Birokrat Jadi “Tukang Karoseri” Eksklusif

Birokrat Jadi “Tukang Karoseri” Eksklusif
Kolaborasi apik sarjana publisistik dan dokter hewan
Adijono di workshop-nya. Latar belakang mobil damkar Pelindo III. Latar depan chasis untuk mobil penumpang
Sejumlah mobil unit milik Kemenkominfo RI selesai dikerjakan
Berbagai kendaraan “aneh-aneh” dengan spesifikasi sulit-sulit ia buat, ia bangun, dan karyanya menyebar di berbagai instansi/institusi tanah air yang memerlukan kendaraan dengan persyaratan khusus. Sebuah pekerjaan rumit yang memerlukan ketelitian tinggi. Satu kerja keras dengan beban tanggung jawab dan kepercayaan yang tidak kecil. Nyatanya ia berhasil menjadi “tukang karoseri” eksklusif kendaraan khusus, meskipun bukan insinyur atau ahli teknik. Mau tahu pekerjaan dan pendidikan aslinya?

Mobil unit untuk tugas Satpol PP Kota Bogor
Dia sarjana S-1 publisistik dan dan mantan birokrat di Kementerian Kominfo (Komunikasi dan Informatika) RI. Mau tahu siapa staf khususnya? Dokter hewan! Nah, komplet sudah keanahen dunia kita tapi nyata! Namun buktinya perusahaan karoseri CV CarCentro miliknya mampu mendapatkan kepercayaan banyak klien dan order datang tak putus-putus.
Drs. Adijono (66 tahun) membangun karir awal di Departemen Penerangan (Deppen) RI, setelah lulus dari Akademi Penerangan dan meneruskan ke Strata-1. Setelah Deppen RI “dilikuidasi” awal masa reformasi lalu, pria kelahiran Malang, Jatim, ini sempat kerepotan. Ternyata ia tetap dipertahankan a.l. bertugas di Inspekstorat Jenderal (Itjen). Kecuali pada masa-masa pemeriksaan, praktis tiap hari Adijono tak punya aktivitas mendesak. Maka ia sering menyisir iklan mobil bekas di koran ibukota. Mobil itu diperbaiki di bengkel langganannya di Depok, lalu dijual kembali. Itu tahun 1995. Lama-kelamaan jumlah mobilnya bertambah banyak hingga harus membangun show-room di Cilangkap, Depok. Di samping tempat itu ia membangun bengkel perawatan dan perbaikan.
Dalam perjalanan selanjutnya ia mendapat kepercayaan untuk kontrak perawatan mobil operasional selama 4 (empat) tahun dari Coca Cola pada 2004. Dari sana muncul kebutuhan untuk membangun sendiri perusahaan karoseri. Maka lahirlah perusahaan karoseri CV CarCentro tahun 2008 di sebuah perkampungan sepi. Adijono pun lalu berfokus pada karoseri saja, dibantu dua orang putranya.
Mobil unit pesanan instansi pemerintah dengan peralatan lengkap
Kendaraan langka, rumit
Di workshop-nya di Jalan Pabuaran Indah, RT 015/RW 01, Kampung Bedahan, Cibinong, Bogor, (Telp/Fax 021-87912406 e-mail: car_centro@yahoo.com) dibangun berbagai jenis kendaraan yang jarang kita saksikan di jalan raya. Kalaupun ada, tentu bertautan dengan peristiwa atau keperluan khusus. Ada mobil pemadam kebakaran, mobil videotron, ambulans, mobil X-Ray pesanan Bea Cukai 32 unit, pesanan Pasukan Pengawal Presiden (Paspampres), Puskesmas Keliling, mobil laboratorium BPOM, mobil unit operasi Satpol PP, dan masih banyak lagi. Malahan dalam waktu dekat CV CarCentro akan mengerjakan order mobil khusus Nubika (Nuklir, Biologi, dan Kimia) pesanan Brimob. Kendati demikian perusahaan ini juga mengerjakan karoseri kendaraan untuk penumpang pesanan sebuah perusahaan besar di Bogor.

Mobil Videotron
Satu unit mobil videotron buatan CV CarCentro
Mobil videotron adalah kendaraan roda empat dilengkapi layar LED raksasa, peralatan audio-video dan genset kecil. Mobil ini efektif sebagai sarana iklan outdoor berjalan. Sebuah perusahaan iklan besar di Jakarta pernah memesannya, sedangkan dalam waktu dekat perusahaan karoseri ini mengerjakan tiga mobil videotron pesanan Pemprov Banten.
Mobil X-Ray bukan barang baru, tapi ternyata pembuatannya memerlukan persyaratan khusus mengingat bahaya radiasi “sinar rontgën” serta keamanan fisik lain. Ambulans yang dibangun CV ini meliputi lima jenis yaitu ambulans transport, Puskesmas Keliling, emergency, ICU (Intensive Care Unit), mobil jenazah. Semua memerlukan spesifikasi khusus masing-maing. Mobil ambulans biasanya didesain putranya sendiri dengan mempertimbangkan kebutuhan dan modernitas modelnya. “Ciamik, ciamik,” kata Nyonya Adijono yang mendampinginya menirukan kliennya yang senang melihat hasilnya.

