaku tidak berkorupsi?”
“Itu juga calon anggota kita, maksudnya anggota tingkat percobaan.”
“Kalau tidak mengacung untuk kedua hal itu?” kejar Sastro.
“Itu anggota utama kita, karena untuk berpendapat saja mereka mengorupsi dirinya sendiri, hingga ia pantas mendapat kedudukan istimewa di kelompok kita.”
Semangat Tengul untuk menggalakkan korupsi betul-betul nekat luar biasa. Organisasi itu segera akan akan dibentuknya, dengan nama sementara Komite Penggalakan Korupsi. Malahan dengan bantuan seorang pengarang lagu yang namanya minta dirahasikan betul-betul (bahkan kabarnya dengan perjanjian di atas kertas bersegel), ia menyiptakan lagu Mars Mari Berkorupsi. Seperti ini:
Marilah kita berkorupsi
Korupsi sampai mati
Hukuman jangan peduli
Itu soal nanti
Soal syairnya, Tengul menyilakan seua orang untuk mengutak-atiknya kembali, karena semangatnya memang untuk berkorupsi. “Yang penting intinya berupa ajakan untuk berkorupsi, itu saja, simpel kok,” begitu Tengul meyakinkan teman-temannya. Sodrun malahan menyumbang hymne korupsi:
Korupsi, korupsi, sungguh nikmat sekali
Marilah bangsaku kita berkorupsi, enak sekali
Jangan cuma sekali saudaraku,
Tapi berkali-kali
Sampai mati, sampai mati
Sodrun, yang tampaknya sudah jadi pendukung fanatik Tengul, menganjurkan agar untuk mengiringi lagu itu dicomot saja dari hymne-hymne yang ada – yang indah-indah bukan main – tanpa perlu minta izin pada pemilik hak ciptanya karena memang namnaya juga korupsi.
Usaha gigih Tengul dan wakilnya, Sodrun, tampaknya mendapat hasil juga. Beberapa orang mendaftarkan diri menjadi anggota. Sampai suatu ketika, Tengul mendesak diadakannya deklarasi pembentukan Komite Penggalakan Korupsi.
“Ini masalah urgen sehingga sehingga haus cepat-cepat kita realisasikan,” ujarnya dengan penuh semangat.
Ada kira-kira tiga puluh orang calon peserta, terdiri dari lima belas pria dan lima belas perempuan. Barangkali itu artinya korupsi tidak memandang jender. Semua jenis kelamin punya potensi sama untuk berkorupsi, tidak pilih-pilih. Kelihatannya asal ada peluang sikat saja, beres. Tengul dengan serius minta calon peserta agar pada saat deklarasi Komite Penggalakan Korupsi nanti di sebuah hotel berbintang lima, mereka mengenakan pakaian olahraga saja, dengan sepatu kets. Maksudnya begitu selesai acara, mereka disuruh lari kencang-kencang meninggalkan tempat itu akrena biaya sewa ruangan tidak akan dibayar. Sebab, begitu Tengul menjelaskan kepada peserta, membayar biaya ruangan itu tidak berspirit korupsi sama sekali.
****
Tiba pada hari deklarasi penting itu, calon anggota yang datang hanya sepuluh orang, masing-masing lima orang pria dan lima lainnya perempuan. Itu saja.
Banyak sekali wartawan yang datang, baik dari media ceta maupun elektronik, termasuk cyberjournalists yang dari dotkom-dotkom. Di acara itu, Komite Penggalakan Korupsi mengenalkan bandera serta simbul mereka, yaitu berupa gambar-gambar dua jari mengacung membentuk huruf V seperti gayanya PM Inggris Sinston Churchill dahulu itu. Cuma ambar tangan ini dipasang terbalik dan digambarkan menjepit selembar uang kertas. Simbul itu juga menjadi gambar bendera Komite, yang warnanya putih bersih sebagai lambang kebersihan nait mereka. Semula Sodrun mengusulkan agar benderanya berwarna hitam dan ada gamabr tengkorak yang ditutup matanya sebelah, tapi semua anggota menolah mentah-mentah karena itu identik dengan perompak. Kalau perompak, itu korupsi cara barbar. Black collar corruption. Komite ini hanya menanmpung yang white dan blue collar saja.
Belum lagi acaranya dimulai, Tengul sudah dicegar para wartawan dan diguyuri pertanyaan aneh-aneh. Maka berkatalah Tengul, sang penggagas Komite Penggalakan Korupsi itu:
“Saudara-saudara, para pengamat asing menempatkan negeri kita sebagai negeri yang paling korup nomer sekian. Itu jangan dianggap memalukan tapi harus disikapi sebagai potensi yang harus disyukuri dan dianggap sebagai peluang. Tak banyak negara yang mampu mengembangkan korupsi begitu hebat hingga semakin canggih seperti negeri kita. Oleh sebab itu saudara-saudara, kita akan menjadikan korupsi sebagai ekspor andalan kita. Ekspor andalan saudara-saudara ... uhuk-uhuk-uhuk....,” teriak Tengul kemudian terhenti karena terbatuk-batuk. Seorang asistennya datang memberi air putih segelas.
“....kemudian ita buka konsultasi mengenai teknik-teknik berkorupsi dan kita masyarakatkan ke dalam dan ke luar negeri. Nantinya akan ada semacam buku Panduan Dasar untuk Berkorupsi. Untuk tahap pertama kita minta pengakuan agar korupsi merupakan ketrampilan dasar yang perlu dikembangkan. Bila seluruh komponen bangsa lebih serius lagi, korupsi mudah-mudahan menjadi ilmu terapan yag memiliki methode dan sistematikanya sendiri. Itu sudah di depan mata kita semua, cuma ya itulah tadi, belum ada pengakuan terbuka. Yang jelas, kegiatan korupsi sekarang ini sudah membentuk satu siklus ekonominya sendiri sehingga cita-cita kita tadi tidak muluk-muluk. Kita harus tetap yakin mengenai hal itu, janganlah ragu sedikit pun.”
