Komik Doyok sudah 35 tahun

Komik Doyok sudah 35 tahun
  • Satu-satunya tokoh kartun yang bertahan tiap hari hingga sekarang
  • Konsisten berpihak pada rakyat kecil

            Usianya 35 tahun, satu masa produktif untuk seorang lelaki. Tapi hidupnya tak pernah jelas. Jangankan menikah, sedangkan siapa pacar pria muda itu tidak pernah muncul di publik. Infotainment tak pernah mewawancarainya kendati ia tokoh populer Jakarta selama tiga setengah dekade. Malahan namanya dicomot seorang pelawak yang pembawaannya 180 derajat dengannya, hanya penthalitan tanpa sentuhan humor memadai.
             Lelaki muda itu nampaknya tak pernah berganti pakaian seumur hidup. Blangkon yang itu-itu saja setia nangkring di kepalanya. Kemudian kain surjan lurik dan celana markentol tak pernah berganti. Tak pernah jelas bagaimana ia mencuci pakaiannya. Mungkin juga ia punya tiga lusin pasang pakaian yang sama. Kehidupan pribadinya tertutup sama sekali, berbeda dengan selebriti sekarang yang suka mengumbar kejorokan pribadinya untuk publikasi.

Pesona Mimpi Midnight in Paris

Pesona Mimpi Midnight in Paris



             Pesona kota Paris, Prancis, tak habis-habisnya membius para pelukis, penulis, dramawan, perancang mode, penggemar minyak wangi, dan masih banyak lagi termasuk … pemimpi! Dan Gill Pander, seorang penulis pemula asal California, adalah salah seorang di antaranya. Paris yang sexy itu merangsang imajinasi dan seluruh nuraninya hingga ia abaikan calon istrinya, Inez, yang kaya raya, perempuan yang justru mengajaknya berlibur ke “ibukota seni” dunia itu untuk mendapatkan kebebasan hidup dan fantasinya.
           Gill yang pemimpi tak suka dunia glamour pacarnya, dan membiarkan dirinya larut ke remang malam Paris yang penuh inspirasi. Seperti cerita Cinderella, malam romantis Paris itu baginya dimulai ketika lonceng jam besar gereja memukul-mukul tanda jam 12 malam. Dan tiba-tiba saja ia sudah dijemput mobil pemuda tampan dan kemudian bertemu dengan sejumlah seniman besar dunia. Ada Pablo Picasso, ada Ernest Hemingway, Degas, Cole Porter, Jean Belmonte, T.S. Elliot dan masih banyak lagi, dan tentu saja Amanda si jelita.
           Di ruang fantasinya itu ia mendapat kritik Hemingway yang pemabuk, dan mendapatkan pengarahan dari Poglar. Ia pun senang bertemu dengan pelukis surrealis Salvador Dali. Paris di tengah malam ia cecapi sepenuh hati hingga ia lupa adanya sang calon istri. Tentu saja terjadi ketegangan antara si pemimpi dan calon istri yang sangat Amerika. Calon mertua pun harus mengerahkan detektif swasta guna menguntit Gill Pander pada tengah malam dan hasilnya malah tak ada kabar berita darinya.
Paris sebuah magnet
           Paris seperti magnet dan benar-benar telah menyelingkuhi Gill hingga ia berkeputusan untuk tetap tinggal di kota romantik itu dan membiarkan hubungannya dengan Inez putus. Malam-malam indah Paris menggiring Gill ke tepi Sungai Seine. Pendar-pendar pantulan sinar lampu di pinggirnya begitu tenang, damai, seperti hati Gill Pander yagn sudah menemukan sorga inspirasinya. Kebahagiaan itu lengkap ketika bertemu dengan gadis Prancis dari kalangan biasa yang sering ditemuinya di toko barang seni. Maka hujan yang mengguyur Paris di tengah malam tak membuatnya beringsut dari tekad semula untuk tinggal di sana. Ia pulang bersama si gadis.

