Ayam Sumatra

Oleh: Adji Subela

Blauwe sumatra's (Ayam gallak) zijn een zeldzame verschijning. Foto: Wanda Zwart
“Siaaaaap!!” teriaknya keras-keras sambil berdiri tegak dan mengangkat telapak tangan kanannya ke pelipis.
Ia tetap berdiri tegap dan berteriak lagi:
“Siap laksanakan perintah Komandan!!”
Tentu saja hampir semua manusia yang berjejal-jejal di pintu masuk Bandara Sultan Syarif Kasim, Pekanbaru, terhenyak, lalu berusaha sekuat-kuatnya untuk menoleh pada pria tua yang bersemangat tinggi ini. Ia baru saja diminta oleh petugas agar memasukkan barang-barangnya ke sebuah kotak besi besar yang menganga di depannya.
Nama: Ruswandi
Tempat, tanggal lahir: Tempatnya jelas, yaitu di salah satu desa di Banyumas, Jawa Tengah sana.
Tanggal lahir? Ini yang tak pernah jelas.
Tapi emaknya selalu bercerita, bahwa ketika terjadi penggempuran benteng Cilacap oleh tentara Dai Nippong, Ruswan – begitu ia selalu dipanggil oleh kawan-kawannya – baru bisa berlari-larian di halaman tempat tinggal neneknya.

Jadi tanggal lahirnya, ya, kira-kira waktu Gunung Merapi meletus pada hari Selasa Kliwon, begitulah selalu yang dikatakannya pada siapa saja yang bertanya tentang tanggal yang memusingkan kepala itu.
Alamat: di suatu jalan di dekat tikungan, di mana di depannya ada tanah telantar luas. Di sana ada gubuk kecil bekas tempat orang beronda. Tanah itu boleh dikatakan sebagai hutan kecil, sungguh lebat. Di sana orang sering menemukan ular sawah, musang, tupai, burung puyuh, burung ketilang, dan masih banyak lagi. Oh ya, di sana ada serta ayam liar. Bukan ayam hutan, tapi benar-benar ayam kampung yang lepas tak berpemilik dan menjadi liar di situ. Jadi mereka ini sudah terbiasa dengan manusia, sehingga tidak takut-takut lagi keluar masuk kampung. Tidak peduli. Orang-orang di kampung itu pun tak peduli dengan ayam-ayam itu.

Pada suatu hari, pohon-pohon di hutan di depan alamat Pak Ruswan ditebangi, semak-semak dipangkasi. Sebuah ruang ekologi kecil telah dipunahkan, hendak diganti dengan bangunan rumah gedung milik seorang pejabat provinsi. Musang-musang berlarian, burung-burung berterbangan ke sana ke mari, sedangkan ayam kampung liar berhamburan ke rumah-rumah di sekitarnya.

Pak Ruswan juga kebagian rejeki. Dia mendapatkan seekor ayam dara berbulu warna abu-abu. Bukan main gembiranya pria itu. Ayam tersebut hendak dipeliharanya baik-baik, dan akan dibawanya pulang ke Banyumas kelak jika sempat cuti.

“Ah, ‘kan ayam kampung di sini sama saja dengan ayam di Jawa sana......,” komentar seorang teman kerjanya.
“Ya, jelas beda kok....,” jawabnya dengan nada bicara yang tertekuk-tekuk, berlipat-lipat, “ayam di sini badannya kecil, bulet, kakinya panjang-panjang. Ayam di kampung saya badannya besar-besar, seperti kotak, kakinya pendek-pendek.”
Ruswan bercita-cita hendak mengawinkan ayam sumatra itu dengan ayam di kampungnya sana agar dapat diternakkan anak cucunya.
“Lebih baik dipanggang saja Pak, di sini, lantas kita makan bersama-sama. Daripada jauh-jauh membawanya, ‘kan? Repot!” Ujar salah seorang teman kerjanya. Ruswan menolak.
“Pokoknya, apa pun wujudnya, biar seekor pun, ini ayam sumatra! Titik!” Bantahnya. Kawan-kawannya segera tahu, manakala Ruswan mengatakan.... “pokoknya”......maka segala persoalan sudah berakhir, debat ditutup dan kemenangan ada di tangannya.
Ketika mendapatkan kesempatan cuti, maka Ruswan menggunakan kesempatan itu untuk memboyong ayam sumatranya ke kampung halamannya.