Mobil Damkar dan Morita
Uji daya tahan mesin dan pompa mobil damkar
Mobil pemadam kebakaran (damkar) tugas utamanya sering tidak diharapkan, sebab kalau dia bekerja itu artinya ada musibah kebakaran, atau banjir. Sama-sama keadaan susah. Tapi bagaimanapun ia harus ada untuk setiap wilayah pemukiman, terutama perkotaan padat penduduk. Oleh karena itu kualitas bahannya harus prima agar mampu bekerja maksimal. Ini yang menjadi concern CV CarCentro.
“Saya tidak mau ada bahan abal-abal sebab selain mempertaruhkan reputasi perusahaan juga merugikan klien,” ujar Adijono. Oleh karena itu ia memakai pompa Morita yang dianggap paling unggul di Indonesia untuk menyedot dan menyemprotkan air, selain biaya perawatannya minimal.
Morita ini mampu bekerja pada air dengan tingkat kekeruhan 30%, tidak memerlukan oli, dan tahan air asin. “Itulah persyaratan penting untuk pompa mobil damkar,” tambahnya. Plat-plat logam pun ia pilih yang prima seperti Lokfom misalnya.
Untuk mentest kualitas mobil damkar Adijono mengujikannya ke Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Pemprov DKI di Ciracas, Jakarta Timur. Standard kualifikasinya tinggi dan semua mobil damkar umumnya diuji di tempat tersebut. Ujian berat selain pencocokan spesifikasi, juga uji ketahanan mesin mobil dan pompa yang dihidupkan selama 6 (enam) jam tanpa henti.
Pompa Morita yang andal
“Bayangkan kalau sedang dioperasikan tiba-tiba dalam sejam mesin panas lalu mogok, apa jadinya? Alhamdulillah semua mobil damkar kami lulus uji kelayakan,” kata Direktur CV CarCentro tersebut.
Perusahaan karoseri ini sedang mengerjakan sejumlah mobil damkar milik PT (Persero) Pelindo III untuk beberapa pelabuhan di Kalsel.

Dunia memang aneh
Dunia memang aneh. Sering terbalik-balik, harapan tak sesuai kenyataan dan pendidikan tak sesuai pekerjaan. Tapi roda nasib berputar terus dengan nyaman, dan itulah kehidupan. Kehidupan manusia yang penuh dinamika, romantisme, dengan segala persoalannya. “Yang penting lakoni dengan ikhlas, sungguh-sungguh,” kata Adijono (66) sambil ketawa. Jangan kaget.
Salah seorang staf Adijono tak kurang-kurang anehnya. Ia ternyata seorang dokter hewan, yaitu drh. Yayat Ruhiyat, lulusan Institut Pertanian Bogor. Yayat sudah berkecimpung di bidang karoseri selama 17 tahun. Nah, apa yang harus diobati? Tidak ada. Ia adalah penasihat untuk pembuatan ambulans, karena tahu persis keperluannya. Volume pesanan ambulans atau kendaraan sejenis lain memang lumayan banyak di perusahaan ini.

Modal, modal
Ditanya mengenai kendala selama berusaha di bidang karoseri, Adijono dengan lugas menjawab, “Permodalan”. Menurutnya permodalan menjadi masalah yang cukup krusial, sebab terkadang volume order yang begitu banyak harus didukung oleh modal memadai. Padahal pembayaran order sebelumnya belum bisa dibereskan karena berbagai penyebab. Perputaran uang harus dikelola dengan lihai.
“Itulah seninya orang berusaha. Masalah akan timbul terus-menerus dan bagaimana memecahkannya menjadi keasyikan tersendiri,” tuturnya di workshop-nya yang tenang  dan adem di Cibinong, Bogor.

