OPINI


Kecerdasan Beragama
Oleh Mintardjo
Penulis pernah menyaksikan peristiwa menarik dalam salah satu acara di TV swasta, Uang Kaget. Ada seorang remaja putri yang diberi uang sebesar 10 juta rupiah, yang harus dibelanjakan dalam waktu tertentu dan nanti menjadi miliknya.
Anak yatim itu tinggal di rumah petak sederhana bersama ibunya. Melihat penampilannya, baik pakaian maupun tempat tinggalnya, mereka terkesan hidup di bawah standar, baik ekonomi maupun pendidikannya. Setelah menerima uang 10 juta remaja tersebut dengan sigap membelanjakannya dan tepat pada waktu yang ditentukan uang habis dibelanjakan. Pemandu menyatakan bahwa semua hasil belanjanya menjadi miliknya.
Ada beberapa hal yang sangat luar biasa dan jauh di luar dugaan penulis terhadap kepribadian remaja tersebut sehingga tanpa terasa penulis pun meneteskan air mata:
  • Pada waktu selesai belanja dan semua hasil belanjaannya dinyatakan sah menjadi miliknya, betapa dia dengan tulus berkali-kali mengucapkan syukur ke hadlirat Illahi, yang seakan-akan dia mendapat dunia dan seluruh isinya.
  • Ketika ditanya pemandu, akan diapakan barang-barangnya remaja tersebut dengan spontan menjawab, “Barang-barang ini akan saya jual dan nanti akan saya bagikan kepada teman-teman saya sesama anak yatim, biar mereka ikut merasakan kegembiraan saya
Dari peristiwa tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa remaja putri itu sangat cerdas mengimplementasikan agamanya (Islam) dalam kehidupannya.
Remaja putri itu, yang pakaian maupun tempat tinggalnya di bawah standar, ternyata hatinya sangat kaya, dan merasa rejeki yang diterimanya perlu dibagi kepada sesama. Jiwanya sangat mulia, tak rela dirinya mendapat kenikmatan sendiri, tak rela teman senasib tidak ikut menikmati kebahagian yang diterimanya. Ia mampu secara tepat menterjemahkan arti dari syukur dalam kehidupannya.
Selesai acara itu penulis berandai-andai. Seandainya saja, sekali lagi seandainya, para pejabat kita, para wakil rakyat kita, mempunyai kecerdasan beragama seperti remaja putri tersebut, yang mempunyai kepedulian sosial tinggi, mempunyai hati yang kaya, dan mempunyai jiwa yang mulia, betapa bahagianya rakyat Indonseia tercinta, dan Insya Allah tidak ada rakyat yang melarat.
Namun kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Sebagaimana kita baca, kita dengar, kita lihat dari berbagai media, baik media cetak maupun eletronik, banyak saudara-saudara kita tersebut yang bermasalah dengan uang rakyat dengan cara yang hina. Mereka memakan uang rakyat mengatasnamakan rakyat miskin, mengatasnamakan anak yatim untuk memuaskan keserakahan pribadi. Padahal dari segi penghasilan yang mereka terima bukan hanya 10 juta, namun bisa lima kali atau lebih, itu pun bukan sekali melainkan tiap bulan, ditambah lagi beberapa fasilitas lainnya, misalnya mobil dinas, rumah dinas. Padahal dari segi pendidikan banyak di antara mereka yang bergelar sarjana, bahkan tidak sedikit yang berpredikat haji. Suatu hal yang sangat memalukan dan sangat tidak pantas apa yang mereka lakukan:
- mereka berpendidikan tinggi bahkan ada yang berpredikat haji namun dalam beragama mereka tak peka sama sekali terhadap kondisi saudara-saudaranya
- mereka berpenampilan rapi, berjas dan berdasi, bermobil mewah dan bersopir pribadi, ternyata jiwanya hina
- mereka berpenghasilan melimpah namun hatinya sangat miskin, sehingga untuk memuaskan keserakahannya perlu mencuri dan merampok uang rakyat
- mereka sama sekali tak mensyukuri limpahan nikmat yang diberikan oleh Allah SWT kepadanya
Tidak mensyukuri kenikmatan
Dari peristiwa tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa mereka sama sekali tidak cerdas dalam mengimplementasikan agama dalam kehidupannya.