Persoalan pertama: Bagaimana membawa ayam sumatra itu keluar dari pulaunya menggunakan pesawat terbang? Mudah sekali. Ruswan mencari kotak kosong bekas pembungkus mie instan, dan dengan sedikit ketrampilannya, barang itu lalu berubah fungsi menjadi kontainer pengangkut ayam, seekor! Si ayam pun kini naik gengsinya, yaitu hendak naik pesawat terbang bersama Tuannya dari Pekanbaru hingga Yogyakarta.
Persoalan kedua: Bagaimana meloloskan ayam sumatra istimewa itu melewati permiksaan sekuriti bandara.
Seperti juga para penumpang pesawat lainnya, Ruswan kini mengantre hendak masuk ke ruang check-in. Demikian ia memasuki pintu, ia sudah berhadapan dengan sebuah alat besar seperti kuda nil yang menganga mulutnya. Semua barang bawaan penumpang diharuskan dijejalkan ke dalam perut kotak besi gendut itu. Dengan patuh Ruswan ikut memasukkan barang-barangnya: sebuah koper kecil, sebuah travel bag dan sebuah kotak bekas pembungkus mie instan. Ia lalu berjalan melewati bingkai besi yang akan menjerit-jerit jika orang yang melewatinya sedang mengantungi kunci atau barang-barang logam lainnya.

Hari itu petugas kotak ajaib mendapatkan kejutan yang tak kalah-kalah anehnya. Terlihat olehnya di layar monitor sebuah kotak yang berisi tulang-belulang sesuatu binatang yang berkaki dua, bersayap dan berparuh. Pada pikirnya, ini tentu tulang burung purba seperti yang pernah ia lihat di programa televisi bertajuk Discovery . “Tentu ini usaha penyelundupan fosil binatang purba dari Sumatra, pasti oleh sindikat internasional,” pikir seorang petugas Satpam yang mengoperasikan alat pembantu keamanan itu.
Belum lagi ia hendak beranjak, tiba-tiba ia melihat pemandangan yang mengejutkan di layar pantau. Tulang-belulang itu bergerak-gerak! Mengibas-ngibaskan sayapnya seperti ayam yang kepanasan, lalu berhenti karena mesin itu harus menghentikan gerakan barang agar isinya bisa diamat-amati petugas keamanan. Jelas, itu tulang belulang binatang purba yang sedang mengibaskan sayapnya! Apa mungkin fosil purba bisa menari-nari seperti itu?

Lewat handie-talkie-nya, ia segera menyuruh kawannya memeriksa kotak misterius itu.
“Ini kotak siapa?” Tanya seorang anggota Satpam.
“Siap! Saya!” Teriak Ruswan lagi tanpa mengurangi volume suaranya. Lagi, para calon penumpang terkejut dibuatnya.
“Pak, Bapak tak boleh sembarangan membawa ayam hutan, harus ada ijin dari Dinas Kehutanan,” kata si Satpam.
“Bukan, ini bukan ayam hutan, ayam kampung biasa, kok!” Jawab Kuswan.
“Benar begitu, Pak? Apa mungkin Bapak susah-payah bawa ayam kampung ke Jawa?”
“Iya ini lho, niiiiiiiih ayam biasa ‘kan?” Jawab Ruswan sembari menarik paruh ayam sumatranya ke luar kotak. Ayam itu terkejut, meronta-ronta kelabakan di dalam kotak sembari berkeok-keok tak berketentuan. Mungkin ia mengira akan dipotong lehernya.

“Sudahlah, sudahlah, itu urusan bagian dalam nanti,” ujar seseorang, mungkin komandan Satpam.
Di bagian check-in, terjadi ketegangan lagi. Ruswan tetap bersikukuh untuk membawa ayamnya ke kabin penumpang dan menolak memasukkan kotak ayamnya ke bagasi. Ayam sumatra yang istimewa itu tentu akan mati tergencet barang-barang, atau juga mampus kedinginan di dalam ruang bagasi pesawat. Kalau di kabin penumpang, dingin AC tak akan membahayakannya, karena toh manusia saja bisa bertahan di situ, demikian jalan pikiran Ruswan.

