Sssst - 8

thumbnail
Darah aktor-aktris Hollywood

1. Almarhum aktor watak Anthony Quinn punya asal-usul membingungkan. Aktor yang pernah memerani Omar Mochtar, guru agama yang menjadi pejuang kemerdekaan Aljazair dan digelari singa gurun Afrika itu, dilihat dari namanya tentu orang Irlandia. Padahal ia justru punya darah Hispanic lebih banyak. Kakeknya yang asal Irlandia menikah dengan gadis Meksiko. Ayahnya juga menikah dengan gadis Meksiko.
Anthony dan keluarganya selalu ingin diakui kemeksikoannya, tapi tak diterima masyarakat Hispanic. Celakanya anggota keluarganya sering mendapat perlakuan diskriminasi karena darah Hispanic-nya. Apes deh.
2. Aktris bomb-sex tahun 60-an, Raquel Welch, benar-benar bikin pria kelimpungan lihat pose foto-fotonya. Raquel yang melejit lewat film James Bond yang dibintangi aktor gagah Sean Connery itu ternyata sebagian besar darahnya Hispanic juga. Woooo pantas panas banget.
3. Aktor peraih Oscar Robert de Niro aneh juga. Ditilik dari namanya tentu ia orang berdarah Italia. Belakangan diketahui ia justru banyak menuruni darah Irlandia lewat jalur ibunya. Aneh juga. Padahal di dunia hitam yang nyata, geng Irlandia yang terkenal sebagai pencuri ulung sering berhadapan dengan geng Italia yang terkenal dengan mafianya!

Cerpen - 8

thumbnail
DUA PRIA MENANGIS DI BANGKU YANG SAMA

Oleh Adji Subela
Butir-butir keringat di dahi, leher, serta ditambah dengan tetes-tetes air matanya, tak mampu melarutkan rasa sedih bercampur dengan takut, bimbang, bingung, dan rasa bersalah yang berkepanjangan.
Ia merasa istrinya yang tengah hamil tua, dan sudah mendekati hari-hari melahirkan bayi pertamanya, menangis tersedu-sedu di pundaknya. Pria itu pun mengaku dalam hatinya bahwa ia tak tahu apa yang harus diperbuatnya. Bayinya harus dilahirkan, akan tetapi pria itu merasa bahwa usia si istri, kondisi fisiknya, serta ukuran bayinya yang besar – menurut dokter – dan pula ketiadaan uang di sakunya, membuatnya ketakutan menghadapi detik-detik yang mendebarkan namun membahagiakan bagi setiap pasangan yang menantikan kelahiran anak pertamanya.
Pria itu membayangkan dirinya memandangi istrinya yang terus menangis.
“Pah, ini nanti bagaimana, Pah? Kita tak punya uang, apa yang harus kita lakukan, Pah?” kira-kira demikian bayangannya akan keluhan istrinya.
Ia teringat, kemarin mereka datang ke sebuah Puskesmas, dan dokter kandungan memberinya petuah yang justru menyengsarakannya. Begini: “Pak, kondisi istri Bapak sudah tak memungkinkan untuk melahirkan secara normal. Ia harus disesar. Kalau tidak, maka air ketuban akan mengering, dan jelas akan membahayakan nyawa anak dan ibunya.”
Seketika itu juga kepalanya terasa sangat pusing. Keterangan suster yang bertugas di samping dokter itu menambah-nambah bebannya:
“Kita punya rumah sakit bersalin rujukan, Pak, biaya sesarnya murah, hanya empat juta rupiah berupa paket.”
Pria itu tak tahu dari mana ia akan mendapatkan uang yang jumlahnya tidak pernah singgah di saku celananya yang mana pun. Sedangkan uang miliknya kini tinggal dua ribu rupiah saja, ia lipat baik-baik, dan diselipkannya di tempat yang sulit sehingga copet yang lihai pun pasti akan kesukaran untuk mencurinya. Bila uang itu hilang, ia dan istrinya yang hamil tua harus berjalan kaki sejauh enam kilometer. Tak ada becak yang mau membawa mereka tanpa dibayar, apalagi angkutan kota atau taksi. Hanya ada satu cara yaitu, nekat. Tak ada cara lain lagi, kecuali cara tersebut.
