Sssst - 7

thumbnail
Sssttt – 7
- Aktor Nicholas Cage yang sering jadi jagoan di film itu ternyata mengidap penyakit vertigo atau gampang pusing keliling tanpa sebab jelas.
- Nicholas Cage juga pernah punya mobil merk Lamborghini yang dulunya milik Shah Iran.
- Siapa sangka nama Nicholas Cage yang asli itu adalah Nicholas Coppola. Dia memakai nama Cage gara-gara gandrung pada tokoh komik Luke Cage.

Artukel-7

thumbnail

Artikel tamu


Hollywood

Oleh FX Bachtiar
Apa yang muncul di benak kita saat membaca judul tulisan di atas? Sebuah kawasan di California, Amerika Serikat, dimana sejak awal Abad Ke-XX menjadi pusat industri film AS yang hasil produksinya telah berhasil menguasai pasar dunia, tidak tersaingi oleh produsen fim negara mana pun.
Menikmati hiburan produk Hollywood saya mulai dari berbagai film segala umur (istlah masa itu) di awal tahun 50-an seperti Peter Pan, Snow White and the Seven Dwarfs, meningkat ke yang untuk 13 tahun ke atas seperti 20,000 Leagues to the Bottom of the Sea, around the World in 80 Days, Sinbad, Robin Hood, kemudian setelah cukup umur mulai menonton yang untuk 17 tahun ke atas, entah sudah berapa ratus judul dan jenis cerita, ada drama yang serius, ada komedi yang konyol, ada aksi laga yang menegangkan dan lain-lain. Sebagian latar belakang di samping nuasnsa sejarah seperti jaman Romawi, masa perang saudara Utara-Selatan, Perang Dunia I dan II, perang Pasifik, perang Vietnam sampai perang di Timur Tengah, banyak ditampilkan keragaman geografi, demografi, dan kondisi sosial seprti panasnya gurun di Arizona dan Nevada, rawa-rawa yang menyimpan misteri di Florida, gersangnya padang rumput dan ladang minyak di Texas, terjalnya tebing-tebing Rocky Mountains di Colorado, gemerlapnya kasino di Las Vegas, hiruk-pikuknya kehidupan di New York, indahnya pantai Hawaii, kokoh dan ketatnya penjara Alcatraz di Teluk San Fransisco, mistisnya kehidupan kaum Indian, kerasnya komunitas cowboy penggembala sapi, ganasnya kriminalitas di kota-kota besar, hebatnya Secret Service, FBI dan SWAT, canggihnya sistem pengamanan Gedung Putih dan pesawat terbang kepresidenan Air Force One, luasnya jaringan CIA, ampuh dan berani matinya personel Green Berrets, Delta Force, US Marine, Navy SEAL, dan para penerbang tempur US Air Force.
Dari nonton film saya lebih banyak mengingat nama-nama bintang film daripada nama-nama teman satu klas dan tetangga, bahkan kerabat. Nama-nama Jerry Lewis, Alan Ladd, Rock Hudson, Tony Curtis, Yull Bryner, Stewart Granger, Gary Cooper, Audy Murphy, Johnny Weismuller, John Wayne, Jack Palance, Robert Wagner, David Niven, Anthony Quinn, Burt Lancaster, Franco Nero, Dirk Bogarde, Liz Taylor, Brigitte Bardot, Claudia Cardinale, Gina Lolobrigida, disusul generasi berikutnya seperti Chuck Norris, Clint Eastwood, Robert Redford, Harrison Ford, Tommy Lee Jones, Sylvester Stallone, Barbara Streisand, Julia Roberts, Whoopy Goldberg, Pierce Brosnan, Sandra Bullock, dan puluhan nama lainnya, seakan tidak mungkin hilang dari ingatan. Akting mereka membekas sebagai the good guys atau the bad guys, the winners atau the losers, the lovers atau the cheaters.
Dulu saya rasakan bahwa film apa pun darinegara mana pun termausk produk Hollywood,menyuguhkan pelajran tentang bagaimana hal-hal baik (cinta, kejujuran, kesetiaan, kepintaran) pasti mengalahkan semua yang buruk (kedengkian, keserakahan, kecurangan, kebodohan). Paling tidak film masa itubenar-benar memberi hiburan segar kepada para penontonnya. Dampak yang muncul kemudian adalah tumbuhnya rasa kagum terhadap AS, terhadap orang Amerika, terhadap produk buatan Amerika dan terhadap gaya Amerika yang secara perlahan lalu memunculkan jiwa bebasa a la Amerika di kalangan masyarakat Indonesia terutama generasi muda waktu itu. Celana jeans ketat atau cutbray, rambut divaseline, rok can-can, musik ngak-ngik-ngok (rock and roll), juga kemudian muncul grup-grup crossboys di kota-kota besar yangmenjamur begitu luas smapai-sampai pemerintah Indonesia masa itu merasa perlu mengambil langkah tegas untuk memagari budaya Indonesia.