Sederhana, Warung Soto Betawi Ini Bertahan 16 Tahun

Sederhana, Warung Soto Betawi Ini Bertahan 16 Tahun
Soto Betawi. Khas.
Tekun. Tampaknya ini kunci bisnis yang ampuh. Di bidang bisnis makanan-minuman atau kuliner, ketekunan dalam menjajakan dagangannya menjadi kunci membentuk konsumen fanatik.
Bila sudah mendapatkan pelanggan fanatik, maka bisnis pun lancar sambil terus membangun konsumen baru untuk masa mendatang. Apapun model rasa masakannya, bila terus dijajakan dalam lingkup konsumen tertentu, maka akan tercipta penikmat yang setia.
Paling tidak itu yang dialami Abdul Gani (52 th) alias Bang Gani. Pria kelahiran Pisangan Baru, Jatinegara, Jakarta Timur, ini mampu bertahan 16 tahun berjualan soto Betawi di Depok Timur, Jawa Barat. Jangan dikira ia memiliki gerai mewah dan “heboh” dengan slogan aneh-aneh, tapi justru di pinggir jalan yang bukan jalan utama. Sederhana saja, tapi dari warung itu ia mampu mengantarkan  tiga anaknya berkuliah di universitas ternama.
Warung di pinggir Jalan Danau Toba, hanya beberapa meter dari Jalan Raya Bahagia, dan menempel di pagar rumah penduduk ini diberi nama “Soto Betawi Bang Gani”, pada satu papan nama berlatar warna hijau muda.

Mantan “PHK-wan”
Krisis ekonomi 1997 lalu disusul krisis multi-dimensi yang melanda tanah air 1998, memaksa ribuan karyawan kehilangan pekerjaan termasuk Bang Gani. Ia harus menerima pensiun dini dari sebuah perusahaan konstruksi plat merah. Tapi pria murah senyum ini cepat mengambil keputusan yaitu berjualan soto Betawi. Ia memang memiliki latar belakang usaha kuliner. Sejak kelas empat SD ia sudah membantu encing-nya (tantenya) yang sukses membuka rumah makan ayam goreng Bu Haji di Jatinegara yang populer. Bang Gani kebagian “seksie” persotoan. Dari situ ia mempelajari bumbu dan teknik pengolahan soto Betawi yang terkenal memiliki rasa intens.
Bang Gani dengan latar belakang warungnya.
Maka sejak tahun 2000 ia membangun warung sotonya di pinggir Jalan Danau Toba, Depok Timur. Barangkali “hokkie” Bang Gani memang di bisnis kuliner. Baru buka warung itu saja, ia mampu menjual tiga kilogram daging sapi. Jumlah itu meningkat terus. Kini ia menghabiskan 8 (delapan) kilogram daging sapi untuk soto, ditambah babat 10 kgm, paru-paru 6 (enam) kgm, kikil 8 (delapan) kgm, daging kepala sapi 8 (delapan) kgm. Warung buka pukul 11.00 siang dan dagangannya habis sekitar pukul 21.00.
Kelihatannya Bang Gani mampu membangun selera pelanggannya. “Malah ada warga Manado yang punya saudara di Depok Timur. Kalau dia datang, langsung pesan tiga mangkok soto Betawi, tanpa nasi, sebab katanya nasi sih di mana-mana sama,” tuturnya sembari ketawa.
Dokter Sukarto, dokter militer TNI AU yang berdomisili di Cibinong, yang dulu terkenal dengan terapi herbalnya serta memiliki hobby membangun dan menerbangkan pesawat baling-baling tunggal, juga menjadi pelanggannya. Supirnya yang diutus membeli soto Betawi Bang Gani. Biasanya lima bungkus, satu di antaranya khusus daging sapi untuk dr. Sukarto.
Pada suatu hari si supir datang hanya membeli empat bungkus. Bang Gani bertanya kenapa. “Ternyata menurut si supir, dokter Sukarto sudah meninggal dunia,” kata Bang Gani dengan wajah sedih.

“Diversifikasi produk”
Sop iga, produk susulan
Tentu saja pada awal bisnisnya Bang Gani banyak menghadapi tantangan, terutama ketika harus mengenalkan warung dan gaya soto Betawinya. Selain itu persaingan dengan pedagang makanan lain cukup ketat. Ia optimis sebab di wilayah sekitarnya soto Betawi belum ada waktu itu.  Pelanggan juga minta sop iga sapi yang mulai populer beberapa tahun lalu. Ia masakkan sop iga dan menjadi “ikon” kedua setelah soto Betawi. Ia pun juga membuat soto ayam.
Kini setelah 16 tahun berjalan, konsumen pelanggannya menuntut lebih. Mereka minta ayam goreng dan ayam bakar seperti milik Bu Haji dulu. Maka di seberang warung lamanya ia membangun warung lagi untuk gerai ayam bakar dan ayam goreng. Sekarang ia memerlukan 30 ekor ayam hidup yang ia potong sendiri guna menjamin kualitas dan kehalalannya. Pada hari Sabtu dan Minggu jumlah itu meningkat menjadi 45 hingga 60 ekor, sedangkan untuk soto ayam saja perlu 15 ekor.
Sejumlah pelanggan mengusulkan membuka nasi goreng, juga ia turuti, dalam sehari kini memerlukan nasi 5 (lima) kilogram. Kenapa tidak memasak soto Betawi berbahan daging kambing seperti aslinya soto ini, ia bilang sembari ketawa, “Orang takut ama daging kambing.” Pembeli baru kerap bertanya soto Betawinya daging sapi atau kambing? Ketika dijawab daging sapi, mereka baru mau beli.