Dalam bayangannya, dibawanya istrinya berjalan sejauh sepuluh kilometer untuk mencapai sebuah rumah sakit bersalin yang paling baik. Kalau ia memilih rumah sakit bersalin yang sederhana, ia harus melanjutkan jalan kakinya sejauh sepuluh kilometer lagi. Ia takut istrinya tak tahan lagi, dan melahirkan di jalan yang panas dan padat oleh lalu lintas kota besar itu.
“Hendak ke mana kita, Pah?” tanya istrinya sambil menyeringai menahan lelah dan sakit perut.
“Kita ke rumah sakit bersalin di depan sana,” jawabnya dengan nada mantap.
“Pah, Papah, bagaimana dengan biayanya?”
“Tenang, Mah. Di sana aku ada kawan baik, ia akan menolong kita,” jawabnya yang tentu saja bohong. Istrinya, seorang perempuan berusia 37 tahun yang bersahaja, mengangguk lemah. Pria itu mengawini istrinya dengan keberanian yang betul-betul luar biasa. Dia dalam keadaan menganggur, karena tempat kerjanya telah ditutup, dan ia tidak pernah mendapatkan uang pesangon selembar rupiah pun. Usianya sudah 54 tahun, dan selama ini membujang terus karena merasa tak pernah punya harta yang cukup untuk hidup berumah tangga. Lalu ia berkenalan dengan perempuan itu setahun yang lalu, kemudian nekat menikah, dan terus menerus didera kekurangan uang hingga sekarang ini.
Sesampainya di rumah sakit bersalin, hari telah menapak malam dan tentu saja mereka sudah dihadang oleh keharusan untuk memenuhi persyaratan administrasi, serta tentu saja: biaya. Pria itu merasa kepalanya pening hebat. Ia sudah tidak ingat lagi apa yang ia alami, sampai kemudian ia terdampar duduk di sebuah bangku di pojok rumah sakit itu di malam hari yang sepi seperti itu. Rumah sakit bersalin tersebut nampak lengang, tak ada kegiatan seperti tempat sejenis lainnya. Hanya tangis bayi yang menyayat-nyayat – kemungkinan sekali anaknya – saja yang terdengar.
Alangkah indahnya kedengarannya bila suara tangis itu betul-betul tangis anaknya. Sejak di dalam kandungan, ia sudah mengajaknya bercakap-cakap: “Adik, adik, sehat ya?” katanya sambil menempelkan mulutnya di perut istrinya. Bayi itu seolah-olah mendengar suara ayahnya. Ia bergerak-gerak, dan itu nampak dari gelombang-gelombang yang muncul di permukaan perut sang istri. Ia bahagia sekali.
Pandangan pria itu mengabur. Ia merasa seolah-olah seorang petugas rumah sakit berdiri di hadapannya sambil memegangi rekening. Hatinya kecut dan dadanya serasa pedih sekali.
“Aku kasihan kepada istriku Tuhan. Ia tak tahu apa-apa. Ia terlalu bodoh dan dungu untuk menyadari kekuranganku. Tolonglah dia Tuhan, dan hukumlah aku dengan cara apa pun juga macamnya sekarang juga. Jika tidak, berilah kami titik terang, Tuhan, hanya kepada Engkau aku memohon....”, keluhnya.
Seorang perawat keluar menggendong seorang bayi yang terbungkus selimut halus. Bayi itu cantik sekali. Berkulit putih, matanya sipit, dan pipinya gemuk kemerahan. Bibirnya yang merah muda berkomat-kamit seolah mengisap puting susu ibunya. Ia kehausan. Alangkah cantiknya dia!