Halus tapi tetap menawan
          Film diawali establishing shot keindahan dan sekaligus ciri kota Paris seperti menara Eiffel, Arc d’Triomphe, Monmartre, Place de la Concorde, museum Louvre dan lainnya, diambil cut-to-cut 4 (empat) detik per shot. Adegan pun dibuat dengan gaya konvensional, salah satu ciri sineas lama. Owen Wilson yang memerankan Gill Pander yang ‘Pandir’ cukup berhasil menghidupkan karakter Gill yang agak rapuh, kurang percaya diri dan gelisah dalam pencarian makna hidup. Biasanya ia bermain dalam film bergenre komedi seperti di Shanghai Noon bersama Jakcy Chan dan lain-lainnya. Aktingnya mengesankan kali ini, sayang tidak dilirik Oscar.Rachel McAdams yang berperan sebagai Inez juga mampu mengangkat karakter perempuan muda Amerika yang ambisius, penuh tekanan dan dikejar-kejar waktu serta target.
           Bintang pendukung lainnya seperti Andrien Broddy (The Pianist) sebagai Salvador Dali, Corey Stoll sebagai Hemingway ikut menghidupkan film. Berbeda dengan The Descendants yang terlalu ‘sepi’, Midnight in Paris lumayan lincah. Woody Allem terkadang membuat shot panjang dengan dialog panjang dan melibatkan empat pemain sekaligus. Sudah terbayang bagaimana kesulitan mengelola adegan ini. Ini keberhasilan sineas senior sekelas Woody Allen yang beberapa kali mendapatkan Oscar dan penghargaan lainnya.
           Film drama halus berjudul Midnight in Paris ini ditulis skenarionya dan sekaligus disutradarai sineas kawakan Woody Allen. Sayangnya film ini gagal meraih film terbaik, sutradara terbaik, art director terbaik, dalam arena Oscar Februari lalu. Namun Midnight in Paris merebut Oscar untuk skenario asli terbaik.

The Descendants & istri khianat

The Descendants & istri khianat



            Bagaimana kalau seorang pria begitu setia menunggui istrinya yang koma di rumah sakit, mengambang antara hidup dan mati tanpa tahu kapan selesainya? Sementara ia harus memikirkan dua anak perempuannya berkembang menjadi “liar” setelah lepas dari pengawasan ibunya? Di pihak lainnya ia harus menghadapi saudara-saudara seketurunan yang minta tanah ulayatnya dijual? Dan tiba-tiba ia mendapatkan bahwa ketika masih sehat ternyata sang istri berselingkuh?
            Jawaban atas pertanyaan itu semua ada dalam film The Descendants (Para Keturunan), di atas pundak Matthew (Matt) King yang diperankan oleh George Clooney, di bawah arahan sutradara Alexander Payne. Cerita film ini merupakan monolog dari Matt King sehingga dia menguasai kamera hampir sepanjang film yang skenarionya ditulis oleh trio Alexander Payne, Nat Foxon dan Jim Rash. Film yang didasari buku Kaui Hart Hennings tersebut memiliki alur cerita yang linier, dengan konflik-konflik yang halus serta adegan-adegan yang biasa-biasa saja.
           Bagi penggemar film dar-der-dor The Descendants membikin “sengsara” ketika menontonnya. Tapi bagi penggemar film drama ceritanya cukup menarik sebab di balik kelembutan itu menyimpan pertanyaan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Contohnya ketika Matt King harus memutuskan apakah alat pembantu hidup istrinya harus dicopot atau tidak sebab dokter meyakinkan bahwa tanda-tanda hidup tak ada, bahkan pupil matanya tak bereaksi. Pria itu harus berdebat panjang dengan mertua dan saudara lainnya. Setelah melewati beberapa adegan, persetujuan agar alat penunjang hidup dicabut akhirnya didapatkan.
Juga ketika Matt dan putri sulungnya, Alexandra (Shailene Woodley) datang ke rumah selingkuhan ibunya, Bayne, penonton mungkin mengira akan ada adegan adu jotos. Tapi tidak. Film dan pelakon di dalamnya adalah kaum intelektual sehingga terjadi dialog yang berisi tanpa hiasan otot. Mat King adalah pengacara dan Bayne agen properti. Bayne mengaku pertemuannya dengan istri Matt, Elizabeth (Particia Hastie), berujung ke hubungan badan tanpa melibatkan perasaan. Matt hanya menuntut Bayne mengucapkan sepatah dua patah kata pada Elizabeth sebelum kematiannya tiba.
Istri Bayne demikian lembut dan tidak ikut dalam dialog antara Matt dan Bayne. Matt percaya istri Bayne tak tahu menahu akan perselingkuhan suaminya. Tapi menurut saudara Matt, Elizabeth justru berniat akan mengajukan cerai darinya. Kenyataan pedih ini semakin parah ketika istri Bayne tiba di rumah sakit membawa buket bunga ke rumah sakit, untuk mengucapkan sesuatu pada Elizabeth. Ia bilang kepada Matt, suaminya tak mau datang dan justru menyuruh dirinya. Ternyata istri Bayne tahu perselingkuhan suaminya dengan istri Matt sejak awal, tapi tak berdaya apa-apa demi dua putranya.
Adegan paling bagus adalah ketika Matt mencium istri yang koma dan telah mengkhianatinya dan justru menangis karena harus “membunuh”nya, walaupun seijin semua pihak.
Setelah itu Matt, Alexandra dan adiknya, Scottie, menyebar abu jenasah ibunya ke laut Hawaii, tempat lahir ayahnya, keturunan bangsawan Hawaii yang mendapatkan warisan ratusan hektar tanah bersama para sepupunya. Mereka naik perahu dayung dengan hiasan Hawaiinya, diam tak banyak bicara, terapung-apung di laut dengan latar belakang pantai dan gunung Hawaii yang dipagari gedung-gedung bertingkat.
Adegan akhir yang “sepi-sepi” saja adalah ketika Scottie, ayah dan kakaknya menonton tv di ruang tamu dalam ketemaraman lampu ruangan seolah menggambarkan kemuraman keluarga setelah kepergian sang ibu yang ternyata penyelingkuh.

