Langsung ke konten utama

Mitos-mitos Pria yang Ternyata Salah

Seorang PSK berdialog dengan Satpam gedung Parlemen Eropa.
Kongres Pelacur se Dunia (Bagian 8)

(Benar-benar hanya untuk orang dewasa)
Oleh Adji Subela
      Pada pernyataan akhir Kongres Pelacur se Dunia II 1986 di Brusels, Belgia, itu, ICPR menyesalkan gerakan perempuan di hampir semua negara belum atau tidak pernah menyertakan pelacur sebagaiorang yang dapat dimintai pendapat dan diberi kesempatan untuk berbicara. Sampai saat ini (1986) ICPR melihat gerakan-gerakan perempuan menentang institusi pelacuran, sementara mereka mendukung perempuan pelacur. Sungguh diperlukan keluasan wawasan untuk dapat memahami, apalagi menyetujui pendapat seperti itu.
     Hal itu menurut ICPR karena gerakan perempuan tidak mau menerima pelacuran sebagai perempuan pekerja resmi dan selalu menekan pelacur untuk meninggalkan profesinya itu. Pelacur adalah obyek penindasan. Sekali lagi diperlukan kedewasaan untuk dapat mengerti isi tuntutan tersebut. Bagi kita, orang Indonesia yang memiliki sifat “adiluhung”, mulia, berketuhanan, memiliki tingkat budaya luhur/tinggi, berpancasila, maka tuntutan tersebut dapat saya katakan di luar akal. Masyarakat Indonesia menganggap pelacuran suatu perbuatan dosa yang dilarang agama, dan mengotori peradaban. Namun demikian lainprinsip lain praktiknya. Menurut penelitian Organisasi Buruh Internasional, ILO, sektor pelacuran memiliki putaran ekonomi yang besar (baca di seri berikutnya). (baca selengkapnya karena ada rahasia pria yang terungkap)


     Akan tetapi dari semua pernyataan yang menurut kita barangkali mengagetkan itu, terselip pula keprihatinan ICPR terhadap women trafficking, penyelundupan perempuan antarnegara untuk dipekerjakan sebagai pelacur. Mereka umumnya korban penipuan, pemaksaan dengan segala cara keji. Para korban women trafficking haruslah dianggap korban yang harus diberi bantuan kalau perlu diberi status pengungsi dan dikembalikan ke negara asalnya. Pembaca sekalian, itulah apa yang dapat saya laporkan dari Kongres Pelacur se Dunia II di Bruseel, Belgia, tahun 1986 lalu. Isinya, tentu saja saya serahkan kepada masing-masing pribadi pembaca sekalian yang budiman.
     Bagaimana di Indonesia?
     Apa yang saya lihat dan saya dengar di Brussels itu cukup mengusik hati pribadi saya sendiri. Di negeri Barat, saya kira, orang menjadi pelacur karena ingin mendapatkan uang lebih dari apa yang hasilkan waktu itu. Di negeri berkembang, seperti yang dapat pembaca sekalian ikuti, menjadi pelacur bukan pilihan, tapi pemaksaan atau keterpaksaan. Pemaksaan dari pihak lain dengan cara halus maupun kasar. Sedangkan keterpaksaan terjadi karena tekanan ekonomi dan kultural yang mencengkeramnya. Apakah orang perempuan Indonesia yang menjadi pelacur dan ‘pelacur’ saat ini ikut-ikut paham orang-orang perempuan dari Barat, silakan pembaca menelitinya. Saya sendiri sudah lama tidak pernah mengadakan penelitian mengenai masalah itu.
     Akan tetapi saya ingat pernah menjadi pewawancara dalam sebuah penelitian mengenai WTS, istilah yang populer saat itu. Dari PSK itu saya mendapatkan “petuah” berharga yang menghancurkan seluruh kepercayaan atau “mitos” yang banyak diyakini pria. Seluruh pertanyaan yang diajukan saya sudah lupa, tapi masih tersisa beberapa point yang bagi saya menarik untuk disimak, terutama bagi pria yang menyukai datang ke “supermarket” (lokalisasi).
     Responden adalah seorang perempuan muda berusia 21 tahun asal Blitar, Jatim. Wajahnya biasa-biasa saja. Saya utarakan maksud penelitian ini, jadi saya minta jawaban-jawaban yang jujur. Untuk itu saya harus membayar kompensasi atas waktu yang dipakai untuk interview. Di bawah ini hanya saya tuliskan beberapa saja hasil-hasil atau jawaban atas kuesioner yang saya ajukan.

