Cerpen - 11

Matahari Malas Mendaki Langit

Oleh Adji Subela

Pagi itu adalah pagi yang paling panjang dalam hidup seorang budak kecil, Udin. Matanya yang jernih berkilat meluapkan rasa keheranannya. Matahari tak pernah naik dari batas cakrawala timur dan ia diam malas mengambang di sana.

Arloji orang-orang sudah menunjukkan hari pukul dua belas siang. Surya itu tak pernah merambat naik ke lengkung langit di atasnya! Aneh, sungguh ajaib sekali! Terlebih aneh lagi, orang-orang tak pedulikan hari pagi yang berkepanjangan itu. Semua sibuk, sibuk lalu sibuk lagi. Ada yang sibuk bermalas-malasan, ada yang sibuk lelap tidur dan ada yang sibuk bingung ke sana ke mari tanpa tujuan jelas. Satu dua orang sibuk melamun memandangi langit yang selalu pagi itu dengan mata bulat tanpa menggerakkan kelopak atau pun bulu matanya. Keheranan Udin kian memuncak. Tetangganya acuh tak acuh, bahkan emaknya pun tak pernah hirau bola bulat yang suka membakari langit setiap hari itu. Hati Udin lalu menggelepar-gelepar memberontak. Ia marah, ia protes. Udin hendak mengadukan polah tingkah matahari yang amat ganjil tersebut kepada para pejabat yang terhormat. Pejabat-pejabat adalah tempat rakyat minta keadilan, kompas arah hidup, memohon arahan ke mana gerangan kita akan pergi. Udin percaya akan itu karena kakeknya dahulu bercerita demikian itu. Kakek berkata, semuanya tertulis dalam kitab Tadjoe’s Salatin yaitu Makoeta Segala Raja-Raja tulisan pujangga besar Bukhari Al-Jauhari. Satu tuntunan dan tuntutan untuk para raja atau punggawa kerajaan atau pemimpin-pemimpin. Udin ingin sampaikan kemalasan matahari itu kepada para pemimpin. Segera.

Ia kini lari kencang sekali hingga nafasnya tersengal-sengal menuju ke kantor kelurahannya.

“Tuan! Tuan! Matahari tak hendak naik hari ini. Ia malas dan cuma terapung-apung bodoh di sisi timur!” teriaknya dengan selingan nafas mendebur-debur. Orang-orang diam tak hirau budak kecil itu. Orang-orang yang ada di dalam ruangan itu tertawa-tawa, ada pula yang membaca lembar ramalan togel dan ada yang tidak apa-apa. Udin marah, lalu berlari ke kantor kecamatan, dan di sana ia kembali berteriak-teriak seperti yang telah dilakukannya tadi. Tak seorang pun di sana mendengar teriakan budak kecil penuh semangat itu. Mereka merebah badan tidur-tiduran di kursinya, sambil menghitung-hitung berapa komisi atas pembangunan ruko di pinggir jalan raya.

“Sungguh celaka. Matahari tak mau bangkit! Hari hendak kiamat dan orang-orang tak mau hirau!” teriaknya kencang-kencang, lalu kembali berlari ke sebuah gedung besar tempat para pembesar provinsi. Ia anggap semuanya akan berakhir manakala ia mengadukan semua kejadiannya kepada pejabat dan pemimpin tertinggi. Ia merasa ragu-ragu lalu berdiri tegak tak bergerak di dekat pintu pagar paling depan. Anak kecil itu berpikir, kalau hari pagi terus, maka takkan ada makan siang dan makan malam. Semuanya sarapan pagi. Dan baginya, itu berarti sepotong ubi kayu rebus dan secangkir air bening. Itu tak boleh terjadi. Ia ingin makan siang dengan sambal belacan dan gulai kepala ikan patin atau goreng ikan kalui, jadi hari tak boleh pagi terus-menerus seperti macam ini.

Tekadnya yang berkobar mendorong ia berlari-lari kecil memasuki gedung pemerintahan. Dilihatnya semua orang di dalam gedung itu berpakaian rapi. Ada yang berpakaian jas serta dasi, ada yang bersafari dan ada yang berpakaian tradisional.

“Tentulah ini pesta besar para pemimpin dan pejabat negeri,” kata Udin dalam hati.

“Saudara-saudari sekalian, semuanya sudah diatur, semua sudah dibereskan oleh para staf, jadi tinggal Anda sekalian menengok rekening bank masing-masing. Tolong jangan sampai bocor informasinya ke wartawan. Kita semuanya akan repot, apalagi jika pusat mendengar,” ujar seorang pria berbadan gemuk segar dan wajahnya berseri-seri.

“Memang apa pula urusan orang pusat pada kita? Go to hell with pusat!” pekik seorang pria pendek kecil dan bermisai tebal.