Sekarang, di mana teknologi informasi telah berkembang sedemikian cangguh dan tidak lagi bisa dibatasi oleh waktu maupun ditangkal oleh kedaulatannegara, Hollywood pun (sengaja atau tidak) telah berkembang perannya dari yang semula hanya memproduksi hiburan untuk dunia, menjadi agen pembentuk opini bagi kepentingan Amerika Serikat di seantero dunia. Melalui layar perah, di bioskop Grup 21 atau di layar tancap, disebarkan berbagai kisah tentang kebobrokan negara dan pemerintahan komunis, tentang kekejaman teroris (baca: Islam fundamentalis), tentang petaka mengerikan kalau nuklir digunakan negara selain AS yang semua itu dibuat dengan dukungan tkenologi perfilman modern dan penggapran script secara halus untuk bis amenumbuhkan kebencian penontonnya terhadap pihak-pihak yag dianggap berbahaya bagi AS. Para penontonnya, terutama di luar AS, dijejali pemahaman bahwa amannya AS adalah amannya dunia, menyerang AS berarti menyerang dunia.
Disadari atau tidak, dewasa ini kota bansa Indonesia telah terjerumus ke dalam suasana kehidupan berbangsa dan bernegara yang disukai oleh Sang Adikuasa, ikut membenci lawan-lawannya tanpa terlebih dahulu berusaha memahami akar permasalahan sebenarnya yang melatarbelakangi munculnya sikap dan tindakan memerangi kepentinan AS. Kondisi ini apabila tidak kita sikapi secara cerdas dan bijak pasti akan mendisharmoni hubungan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lain yang dibenci AS, yang apabila benar-benar trjadi maka berakhirlah komitmen bangsa Indonesia untuk bersikap bebas-aktif dalam percaturan antarbangsa.
Di dalam negeri tumbuh rasa caling mencurigai dan dicurigai. Di bidang kehidupan beragama, sebagian warga negara Indonesia pemeluk agama minoritas (non-muslim) menjadi gelisah dan libung berada di lingkungan pemeluk agama mayoritas (muslim) yang oleh Hollywood digambarkan sebagai berpihak kepada teroris yang mengancam kedamaian dunia, sementara di sisi lain sebgaian kaum muslim terpancing untuk menampilkan arogansi mayoritas. Di bidang ideologi, para keturunan ex-PKI tetap emrasa terkucilkan dari kehidupan bermasyarakat sehingga ada yang laluberupaya keluar dari himpitan psikologi itu dengan menyatukan diri, berkegiatan dalam organisasi-organisasi yangmereka bentuk, sementar di sisi lain fobia terhadap komunisme masih tetap ditampilkan dalam sikap penolakan tanpa kompromi.
Di bidang teknologi, rakyat yang takut terhadap bahaya nuklir berhadapan dengan pemerintah yangbernafsu membangun PLTN tanpa (mudah-mudahan sudah) memperhitungkan kemungkinan adanya kecerobohan dari pekerja yang masih belum trbiasa menempatkan masalah keselamatan sebagai bagian budaya kerja terpenting dan kemungkinan bahaya lain yang justru non-teknis yaitu bahwa pada suatu hari nanai bisa saja dimunculkan kecurigaan adanya penyalahgunaan nuklir oleh Indonesia (ingat Irak dan Korea Utara) sehingga Indonesia harus dihukum.
Lebih hebat lagi di bidang kebudayaan, indikasi hilangnya jati diri bangsa dan sopan santun ajaran adat ketimuran terliaht dan terdengar hampir setiap saat terutama di layar televisi, aa tayangan acara musik country yang sangat saya gemari namun menontonnya sambil geli atas tingkah para cowboy sato matang yang kebanyakan belm pernahmenunggang kuda dan bahkan sama kuda delman saja takut, ber-country dance lengkap dengan boots, kemeja kotak-kotak dan topi Stetson, lalu ada tayangan infotainment yang terlalu blak-blakan, ada ungkapan kekesalan penuh caci-maki, ada acara dialog langsung (live) diwarnai adegan saling memotong pembicaraan bahkan dengan gerak tangan yangmuda menunjuk-nunjuk wajah lawan bicara yang lebih berumur, sebuah kebebasan berekspresi yang di Amerika pun tidak semua orang menyukainya, sebuah lompatan yang luar biasa.