Sederhana saja
Mengenai kemungkinan membuat rumah makan yang lebih besar dan bagus, ia dengan halus menolak. Banyak pelanggan yang tak setuju sebab takut harganya menjadi mahal dan kurang akrab seperti sekarang. Calon investor kerap datang minta bekerjasama dengannya. Ia sering menolak. Suatu saat datang seorang pengusaha Kalimantan yang meminta dia mengajari karyawan si pengusaha untuk memasak soto hingga komplet. Orang itu menawarkan uang dalam jumlah sangat besar. Bang Gani juga menolak. Ia hanya ingin bekerjasama bila tetap berperan. Ia belum berpikir untuk membuka cabang, sebelum yakin betul.
Anak kedua siap-siap memanggang ayam
Ada lagi seorang chef dari hotel berbintang lima untuk mentest sotonya. Ia datang kembali dan minta kerjasama dengan hanya menjual kuah sotonya tanpa isian. Sebenarnya Bang Gani setuju tapi harganya tidak sesuai jadi kerjasama gagal.
Mengenai “regenerasi” Bang Gani menyiapkan salah seorang anak lelakinya untuk menggantikan kelak. Ia dianggap mampu memasak seperti resepnya selain si anak sendiri menunjukkan semangat berusaha warung makanan. “Saya pernah sakit, dirawat, lalu saya suruh anak saya itu memasak dan mengantar hasilnya. Saya rasakan ternyata ia mampu memasak seperti olahan saya,” tuturnya.
Ia khawatir adanya pergeseran rasa dagangannya. Ia meniru Ibu Haji yang mengharuskan masing-masing masakan ditangani satu orang yang bertanggung jawab.
Bang Gani kini boleh lega akan kelangsungan usahanya. 

AS Panik Diserbu Monster Purba

AS Panik Diserbu Monster Purba



Memang seram. Dalam keadaan tak berdaya dan matang, "monster" ini sebagai sisa zaman purba tampangnya tetap mengerikan.


 Ini kejadian sebenarnya bukan hoax atau berita bohong. Baik pemerintah federal maupun negara bagian (terutama di pantai Timur) Amerika Serikat mengumumkan luas-luas bahaya ancaman monster predator yang merupakan spesimen peninggalan zaman purba 50 juta tahun silam.
Predator yang digambarkan sangat ganas ini berpenampilan menyeramkan, mata besar melotot kehitaman dengan mulut lebar penuh gigi tajam berkilat. Ia akan melalap binatang apa saja sehingga predator seram dan sadis tersebut dianggap berbahaya bagi ekosistem oleh DNR atau Department of Natural Resources (Departemen Sumberdaya Alam) di banyak negara bagian Amerika Serikat.
Siapa pun yang mampu menangkap monster predator  ini diharuskan langsung membunuhnya, membuat foto dan melaporkan posisi lokasi serta ukurannya, ke kantor DNR setempat. Begitu gemasnya pemerintah AS sehingga para juru masak atau chef  diimbau untuk menciptakan masakan berbahan dasar monster itu guna mengurangi populasinya.



Invasi ke AS
Gabus pucung gaya Bekasi. Gabus dimasak segar, biar enak
Monster predator ini hidup di air tawar, bukan penghuni asli AS. Terus terang, ini adalah ikan snakehead atau di AS diberi nama northern snakehead. Oleh karena perairan air tawar AS tak punya predator alami, maka ikan snakehead bersimaharajalela memangsa ikan-ikan asli negeri adidaya tadi, terutama di pantai Timur.
Bukan hanya itu. Di masa “balitanya” ikan ini memangsa plankton, atau jasad renik lain. Di masa dewasa ia melahap ikan lain seperti carper (sejenis ikan mas), serangga, binatang melata, bahkan dilaporkan memangsa burung kecil atau tikus yang jatuh ke air.
Warga AS ikut ketakutan setengah mati, dan seperti biasa, mereka melebih-lebihkan dalam acara talkshow berbagai stasiun TV. Mereka yang panik itu menjuluki si ikan monster-predator itu dengan berbagai julukan aneh-aneh. National Geographic menjulukinya sebagai “Fishzilla”, mencontoh monster Godzilla dalam film bikinan Jepang yang diadaptasi kembali oleh Hollywood.
Ikan predator ini diperkirakan berasal dari Asia Tenggara, mungkin semula sebagai ikan hias, kemudian dilepas ke perairan entah disengaja atau tidak hingga menggegerkan Amerika Utara.
Julukan lain yang lebih seram adalah “Frankenfish” diadaptasi dari monster dalam buku Frankenstein karya sastrawati Inggris Mary Shelley. Ikan ini menjadi “bintang” dalam acara TV AS yang terkenal suka heboh antara lain dalam The Sopranos, pada tiga episode berjudul  Snakehead Terror, Frankenfish, dan  Swarm of the Snakehead. Dalam acara seri the Animal Planet TV yaitu River Monsters, Jeremy Wade mendramatisasi dengan menyebutnya sebagai  "the fish from hell" atau ikan dari neraka.