Disebutkannya, investor asing enggak ke Indonesia karena korupsi itu. tapi Tengul dengan berapi-rapi membela bahwa ekonomi kita berputar anara lain dibiayai pakai uang hasil korupsian itu, yang beredar diam-diam dan meningkatkan daya beli rakyat!
“Dulu sebelum kedatangan tenaga kerja dari negeri kita, polisi-polisi Malaysia sangat berdisiplin tinggi. Kini setelah bergaul dengan orang Indonesia, mereka mulai tahu apa namanya korupsi itu,” Tengul nekat mernjelaskan.
“Pak, peneliti asing menilai Indonesia harus dihindari untuk investasi karena sangat korup, biaya silumannya banyak, premannya tak terkira-kira. Bunakankah penggalakan korupsi itu nanti justru akan mencegah investasi asing masuk ke sini?” seorang wartawan mengetes keteguhan Tengul.
“Begini, Bung. Investor asing itu hipokrit, munafik. Ketika pemodal asing berjejal-jejal masuk ke negeri kita di masa awal Orde Baru dulu, mereka itu main sogok sana sogok sini, tahu enggak? Jadi kita diajari teknik dagang yang seperti itu. Sekarang ketika kemampuan kita meningkat pesat, mereka justru menuding kita negeri korup. Apa itu adil?”
“Bagaimana dengan daya saing produk kita, karena cost-nya jelas akan lebih tinggi?” serbu wartawan lainnya.
“Begini kawan, pengusaha luar negeri itu licik-licik. Praktik suap dan korupsi juga mereka lakukan tapi mereka lantas menimbang-nimbang negeri mana yang korupsinya lebih kecil itu yang dicari. Mau cari yang bersih? Imposibeeeeel...imposibellll.”
“Lantas apa sih upaya Komite Anda untuk itu?” lanjut si wartawan.
“Kita akan menuntut suatu konvensi internasional mengenai korupsi. Kita tentukan berapa uagn siluman yang pantas, dan masukkan semuanya dalam biaya produksi. Maka dari itu kami akan mengadakan pendekatan kepada negara-negara yang dinyatakan bersih untuk mengadopsi korupsi. Jadi kita globalkan korupsi ini, yang penting jelas aturan mainnya hingga semuanya berjalan fair. Kira-kira seperti itu idenya.”
“Untuk tingkat regional,” lanjut si Tengul, “kita dekati negara-negara tetangga kita. ada lho, negara tetangga yang dinyatakan bersih korupsi, tapi mereka mampu menyimpan koruptor di sana asal bawa uang. Itu korupsi supercanggih namanya dan sudah berskala global-regional.”
“Pak, bukankah menganjurkan orang lain untuk melanggar hukum itu juga bisa dituntut?” kejar seorang jurnalis lainnya.
“Tidak masalah kok dik, kalau pun kita dibui karena penyebaran ide yang sebenarnya sudah kita jiwai dan kita praktikkan ramai-ramai, apa boleh buat. Departemen Kehakiman dan HAM sudah memperbaiki rutan Cipinang begitu bagusnya, dan kabarnya rutan-rutan lainnya di seluruh negeri akan segera menyusul berturut-turut. Itu bagus, langkah antisipatif yangjitu namanya.”
******
Upaya tulus di Tengul dan kawan-kawannya tentu saja mendapatkan reaksi keras dari sana-sini. Itu sudah ukan hal aneh baginya, sudah diperhitungkan masak-masak. Suatu kali rumahnya didatangi oleh segerombolan orang berbadan tegap-tegap dan berambut cepak, lain hari datang pula beberapa pria berambut gondrong. Juga ada sejumlah pria erdasi dan bermobil mwwah datang kepadanya. Tak ketinggalan sejumlah pria bermartabat yangmengenakan hem safari datang diam-diam mengendarai sedan hitam-hitam dengan tiang bendera kecil di bagian bemper depan. Apa urusan mereka itu semua dengan Tengul, tidak ada yag tahu-menahu...........
Perkebangan selanjutnya, lama tak terdengar berita mengenai Komite Penggalakan Korupsi ini. Tapi belum lagi seminggu yang lalu ada berita mengenai ditemukannya sesosok mayat di tepi Kali Ciliwung. Mayat seorang pria ceking. Jenasah itu telah diotopsi, hasilnya menyebutkan bahwa si pria tewas dicekik. Berdasarkan KT yang ada di dompetnya, di diketahui bernama Pro. Dr. Drs. Ir. Tengul SH, MM, MBA. Mayatnya diserahkan kepada keluarganya. Sayangsekali keluarganya tidak mau menerima hasil otopsi itu lalu minta otopsi ulang di kampung halamannya. Hasilnya, Tengul tewas karena obat terlarang. Tapi dokter tak mampu menyebutkan obat apa yang telah dipakainya, karena setibanya di tempat kelahirannya, wajah si mayat telah berubah menjadi tersenum seperti orang yang sedang lega hatinya, atau barangkali lebih mirip sepeti orang yang kegelian digelitiki pinggangnya.
Selesai.
Keterangan:
Kethek ditulup = monyet disumpit. Ungkapan dalam Bahasa Jawa guna menggambarkan orang yantg sedang mengalami kebingungan.
Sampeyan = Anda
Ngacung = mengangkat tangan, terutama untuk pemungutan suara.