Akan menuju ke manakah kita? Kalau seluruh bangsa Indonesia tidak segera mengubah arah perjalanan saat ini yang jelas-jelas menuju perpecahan, tidak segera kembali ke arah perjalanan sesuai cita-cita proklamasi di atas landasan adat budaya bangsa. Mari kita kubur dalam-dalam impian kita untuk menjadi bangsa yang besar yanghidup di Bumi Nusantara yang tata tentrem kertaraharja gemah ripah loh jinawi.
Nasib dan masa depan Indonesia akan sangat tergantung kepada Sang Adikuasa. Mari kita tonton terus film-film made in Hollywood dan resapi salam-dalam ucapan Clint “Dirty Harry” Eastwood setiap akan menghabisi lawan dengan Colt Phyton kaliber 44 Magnum-nya: “MAKE MY DAY”.
thumbnail
Mutiara Hati

Penulis Adji Subela
Bagian Ke-6

Bagi saya tidak ada kata mundur, sama seperti ketika bertempur dulu. Maka jadilah acara lamaran sederhana kami laksanakan di Jalan Yogya No.2. Tidak ada acara adat, tidak ada formalitas. Kelihatannya mereka semua sudah maklum dan menerima saya apa adanya, perantau dari tanah Parahyangan ini. Semuanya berlangsung lancar, dan kemudian diadakan tukar menukar cincin. Pada hari itu juga, kami resmi bertunangan. Alangkah bahagianya!
Saya masih ingat Kucik waktu itu memakai baju kurung Melayu terbuat dari kain satijn berwarna hijau serta kain Pelekat. Pakaian inilah yang menjadi kebanggaan kaumnya pada waktu itu. Bahkan setelah kami menikah dan berkunjung ke Jakarta, Kucik masih tetap mengenakan pakaian adat itu ke mana-mana sampai banyak orang yang melihatnya dengan keheran-heranan. Adapun cincin pertunangan itu, hingga sekarang masih tetap saya pakai. Bentuknya sederhana, hanya berupa sigar penjalin atau rotan dibelah dua, tidak seperti model cincin tunangan jaman sekarang. Di bagian dalam ada tertulis nama kami berdua. Selain cincin itu, saya hingga sekarang pun memakai cincin bermata zamrud hadiah perkawinan kami dari Ibu Permaisuri. Bentuknya sederhana tapi indah dan tetap bersinar hingga sekarang. Tentu saja kedua cincin itu sudah beberapa kali saya besarkan ukurannya agar tetap enak dipakai.
Acara bertunangan itu pun terlaksana juga dengan sangat sederhana, dihadiri oleh sekitar 20 orang kerabat. Tunangan itu diadakan diam-diam guna menghindarkan diri dari para saudara yang tidak setuju dengan hubungan kami berdua. Sebenarnya saya bisa saja berbuat semaunya, karena saya seorang militer, kenyang dalam pertempuran sehingga apa saja siap saya lawan, apalagi menyangkut kehormatan. Namun keutuhan keluarga Kucik tetap harus dipertahankan sebaik-baiknya, ibarat menarik benang dari tepung, benang tertarik tepung tak berserak.
Selesai acara penting itu, tak ada lagi kegiatan khusus, seperti selamatan misalnya. Kalau soal makan, setiap kali berkunjung saya selalu diajak makan bersama mereka, tidak perlu suasana tertentu. Bila tiba waktu makan mereka mengajak menyantap hidangan yang tersedia di meja besar. Dan itulah kebiasaan mereka, spontan, tidak berbasa-basi, hubungan menjadi akrab dan hangat. Hanya saja setelah bertunangan itu, Ibu sering memasak hidangan khusus untuk saya, umumnya dari bermacam-macam jenis ikan laut serta udang galah yang besar-besar itu. Bagi saya ini suatu keistimewaan, sebab ketika masih di kampung halaman, jenis ikan yang kami tahu hanya ikan darat dari balong (kolam, tebat) itu saja seperti ikan mas, gurami, mujair, dan sebagainya. Kebiasaan itu Ibu lakukan hingga saat kami bertugas di Singapura maupun Jakarta. Istana mereka pun dahulu selalu terbuka bagi masyarakat umum. Siapa pun boleh bertandang dan selalu ada acara makan bagi mereka.
Setelah kami bertunangan, Kucik mulai ikut kegiatan kemasyarakatan saya seperti bermain badminton, tenis, atau bridge dengan para kenalan, handai taulan. Di sanalah ia berkenalan dengan keluarga Kartakusuma, yang kemudian menjadi sahabat dekat kami hingga sekarang ini. Lagi-lagi, kami masih tetap mendapat pengawalan dari sanak saudaranya, walau pun jumlahnya tidak ‘satu peleton’ seperti ketika menonton film dahulu itu. Hubungan saya dengan para kerabat perempuan lebih erat lagi. Mereka biasa memanggil saya dengan sebutan adik, bahkan dengan menyebut nama Barkah saja, seperti Ibunda Kucik memanggil saya. Ada yang memanggil saya dengan menyebut pangkat saya, Kapten. Lucunya, Atok atau Eyang Kucik selalu memanggil saya dengan sapaan Kapten, tidak peduli saya sudah berpangkat Kolonel sampai Brigadir Jenderal sekali pun.