“Itu anakku ‘kan suster?” tanya pria kita itu. Seorang pria pria perlente yang ikut berubung bayi terkejut, menoleh kepadanya dengan sorot mata keheranan.
“Mana mungkin, Pak. Bayi ini cantik sekali, tentu ia anak orang yang sepadan,” kata pria perlente itu ketus. Pria kita terkejut, lantas undur dua langkah kemudian memandangi badannya. Memang, ia tak pantas punya anak cantik seperti itu. Alangkah kejamnya dunia ini. Bahkan orang melarat pun tak berhak mendapatkan anak cantik! Hari ini komplet sudah rasa sengsaranya. Sudah didera rasa sedih dan khawatir, lalu dihinakan pula. Ia kalah total, dunia tak menaruh kasihan padanya. Ia kini menyadari bahwa di negeri ini orang melarat adalah tumpuan segalanya. Tumpuan makian, kesalahan, kekeliruan, dan segala dosa-dosa, dan selalu kalah, tak ada kesempatan untuk apa pun juga, kecuali peluang untuk bersedih sepanjang hidupnya.
“Tapi ia mungkin anakku!” kata pria kita dengan ketus pula secara tiba-tiba, seolah-olah menjadi upaya terakhir untuk sekedar menang sedikit. Tak ada yang mendengarnya. Dilihatnya si pria perlente itu menimang-nimang bayinya, seorang perempuan tua di dekatnya mengangguk-angguk, dan seorang perempuan pembantu tertawa-tawa. Pria kita menangis. Ia berbalik badan dengan lesu melangkah kembali ke bangkunya.
“Anakku, maafkan Papah ya sayang, Papah tak mampu melahirkanmu dengan baik, di tempat yang baik dan memberimu susu. Papahmu tak mampu anakku. Yang Papah punya hanyalah hati yang putih penuh sayang dan sendu...terimalah ya anakku. Hanya inilah yang Papah punya. Mamah, Papah minta maaf ya, Papah tak mampu memberimu susu dan makanan yang sehat, apalagi buah-buahan. Papah telah membuatmu sengsara dengan kehamilanmu. Tapi percayalah, Mamah, Papah mencintai dan menyayangi Mamah sepenuh hati. Terimalah hati Papah ini Mah, aku minta maaf telah menjerumuskanmu ke hidup yang sengsara seperti ini.....”, pria itu menangis lagi sesenggukan. Ia merasa ingin mati saat itu juga. Tapi bahkan untuk mati pun ia tak mampu. Alangkah pengecutnya ia, meninggalkan anak dan istrinya tercinta dalam kesulitan dan kesusahan seperti itu!
Malam semakin larut, semakin larut, semakin larut, lalu tangis bayi itu lamat-lamat terdengar lagi, sayup-sayup, terkadang terdengar terkadang menghilang. Pria itu merasa melihat bayinya yang lucu, yang cantik, ah, entahlah.
Tuhan, Tuhan, tolonglah, tolonglah...rintihnya......dan dadanya terasa semakin sakit, ia merasakan badannya semakin menciut, menyusut, masuk ke dalam satu lubang gelap yang sungguh-sungguh gulita luar biasa ...................
Sudah agak lama pria itu tertidur menelungkup di sandaran bangku, di sudut yang gelap di sebuah rumah sakit bersalin. Pelan-pelan ia mulai tersadar. Ia mengerinyitkan dahinya, dan mengusap-usap mata dengan jari-jari tangannya. Seharusnya, lelap beberapa menit itu mampu menghapus kesedihan hatinya. Tapi tidak! Ia tetap saja teringat pada kesulitannya, lalu ia terpuruk lagi dalam isak-isak kecil. Ia merasa istrinya ada di sana menahan sakit pasca bedah sesar, dan bayinya kedinginan menanti kehangatan orang tuanya. Tapi pria itu merasa sial sekali, karena tak mampu menjadi seorang bapak yang gagah, kaya raya, penuh puja-puji dan dermawan. Ia masih saja pria yang sial, tak alang kepalang. Ia menangis lagi, menyesali dirinya yang tak lebih dari sekedar pecundang belaka. Ketika pria itu menengadahkan kepalanya, ia terkejut. Rupa-rupanya ia bukanlah satu-satunya pria yang duduk di bangku itu. Nampaknya ada lagi seorang pria yang juga duduk di bangku itu, ditempat gelap, dan....menangis pula!