Di jaman Rasulullah Muhammad SAW, ada suatu peristiwa yang menarik, ketika para sahabat Nabi sedang duduk di serambi Masjid, lewatlah seorang yang berperilaku aneh.
Melihat tingkah laku orang tersebut para Sahabat tertawa cekikikan. Mendengar tawa para Sahabat tersebut, Rasulullah Muhammad menegurnya : Wahai Sahabat apa yang kau tertawakan “.
Sahabat menjawab : Ada orang gila ya Rasul“.
Rasulullah pun lantas bersabda : “Dia bukan gila wahai sahabat, dia sedang tertimpa musibah, orang yang gila adalah orang yang telah diberi berbagai kenikmatan tapi tidak mau mensyukurinya.“
Dengan adanya pernyataan Rasul tersebut tentunya yang dinamakan gila bukanlah orang yang pakaiannya compang-camping, tidak pernah mandi, tingkah lakunya aneh-aneh, tapi kemungkinan justru sebaliknya, bisa jadi orang yang gila adalah mereka yang berpakaian rapi, berjas dan berdasi, berpendidikan tinggi, bertitel haji, bermobil mewah berumah megah.
Saya tidak berani mengatakan apakah saudara-saudara kita yang terlibat masalah di atas termasuk yang dikatakan Rasulullah sebagai “orang gila”, yang telah diberi banyak kenikmatan tapi tidak mau mensyukurinya, hanya mereka sendiri yang tahu.
Ada hal yang menggelikan sekaligus memalukan dari mereka yang terjerat masalah. Banyak di antara mereka apabila terbongkar kecurangannya, mereka pergi ke tanah suci (mungkin untuk memohon ampun kepada Tuhan), padahal urusan mereka semata-mata dengan manusia. Jadi Insya Allah meski mereka pergi ke Tanah Suci seribu kali, dosanya tidak akan diampuni selama urusan dengan sesama manusia belum diselesaikan, apalagi biaya untuk berangkat dari hasil korupsi.
Ketika Salman Al Farisi menerima surat dari sahabatnya supaya pindah ke Tanah Suci, maka dengan tegas Salman menjawab : “Tidak ada tempat yang bisa mensucikan manusia, bukankah yang dapat mensucikan manusia hanyalah amal salihnya?”
Timbul pertanyaan, mengapa mereka yang rata-rata perpendidikan tinggi dan bahkan ada yang berpredikat haji namun begitu lemah dalam beragama, begitu hina jiwa mereka serta begitu miskin hati mereka.
Jawabannya mungkin mereka tidak siap mengahadapi ujian, manusia hidup di Dunia ini memang tak pernah lepas dari ujian dari Allah, ujian bisa berupa musibah bisa juga rezeki yang melimpah, dan anehnya kebanyakan manusia justru tidak lulus ujian dengan harta yang melimpah, seperti halnya Tsalabah.
Tsalabah pada waktu miskin taat beribadah namun setelah minta do’a dari Rasulullah dan menjadi kaya ia lupa beribadah, karena sibuk mengurus harta.
Allah mengingatkan kita dalam Hadist Qudsi : “Wahai hamba-hambaku sempat-sempatkanlah olehmu beribadah kepada-Ku, niscaya kupenuhi hatimu dengan kekayaan dan kedua tanganmu dengan rezeki, dan janganlah kau jauhkan diri dari-Ku, nanti hatimu penuh kemiskinan dan kedua tanganmu sarat kerepotan”
Mungkinkah saudara-sadara kita karena kesibukannya merasa tidak ada waktu lagi untuk beribadah kepada Allah dan berganti beribadah kepada harta dan tahta, karena merasa harta dan tahtalah yang bisa memuaskan dirinya, padahal dunia dan seluruh isinya ini tidak mungkin bisa memuaskan manusia yang serakah.