“Betuuuuuuuulll, memang siapa itu pusat? Mereka tak hirau kita bertahun-tahun dan sekarang mereka berkelahi untuk masuk ke Istana...marilah kita nikmati hasil kekayaan alam negeri kita!!!” Teriak seseorang lainnya.

“Inilah namanya reformasi.”

“Bukan, inilah otonomi daerah!”

“Bukan, bukan, inilah yang namanya self determination of our-owned destiny.” “Pendek kata inilah saat yang kita nanti-nantikan. Berpuluh tahun kita hidup sengsara dan hanya melayani pusat. Padahal, tahu tidak kawan-kawan, kita ni penyumbang terbesar pendapatan nasional. Inilah saatnya kita nikmati kekayaan kita, mau kapan lagi kita?”

“Betul, betuuul, mufakat aku.”

Udin sudah tak sabar lagi menunggu orang yang sedang bersuka-ria itu, matahari saat ini malas mendaki langit, dan hari tak akan lagi siang. Artinya, bagi Udin, dan juga saudara-saudara kandungnya, dan juga tetangga-tetangganya, mereka hanya akan makan sepotong ubi kayu dan secangkir air putih. Air putih pun kini mulai kekuning-kuningan karena kemarau dan banjir menggigiti Daerah kita silih berganti.

“Tuan-tuan, Puan-puan...hentilah, matahari tak mau naek ke langit hari ni....,” teriaknya kencang-kencang. Tapi teriakan itu tenggelam oleh derai tawa dari dalam gedung itu.

Si kecil itu sudah tak ada sabar lagi di dadanya. Matahari tak mau mendaki langit. Ia pun berlari kencang-kencang ke gedung megah tak jauh dari tempat itu.

Di sana pun derai tawa tak kalah-kalah pula. Lengkingannya pun lebih tinggi menusuk gendang telinga.

“Tahukah Bu, pekan lalu kami berlibur ke London. Sekarang mereka berganti musim dan ada obral pakaian besar-besaran di Harrots. Di Mark & Spencer malah ada obral keramik bagus-bagus. Aduuuh, cantik-cantik modelnya Bu...,” kata seorang Nyonya Polan.

“Aduh mak, kenapa tak kasih kabar padaku, Bu, ingin aku ikut ke London. Tapi ah, anak-anak kami merengek-rengek minta ke Disneyland, Amerika. Tapi aku bilang janganlah jauh-jauh, sekarang ni, orang Indonesia banyak dicurigai di Amerika, dapat visa pun sulit bukan main,” tutur Nyonya Gendut.

“Lantas ke mana kalian bawa anak-anak?”

“Ke Disneyland yang di Jepang saja laaah.........”

Di sudut lain dua perempuan berdandan menor-menor berbincang masalah lainnya.

“Eh tahu tak, ada orang yang jual BMW Roadster yang baru kemarin,” tutur Nyonya Menor.

“Eh, itu model terbarukah?” Tutur Nyonya genit.

“Iyo lah......model terbaru........begini....,” jawab Nyonya Menor sembari mengangkat ibu jarinya di depan hidung lawan bicaranya.

“Berapa?”

“Murah, sekitar satu setengah lebih sikit.....,” jawab Nyonya Menor sembari tertawa.

“Boleh jugalah...ada yang lebih bagus?”

“Ssst ada yang mau jual Ferrari Testarosa lho, murah, harga dibanting, sebab yang empunya sedang kesulitan bisnis...,” sambung Nyonya Menor.

“Berapa, berapa murah itu?”

“Dua tiga perempat........murahlah itu”

“Tapi bagaimana mau kendarai Ferrari di Daerah kita ini, jalan rayanya pun berlubang-lubang bergelombang naik turun. Bisa patah dua mobil tuh.”

“Itulah kondisi jalan di sini nih, buruk karena dilindasi truk-truk balak itu. Enak ‘kali mereka tuh. Perusahaan lain yang membangun jalan perusahaan lain pula yang merusaknya.”

“Ah kenapa sulit ‘kali. Kirimlah mobil itu buat putra Ibu nanti di Australia.”

“Iyo, benar pula usul Ibu nih. Sebentar lagi anak sulungku hendak berkuliah di Australia.”

“Nah ambil saja di Perth, Bu, di sana masih sepi dan jalannya lurus-lurus serta mulus. Ambillah satu rumah di Golden Estate, selagi mereka banting harga sekarang ini.”

“Alamak, bagaimana pula mau kirim mobil itu di sana?”

“Eeeee, Ibu nih bagaimana. Ferarri itu sekarang masih ada di Perth, Bu.”

“Begitu ya? Bolehlah nanti aku bilang ayahnya.”

“Hoooiiiiiiiiii....Puan-Puan.......matahari tak naik-naik ke langit pagi ini ...,” teriak Udin lagi.