Menikah di kota lain
Menjelang akhir tahun 1950 itu keputusan untuk segera menikah semakin kental. Namun dengan ketidak setujuan para paman Kucik, maka hal ini merepotkan juga. Salah seorang kakak laki-laki Kucik harus mengasingkan diri ke Singapura dengan biaya kami, karena ia tidak ingin menyulitkan posisi kami dalam perkawinan itu. Dalam adat mereka, jika sebuah pernikahan tidak direstui secara bulat oleh seluruh keluarga, maka pernikahan harus dilangsungkan di tempat lain, menjauh.
Atas persetujuan para anggota keluarga yang mendukung, saya menyiapkan tempat menikah di kota lainnya. Pilihan saya jatuh ke kota Pematang Siantar, kira-kira 120 km dari Medan ke arah tenggara. Tempat itu cukup baik, aman, dan para kolega saya di Komando Militer Kota (KMK) setempat sangat mendukung, dan mereka menjadi semacam panitia untuk melaksanakannya termasuk yang mengatur semuanya. Saya pikir mungkin atas instruksi Pak D.I. Panjaitan.
Tempat pernikahan kami adalah Hotel Siantar. Bukan di aulanya, tapi cukup di salah satu dari dua kamar yang dipesan teman-teman KMK. ‘Panitia’ lokal itu terdiri dari tiga orang, termasuk Komandan KMK-nya, walau pun dalam acara sesungguhnya ia tidak hadir. Tentu saya sangat berterimakasih kepada mereka ini. Sedangkan rombongan dari Medan terdiri dari kira-kira 10 orang, berangkat menggunakan dua mobil. Komandan KMK sangat mendukung rencana saya itu. Malahan dua orang anak buahnya bertindak sebagai saksi pernikahan tersebut. Di antaranya tentu saja Tengku Kamaliah, termasuk Ibu tiri Kucik. Ibu ini mengerti sekali kesulitan yang saya hadapi, dan dengan sabar selalu mendampingi kami.
Surat nikah pada waktu itu masih sangat sederhana terdiri dari selembar kertas tebal dilipat menjadi dua. Yang mengeluarkan surat itu adalah Djawatan Agama Daerah Sumatra Timur, Medan, diserahkan melalui Kotapradja Pematang Siantar.
Kami menikah 11 Januari 1951 atau tanggal dua bulan empat tahun 1370 Hijriyah. Usia saya genap 27 tahun, suatu umur yang cukup matang untuk menikah, sedangkan calon istri saya 18 tahun, cukup dewasa untuk menjalani hidup berumah tangga.
Bertindak sebagai kadhi atau naib kadhi adalah H. Abdul Halim, yang sekaligus menjadi wali nikahnya. Sedangkan para saksi terdiri dari Rasyid Ali, kemudian dua orang kolega saya anggota KMK masing-masing Letnan Dua Suwarsono, serta Letnan Muda J. Arsyad.
Saya tahu betul siapa Letnan Dua Suwarsono. Ia adalah bekas anggota Tentara Pelajar dari salah satu kota di Jawa. Prestasinya sangat baik, dan dia ditugaskan ke Teritorium I oleh karena kemampuannya itu. (Bersambung)

Mari Berkorups!

thumbnail
Cerpen

PENGANTAR:
Cerita pendek ini pernah dimuat di harian Sinar Harapan, Jakarta, Sabtu, 20 Desember 2003 di Halaman 12, juga dikutip di berbagai situs lainnya. Kini cerita saya turunkan lagi di blog ini gara-gara gegap-gempita masalah korupsi dan bagaimana wajah intitusi-institusi penegak hukumnya saat ini.
Selamat mengikuti.




Oleh Adji Subela
Ketika larangan itu anjuran, saat hukuman cuma senyum kecil di bibir manis dan tatkala dosa dan neraka cuma kata-kata kempis di mimbar khotbah, maka Tengul berteriak-teriak di Bundaran di depan Hotel Indonesia, di bawah lambaian Patung Selamat Datang, melambai orang-orang lewat untuk menggalakkan hidup berkorupsi.
Sewaktu seorang sahabatnya menyebutnya gila dan bisa dituntut karena menganjurkan orang lain untuk melanggar hukum, Tengul cuma nyengir menangkis: “Siapa sih manusia yang paling bersih di negeri kita? Hayo?”