Monster nikmat
Ironisnya, ikan monster ini seolah tak berdaya di tangan orang Indonesia. Di Banjarmasin, Kalsel, ia “dibantai” menjadi  masakan haruan masak habang yang legit. Di Kalbar menjadi gulai yang sedap, di Kaltim menjadi masakan lezat didampingi sambal gami. Ikan asin predator ini banyak dibuat di Kalteng. Di Sumatera berbagai jenis masakan gulai menanti si predator.
"Si monster" digoreng dulu sebelum dimasak pakai pucung/kluwak. Gaya Jagakarsa
Monster mengerikan ini di tangan orang Betawi berubah bentuk menjadi masakan berwarna kehitaman mirip rawon dari Jatim, dan dinamai gabus pucung. Memang, ikan yang mengerikan ini sebenarnya adalah ikan gabus dari keluarga Chanidae.
Orang Papua, terutama penduduk Merauke mengenalnya sebagai gator alias gabus toraja. Entah bagaimana ikan ini bisa sampai di Papua. Mereka hidup subur di paya-paya daerah itu karena gabus memang mampu bertahan hidup 4 (empat)hari di udara terbuka karena memiliki organ yang mampu mengisap oksigen dari udara.
Ikan gabus di Indonesia umumnya berasal dari jenis Channa striata, sedangkan yang sedang “berpesta pora” di AS dari jenis Channa argus. Keduanya tentu sama-sama nikmat. Daging ikan ganas ini selain memiliki kandungan protein tinggi juga dipercaya mengandung Omega-3, serta albumin, zat yang berguna bagi pemulihan jaringan tubuh sehingga cocok bagi orang yang habis menjalani operasi.
Ikan yang diperkirakan berasal dari India ini menyebar ke Asia Tenggara dan Timur, lalu merambah ke Afrika dan Pasifik.
Populasi ikan gabus di Jabodetabek semakin menipis, seiring kian populernya masakan berbahan dasar ikan predator tersebut seperti gabus pucung – baik gaya Bekasi maupun Jagakarsa – pecak, dan sebagainya. Satu penyebabnya adalah ikan gabus sulit diternakkan seperti lele atau ikan mas.

Perlu Standardisasi Bahan Obat Tradisional

Perlu Standardisasi Bahan Obat Tradisional

M. Yusuf, ahli pengobatan tumor-kanker secara tradisional




Kebutuhan akan pelayanan kesehatan serta obat-obatan kian meningkat. Setelah ada program BPJS maka kentara banyak sekali masyarakat yang sebetulnya tidak sehat betul.
Seiring dengan tuntutan itu kebutuhan akan tenaga medis juga kian menanjak, sehingga dua fakultas kedokteran dari dua universitas negeri menggratiskan kuliah di bagian ini, hingga ke tingkat spesialisnya. Diharapkan para lulusan nantinya dapat dikirim, disebar ke seluruh pelosok negeri guna mengisi kekurangan tenaga medis terlatih di Puskesmas di daerah-daerah terpencil.
Pemerintah kini mulai melirik pada pengobatan non-medis Barat dalam upaya memberi pelayanan kesehatan kepada rakyat. Dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1076/Menkes/SK/VII/2003, pemerintah mengakui upaya pengobatan tradisional sebagai salah satu perawatan cara lain di luar ilmu kedokteran atau keperawatan. Diakui, masyarakat memanfaatkan cara tradisional guna mengatasi masalah kesehatannya, sebelum mendapatkan pelayanan modern.
Pengobatan tradisional yang dapat dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya, menurut Menteri Kesehatan,  perlu terus dibina, ditingkatkan, dikembangkan dan diawasi untuk digunakan dalam mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.