Sesaat pria kita merasa malu, lalu menghapus air matanya cepat-cepat. Tapi pria di ujung bangkunya mengangguk dengan pelan dan matanya kelihatan sekali telah sembab. Pantulan sinar lampu neon masih tak mampu menyembunyikan sisa-sisa tangis pria tua itu. Ia memang sudah tua, jauh lebih tua darinya. Tapi keduanya sama-sama menangis. Kedua pria bersedih hati itu pun lalu sama-sama mengangguk dan tersenyum malas.
“Maafkan saya, dik, saya lihat Anda menangis dari tadi, dan mondar-mandir ke sana ke mari. Ada apa gerangan?” sapa pria kedua dengan lembut serta berhati-hati.
Pria kita menarik nafas dalam sekali, lalu tercenung.
“Tidak usah ragu-ragu, dik, saya pun tadi juga menangis. Ada baiknya kita saling menumpahkan perasaan, supaya agak reda penderitaan kita,” ucapnya lagi, lebih lembut.
Pria kita pun kemudian menceritakan segala deritanya, mengenai anak dan istrinya yang melahirkan dengan bedah sesar, dan tak mungkin dapat ia keluarkan dari rumah sakit bersalin tanpa uang enam juta rupiah kontan. Ia sudah habis akal, tak mampu lagi berbuat apa-apa, dan mukjijat Tuhan belum juga berlaku padanya.
“Saudaraku, kita mempunyai persoalan berat yang sama, hanya berbeda bentuk. Aku ke sini hendak menjemput cucuku. Ia adalah anak dari putraku yang lari dari rumah satu setengah tahun yang lampau, karena menikah dengan perempuan biasa saja. Aku mendengar kesulitannya di sini, karena sahabatnya memberitahuku. Ia tak mampu mengeluarkan anak istrinya karena uangnya kurang. Ia pergi ke sana sini untuk berhutang, tapi menurut sahabatnya itu, gagal. Ia lari dari rumah sakit dengan anak dan istrinya. Aku ke sini hendak membayar segala hutangnya itu. Tapi terlambat. Sahabatnya itulah yang membayarnya tadi pagi. Aku terlambat datang, aku merasa bersalah. Orang tua macam apa aku ini? Bahkan untuk menolong anak cucu pun aku tak mampu,” rintih si pria tua, lalu diikuti tangis terisak-isak.
Pria kita terkejut. Alangkah lain keadaan mereka berdua itu. Sama-sama pria yang menangis di bangku yang sama, tapi dengan keadaan berbeda, bahkan berbalikan sama sekali. Yang seorang kekurangan uang, yang lain justru membawa uang dengan sia-sia.
“Begini, saudara. Aku ingin menebus kesalahanku pada anak dan cucuku. Ambillah uang ini, pakailah untuk menebus anak istrimu, aku ikhlas. Jangan anggap ini hutang, tapi hadiah atas ketabahanmu. Semoga Allah memberkati kita semua,” ucap pria tua sambil meletakkan sebuah bungkusan kertas sampul coklat. Pria tua itu lantas berjalan tertatih-tatih menuju ke pintu keluar.
Untuk sesaat, pria kita tercenung. Ia tidak percaya akan apa yang dialaminya. Ia memerlukan uang sekitar lima juta rupiah untuk menolong kelahiran anaknya, dan kini ada orang asing yang memberinya uang kepadanya dengan alasan berbeda. Setelah orang asing itu hilang di tikungan, pria kita cepat meraih amplop itu dan menghitung uangnya. Enam juta rupiah! Ia hampir tak percaya atas kejadian ini. Tuhan telah datang dengan pertolongan-Nya yang sungguh-sungguh ajaib dan aneh!