Belakangan ini gejolak batin Tengul memang tak terkira-kira besarnya. Sering ia merasa eneg hendak muntah mendengar tuntutan setiap detik setiap hari agar korupsi diberantas hingga ke akar-akarnya. Berpuluh-puluh organisasi antikorupsi didirikan orang, dan diberi nama gagah-gagah dengan tujuan luhur dunia akhirat: memberantas korupsi dan dan menciptakan pemerintahan yang bersih dan berwibawa, selalu memikirkan dan berpihak kepada wong cilik!
“Siapa yang menjamin sih, kalau korupsi lantas berkurang? Siapa yang berani bertanggung jawab kalau organisasi-organisasi itu nanti tidak korup sendiri?” ia tetap bertahan pada prinsipnya.
Di depan teman-temannya ia selalu serius berpidato bahwa di zaman Orde Lama, pemerintah tak menyuapi rakyatnya pakai makanan, tapi menyekokinya dengan Tujuh Bahan Indoktrinasi alias Tubapi. Rakyat tetap tak berubah, masih saja kelaparan sambil mendengarkan pidato-pidato. Di zaman Orde Baru, rakyat makan setengah kenyang, sambil melihat pejabat-pejabat dan keluarganya berkorupsi sembari dicekoki Penataran P4, dengan lauk harian berupa peringatan-peringatan, ancaman dan intimidasi. Korupsi menjadi-jadi gilanya, dan orang malah bangga menjadi koruptor, lalu korupsi menjadi yang lebih utama. Hasilnya dipamerkan ke mana-mana.
Zaman reformasi ini, Tengul menamainya sebagai Orde Bingung, orang seperti kethek ditulup (1). Kebobrokan peninggalan Orde Baru terlalu banyak, sulit dituntasi seketika. Penguasa seperti tak ada, lantaran mereka sendiri bingung mana yang benar dan mana yang salah. Tengul melihat yang banyak cumalah kebingungan dan keluhan, tuntutan, teriak-teriak tak menentu, kritikan konstruktif maupun yang ngawur asal bunyi, dan juga muncul komentar-komentar bodoh sementara korupsi malah disebutnya tidak marak sama sekali!
“Ah, bohoooong,” seorang temannya tak percaya.
“Sungguh! Tidak marak! Tapi korupsi sudah jadi way of life masing-masing individu warga negara dan sudah meresap dalam darah dagingnya dan jadi acuan-tindak untuk hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tinggal menunggu adanya pejabat yang berkata – darah daging saya koruptor, itu saja.” Korupsi telah jadi bukan persoalan dan yang berteriak-teriak antikorupsi bagi Tengul cuma orang yang kurang pekerjaan saja.
Resep yang paling baik, adalah menganjurkan setiap orang untuk berkorupsi sedapat-dapat dan semampu-mampunya. Malahan diharuskan. Tengul tetap percaya bahwa kalau semakin dilarang, orang Indonesia akan diam-diam mengerjakannya. Sedangkan kalau dianjurkan, malah tidak dikerjakan!
Dalam sebuah diskusi kecil di ruangan mewah hotel berbintang lima, Tengul meyakinkan para peserta bahwa anjuran berkorupsi harus dituangkan dalam seperangkat aturan yang memungkinkan pembinaan dan pelaksanaannya berjalan baik.
Gerakan meningkatkan kegiatan korupsi ini bagi pria ceking tersebut begitu serius sehingga ia ia ngotot agar Dewan Perwakilan Rakyat harus dilibatkan secara aktif. Semua komponen masyarakat yang mendukung maupun yang kontra korupsi harus diundang untuk merumuskan pelaksanaannya.
“Bagaimana kalau kelompok antikorupsi di luar maupun di dalam parlemen gigih menentang rencana gila kamu itu?” kata Sodrun, yang dalam hatinya sebenarnya setuju saja.
“Bagi kita mudah, kita bikin saja pemungutan suara secara tertutup alias rahasia. Aku kira hasilnya akan positif. Sebelumnya kaum antikorupsi kita lobby dulu, lalu kita ajak studi banding ke luar negeri,” ini jalan keluar Tengul.
“Lho LSM-LSM yang antikorupsi bagaimana? Apa mereka tidak teriak-teriak?” sambar Sodrun lagi.
Tengul yakin itu perkara mudah saja. Solusinya? Beri mereka Proyek Penelitian Pelaksanaan Korupsi dari Pusat Hingga Daerah, Antara Fakta dan Harapan. Beri kebebasan mereka untuk menyampaikan hasilnya. “Berapa saja besarnya rencana biaya yagn diajukannya kita lipatkan tiga saja, karena program ini penting untuk kelangsungan hidup bangsa di masa mendatang. Mereka tentulah senang,” enteng betul si Tengul itu menjawabnya.
“Bung apa sampeyan (2) pikir MPR akan setuju?” Drs Ir Sastro Kenthir MPA, MM, MBA, Phd mengujinya.