Kalau saja petugas tidak melihat betapa padatnya antrean di belakang Ruswan, tentu ia akan mati-matian berdebat dengan teman kita ini. Ia akhirnya meluluskan permintaan pria Banyumas itu, dengan harapan biarkanlah persoalan diatasi oleh awak kabin nantinya.

Harapannya terwujud juga. Awak kabin perusahaan penerbangan itu berusaha mati-matian menolak kotak Ruswan untuk ikut dibawa masuk ke kabin penumpang. Ruswan tetap nekat.
“Pokoknya kotak ini harus masuk di sini sama-sama saya. Kalau enggak boleh, saya protes keras!” gertak Ruswan. Akhirnya purser perusahaan penerbangan itupun membolehkan Ruswan masuk membawa kotak ajaibnya. Sebuah kemenangan bagi perantau dari Banyumas itu. Dan tentu juga ayam sumatranya pantas berbangga mempunyai Tuan yang melindungi dan mengangkat derajatnya sedemikian rupa. Petugas yang masih muda dan gagah itu berpikir, orang keras kepala ini nanti akan terkena batunya dengan penumpang lainnya di dalam kabin. Benar juga.

“Pak jangan ditaruh dibawah lah kotak itu, sempit ‘kan, rosak pemandangan,” kata penumpang yang duduk di samping Ruswan. Kotak itu sebenarnya cukup kecil jika ditaruh di dalam kotak bagasi di atas tempat duduk penumpang, tapi yang empunya khawatir isinya akan mati lemas sesampainya di Jakarta nanti. Jadi diletakkannya di ruang di depannya yang sempit. Kakinya pun ternyata tak punya cukup ruangan. Lalu ia pindahkan ke gang. Seorang pramugari tergopoh-gopoh datang untuk membawa pergi kotak ajaib itu.

“Lho, lho, lho mau dibawa ke mana kotak saya?” tanya Ruswan.
“Pak, kalau di taruh di gang, nanti mengganggu penumpang lain serta merepotkan pelayanan kami,” begitu pramugari yang berkulit hitam manis itu menjelaskannya dengan cara yang sama-sama manisnya.
“Tapi itu ayam sumatra saya, nanti kalau mati, situ mau tanggungjawab?” ancam Ruswan. Ribut-ribut itu membuat purser menghampiri mereka, lalu menawarkan pilihan yang adil.
“Begini saja Pak, bagaimana kalau Bapak pindah ke kursi di bagian belakang, kebetulan agak longgar, Bapak bisa bawa kotaknya sekalian,” katanya dengan lembut. Usul itu diterima Ruswan dengan gembira..............

Lelaki itu kini boleh lega hatinya. Di sepanjang penerbangan ke Cengkareng, ia melamun. Alangkah beruntung nasib dirinya itu. Ia merantau meninggalkan desanya untuk bekerja sebagai tukang batu di Pekanbaru. Kota itu kini sedang gila membangun ruko di mana-mana. Demikian banyaknya ruko yang dibangun itu sehingga orang tak mampu mengisinya. Lalu seorang tokoh menyindir, keadaan kota Pekanbaru itu sebagai Kota Seribu Ruko. Pada tahun 1995 Ruswan berkunjung ke ibukota Riau itu untuk menemui seorang kerabatnya. Di sisi selatan kota, suasananya masih rimbun, rawa-rawa ada di mana-mana dan bermacam-macam satwa ada di sana. Kini, otonomi daerah membikin provinsi itu kejatuhan rejeki yang banyak dan Pekanbaru telah berbedak berpupur diri. Hutan-hutan di pinggiran kota telah berubah wujud menjadi deretan ruko kosong.

Di Pasar Bawah yang dulu indah dengan bangunan lamanya, kini sudah mempercantik diri dengan gedung-gedung megah, penuh tokoh-toko bertingkat seperti di Jakarta. Pekanbaru menjadi megah, tapi tanpa wajah. Ia sama saja dengan kota-kota lainnya.

