Langsung ke konten utama

"Politisi = Pelacur" kata Cawagub California, AS









Kiri: Norma Jean Almodovar Kanan: dari kiri Gloria Lockheed, Norma Jean. Di latar belakang nampak poster kampanye Norma sbg Calon Wagub California, AS.

Kongres Pelacur se Dunia (Bagian 5)
- “Siapa yang dapat dibayar dengan uang dan mau berbuat apa saja itu pelacuran,” kata Calon Wagub California, AS, PSK tingkat tinggi dan mantan Polwan
(Hanya untuk orang dewasa)
Oleh Adji Subela

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya kehadiran Norma Jean Almodovar kurang menarik perhatian. Ini karena ia berbeda dengan peserta Kongres lainnya. sikap, tindak-tanduknya, correct, dan anggun. Nampaknya inilah cara dia bersikap sebagai seorang calon Wagub California.
Tapi nampaknya bukan itu saja. Norma Jean Almodovar wajar memiliki tingkah laku seperti itu, sebab ia mengaku sendiri sebagai pelacur tingkat tinggi untuk Negara Bagian California. Bahkan ia pun sering melayani para pengusaha, politisi dari Washington pula. Sejam kencan ia menempel tarif 500 dolar AS waktu itu. Tentu saja itu jumlah yang aduhai. Kita hitung saja, seminggu dia bekerja lima hari persis seperti jam-jam kantor, dan tiap hari sekali saja “bekerja” maka setiap pekan dia mengantongi 2500 dolar AS. Lha, kalau dia bekerja dua jam sehari, maka hasilnya memang wah bahkan untuk ukuran AS sekali pun.
“Siapa saja klien Anda itu,” tanya saya.

