Langsung ke konten utama
Buku Mutiara Hati-1

Memoar Mayjen TNI (Purn) H. Barkah Tirtadidjaja mengenai pernikahannya yang kontroversial dengan salah seorang putri Sultan Langkat. Kesultanan Langkat menjadi salah satu korban “revolusi sosial” yang digerakkan orang-orang komunis di Sumatra Timur awal tahun 1946, yang memakan korban ratusan orang bangsawan Melayu termasuk penyair Tengku Amir Hamzah. Sebagai orang Sunda, H. Barkah menemukan nilai-nilai kebudayaan Melayu. Didampingi sang istri, Tengku Nurzehan, ia menjalankan tugasnya di bidang intelijen, diplomat, birokrat, dan orang swasta yang cukup menarik dan terkadang dramatis.

Berikut ini petikan buku Mutiara Hati yang akan disajikan bersambung. Ikuti terus blog belazipper.blogspot.com ini, karena juga akan memuat artikel-artikel menarik yang terus diperbarui.


Bab Kesatu

Mutiara Istana Sultan Langkat

Udara petang itu terasa panas. Kota Medan memang berbeda cuacanya dibandingkan dengan kota asal saya, Purwakarta, sebuah kota kecil yang sejuk dan indah di Jawa Barat. Kendati pun angin laut masih dapat saya rasakan bertiup, akan tetapi cuaca Medan memang berbeda. Selain itu, penduduk di kota ini padat, dan datang dari berbagai-bagai bangsa seperti dari daratan China, anak benua India, Pakistan, serta jazirah Arab. Demikian pula banyak suku-suku di Indonesia dapat kita jumpai di sana.
Saya keluar dari kantor petang itu, masih berpakaian dinas harian, menuju ke jeep dinas. Setelah duduk di belakang kemudi, saya berpikir keras, hendak pergi ke mana petang ini? Sudah menjadi kebiasaan, setiap petang sepulang dari kantor, saya selalu singgah ke tempat para kenalan baru guna menghabiskan waktu untuk kemudian pulang kembali ke mess perwira. Sama seperti asrama militer lainnya, suasana di sana selalu kaku, penuh disiplin militer, dan jenjang kepangkatan benar-benar nampak, sehingga hal ini kurang memberi saya nafas untuk bergaul dengan masyarakat lainnya. Sebagai seorang pria bujangan dengan pangkat Kapten di tahun 1950-an, tentulah saya menjadi orang yang harus dihormati di mess. Selain itu saya juga menjunjung beban berat, karena harus mampu memberi contoh kepada para anak buah, sehingga gerak-gerik pun menjadi terbatas.
Padahal ketika itu saya baru saja ‘pulang dari hutan’ berjuang bertahun-tahun selama revolusi kemerdekaan, beradu nyawa melawan musuh yaitu tentara Belanda, di hutan-hutan dan pegunungan di Jawa Barat. Ketika itu saya setiap saat harus bertanggung jawab atas keselamatan atasan saya yaitu Kolonel A.E. Kawilarang, selain menyiapkan segala keperluan dinasnya serta mendampinginya dalam setiap pertempuran. Tidak lama setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Belanda di tahun 1949, saya dipindah tugaskan ke Medan, sebagai Kepala Staf IV Bidang Logistik Tentara Territorium I Sumatra Utara yang meliputi Sumatra Utara, Aceh, Sumatra Barat, Riau Daratan, dan Riau Kepulauan, dengan pangkat Kapten, pangkat yang sudah amat tinggi di kala itu.
Barangkali sebagai imbangan atas kehidupan militer saya yang cukup keras selama perang kemerdekaan, serta guna mengenal lebih dalam masyarakat Medan, maka setiap pulang dinas saya meluangkan waktu untuk bersilaturahmi dengan para keluarga terkenal di kota itu. Saya berkenalan dengan para keluarga yang berasal dari Aceh, Tapanuli, Minang, Melayu, Jawa, dan sebagainya, serta para keluarga keturunan Tionghoa, Arab maupun India dan Pakistan. Saya berkeliling berkenalan dengan mereka satu per satu. Tentu saja kunjungan saya mendapat sambutan istimewa. Bayangkan, mereka dikunjungi oleh seorang pejabat militer, masih bujangan, dan memiliki masa depan. Apalagi saya selalu mondar-mandir ke sana ke mari memakai jeep dinas.
Suasana tahun lima puluh itu masih hangat oleh romantisme perjuangan kemerdekaan, semangat heroik masih sangat tinggi. Anggota tentara menempati posisi yang khusus, oleh karena perjuangan mereka selama mempertahankan kemerdekaan. Di samping itu, saya memiliki semangat manunggal dengan rakyat yang kuat. Kami bukan tentara bayaran, tapi tentara rakyat. Selama berjuang dahulu, kami selalu mendapat dukungan dari rakyat. Dengan mereka kami saling menjaga dan melindungi serta saling membantu seada-adanya waktu itu. Maka tidak mengherankan bila orang menyebut bahwa antara tentara dan rakyat itu ibarat ikan dengan air. Tali silaturahimi itu saya teruskan. Perkenalan saya dengan berbagai keluarga dari bermacam-macam suku berjalan lancar, dan penuh dengan suka cita dan pengalaman yang menarik. Saya semakin mendalami bagaimana adat istiadat mereka masing-masing. Terpikir kemudian, langkah saya itu penting pula untuk membantu pembinaan territorial waktu itu. Kegiatan saya yang lain untuk bermasyarakat adalah berolahraga, teristimewa badminton serta tenis. Kadang-kadang saya bermain bridge dengan para kenalan, salah satu hobby yang telah saya geluti sejak saya masih bersekolah di MULO (Meeruitgebreid Lager Onderwies). Dari sini saya banyak mendapatkan kawan, dan harus saya akui bahwa banyak di antaranya gadis-gadis cantik pula. Posisi saya waktu itu rupanya banyak menarik para gadis itu, tapi saya belum tersentuh untuk menyintai salah seorang di antaranya.
Tentu saja di antara keluarga itu, saya lihat ada terdapat pula ‘bunga-bunga’ indah bermekaran. Maksud saya mereka juga memiliki anak-anak gadis yang cantik-cantik. Akan tetapi pergaulan pada masa itu amat diwarnai dan diatur serta diawasi begitu ketat oleh adat-istiadat sehingga pola hubungan muda-mudi amat terbatas dan terkenal dengan pergaulan gaya Siti Nurbaya. Saya tahu bahwa di antara keluarga-keluarga itu ada yang menginginkan saya menjadi menantu mereka. Siapa yang tidak bangga jika memiliki menantu pejabat militer berpangkat Kapten pada waktu itu? Tapi hati ini belum tergetar sedikit pun. Tujuan saya bersilaturahmi masih murni untuk berkenalan dan saling mempelajari adat istiadat masing-masing. Negara kita belum lama diproklamirkan, dan rakyat kita terdiri dari ratusan suku bangsa yang memiliki budayanya masing-masing. Hasrat untuk saling mengenal masih tinggi waktu itu. (Bersambung)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ikan Bakar Mak Etek Pontianak