Luqmanul Hakim pernah memberi nasihat kepada anaknya : “Dunia ini sebetulnya cukup untuk memenuhi kebutuhan semua manusia, akan tetapi takkan pernah cukup untuk memuaskan keserakahan hanya seorang saja “
Mungkin ada baiknya kita belajar dari sejarah kehidupan Alexander Yang Agung/The Great Alexander/Alexander Sang Penakluk dari Makedonia, panglima perang yang selalu menang dalam perang dan dapat mengumpulkan harta yang bergunung.
Menjelang akhir hayatnya, setelah digigit nyamuk malaria, Alexander berpesan kepada pengawalnya:
“Kalau maut sudah merenggutku nanti, masukkanlah jenazahku ke dalam peti mati yang dilubangi kanan dan kirinya, julurkan kedua tanganku keluar dari peti mati melalui lubang tersebut, letakkan kereta matiku di atas sebuah kereta terbuka, araklah kereta itu pelan-pelan agar semua orang melihat peti matiku menjadi sadar, bahwa ternyata seorang panglima perkasa yang selalu menang dalam perang dengan harta rampasan begitu banyak ternyata tak berdaya menghadapi seekor nyamuk dan pada waktu meninggal dunia tangannya kosong tidak membawa apa-apa. Mudah-mudahan manusia di belakangku kelak tidak akan sombong dan rakus dengan kesempatan yang dimilikinya.“
Manusia sebenarnya adalah mahkluk ciptaan Allah yang paling diistimewakan, selain diberi fisik paling sempurna, manusia juga diberi beberapa kelebihan lainnya. Ada satu kelebihan yang diberikan oleh Allah kepada manusia yang tidak diberikan kepada makluk lain selain manusia yaitu “kemerdekaan”.
Seluruh mahkluk ciptaan Allah di jagad raya ini tidak ada yang diberi kemerdekaan oleh Allah termasuk malaikat, mereka semua patuh dan tunduk kepada Allah, sebagaimana firman Allah di dalam Al-Qur'an surat An-Nahl ( XVI ) ayat 49 yang artinya “Dan hanya ke pada Allah sajalah bersujud segalanya yang ada di langit, maupun yang ada di bumi, sejak binatang-binatang yang berkeliaran, hingga para malaikat. Lagi pula mereka tidak pernah sombong " .
Dan juga firman Allah dalam surat Ali’Imran 83 yang artinya : “ Apakah mereka akan mencari Agama lain selain dari Agama Allah ? padahal seluruh mahkluk yang ada di langit dan di Bumi semua menyatakan patuh kepadaNya, suka atau tidak suka. dan kepadaNyalah mereka dikembalikan “
Dengan kemerdekaan yang dimiliki itulah manusia menjadi mahkluk yang luar biasa, dengan kemajuan teknologi yang dicapai, manusia seakan dapat membuat apa saja sesuai keinginananya. Dan dengan “kemerdekaan” itu pulalah ternyata manusia juga ada yang memilih patuh kepada Allah namun juga ada yang kufur kepada-Nya.
Sebagai penguasa yang Maha Adil, meskipun manusia diberi kemerdekaan memilih (patuh atau kufur) namun Allah dengan beberapa Nabi dan Rasul selalu mengingatkan kepada manusia bahwa dunia ini sifatnya sementara, hanya sebagai tempat untuk mencari bekal di hari akhir yang lebih kekal dan di hari akhir nanti Allah juga akan memberikan balasan yang sangat adil atas pilihan manusia tersebut.