“Ya inilah masalahnya. Tapi semua anggota DPR ‘kan merangkap jadi anggota MPR juga? Mudah-mudahan bisa diatur. Teknis di lapangannya, nanti kita adakan demonstrasi alias unjuk rasa mendukung korupsi secara mantap dan berkelanjutan. Orang-orang untuk itu sudah siap tinggal call saja. Ini semacam pressure saja, biasalah.”
Tengul berencana melibatkan para artis-selebritis, karena hanyamerekalah kini yang dipercaya orang. Yudikatif tidak sama sekali, eksekutif telah bolong dan legislatif dianggapnya lebih serakah. Akan dibikinnya promosi besar-besaran, karena oran Indonesia paling gampang termakan iklan. Apa yang dikatakan iklan ditelan bulat-bulat tanpa dilihat.
Pria ceking itu menyambung lagi: “Pendeknya, kehidupan berkorupsi sudah meresap hinga ke sel-sel otak dan hati kita semua. Tinggal direalisasikan atau kita lembagakan saja secara terbuka, daripada sembunyi-sembunyi dan malu-malu kucing, wong ini sudah bukan barang aneh dan menjijikkan kok. Saya yakin gerakan ini akan didukung banyak orang secara diam-diam. Kalau pun ada yang menentang, itu karena mereka belum mendapatkan pencerahan dan penjelasan yangkomprehensif, atau ragu-ragu apakah mereka bisa memanfaatkan gerakan ini apa tidak, itu isa diatur kok, tenang saja.”
Pria ceking tokoh kita ini meyakinkan mereka, bahwa kebocoran APBN rata-rata 30% karena berbagai sebab – tentu di atnaranya korupsi – itu prestasi manajemen yang canggih, yaitu bagaimana mengatur-atur agar copetan mereka tak ketahuan. Ini memerlukan skill tinggi.
“Bung Tengul, apakah Anda tidak takut dicap antirevolusi, antipembangunan, ekstrem kiri-kanan, tengah, depan, belakang dan apakah Anda bisa menangkis tuduhan unsur keterpengaruhan. Nanti Anda akan deitanya teman dekat Anda itu siapa saja dan apa organisasinya,” Sastro mengingatkannya dengan serius.
“Mudah. Unsur keterpengaruhannya banyak. Kita tanya para pemeriksa kita, para jaksa, hakim serta pengacara. Siapa yang tidak pernah berkorupsi? Hayo ngacung (3). Siapa yang pernah berkorupsi? Ngacung.”
“Kalau mereka mereka mengaku berkorupsi?” tanya Sastro.
“Itu calon anggota kita!”
“Kalau mereka mengaku tidak berkorupsi?”
“Itu juga calon anggota kita, maksudnya anggota tingkat percobaan.”
“Kalau tidak mengacung untuk kedua hal itu?” kejar Sastro.
“Itu anggota utama kita, karena untuk berpendapat saja mereka mengorupsi dirinya sendiri, hingga ia pantas mendapat kedudukan istimewa di kelompok kita.”
Semangat Tengul untuk menggalakkan korupsi betul-betul nekat luar biasa. Organisasi itu segera akan akan dibentuknya, dengan nama sementara Komite Penggalakan Korupsi. Malahan dengan bantuan seorang pengarang lagu yang namanya minta dirahasikan betul-betul (bahkan kabarnya dengan perjanjian di atas kertas bersegel), ia menyiptakan lagu Mars Mari Berkorupsi. Seperti ini:
Marilah kita berkorupsi
Korupsi sampai mati
Hukuman jangan peduli
Itu soal nanti
Soal syairnya, Tengul menyilakan seua orang untuk mengutak-atiknya kembali, karena semangatnya memang untuk berkorupsi. “Yang penting intinya berupa ajakan untuk berkorupsi, itu saja, simpel kok,” begitu Tengul meyakinkan teman-temannya. Sodrun malahan menyumbang hymne korupsi:
Korupsi, korupsi, sungguh nikmat sekali
Marilah bangsaku kita berkorupsi, enak sekali
Jangan cuma sekali saudaraku,
Tapi berkali-kali
Sampai mati, sampai mati
Sodrun, yang tampaknya sudah jadi pendukung fanatik Tengul, menganjurkan agar untuk mengiringi lagu itu dicomot saja dari hymne-hymne yang ada – yang indah-indah bukan main – tanpa perlu minta izin pada pemilik hak ciptanya karena memang namnaya juga korupsi.
Usaha gigih Tengul dan wakilnya, Sodrun, tampaknya mendapat hasil juga. Beberapa orang mendaftarkan diri menjadi anggota. Sampai suatu ketika, Tengul mendesak diadakannya deklarasi pembentukan Komite Penggalakan Korupsi.