Lolos dan lulus Oscar
Akting Clooney di film ini lumayan bagus, tapi ia belum mampu melepaskan bayangan dirinya dari Matt King. Skenario film yang halus tanpa konflik yang menggebu-gebu ini nampaknya tak mampu mengangkat lagi kemampuan akting Clooney sehingga ia harus kalah dari Jean Dujardin (The Artist) sebagai aktor terbaik dalam ajang perebutan Piala Oscar Februari lalu. Sutradara Alexander Payne juga gagal sebagai sutradara terbaik dikalahkan oleh Michel Hazanavicius (The Artist). Editingnya yang halus sayangnya juga kalah oleh The Girl with the Dragon Tatoo yang diawaki Kirk Baxter dan Angus Wall.
Lagi-lagi film lembut ini dikalahkan The Artist sebagai film terbaik. Kendati demikian The Descendants mendapatkan Oscar dalam Skenario Adaptasi Terbaik.
The Decendants walau gagal sebagai film terbaik, tapi menggenapi banyak film lembut lain sebelumnya yang menarik dan mendapatkan Oscar seperti Driving Miss Daisy, A Trip to Bountiful, dan sebagainya.

Waktu dan nasib

thumbnail



Berkaitan dengan waktu manusia selalu merasa hari-hari sialnya terlalu cepat datang dan hari bahagianya terlalu cepat berlalu.

Hari ini itu apa?

thumbnail



Seorang dosen filsafat bertanya pada seorang mahasiswanya: “Menurut Saudara hari ini itu apa?”
Mahasiswanya, seorang pemuda pemalas, menjawab: “Hari ini adalah kemarinnya hari besok.”

Definisi waktu

thumbnail



Waktu adalah cara alami untuk mencegah segala sesuatunya terjadi dalam seketika.

Sekitar Misteri Majapahit

Sekitar Misteri Majapahit



             Judul       : Catuspatha
            Arkeologi Majapahit
           Penulis     : Agus Aris Munandar
                                               Penerbit   : Wredatama Widya Sastra
                                                                 Jl. M. Kahfi I, Gg. H.Tohir II No.46
                                                                 Jagakarsa, Jakarta Selatan 12620
                                               Edisi        : Cetakan pertama, November 2011
          Jumlah halaman : x + 324
          Ukuran buku : 14 cm x 20 cm

            Cathuspatha berarti perempatan jalan besar. Dan buku yang berjudul Catuspatha Arkeologi Majapahit karya Agus Aris Munandar ini seolah meneguhkan berita yang menyebutkan bahwa kraton Majapahit dibangun di sebuah perempatan jalan besar, dan tetap menjadi misteri hingga menantang karena belum adanya bukti kuat di mana sebenarnya kraton itu berdiri. Bahkan buku ini pun “menggugat” Mpu Prapanca dalam Nāgarakrtāgama kenapa kolam Segaran yang begitu populer (di jaman sekarang) tak disebut di dalamnya.
            Buku ini menyisir kembali beberapa tafsiran mengenai Majapahit, antara lain kekukuhannya sebagai negara maritim walaupun belum banyak bukti nyata yang ditemukan. Disebutkan pula tak ada relief peninggalan Majapahit yang menggambarkan kemaritiman kerajaan ini secara berarti. Sumber prasasti dan sastra lebih bercerita tentang daratan, hutan, gunung, istana, pertapaan dan sejenisnya. Dan, yang lebih penting belum ditemukan artefak kapal Majapahit.
            Karya Agus Aris Munandar ini juga bercerita mengenai ciri-ciri dan perbedaan candi di Jateng dan Jatim berdasarkan penelitian ahli candi, Soekmono, serta memberi kesempatan untuk penlitian lain mengorek kenapa setelah kepindahan Mataram Kuna dari Jateng ke Jatim, maka tak banyak lagi berita dari Jawa Tengah itu. Banyak pertanyaan yang menantang sekitar kepindahan ke timur tersebut a.l. alasan kuat yang masih jadi perdebatan peneliti.
            Penulis ini juga banyak mengupas berbagai bentuk relief candi peninggalan Majapahit. Bagi para penggemar sejarah Majapahit, nampaknya buku ini menjadi pelepas dahaga atau sebaliknya malah menjadi “provokator” untuk mencari atau mendalami sumber-sumber yang berkaitan.
            Salah satu bab yang merangsang – terutama bagi peneliti dan penggemar kebudayaan-kesenian Jawa seperti wayang – adalah teori mengenai asal usul punakawan yang sangat populer di pewayangan Jawa, tapi tidak ada dalam kitab Mahabarata maupun Ramayana. Penulis bercerita bahwa para tokoh punakawan pertama muncul dalam Gatokacasraya karya Mpu Panuluh. Akan tetapi peran mereka masih kaku alias figuran saja. Penulis menampilkan pula pendapat Wieringa (2000, 255-58) bahwa punakawan hanyalah sisipan kakawin tersebut ketika disalin ulang di Bali (hlm. 284). Dalam relief Candi Tegawangi, tampil dua sosok punakawan dalam cerita Sudhamala yang digambarkan kurang lebih sama dengan relief di candi Majapahit lainnya.
            Banyak hal diceritakan dalam buku ini dan tentu sulit untuk diringkaskan dalam ruangan sempit, kecuali tentu saja, membacanya sendiri.