“Tuhan....terimakasih Tuhaaaaan....,” serunya di malam hari itu.
Pria itu lantas berlari-lari menuju ke loket pembayaran, hendak membayar biaya persalinan sesar bayinya.
“Wah, loket pembayaran sudah tutup, Pak. Nama istrinya siapa, Pak?” tanya perawat.
“Nuri, Nuri suster, disesar tadi petang,” jawabnya dengan terbata-bata, sambil memegangi erat-erat amplop uangnya. Suster itu membolak-balik lembaran catatannya, dahinya berkerut.
“Pak, maaf ya. Tidak ada pasien atas nama Nuri di sini, apalagi dalam bedah sesar,” kata perawat.
“Tak mungkin suster. Istri saya dioperasi di sini, tadi, saya ingin cepat melihat wajah anak saya.”
“Sekali lagi maaf, Pak, tak ada pasien bernama Nyonya Nuri di sini. Jangan-jangan Bapak salah tempat.”
Pria kita itu tertegun, tak percaya atas apa yang didengarnya. Ia lalu berbalik untuk duduk ke bangkunya semula. Ia ingat betul, istrinya harus melahirkan dengan cara bedah sesar karena bayinya besar, usia istrinya sudah lanjut, dan kakinya bengkak-bengkak. Ia belum gila.
Mendadak ia bangun dengan girang.
“Istriku, aku sudah punya uang...!” pekiknya sambil berjingkrak-jingkrak, berlari meninggalkan ruangan. Perawat tadi terkejut mendengar teriakan pria di malam buta seperti itu. Ia lihat seorang pria ganjil tadi berloncatan berlari-lari keluar dari tempat tersebut lalu menghilang di balik tikungan tempat di mana pria yang lebih tua tadi menghilang pula.......
Harian Sinar Harapan, Sabtu, 15 Maret 2008
Depok, Desember 2006, untuk Rizky-ku

Mutiara Hati - 8

thumbnail
Penulis Adji Subela

Kunjungan kejutan seorang sahabat
Setelah sederet upacara kami jalani, maka selama seminggu saya masih tinggal di rumah di Jalan Yogya. Saya hanya mendapat cuti dua hari. Kami semua masih berkumpul di rumah istri saya dengan segala keriangannya. Selama itu sejumlah sahabat masih juga datang menemui saya dan istri. Biasanya kami duduk mengobrol hingga malam larut.
Dalam pada itu, saya mendapat tugas untuk memperbaiki asrama kami yang sudah tua. Anggaran sudah kami ajukan ke Jakarta untuk perbaikan kesatrian itu. Saya juga sudah menyiapkan sebuah rumah untuk kami berdua. Rumah ini cukup besar, memiliki tiga kamar yang luas-luas, halaman belakang yang cukup untuk membua lapangan badminton, sebuah garasi dan halaman depan yang lega. Tanah keseluruhannya mencapai luas kurang lebih 400 m persegi.
Pada suatu petang, ketika saya duduk-duduk di beranda bersama istri untuk menikmati sore yang cerah, tiba-tiba masuklah seorang pria yang gagah ke halaman rumah. Sekilas saya tak mengenalinya. Tapi ketika sudah dekat dan dia tersenyum, maka ingatlah saya akan seorang sahabat saya ketika masih duduk di MULO di Jakarta dulu.
Pria itu adalah putra Sunan Surakarta, Solo, Jawa Tengah. Namanya Gusti Pangeran Haryo (GPH) Suryo Suksoro. Saya kaget sekali, bagaimana mungkin dia menemukan alamat saya dan datang ketika saya sedang menjalani bulan madu seperti itu.
“Lho, kamu tahu dari siapa aku ada di sini?” tanya saya. Dia cuma tertawa, sambil menjabat tangan saya erat-erat.
“Ada yang memberitahu. Selamat ya?” ucapnya.