“Ini masalah urgen sehingga sehingga haus cepat-cepat kita realisasikan,” ujarnya dengan penuh semangat.
Ada kira-kira tiga puluh orang calon peserta, terdiri dari lima belas pria dan lima belas perempuan. Barangkali itu artinya korupsi tidak memandang jender. Semua jenis kelamin punya potensi sama untuk berkorupsi, tidak pilih-pilih. Kelihatannya asal ada peluang sikat saja, beres. Tengul dengan serius minta calon peserta agar pada saat deklarasi Komite Penggalakan Korupsi nanti di sebuah hotel berbintang lima, mereka mengenakan pakaian olahraga saja, dengan sepatu kets. Maksudnya begitu selesai acara, mereka disuruh lari kencang-kencang meninggalkan tempat itu akrena biaya sewa ruangan tidak akan dibayar. Sebab, begitu Tengul menjelaskan kepada peserta, membayar biaya ruangan itu tidak berspirit korupsi sama sekali.
****
Tiba pada hari deklarasi penting itu, calon anggota yang datang hanya sepuluh orang, masing-masing lima orang pria dan lima lainnya perempuan. Itu saja.
Banyak sekali wartawan yang datang, baik dari media ceta maupun elektronik, termasuk cyberjournalists yang dari dotkom-dotkom. Di acara itu, Komite Penggalakan Korupsi mengenalkan bandera serta simbul mereka, yaitu berupa gambar-gambar dua jari mengacung membentuk huruf V seperti gayanya PM Inggris Sinston Churchill dahulu itu. Cuma ambar tangan ini dipasang terbalik dan digambarkan menjepit selembar uang kertas. Simbul itu juga menjadi gambar bendera Komite, yang warnanya putih bersih sebagai lambang kebersihan nait mereka. Semula Sodrun mengusulkan agar benderanya berwarna hitam dan ada gamabr tengkorak yang ditutup matanya sebelah, tapi semua anggota menolah mentah-mentah karena itu identik dengan perompak. Kalau perompak, itu korupsi cara barbar. Black collar corruption. Komite ini hanya menanmpung yang white dan blue collar saja.
Belum lagi acaranya dimulai, Tengul sudah dicegar para wartawan dan diguyuri pertanyaan aneh-aneh. Maka berkatalah Tengul, sang penggagas Komite Penggalakan Korupsi itu:
“Saudara-saudara, para pengamat asing menempatkan negeri kita sebagai negeri yang paling korup nomer sekian. Itu jangan dianggap memalukan tapi harus disikapi sebagai potensi yang harus disyukuri dan dianggap sebagai peluang. Tak banyak negara yang mampu mengembangkan korupsi begitu hebat hingga semakin canggih seperti negeri kita. Oleh sebab itu saudara-saudara, kita akan menjadikan korupsi sebagai ekspor andalan kita. Ekspor andalan saudara-saudara ... uhuk-uhuk-uhuk....,” teriak Tengul kemudian terhenti karena terbatuk-batuk. Seorang asistennya datang memberi air putih segelas.
“....kemudian ita buka konsultasi mengenai teknik-teknik berkorupsi dan kita masyarakatkan ke dalam dan ke luar negeri. Nantinya akan ada semacam buku Panduan Dasar untuk Berkorupsi. Untuk tahap pertama kita minta pengakuan agar korupsi merupakan ketrampilan dasar yang perlu dikembangkan. Bila seluruh komponen bangsa lebih serius lagi, korupsi mudah-mudahan menjadi ilmu terapan yag memiliki methode dan sistematikanya sendiri. Itu sudah di depan mata kita semua, cuma ya itulah tadi, belum ada pengakuan terbuka. Yang jelas, kegiatan korupsi sekarang ini sudah membentuk satu siklus ekonominya sendiri sehingga cita-cita kita tadi tidak muluk-muluk. Kita harus tetap yakin mengenai hal itu, janganlah ragu sedikit pun.”
Disebutkannya, investor asing enggak ke Indonesia karena korupsi itu. tapi Tengul dengan berapi-rapi membela bahwa ekonomi kita berputar anara lain dibiayai pakai uang hasil korupsian itu, yang beredar diam-diam dan meningkatkan daya beli rakyat!
“Dulu sebelum kedatangan tenaga kerja dari negeri kita, polisi-polisi Malaysia sangat berdisiplin tinggi. Kini setelah bergaul dengan orang Indonesia, mereka mulai tahu apa namanya korupsi itu,” Tengul nekat mernjelaskan.
“Pak, peneliti asing menilai Indonesia harus dihindari untuk investasi karena sangat korup, biaya silumannya banyak, premannya tak terkira-kira. Bunakankah penggalakan korupsi itu nanti justru akan mencegah investasi asing masuk ke sini?” seorang wartawan mengetes keteguhan Tengul.