Pak Kiki sedang meracik obat

Bahan herbal, natural
Umumnya pengobatan tradisional memanfaatkan bahan herbal atau tumbuh-tumbuhan, hewan, serta mineral. Indonesia dengan kesuburan tanahnya, ditambah sumber mineral kayanya, memiliki potensi besar guna mengembangkan bahan-bahan alami. Sayangnya obat dan teknik pengobatan tradisional sudah sejak lama dipandang dengan mata memicing, dan sering dihubungkan dengan masalah ketertinggalan, serta mistik.
Pengembangan pengobatan tradisional kita tentu saja jauh tertinggal dibandingkan Cina. Mereka sudah mengembangkan pengobatan tradisional sejak ribuan tahun lalu. Oleh karena itu standardisasinya sudah begitu rapi. Bahkan begitu telitinya sehingga bagi kita seolah mengada-ada. Misalnya saja, satu tanaman tertentu dipanen pada puncak musim dingin karena pertimbangan penumpukan zat tertentu yang berkhasiat dan dibutuhkan manusia. Bahan lainnya justru diambil pada musim panas karena alasan yang sama.
Demikian pula bahan yang diambil dari hewan, sering diambil pada saat hewan tersebut dalam keadaan tertentu. Sedangkan mineral dipilih dengan perhitungan tertentu pula.
Bahkan bahan yang sama dapat berbeda-beda kadar khasiatnya hanya karena ditanam di tempat yang berbeda-beda. Oleh karena itu satu daerah hanya menghasilkan bahan tertentu saja sesuai permintaan pasar. Penelitian mereka begitu begitu teliti karena memang sudah berjalan ratusan tahun sehingga mampu menerapkan standard yang baku.
“Sebenarnya Indonesia mampu berbuat seperti itu, asalkan dilaksanakan secara serius dan pantang menyerah,” kata Mochammad Yusuf, ahli pengobatan tumor dan kanker dari klinik Citra Insani, Sukabumi, Jawa Barat.
Ia melihat, para petani herbal kita belum serius mengejar batu mutu produk tanaman obat. “Mungkin karena sudah terlalu lama diabaikan,” imbuhnya.
Salah satu bahan obat dari batu mineral
Ahli obat-obatan tradisional Tiongkok lainnya, Kiki, menyebutkan bahwa ada beberapa bahan tanaman obat Indonesia yang memiliki mutu lebih baik dibandingkan produk Cina, salah satu di antaranya kumis kucing. Tanaman ini terdiri dari dua jenis, dan salah satunya sangat bagus kualitasnya. Sama seperti M. Yusuf ia berharap produk tanaman obat produksi Indonesia semakin meningkat kualitasnya. “Paling tidak akan lebih murah dibandingkan jika mengimpor dari Tiongkok,” katanya.
M. Yusuf memiliki teknik pengobatan tergolong baru di Indonesia, malahan boleh dikatakan ia memelopori sistem pengobatan campuran antara teknik medis Barat dengan tradisional Cina. Ia pernah memperdalam ilmu pengobatan tradisional modern itu di Guangzhou, Tiongkok. Cina sendiri secara resmi menggabungkan dua teknik pengobatan tersebut tahun 1985. Bukan hanya itu saja, ia malah menemukan formula anti-kanker yang sumbernya ia dapat dari buku pengobatan kuno warisan orang tuanya. Ia lalu mengembangkannya sendiri. Formulanya dicoba dan akhirnya diakui khasiatnya oleh Rumah Sakit Provinsi Quangdong, di Guangzhou, setelah “teraniaya” di negerinya sendiri. Rumah sakit itu hingga sekarang tetap menggunakan formula yang terdiri dari 200 bahan, dan komposisinya berbeda-beda untuk setiap jenis tumor atau kanker.
Mochammad Yusuf optimis, dengan dilaksanakannya secara konsekuen Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1076/Menkes/SK/VII/2003 akan banyak membantu perkembangan pengobatan tradisional yang dapat dipertanggungjawabkan, merangsang peningkatan produksi serta kualitas obat-obatan tradisional, merangsang pertumbuhan ekonomi di sektor ini.
Pembuatan obat tradisional, khususnya herbal, di negeri kita sudah cukup maju, hasilnya sudah diekspor. Kita harapkan lebih meningkat lagi.

Tirto Adhi Soerjo, Perintis Pers yang Terlupakan

Tirto Adhi Soerjo, Perintis Pers yang Terlupakan






-          Sejarah hidupnya “misterius”


Kepeloporan Raden Mas Tirto Adhi Soerjo di bidang pers pribumi di Hindia Belanda tidak bisa diragukan lagi. Selain itu ia juga seorang perintis pengusaha pribumi serta keturunan bangsawan Jawa pertama yang mendirikan perusahaan dagang berbentuk NV.

Dia pula yang mengawali berbagai organisasi yang kelak berkembang membentuk jati dirinya, serta aktif di Serikat Dagang Islamiyah (SDI). Nasib pria berdarah biru ini memang tidak pernah berkilau penuh limpahan harta, tapi derma, sedekah, serta pertolongan lainnya kepada kaum papa mengharumkan namanya. Dan untuk itu ia tidak pandang bulu.

Garis keturunannya sebagai ningrat sejatinya sangat kuat. Ia berada di garis ke-4 dari Keraton Solo, derajat ke-4 pula dari Panembahan Madura terakhir, dan derajat ke-4 dari Bupati Blora R.M.A.A. Tjokronegoro. Darah kebangsawanannya itu semula dianggap “sakti” sebab setajam apapun tulisan penanya, ia sering lolos dari incaran pemerintah kolonial. Tapi ada yang memperkirakan hal itu karena kepintaran Tirto Adhi Soerjo ketika menulis, di mana bukan institusinya yang dibidik, akan tetapi aparat atau pejabatnya. Ia mendapatkan pengaruh kuat dari nenek yang dicintainya, Raden Ayu Tirtonoto, yang keturunan Pangeran Sambernyawa atau kelak menjadi Mangkunegoro I.

