Langsung ke konten utama

Kobar Asmara di Taman Fatahillah


Oleh Adji Subela *)
Langit lembayung menangkupi Taman Fatahillah, Jakarta Kota, pertanda hari segera berakhir. Lampu-lampu kota mulai menyala, menghidupi malam wilayah yang sudah ratusan tahun menatah sejarah Jakarta. Taman itu kini memulai hidupnya yang baru setelah diteriki sinar matahari sehari suntuk.
Kerlap-kerlip lampu pedagang gelaran di halaman Gedung Museum Sejarah Jakarta itu seakan puluhan ekor kunang-kunang menebar menghisap sari malam untuk menghidupkan rindunya pada pasangan masing-masing.
Dan kemudian, sepasang demi sepasang muda-mudi mencecap arwah Taman Fatahillah untuk kemudian merasukkannya ke dalam sanubari mereka agar terpatri dalam hati dan menjadi tanda-mata paduan asmara dari tanah lapang yang penuh romantika sejarah.
Di lapangan Taman Fatahillah ini pernah terjadi kisah romantik yang menyayat hati antara seorang putri pejabat VOC (Kumpeni) dengan seorang prajurit muda. Gelora asmara mereka memakan tumbal kepala si prajurit dan penyiksaan si gadis di lapangan di depan gedung Museum Sejarah Jakarta yang dulu berupa Balaikota atau Stadhuis.
Putri kasmaran yang malang itu bernama Sarah Specx, seorang peranakan Belanda-Jepang. Ayahnya adalah Jacques Specx, anggota Dewan Hindia (semacam DPR RI sekarang). Ketika sang ayah kembali ke Nederland untuk suatu tugas, Sarah yang baru berusia 13 tahun dititipkan pada keluarga Jan Pieterzoon Coen yang kesohor itu, tinggal di Gedung Stadhuis. Rupanya Sarah menjalin hubungan asmara dengan seorang prajurit muda Pieter J. Cortenhoff. Gadis kencur itu sering memasukkan Pieter ke gedung dengan cara menyogok penjaganya.
Tiap malam mereka memadu kasih sampai skandalnya bocor ke telinga J.P. Coen. Jelas sekali sang Guberur Jenderal si pendiri kota Batavia di tanah Sunda itu naik pitam dan minta keduanya dipenggal kepalanya. Dengan susah payah anggota Raad van Indie (Dewan Pengadilan Hindia) meyakinkan Coen supaya hukuman diperingan dan harus lewat pengadilan. Hasilnya tetap sama bagi Pieter. Dia dipenggal kepalanya di halaman Balaikota yang sekaang menjadi Taman Fatahillah. Gadis kencur yang celaka itu dihukum cambuk 50 kali dengan badan setengah telanjang di tempat yang sama.
Mendengar nasib putri dari gundiknya tersebut Jacques Specx marah besar. Untungnya, dia tiba di Batavia dua hari setelah J.P. Coen mati kena kolera tahun 1629. Specx diangkat sebagai Gubernur Jenderal menggantikan Coen hingga tahun 1632. Sebagai balasan ia melarang tiga hakim agar tidak ikut kebaktian di Balaikota dan mengasingkan pendetanya. Sarah akhirnya menikah dengan Georg Candidus, pendeta yang berani menentang kebobrokan moral pejabat VOC. Sarah disebutkan meninggal di Taiwan tahun 1635 sebagai perempuan terhormat (lih. Historical Sites of Jakarta, Adolf Heuken, SJ).
Sejarah kelam itu kini terhapus oleh masa serta hampir tak dikenang orang. Gedung Museum Sejarah Jakarta dan Taman Fatahillah selama ratusan tahun.
Tahun 1969 seorang disainer keramik Amerika Serikat berdarah Italia, Sergio Dello Strologo, bersama kawannya, Adji Damais, seniman jebolan Sekolah Tinggi Seni Paris, Prancis, mengajukan ide pemugaran gedung Stadhuis yang kala itu dipakai sebagai kantor Komando Distrik Militer 0503 Jakarta Barat kepada Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Gubernur Ali Sadikin menerima usul itu dengan cepat dan minta proyek segera dilaksanakan: “Okay, you must begin this project tomorrow (Oke, kamu harus memulai proyek ini besok). Lalu gedung dan pelatarannya yang semula sumpek centang-perenang – karena pelatarannya dipakai sebagai terminal angkutan umum, serta sejumlah gegund kuno di sekitarnya, berubah total menjadi seperti sekarang ini dalam tempo empat tahun!
*) Penulis salah seorang pencinta Jakarta Lama

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ikan Bakar Mak Etek Pontianak

Warung ikan bakar Mak Etek (Si Paman kecil) di Pasar Menara, di tengah Kota Pontianak, Kalbar, ini sederhana saja. Tempatnya di tengah los-los pasar seperti yang lain. Tapi ketika kita mendekati warung milik Mak Etek yang nama aslinya Bagindo Alizar (82 tahun) ini, maka indera pertama yang terangsang adalah bau harum ikan bakar yang dijamin menggugah selera makan. Kemudian indra penglihatan segera menangkap kepulan asap tebal dari proses pembakaran ikan yang dikerjakan di samping warung itu. Warung berukuran empat kali sepuluh meter ini dipenuhi delapan meja plastik bundar, dengan masing-masing empat kursi. Hampir setiap saat meja-meja itu dipenuhi pelanggan yang begitu nikmat menyantap ikan bakar, ikan gulai, gulai petai, taoge rebus, daun ubi kayu. Suasana di warung ikan bakar Mak Etek bertambah khas dengan teriakan pelanggan yang meminta tambah nasi atau ikan, serta teriakan pelayan. Begitu riuh, dan berselera di tengah udara panas Pontianak yang berada di garis khatulistiwa, kendat…

Nasi Goreng Madura di Pontianak

Minyak Srimpi

Pada era 50-an tak banyak produk minyak wangi yang beredar di pasaran, terutama yang harganya terjangkau oleh mereka. Oleh karena itu, minyak pengharum badan itu banyak diproduksi perusahaan-perusahaan kecil guna memenuhi kebutuhan pasar akan pengharum. Oleh karena formulanya sederhana dan memakai bahan-bahan atau bibit minyak wangi yang terjangkau, maka dapat dikatakan hampir semua minyak wangi yang beredar waktu itu baunya nyaris seragam.           Satu merk yang popular pada saat itu, dan ternyata masih eksis hingga sekarang adalah minyak wangi cap Srimpi. Minyak ini dikemas dalam botol kaca kecil berukuran 14,5 ml, dengan cap gambar penari srimpi, berlatar belakang warna kuning.           Pada masa itu minyak Srimpi dipakai oleh pria maupun perempuan klas menengah di daerah-daerah. Baunya ringan, segar, minimalis, belum memakai formula yang canggih-canggih seperti halnya minyak wangi jaman sekarang.            Ketika jaman terus melaju, maka produk-produk minyak wangi yang lebih “…