Bagi yang memilih patuh, di hari akhir balasannya adalah sorga, namun bagi kufur balasannya adalah neraka, dan di sinilah sebenarnya kecerdasan manusia diuji. Bagi manusia yang cerdas tentu akan memilih memilih patuh di dunia dengan kebebasan di sorga dengan berbagai kenikmatan yang lebih kekal di hari akhir. Namun bagi manusia yang “dungu” tentu akan memilih kebebasan di dunia yang sifatnya sementara dengan siksa yang lebih kekal di hari akhir.
Suatu ketika ada seorang yang bertanya kepada Rasulullah Muhammad : “Ya Rasulullah siapakah manusia yang paling cerdas?”.
Rasulullah menjawab : “Orang yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat mati.“
Artinya orang yang paling banyak mengingat mati adalah orang yang paling banyak mencari bekal untuk dibawa mati, yaitu amal salih. Sebaliknya orang yang tidak pernah mengingat mati adalah orang yang tidak pernah mencari bekal mati, mereka hanya mencari kepuasan hidup di dunia, mereka tak ubahnya binatang ternak.
Contoh sederhana pada hari raya qurban, binatang qurban tersebut meskipun teman-temannya sudah disembelih, mereka tidak pernah berfikir bahwa sebentar lagi akan tiba gilirannya untuk disembelih/mati, yang mereka fikir hanya rumput hijau atau lawan jenisnya, sama halnya dengan manusia, meskipun umurnya sudah tua dan sebentar lagi pasti akan masuk ke liang lahat namun yang difikir hanya bagaimana memperkaya diri dengan cara apapun tanpa memperdulikan aturan agama.
Contoh dari Umar bin Chatab
Bagi saudara-saudara yang kebetulan menjadi pejabat atau wakil rakyat ada baiknya kalau bisa meneladani pola kepemimpinan Umar bin Chatab.
Sebagai kepala negara Umar ternyata mempunyai kepedulian yang luar biasa terhadap rakyatnya, hampir tiap malam ronda, melihat dari dekat kondisi rakyatnya.
Suatu malam ketika ronda, Umar mendengar tangisan anak kecil. Umar pun mendekati suara tangis anak tadi dan setelah dekat dia mendengar suara seorang perempun berkata : Kelak aku akan adukan Umar kepada Allah.
Umar kemudian mengetuk pintu pelan-pelan lalu masuk: ketika sampai di dalam rumah Umar melihat perempuan tadi menggoreng kerikil untuk menenangkan anaknya. Umar bertanya kepada perempuan tadi:
“Apa yang diperbuat Umar kepadamu?
Perempun tersebut tidak tahu bahwa yang dihadapi adalah Umar sendiri lantas menjawab:
“ Umar mengirim suamiku ke medan perang, meninggalkan anak-anak kecil kesepian, tidak meninggali apa-apa sehingga anak-anak menangis kelaparan“.
Umar lalu pergi, kemudian kembali membawa tepung dan daging digendong diatas penggungnya sendirian. Dalam perjalanan ada seorang yang melihatnya dan menawarkan diri untuk menggatikannya. Ternyata Umar menolak dan berkata :
“Kalau kamu menggantikan aku menggendong tepung ini, siapa yang akan memikul dosaku ? Menggantikan kelalaianku dihari kiamat nanti?
Mudah-mudahan kita semua masih punya malu dan mau mengaca diri dan bagi yang memakan uang rakyat segera bertobat dan mengembalikan kepada rakyat, namun kalau itu sulit terjadi mudah-mudahan segera muncul pribadi-pribadi seperti remaja putri tersebut yang akan segera mengganti para petinggi dan wakil rakyat yang kalbunya sudah ‘membatu’.
Surabaya, Maret 2011

OPINI

OPINI ditulis oleh
10/10 based on 10 ratings from 10 reviewers
Ayo berkomentar dengan baik!
Komentar menggunakan sistem moderasi. Gunakan nama asli / alias untuk berkomentar, bukan judul post atau nama produk. Komentar dengan link mengarah ke post / produk mungkin tidak akan ditampilkan. Berkomentarlah dengan bahasa yang sopan, terima kasih.

0 comments:

Posting Komentar