  • Responden mengatakan dia sudah berpraktik sebagai WTS selama kurang lebih 2 (dua) tahun
  • Ia menganggap kegiatannya itu sebagai “pekerjaan” dan akan meninggalkannya bila ada pilihan pekerjaan lain yang lebih baik (konon beberapa penelitian menunjukkan, mereka yang terpaksa menjadi WTS umumnya hanya bertahan dua hingga tiga tahun dan berpindah pekerjaan).
  • Memasuki dunia pelacuran atas desakan ekonomi dan atas ajakan temannya yang telah lebih dahulu terjun ke bidang ini. 
  • Tetap memiliki rasa malu terhadap “pekerjaan” ini. 
  • Tetap menganggap pelacuran sebagai pekerjaan berdosa, tapi ia tak punya pilihan lain, sampai ada jalan keluar (“Orang korupsi ‘kan juga berdosa Pak? Tapi tetap aja ada yang melakukannya ‘kan?” inilah tambahan keterangan yang betul-betul saya ingat hingga kini).
  • Pembagian hasil dengan germo longgar, tergantung kesepakatan mereka masing-masing. Umumnya bila bisnisnya sepi ia harus berutang tempat maupun makan pada induk semangnya. Di sini mereka sulit pergi bila masih memiliki utang-utang.

     (Ketika saya mendapatkan kontrak pekerjaan di Riau tahun 2003, saya memiliki seorang teman pria yang kemudian jatuh cinta pada seorang WTS di daerah Teleju, Pekanbaru, lalu menikah. Dia harus membayar utang-utang kekasihnya itu, dan dipenuhinya. Hingga sekarang mereka hidup bahagia dengan seorang anak yang sehat dan lucu, dan terbukti si istri sangat setia karena menganggap kegiatannya dulu hanya “pekerjaan” sementara. Sungguh, saya menganggap si teman ini memiliki kepribadian lembut, sangat baik hati, dan mulia. Semoga mereka dikarunia berkah Allah SWT, diampuni dosanya di masa lalu, dikaruniai rejeki berlimpah dan tetap bersatu hingga akhir hayat mereka. Amien, amien ya robbal alamien)
     • Di luar pertanyaan resmi saya pun “nakal” untuk mengajukan beberapa pertanyaan pribadi karena penasaran terhadap beberapa kepercayaan yang dianut kaum pria, misalnya: • Seberapa kuat Anda melayani pria setiap malamnya? Jawab: Pak, di sini ini ‘kan cuma berlaku hukum dagang. Saya sekedar berjualan, pura-pura, dan mengikuti selera pelanggan. Jadi apa yang terjadi di lokalisasi semacam ini kebohongan semua.
     • Apakah benar ukuran alat vital mempengaruhi kepuasan perempuan? Jawab: Tidak Pak. Umumnya kepuasan terjadi bila si perempuan itu menaksir si pria, jadi bukan karena ukurannya itu. Banyak di antara kami yang justru geli dan sangat terpaksa melayaninya, jadi terpaksa karena dagang itu tadi. ................BERSAMBUNG................
(seri mendatang adalah yang terakhir dari rangkaian artikel Konges Pelacur se Dunia ini, MERUPAKAN INTI SARI dari apa yang pernah anda baca sebelumnhya. Jadi jangan lewatkan untuk membacanya pekan depan)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ikan Bakar Mak Etek Pontianak

Warung ikan bakar Mak Etek (Si Paman kecil) di Pasar Menara, di tengah Kota Pontianak, Kalbar, ini sederhana saja. Tempatnya di tengah los-los pasar seperti yang lain. Tapi ketika kita mendekati warung milik Mak Etek yang nama aslinya Bagindo Alizar (82 tahun) ini, maka indera pertama yang terangsang adalah bau harum ikan bakar yang dijamin menggugah selera makan. Kemudian indra penglihatan segera menangkap kepulan asap tebal dari proses pembakaran ikan yang dikerjakan di samping warung itu. Warung berukuran empat kali sepuluh meter ini dipenuhi delapan meja plastik bundar, dengan masing-masing empat kursi. Hampir setiap saat meja-meja itu dipenuhi pelanggan yang begitu nikmat menyantap ikan bakar, ikan gulai, gulai petai, taoge rebus, daun ubi kayu. Suasana di warung ikan bakar Mak Etek bertambah khas dengan teriakan pelanggan yang meminta tambah nasi atau ikan, serta teriakan pelayan. Begitu riuh, dan berselera di tengah udara panas Pontianak yang berada di garis khatulistiwa, kendat…

Nasi Goreng Madura di Pontianak

Minyak Srimpi

Pada era 50-an tak banyak produk minyak wangi yang beredar di pasaran, terutama yang harganya terjangkau oleh mereka. Oleh karena itu, minyak pengharum badan itu banyak diproduksi perusahaan-perusahaan kecil guna memenuhi kebutuhan pasar akan pengharum. Oleh karena formulanya sederhana dan memakai bahan-bahan atau bibit minyak wangi yang terjangkau, maka dapat dikatakan hampir semua minyak wangi yang beredar waktu itu baunya nyaris seragam.           Satu merk yang popular pada saat itu, dan ternyata masih eksis hingga sekarang adalah minyak wangi cap Srimpi. Minyak ini dikemas dalam botol kaca kecil berukuran 14,5 ml, dengan cap gambar penari srimpi, berlatar belakang warna kuning.           Pada masa itu minyak Srimpi dipakai oleh pria maupun perempuan klas menengah di daerah-daerah. Baunya ringan, segar, minimalis, belum memakai formula yang canggih-canggih seperti halnya minyak wangi jaman sekarang.            Ketika jaman terus melaju, maka produk-produk minyak wangi yang lebih “…