“Aku benar-benar enggak sangka kamu datang ke sini Sur,” sambut saya, “apa kamu ada bisnis di Medan?”
“Tahu enggak? Aku dapat kabar dari kakak iparmu Tengku Kamaliah, aku senang ketemu kamu lagi setelah sekian tahun.”
Setelah duduk, Suryo bercerita bahwa dia punya hubungan bisnis dengan Tengku Kamaliah di Jakarta. Tanpa diduganya, kakak istri saya itu bercerita bahwa dia habis mengawinkan adiknya dengan seorang perwira asal Jawa Barat, namanya Barkah Tirtadidjaja. Mendengar nama itu, Suryo berteriak bahwa itu nama yang bukan asing lagi baginya. Memang, kami bersahabat. Ia bergabung ketika saya sudah berada di klas 3 MULO Jakarta. Kami sering bermain bridge, atau piknik bersama-sama. Ia tahu saya ikut berjuang selama perang kemerdekaan. Maka kami pun mengobrol ke sana ke mari. Sudah bertahun-tahun kami berpisah, terutama sejak Jepang menduduki tanah air, hingga perang kemerdekaan. Baru sekarang saya bertemu kembali dengannya. Dia sendiri hanya ngobrol soal kenangan masa lalu kami, dan tidak bicara masalah bisnis sama sekali. Pada malam harinya dia pamit pulang ke hotelnya. Teman saya semasa di MULO itu sekarang sudah almarhum.
Pindah rumah
Sepekan setelah itu, kami pindah ke Jalan Supeno No. 4. Bersama kami ikut pula beberapa orang keluarga, yaitu Tengku Seri Banun, yang kehilangan suaminya dalam kerusuhan dulu. Empat putranya tinggal bersama sanak keluarga lainnya yang selamat. Seorang anak angkat Kucik, gadis kecil bernama Hetty, ikut kami serta seorang pembantu.
Rumah ini besar, halamannya di depan maupun di belakang luas. Jalan Supeno ini mengambil nama seorang Menteri Pembangunan dan Pemuda dalam Kabinet yang dipimpin oleh Wakil Presiden/Perdana Menteri Muhammad Hatta (29 Januari 1948 – 4 Agustus 1949). Menteri ini gugur dalam Agresi Militer II, diberondong serdadu Belanda di Nganjuk, Jatim, 24 Februari 1949, dan ia disebut sebagai Menteri termuda di dunia waktu itu.
Saya juga mengajak seorang kopral anak buah saya, bernama Salam, untuk tinggal di Jalan Supeno dengan istrinya. Mereka belum punya anak waktu itu. Rombongan keluarga besar ini menyemarakkan rumah kami. Dengan demikian itu Kucik tidak pernah merasa kesepian setelah menikah dengan saya. Sekali lagi ini tidak biasa saya jumpai di kampung halaman saya di Jawa Barat. Biasanya kami dilepas berdua setelah menikah. Semangat kekeluargaan yang tinggi dan selalu ingin bersama merupakan salah satu ciri orang-orang Melayu. Saya pun tidak merasa kikuk untuk hidup berumah tangga untuk pertama kalinya, karena saya sejak kecil sudah terbiasa mandiri. Selama masa perjuangan di hutan dulu pun saya juga hidup sendiri.
Kami sering mengundang kawan-kawan untuk bermain badminton di rumah kami, setelah itu makan bersama. Hobby saya yang lain adalah menyetir mobil hingga ke luar kota. Demikian pula Kucik. Ia pandai menyetir mobil, sehingga sering mengantar Ibunya untuk berobat atau berbelanja. Dahulu ketika almarhum ayahandanya masih hidup, istri saya itu sering menemaninya berkendara mobil mewahnya. Di masing-masing pintu mobil tersebut, terutama Maibach-nya, terdapat simbol kerajaan Langkat.