Tirto Adhi Soerjo lahir tahun 1880 di Blora sebagai cucu Bupati Bojonegoro, di wilayah Jatim sekarang, yaitu R.M.T. Tirtonoto, dengan nama kecil Djokomono. Ayahnya adalah R. Ng. Haji Chan Tirtodipuro, pegawai  kantor pajak atau collecteur. Wilayah Bojonegoro ini dulu bernama Rajegwesi yang di masa kolonial di bawah karesidenan Rembang. Siapa bundanya tidak jelas, begitu juga masa kecilnya. Penulis biografi Tirto Adhi Soerjo, Pramoedya Ananta Toer, mengadakan riset intensif mengenai latar belakang tokoh pers nasional ini tapi gagal menemukan carikan lengkap kisah hidup semasa kanak-kanak dari si Sang Pemula, sesuai judul bukunya.

Penulis tersebut menemukan bahwa Tirto Adhi Soerjo adalah 9 (sembilan) bersaudara. “… sementara belum jelas dari berapa orang ibu ….” tulisnya. Akan tetapi semua saudaranya berpendidikan dan berpikiran maju. Abangnya, R.M. Said, menjadi jaksa di Cianjur, kondang sebagai pemberantas lintah darat. Ia juga menjadi asisten wedana, sebelum menjadi bupati Blora tahun 1912. Abang tertua Tirto Adhi Soerjo yaitu R.M. Tirto Adi Koesoemo  adalah kepala jaksa di Rembang. Seorang kakak perempuannya, R.A. Pringgowinoto menjadi Raden Ayu di Tuban, pandai menulis dalam bahasa Belanda dan Melayu. Kemudian Tirto Adi Winoto, abangnya yang lain juga menjadi jaksa kepala di Banjarnegara.
Dalam penelitian Pram, hampir semua saudara sekandung Tirto Adhi Soerjo, dianugerahi kepandaian menulis.

Tirto Adhi Soerjo, menurut Pram, masa kecilnya kelihatannya dibesarkan di antara tembok-tembok kabupaten sehingga menurutnya kurang bergaul dengan masyarakat luar. Ketika Tirto Adhi Soerjo belajar ke STOVIA, sekolah dokter jawa di Batavia, ia mulai terbuka. Ia menjadi penulis kritis.
Dikisahkan, Tirto Adhi Soerjo atau sering disebut TAS, adalah pekerja keras di bidang pers dan perniagaan hingga tidak sempat memikirkan kemapanan keluarganya.

TAS pernah menikah dengan Prinses Fatimah, putri Sultan Bacan, yaitu Mohammad Sadik Sjah yang memerintah dari tahun 1862 hingga 1889. Pulau Bacan,Maluku,adalah  daerah yang kini kondang sebagai penghasil batu akik mahal. TAS kemudian menikah lagi dengan putri berdarah bangsawan pula. TAS atau Tirto Adhi Soerjo, pada masa akhir hayatnya hidup berkekurangan, dan tinggal di sebuah hotel milik temannya. Hotel ini semula milik TAS dan diberikan begitu saja ke pada si teman.
Tirto Adhi Soerjo meninggal dunia pada 7 Desember 1918 dan dimakamkan di sebuah pekuburan di Manggadua, Jakarta. Digambarkan, hanya sedikit pelayat yang mengantarnya ke liang lahat, berbeda terbalik dengan kepeloporannya di berbagai bidang di Hindia Belanda.

Tokoh yang berpengaruh pada TAS
Tirto Adhi Soerjo atau TAS mendapatkan pengaruh garis idealisme jurnalismenya dari Karel Wijbrands ketika bekerja di Pembrita Betawi, Batavia (Jakarta). Wijbrands ketika itu memimpin Nieuws van de Dag voor Nederlandsch-Indië. Kedua penerbitan itu berkantor di gedung yang sama. TAS sebagai orang muda lekas menjadikan Wijbrands “guru’ dalam karir jurnalistiknya.

Dari Wijbrands inilah TAS mendapatkan cakrawala baru sebagai pembela rakyat kecil, tertindas dan mengalami ketidakadilan. Ia telah keluar dari kepompong lama, demikian tulis Pramoedya.
TAS sendiri sebenarnya siswa sekolah dokter Jawa atau STOVIA. Akan tetapi perhatian anak muda ini tidak pada bidang kedokteran, namun tulis menulis, sehingga selama enam tahun tetap duduk di kelas empat. Ia dikeluarkan dari sekolah, lantas langsung menjadi redaktur Pembrita Betawi. Setahun kemudian TAS menjadi pemimpin redaksi menggantikan F. Wiggers yang juga sastrawan yang menulis dalam bahasa Melayu Betawi. Akibat aktivitas tulis-menulisnya yang kritis, TAS sempat menjalani pembuangan beberapa kali.