Tetapi kehidupan masih saja tetap sulit buat penduduk tempatan. Gedung-gedung memang banyak, mobil-mobil semakin indah, tapi kampung-kampung kumuh masih tetap saja tegak tegar berdiri. Kampung itu tak tahu harus berbuat apa, karena pejabat-pejabat tak pernah bertegur sapa. Kalau kemudian diperbaiki, paling hanya jalan-jalan serta rumah-rumah di bagian depannya.

Gedung-gedung memang tinggi, tapi hanya buat investor, kata orang-orang pintar. Nantinya, jika roda ekonomi lancar diputar oleh para penanam modal itu, maka pada gilirannya rakyat mengenyam kemakmuran pula. Kemakmuran yang menetes kecil-kecil dari atas, melayang di udara lalu lenyap entah ke mana. Lalu pembangunan spektatuler itu mendatangkan kejayaan pada seorang dua orang yang lantas kabur entah ke mana bila waktunya dianggap tiba. Siapa peduli nasib orang-orang terbuang? Tapi yang jelas mesin ekonomi menggemuruh terus dan laporan pembangunan baik-baik selalu.

Gemuruh uang itu membuat kota menjadi ramai dan orang membangun gedung indah-indah. Ketika hendak membangun ruko dahulu, induk semangnya berpantun:
Tegak rumah di tanah dusun
Atau berdiri di bekas purun
Rezki datang turun-temurun
Hidup selamat sepanjang tahun
Ruswan lantas jatuh tertidur..............

********
Perjalanan darat dari Yogyakarta ke Banyumas menjadi titik balik yang menyedihkan. Cuma satu setengah jam mereka mengalami kemewahan naik pesawat terbang, dan kini Tuan dan ayam sumatranya naik angkutan yang ortodoks: bus rombeng. Berjam-jam mereka berdua, Tuan dan ayam sumatranya, terguncang-guncang terantuk-antuk. Perjalanan selama tiga setengah jam yang panas-pengap membuat Ruswan kelelahan, dan tertidur hampir selama itu. Jawa telah penuh oleh manusia-manusia, penuh bangunan dan sarat persoalan.

Alangkah melelahkannya perjalanan ke kampung halaman Ruswan ini. Akhirnya, di terminal bus, dia disambut bagaikan seorang pahlawan perang yang pulang dari medan laga. Tuan dengan ayam sumatranya.
“Ini, kubawakan kalian ayam sumatra. Kalian pelihara baik-baik,” katanya kepada anak-anaknya setibanya di rumah.
“Mana ayamnya, Pak?” Tanya si bungsu.
“Itu di dalam kotak,” jawab Ruswan.
“Yaaa........ ayamnya kok begini bentuknya Pak!”
“Iya itulah keistimewaannya ayam sumatra!”
“Bukan begitu, bentuk ayamnya aneh.”
“Memang, maka dari itu Bapak bawa ia pulang.”
“Alaaa, bentuknya tak jauh berbeda dengan ayam di sini, kok, cuma kok enggak bergerak-gerak?”
“Ah, apa iya?”
“Iya, lihat saja sendiri, nih,” tutur anaknya.
Betul juga. Ketika Ruswan mengintip ke dalam kotak ajaibnya, ayam itu sudah terkulai tanpa napas lagi. Kini ia sudah bukan ayam sumatra lagi, tapi seonggok bangkai ayam yang terkapar melingkar hendak membusuk.
“Ostogfirulohngalajim.....aduh Gusti Allaaaaah minta ampuuuuuun.......”

Duri, Riau, 2003

Ayam Sumatra

Ayam Sumatra ditulis oleh
10/10 based on 10 ratings from 10 reviewers
Ayo berkomentar dengan baik!
Komentar menggunakan sistem moderasi. Gunakan nama asli / alias untuk berkomentar, bukan judul post atau nama produk. Komentar dengan link mengarah ke post / produk mungkin tidak akan ditampilkan. Berkomentarlah dengan bahasa yang sopan, terima kasih.

1 komentar:

  1. To Wanda Zwart - thank's for putting your cute photo on my short story. Surely the 'ayam sumatra' is quite different with the ones in Java. More beautiful if I can say.

    BalasHapus