“Banyak, dari para politisi, birokrat, pengusaha...ya begitulah,” jawabnya.
“Bisa Anda sebut siapa klien kakap Anda?”
“Maaf, saya tak bisa menyebutkan nama klien saya. Itu melanggar etika,” jawabnya.
“Maafkan pertanyaan saya.”
“Enggak apa-apa.”
Wah, luar biasa.
Mantan Polwan
Soal gayanya yang correct itu, Norma menjelaskan karena ia pernah bekerja sebagai seorang anggota Polisi Wanita (Polwan) di California selama 10 tahun. Cukup lama masa tugasnya.
Selama itu ia tak tahan melihat penderitaan para pelacur jalanan. Mereka sering digaruk dari jalanan, diancam untuk dihukum, diperas atau diperkosa polisi sendiri.
“Menjadi pelacur jalanan tidak mudah, nasibnya mengenaskan,” jelasnya. Entah kenapa tiba-tia saja Norma Jean Almodovar justru ingin menjadi pelacur, sebab banyak menghasilkan uang. Tentu saja harus pelacur tingkat tinggi, supaya harganya mahal. Dan sebagai mantan Polwan, modalnya cukup baik, selain sikapnya yang ramah, humoris, dan berwajah cantik.
Tahun 1982 ia memutuskan keluar dari dinas kepolisian dan beristirahat sebentar. Kemudian dia memutuskan diri menjadi pelacur.
Pertama-tama, tuturnya kepada saya, ia menghubungi germo tingkat tinggi yang tentu saja sudah sangat ia kenal. Ia minta dirinya “dipasarkan”. Si germo kaget, mengira itu usaha pancingan. Norma meyakinkan ia sudah mundur dari kepolisian California. Setelah dua tiga kali mendapat klien bisnis dari si germo, ia sudah mampu menjalankan bisnisnya sendiri.
“Apakah Anda pernah menikah?” tanya saya penasaran.
“Saya menikah, punya suami sah,” jawabannya yang membikin saya hampir terlompat dari tempat duduk.
“Betulkah?”
“Betul, ini lihat suami saya,” ujarnya sambil mengeluarkan dompet dan menunjukkan suaminya. Pria ini sudah tua, berkumis dan berjanggut putih, mirip Colonel Sanders. Ia seorang pengusaha swasta. Mereka berdua berpose sangat mesra.
“Suamimu tahu apa pekerjaanmu?” tanya saya penasaran.
“Oh, tentu saja.”
“Tak ada masalah dengannya?”
“Tidak, memangnya kenapa? Dia orang yang manis, baik budi dan intelektual,” jawab Norma. Selisih umurnya dengan sang suami 30 tahun. Usianya sendiri waktu itu 32 tahun.
Selanjutnya ia bercerita bahwa dia datang dari keluarga besar berdarah Italia. Ia tertua dari sepuluh bersaudara. Dengan profesinya itu ia menjadi kepala keluarga bagi adik-adiknya. Kini mereka sebagian besar sudah mandiri.
Semula keluarganya, terutama orang tuanya, keberatan dengan profesi baru Norma. Tapi ia meyakinkan bahwa itu pilihannya sendiri dan dia akan bertanggung jawab penuh untuk itu.
“Tak terpikir punya anak?” tanya saya.
“Buat apa? Adik-adik saya itu sudah seperti anak-anak saya sendiri,” jawabnya sambil ketawa.
“Siapa klien Anda pertama?”
“Ia seorang pria yang sangat baik hati. Sampai sekarang saya tak pernah lupa padanya, dan beberapa kali saya melayaninya.”
Pada hari kedua pertemuan kami, Norma membawa bahan-bahan kampanyenya lebih banyak lagi. Teman saya wartawan Le Provencal, Marseille, semula cuek-cuek saja. Lalu dia bertanya siapa perempuan mungil itu. Saya jawab dalam Bahasa Prancis Tarzania, bahwa dia kandidat Wagub California saat itu. Mata teman saya itu terbelalak, lalu berniat nimbrung tapi Bahasa Inggris dia lebih parah ketimbang saya.
Tiba-tiba lima orang wartawan asal Turki yang saya temui kemarin bergabung, dan ramai-ramai minta berfoto dengan Norma. Saya yang menjadi juru potret mereka, dan Norma melayaninya dengan senang hati.
Definisi pelacur menurut Norma Jean Almodovar
Pada pertemuan kali itu saya bertanya padanya, “Norma, menurut Anda apa sih definisi pelacur itu?”
Ia agak kaget. “Saya lihat dari sekian wartawan, hanya Anda yang serius seperti itu? Anda perlu jawaban serius atau tidak?”
“Dua-duanya.”
“Baik kalau begitu saya kasih definisi seriusnya,” jawab Norma.
Menurut mantan Polwan itu, pelacuran adalah suatu upaya bagaimana menggunakan daya tarik fisik maupun non-fisik untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. “Jika Anda mau diajak keluar untuk makan malam atau untuk minum-minum dengan lawan jenis, padahal Anda tidak suka melakukannya dengannya, itu pelacuran namanya.”
“Apa hubungan antara pelacur dan politisi menurut Anda?” tanya saya. Norma terbeliak, “Ada-ada saja Anda ini.”
Tapi ia toh menjelaskan, bahwa antara politisi dan pelacur itu punya kesamaan, yaitu mereka bekerja untuk mendatangkan uang, walaupun tidak suka.
Norma mengatakan, beberapa kali ia menyaksikan di California, sejumlah pengusaha punya banyak kenalan politisi lalu mereka menyodorkan pelacur agar mendapatkan bisnisnya.
“Kenapa Anda memberanikan diri menjadi calon Wagub? Apa modal Anda?”
“Tentu saja. Satu-satunya keahlian untuk jadi politisi itu cuma berbohong dan dan berbuat kepalsuan belaka. Selama menjadi pelacur saya melakukan itu. Jadi kalau nanti saya menjadi Wagub benar-benar maka saya berhenti menajdi pelacur untuk menjadi pelacur yang lain, yaitu politisi,” ujarnya.
“Siapa yang dapat dibayar dengan uang dan mau berbuat apa saja itu pelacuran,” ujar Norma Jean.
Oh, pembaca yang bijaksana, sesak nafas saya. Pada waktu itu pun definisi Norma Jean dapat cocok dan berlaku di negeri tercinta kita.
Kini, setelah 25 tahun berlalu, definisi politisi dan pelacur itu – terutama dikaitkan dalam konteks politik tanah air – sangatlah relevan sekaligus mendapatkan penegasan!
Surwai Lembaga Survai Indonesia LSI bulan Oktober, cuma 37% responden yang percaya politisi kita baik...sisanya? Ya pasti tak percaya
........bersambung .......