“Begini, Bung. Investor asing itu hipokrit, munafik. Ketika pemodal asing berjejal-jejal masuk ke negeri kita di masa awal Orde Baru dulu, mereka itu main sogok sana sogok sini, tahu enggak? Jadi kita diajari teknik dagang yang seperti itu. Sekarang ketika kemampuan kita meningkat pesat, mereka justru menuding kita negeri korup. Apa itu adil?”
“Bagaimana dengan daya saing produk kita, karena cost-nya jelas akan lebih tinggi?” serbu wartawan lainnya.
“Begini kawan, pengusaha luar negeri itu licik-licik. Praktik suap dan korupsi juga mereka lakukan tapi mereka lantas menimbang-nimbang negeri mana yang korupsinya lebih kecil itu yang dicari. Mau cari yang bersih? Imposibeeeeel...imposibellll.”
“Lantas apa sih upaya Komite Anda untuk itu?” lanjut si wartawan.
“Kita akan menuntut suatu konvensi internasional mengenai korupsi. Kita tentukan berapa uagn siluman yang pantas, dan masukkan semuanya dalam biaya produksi. Maka dari itu kami akan mengadakan pendekatan kepada negara-negara yang dinyatakan bersih untuk mengadopsi korupsi. Jadi kita globalkan korupsi ini, yang penting jelas aturan mainnya hingga semuanya berjalan fair. Kira-kira seperti itu idenya.”
“Untuk tingkat regional,” lanjut si Tengul, “kita dekati negara-negara tetangga kita. ada lho, negara tetangga yang dinyatakan bersih korupsi, tapi mereka mampu menyimpan koruptor di sana asal bawa uang. Itu korupsi supercanggih namanya dan sudah berskala global-regional.”
“Pak, bukankah menganjurkan orang lain untuk melanggar hukum itu juga bisa dituntut?” kejar seorang jurnalis lainnya.
“Tidak masalah kok dik, kalau pun kita dibui karena penyebaran ide yang sebenarnya sudah kita jiwai dan kita praktikkan ramai-ramai, apa boleh buat. Departemen Kehakiman dan HAM sudah memperbaiki rutan Cipinang begitu bagusnya, dan kabarnya rutan-rutan lainnya di seluruh negeri akan segera menyusul berturut-turut. Itu bagus, langkah antisipatif yangjitu namanya.”
******
Upaya tulus di Tengul dan kawan-kawannya tentu saja mendapatkan reaksi keras dari sana-sini. Itu sudah ukan hal aneh baginya, sudah diperhitungkan masak-masak. Suatu kali rumahnya didatangi oleh segerombolan orang berbadan tegap-tegap dan berambut cepak, lain hari datang pula beberapa pria berambut gondrong. Juga ada sejumlah pria erdasi dan bermobil mwwah datang kepadanya. Tak ketinggalan sejumlah pria bermartabat yangmengenakan hem safari datang diam-diam mengendarai sedan hitam-hitam dengan tiang bendera kecil di bagian bemper depan. Apa urusan mereka itu semua dengan Tengul, tidak ada yag tahu-menahu...........
Perkebangan selanjutnya, lama tak terdengar berita mengenai Komite Penggalakan Korupsi ini. Tapi belum lagi seminggu yang lalu ada berita mengenai ditemukannya sesosok mayat di tepi Kali Ciliwung. Mayat seorang pria ceking. Jenasah itu telah diotopsi, hasilnya menyebutkan bahwa si pria tewas dicekik. Berdasarkan KT yang ada di dompetnya, di diketahui bernama Pro. Dr. Drs. Ir. Tengul SH, MM, MBA. Mayatnya diserahkan kepada keluarganya. Sayangsekali keluarganya tidak mau menerima hasil otopsi itu lalu minta otopsi ulang di kampung halamannya. Hasilnya, Tengul tewas karena obat terlarang. Tapi dokter tak mampu menyebutkan obat apa yang telah dipakainya, karena setibanya di tempat kelahirannya, wajah si mayat telah berubah menjadi tersenum seperti orang yang sedang lega hatinya, atau barangkali lebih mirip sepeti orang yang kegelian digelitiki pinggangnya.
Selesai.
Keterangan:
Kethek ditulup = monyet disumpit. Ungkapan dalam Bahasa Jawa guna menggambarkan orang yantg sedang mengalami kebingungan.
Sampeyan = Anda
Ngacung = mengangkat tangan, terutama untuk pemungutan suara.

Senyum dikit

thumbnail
Betul. Saya menyesal tak menampilkan senyum dikit kali ini. Rasanya tak perlu ada senyum di tengah ingar-bingar polah para penegak hukum kita saat ini.