Warung ikan bakar Mak Etek (Si Paman kecil) di Pasar Menara, di tengah Kota Pontianak, Kalbar, ini sederhana saja. Tempatnya di tengah los-los pasar seperti yang lain. Tapi ketika kita mendekati warung milik Mak Etek yang nama aslinya Bagindo Alizar (82 tahun) ini, maka indera pertama yang terangsang adalah bau harum ikan bakar yang dijamin menggugah selera makan. Kemudian indra penglihatan segera menangkap kepulan asap tebal dari proses pembakaran ikan yang dikerjakan di samping warung itu. Warung berukuran empat kali sepuluh meter ini dipenuhi delapan meja plastik bundar, dengan masing-masing empat kursi. Hampir setiap saat meja-meja itu dipenuhi pelanggan yang begitu nikmat menyantap ikan bakar, ikan gulai, gulai petai, taoge rebus, daun ubi kayu. Suasana di warung ikan bakar Mak Etek bertambah khas dengan teriakan pelanggan yang meminta tambah nasi atau ikan, serta teriakan pelayan. Begitu riuh, dan berselera di tengah udara panas Pontianak yang berada di garis khatulistiwa, kendat…

Nasi Goreng Madura di Pontianak

Minyak Srimpi

Pada era 50-an tak banyak produk minyak wangi yang beredar di pasaran, terutama yang harganya terjangkau oleh mereka. Oleh karena itu, minyak pengharum badan itu banyak diproduksi perusahaan-perusahaan kecil guna memenuhi kebutuhan pasar akan pengharum. Oleh karena formulanya sederhana dan memakai bahan-bahan atau bibit minyak wangi yang terjangkau, maka dapat dikatakan hampir semua minyak wangi yang beredar waktu itu baunya nyaris seragam.           Satu merk yang popular pada saat itu, dan ternyata masih eksis hingga sekarang adalah minyak wangi cap Srimpi. Minyak ini dikemas dalam botol kaca kecil berukuran 14,5 ml, dengan cap gambar penari srimpi, berlatar belakang warna kuning.           Pada masa itu minyak Srimpi dipakai oleh pria maupun perempuan klas menengah di daerah-daerah. Baunya ringan, segar, minimalis, belum memakai formula yang canggih-canggih seperti halnya minyak wangi jaman sekarang.            Ketika jaman terus melaju, maka produk-produk minyak wangi yang lebih “…