Soto Blitar? Macam apa ya?

Soto Blitar? Macam apa ya?




            Warga di ibukota sudah terbiasa dengan berbagai macam jenis soto. Biasanya jenis soto itu dikaitkan pada nama daerah misalnya soto Lamongan, soto Surabaya, soto Madura, soto Padang, soto Kudus, soto Banjar, soto Sokaraja, soto Bandung, soto Semarang, soto Kediri, dan lain-lainnya. Mereka memiliki ciri-ciri khusus yang berkait dengan nama tempat tadi. Dari jenis ini ada soto Tegal yang bisa disebut tauto, yang sangat berbeeda dengan lainnya. Kalau yang lain umumnya berkuah jernih, tauto keruh karena diberi tauco sehingga rasanya khas, agak jauh berbeda dengan rekan-rekannya
            Jenis yang sudah disebutkan tadi adalah soto yang tidak memakai santan dalam kuahnya. Di daerah Kutoarjo, Solo, dan sebagian Jawa Timur di sebelah barat terkadang disebut pula sebagai saoto. Ada beberapa jenis soto lainnya yang menggunakan santan misalnya soto Betawi.
            Tapi pernahkah Anda mendengar tentang soto Blitar? Bagi mereka yang berasal dari kota tempat makam Bung Karno tentu tahu. Tapi jenis ini belum populer sekali.
Nah, di Depok, tepatnya di Jalan Margonda di sebelah barat di sisi barat, ada warung kecil terselip di antara toko-toko atau kios lainnya. Warung ini bernama Sakti menawarkan soto Blitar. Marilah kita masuk sekedar mencicipi soto ini. Ketika disajikan, kita yang biasa menikmati soto atau saoto tak akan kaget benar. Sosoknya tetap sama seperti soto tanpa santan di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kuahnya bening ditaburi toge kecil, sedikit soun, irisan-irisan daging sapi dan ditaburi bawang merah goreng serta seledri.
Angkring atau pikulan soto yang khas.
“Ini ‘kan saoto..,” komentar teman saya. Memang hampir tak ada bedanya dengan saoto atau soto Sokaraja, Kediri, dan sejenisnya. Rasanya pun tak banyak bedanya.
            Penulis ingat ketika masih duduk di SR (sekarang SD) pernah diajak orang tua mampir warung soto di pinggir alun-alun Blitar yang ketika itu teduh di bawah kerindangan pohon beringin serta kenari. Rasanya sotonya memang mirip seperti yang ada di Margonda, Depok, tapi seingat penulis soto di Blitar bumbunya lebih tegas. Jadi mungkin gaya personal masing-masing pemasak yang membedakannya.
            Tentu saja sama seperti soto-soto di daerah Jateng dan Jatim, penyajiannya di dalam mangkok kecil dan dicampur dengan nasi. Maka namanya adalah nasi soto. Setiba di Jakarta mereka berkompromi dengan pasar dan menawarkan campur atau dipisah. Dapat dipastikan jika pemesan memilih campur, itu artinya dia berasal dari dua provinsi itu.
Apa pun gaya soto alias saoto tersebut semuanya pasti enak ketika kita nikmati saat kita betul-betul lapar di hari siang yang panas. Maka semangkuk kecil soto apa pun juga memberi semangat lagi.