Kucik pun punya hobby bermain piano. Ia sudah belajar sejak berusia sembilan tahun dan suka berlatih pada saat-saat luangnya. Selain istri saya itu, di Istana ada Tengku Latifah yang piawai sekali memainkan alat musik akordion. Biasanya alat ini dimainkan para pria saja, tapi ternyata dia mampu menggunakannya.
Agar hobby dan kemampuannya bermain piano itu terpelihara, maka saya menemui sahabat saya, seorang Belanda yang menjadi aneemer atau kontraktor, namanya van der Heuvel. Ia punya toko peralatan musik yang cukup terkenal di kota Medan. Ia menjual sebuah baby piano kepada istri saya. Kelak di Singapura saya juga membeli piano untuknya. Istri saya itu memang penggemar seni, seorang seniwati, bukan saja pandai bermain musik tapi pandai mengarang lagu pula. Banyak lagu-lagu yang ia ciptakan, terutama lagu-lagu yang bernada melankolik seperti lagu-lagu perpisahan, dan sebagainya. Kemungkinan karena dia lahir dan hidup di lingkungan Istana yang serba berkecukupan dan termanjakan itulah sehingga ia justru suka pada suasana melankolis, romantik semacam itu.
Kelak ketika kami bertugas di Kairo, Mesir, ia mengumpulkan para istri diplomat dan staff lainnya untuk bermain musik. Istri saya bermain organ untuk mengiringi nyanyian rekan-rekannya. Itu dilakukan pada pagi hingga tengah hari. Oleh karena ruang kerja kami tak jauh dari tempat mereka bermain, maka suara-suara mereka itu bisa kami dengar pula dari kantor.
Demikianlah kehidupan kami mengalir dengan indahnya, seperti aliran Sungai Deli yang saat itu masih jernih airnya dan sejuk suasananya.
Akhirnya pada tanggal 4 Oktober 1951, anak kami yang pertama lahir, yaitu seorang putri, lalu kami beri nama Maurina. Ia lahir di rumah sakit milik dokter Belanda.
Menurut adat istiadat Melayu, pada usianya yang ke 40 hari, bayi diberi upacara khusus, namanya turun sungai. Berbeda dengan tedhak siten untuk masyarakat Jawa, atau turun tanah untuk bayi berusia tujuh bulan, upacara ini sekaligus juga dilaksanakan dengan potong rambut. Oleh karena Ibunya keturunan ningrat, maka sebelum mengikuti upacara potong rambut, orang menguncir rambut si anak, kemudian memasanginya cincin emas. Nantinya kunciran atau ikatan itu akan dipotong oleh para keluarga, pejabat, atau tokoh masyarakat, dan cicin akan menjadi kenang-kenangan untuk mereka.
Upacara itu meriah, apalagi karena kedua orang tua saya juga datang untuk menjenguk cucunya. Mereka berdua naik kapal KPM dari Tanjung Priok, dan untuk pertama kalinya dalam hidup mereka pergi berlayar ke tanah seberang selama tiga hari. Baginya ini pengalaman yang menarik. Kepada saya mereka bercerita alangkah indahnya perjalanan memakai kapal laut itu. Banyak kenalan baru mereka dapatkan, dan umumnya ramah-ramah. Saya sendiri menjemput ayah dan ibu yang datang dari jauh itu, ke Pelabuhan Belawan memakai kendaraan dinas, dan langsung ke rumah kami di Jalan Supeno. Kedua orang tua saya begitu gembira melihat cucunya lalu dibacakannya doa keselamatan untuknya.
Permata mutiara dari Kesultanan Langkat itu telah menghadiahi saya seorang putri yang cantik, mungil, dan menggemaskan. Segera saja bayi itu menjadi rebutan pada saudara untuk menggendongnya. Saya merasakan semangat hidup saya bertambah besar. Ada semacam kebanggaan memiliki bayi putri mungil itu, dan semangat kerja saya pun meningkat. Ada semacam rasa bahagia luar biasa dan bahagia tak terperikan saat memandangi anak kami itu. Masa depan menanti kami sekeluarga entah di mana, hanya Tuhan yang tahu ……..