Popularitas TAS pertama muncul April 1902 ketika ia menulis serangkaian laporan kunjungan tokoh keraton Surakarta, Rd. Mas Ngabehi Prodjo Sapoetro ke wilayah Banten.
Popularitas kedua adalah ketika ia membongkar skandal Donner. Skandal ini mengenai upaya Residen Madiun J.J. Donner guna menurunkan Bupati Madiun Brotodingrat yang masih punya hubungan darah dengan TAS. Residen melaporkan bupati sebagai biang perusuh dan kejahatan di wilayahnya. TAS yang memiliki hubungan darah dengan banyak bupati di Jatim, Jateng dan Jabar, mampu membuktikan Donner berbohong.

Penerbitan pers nasional pertama
TAS menjual harta bendanya di Batavia lalu dengan tambahan modal dari Bupati Cianjur ia mendirikan suratkabar mingguan Soenda Berita pada Februari 1903, terbit setiap hari Minggu. Inilah penerbitan pers nasional pertama, yang kendali redaksi maupun pencetakannya ada di Cianjur. Harga ecerannya 20 sen per nomor, untuk langganan 80 sen per bulan. Percetakannya pun berada di pedesaan.

Surat kabar mingguan ini selama tahun pertama dikerjakan sendiri oleh TAS, hingga ke distribusi dan agen iklannya. Dalam hal ini Bupati Cianjur juga membantu pemasarannya, terutama di kalangan pegawai kolonial, oleh karena isi Soenda Berita komplet, memberi pengetahuan dan pendidikan penduduk.

Tokoh “Misterius”
Nama Tirto Adhi Soerjo (TAS) semakin tidak mendengung di telinga wartawan muda saat ini. Pelopor pers pribumi ini diakui pemerintah republik dan mendapatkan gelar Pelopor Pers Nasional. Hanya itu saja, tulis Pram dalam buku Sang Pemula.
 
Bukan hanya wartawan muda zaman sekarang, bahkan para wartawan yang sekarang sudah tua pun tidak terlalu mengenal TAS. Nama ini hanya terlintas sebagai perintis pers nasional, sudah.
Dja’far Assegaf (alm), wartawan senior dan pernah menjabat sebagai Dubes RI untuk Vietnam, dalam berbagai kesempatan menyayangkan bahwa nama Tirto Adhi Soerjo masih asing bagi wartawan sendiri. Ia menyayangkan hal tersebut. Assegaf memperkirakan salah satu penyebabnya karena buku riwayat hidup Tirto Adhi Soerjo ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer, mantan tahanan politik PKI. “Mungkin orang mengira Tirto Adhi Soerjo itu orang komunis, jadi enggan membacanya,” kata Assegaf dalam ceramahnya di depan wartawan di Lembang, Jabar, tahun 1985.

Buku Sang Pemula tampaknya dapat menjadi sumber informasi awal mengenai Tirto Adhi Soerjo, sebab ditulis berdasarkan riset luar biasa dari Pramoedya Ananta Toer, sambil menanti buku lain mengenainya yang lebih akurat lagi. Akan tetapi pembaca, terutama periset, perlu berhati-hati sebab seperti biasanya, Pram menulis dengan “sepenuh hati” secara “menggebu-gebu” hingga perasaannya ikut terbawa ke dalamnya hingga sulit menentukan mana pendapat Pram pribadi serta mana yang faktual. Sistematika, tata urut penulisan juga menjadi problem tanpa mengurangi nilai informasinya.
Masih untung ada Sang Pemula, sebab bila tidak, maka sulit mencari rujukan mengenai Tirto Adhi Soerjo (TAS). Tampaknya riwayat hidup tokoh perintis ini perlu diteliti kembali lebih mendalam, sebab semakin penting bila disandingkan dengan situasi pers nasiona dewasa ini yang sudah jauh melenceng dari apa yang dikerjakan para pendahulu. Banyak yang perlu diungkap dari pribadi sang pemula.

Untuk sampai pada tingkat peneladanan, tampaknya masih perlu tanda tanya. Apalagi dalam situasi pers nasional dewasa ini, maka idealisme TAS sudah semakin memburam. Banyak orang yang tiba-tiba menjadi “wartawan” atau “jurnalis” tanpa melalui jalur yang memungkinkan mereka paham dan mendalami masalah jurnalisme itu sendiri. Ada berbagai kepentingan yang menumpang sehingga hal-hal seperti ini terabaikan, seolah tak ada gunanya.
(Sumber bacaan: Sang Pemula, penulis Pramoedya Ananta Toer, penerbit Hasta Mitra, Jakarta, 1985)