Komentar

  1. orang2 yang ngaku intelektual itu jadi pelacur buat apa, beh? cari duit doang? bisa gak dijelasin sebabnya mereka jad pelacur? kalo di sini kan katanya karena butuh duit, ada juga yang udah telanjur "gak suci". kalo mereka gimana?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Minyak Srimpi

          Pada era 50-an tak banyak produk minyak wangi yang beredar di pasaran, terutama yang harganya terjangkau oleh mereka. Oleh karena itu, minyak pengharum badan itu banyak diproduksi perusahaan-perusahaan kecil guna memenuhi kebutuhan pasar akan pengharum. Oleh karena formulanya sederhana dan memakai bahan-bahan atau bibit minyak wangi yang terjangkau, maka dapat dikatakan hampir semua minyak wangi yang beredar waktu itu baunya nyaris seragam.           Satu merk yang popular pada saat itu, dan ternyata masih eksis hingga sekarang adalah minyak wangi cap Srimpi. Minyak ini dikemas dalam botol kaca kecil berukuran 14,5 ml, dengan cap gambar penari srimpi, berlatar belakang warna kuning.           Pada masa itu minyak Srimpi dipakai oleh pria maupun perempuan klas menengah di daerah-daerah. Baunya ringan, segar, minimalis, belum memakai formula yang canggih-canggih seperti halnya minyak wangi jaman sekarang.            Ketika jaman terus melaju, maka produk-produk

Nasi Goreng Madura di Pontianak

                Kurang dari dua tahun lalu, Imansyah bersama istrinya Siti Hamidah dan dua anaknya merantau ke Pontianak, Kalbar, dari kampung halamannya di Bangkalan, Madura. Di kota muara Sungai Kapuas ini mereka tinggal di rumah seorang kerabatnya yang mengusahakan rumah makan nasi goreng (Nas-Gor) di Sui Jawi. Pasangan ini belajar memasak nasi goreng khas Madura. Akhirnya setelah memahami segala seluk-beluk memasak nasi goreng, ditambah pengalamannya berdagang di kampungnya dulu, Imansyah dan istrinya membuka rumah makan nasi gorengnya sendiri, diberi nama Rumah Makan Siti Pariha di Jalan S. A. Rahman.   Di sini mereka mempekerjakan dua orang gadis kerabatnya guna melayani langganannya. RM Siti Pariha menarik pembelinya dengan mencantumkan kalimat: Cabang Sui Jawi. Rumah makan yang terletak berderet dengan rumah makan khas masakan Melayu serta sate ayam Jawa ini buka dari pukul 16.00 petang hingga pukul 23.00 atau hingga dagangannya ludes. Setiap hari RM Siti Par

Pak RT ogah lagu Barat

                          Sudah lama Pak RT yang di serial Bajaj Bajuri selalu berpenampilan serba rapi, rada genit dan sedikit munafik tapi takut istri ini tak nampak dari layar kaca TV nasional. Sejak serial Bajaj Bajuri yang ditayangkan TransTV berhenti tayang, Pak RT yang bernama asli H. Sudarmin Iswantoro ini tidak muncul dalam serial panjang. Walaupun begitu ia masih sering nongol di layar kaca dengan peran yang nyaris tetap yaitu Ketua RT, Ketua RW, guru atau ustadz.             Di luar perannya sebagai Pak RT tempat si Bajuri (Mat Solar), dengan istrinya si Oneng (Rike Diah Pitaloka)   dan mertuanya yang judes plus licik (Hj. Nani Wijaya) berdomisili, H. Darmin (panggilannya sehari-hari yang resmi sedangkan merk-nya yang lain tentu saja “Pak RT”) adalah pria yang berpembawaan santun dan halus.             Barangkali pembawaannya itu dilatarbelakangi oleh pendidikannya sebagai seorang guru. Mengajar merupakan cita-citanya sejak kecil. Sebagai anak kelima