“Apa pula maksud budak ni?” tanya seorang perempuan muda, nampaknya dulu tak cantik, tapi kini ia mau dibilang cantik karena di beberapa bagian wajahnya sudah ditambal pakai silikon, serta make-up-nya sungguh meyakinkan sekali tebalnya. Dia istri ketiga dari seorang pengusaha baru yang mendadak jadi kaya raya.

“Tak tauklah agak mabok dia barangkali......,” jawab seseorang semaunya.

“Oh, ya, mau ke mana anak berkuliah?” tanya si cantik kepada Nyonya Gendut.

“Inilah, Bu, ayahnya mau dia berkuliah di Jakarta. Tapi hitung punya hitung, mahal ‘kali biayanya. Aku sarankan berkuliah saja di KL (Kualalumpur, pen). Bayangkan, biaya perjalanan hanyalah Rp300 ribu, uang pemondokan tak banyak selisih dengan Jakarta. Lagi pula, mereka akan terbiasa dengan berbahasa Inggris. Nah, kita akan punya added value. Am I right?” Demikian Nyonya Gendut menjelaskan alasannya kepada si cantik.

Natuurlijk zoes.....heel goed...,” kata seorang perempuan tua, yang datang memberi komentar tanpa diminta. Ia sudah sepuh sekali, janda seorang pimpinan onderneming yang dikawini suaminya ketika baru berumur 12 tahun, tapi hingga kini masih amat bersemangat mendatangi segala rupa pesta-pesta.

Udin sudah habis kesabarannya. Ia berteriak-teriak. Ia takut pagi akan merajalela dan ia takkan bisa makan nasi, karena siang takkan ada lagi. Itu artinya sepotong ubi kayu dan air putih keruh. Ia berteriak-teriak kencang sekali! Berteriak! Berteriak lagi! Dan keras! Lebih keras, semakin keras, hingga akhirnya nafasnya habis! Habis! Tinggallah satu atau dua. Dadanya yang dipenuhi bayangan tulang-tulang iga dan ditutupi kulit yang dekil kini kembang-kempis. Udin memiliki pengalaman baru dalam hidupnya: Pingsan!

Seorang anggota Satuan Polisi Pamong Praja yang baru saja terbangun dari lelap kantuknya, terkejut ketika ia tertimpa setumpuk kecil daging tipis dan tulang-tulang menonjol-nonjol: Udin! Didapatinya makhluk yang menyedihkan itu telah terkapar menghimpit kedua kakinya. Kedua matanya yang masih agak malas berjaga, hanya menangkap sesosok bayangan makhluk kecil kehitaman lunglai di kakinya. Semula ia mengira benda itu bangkai anjing kampung. Tapi karena dilihatnya ia itu bertangan dua dan berkaki dua, ia mengira itu bangkai monyet. Kemudian ketika kelopak matanya terbuka agak lebar sedikit, ia merasa monyet itu memakai celana pendek dan berbaju dekil.

“Mungkin ini kera anggota komidi monyet,” pikirnya. Dengan amat malas, ia tengok ke kiri dan ke kanan, ternyata tak ada satu pun gendang pengiring komidi monyet itu, tak ada payung kecil, pikulan dan keranjang kecil, dan ternyata tak ada bulu-bulu di tangan dan kakinya, kecuali di bagian kepalanya. Ekor pun tak ada padanya, hanya secuil sisa kulit menonjol kecil di bagian depan badan sebelah bawah. Itu nampak dari sela-sela celana pendeknya yang sudah terkoyak-koyak di makan masa.

“Manusia!” anggota Satpol itu terpekik.

Dari dalam gedung masih terdengar sorak-sorai, pekik suka cita keriangan tak ada taranya. “Mari kita poco-poco.....,” teriak seseorang di antaranya. “Ah, apa itu poco-poco, marilah kita dance ......ballroom...,” usul janda onderneming.

“Hehehe....ketinggalan jaman. Dan juga bagaimana berdansa di pagi hari macam ni?” jawab seseorang yang lain.

“Oh ya, mari kita adakan tur ke Spanyol untuk apa ya...eh...studi banding, studi banding. Kita ajak para istri wakil rakyat. Kita belajar dansa di sana, flamenco, tango atau apa pun juga,” usul Nyonya Gendut.

Bullshit, itu usul absurd,” komentar janda onderneming.

“Taklaaaaaah...kita...,” belum lagi kalimat itu selesai semuanya jatuh pingsan kecapaian...

Skor satu-satu. Udin pingsan kecapaian berteriak, para nyonya besar itu pingsan kecapaian karena kesenangan.

Matahari belum juga naik ke langit tinggi. Hari masih juga pagi, dan ayam jantan pun masih juga berkokok-kokok berganti-ganti bersaut-sautan.

*******

Di tempat lainnya, di sebuah gedung besar yang berbeda, belasan Tuan berperut buncit tertawa-tawa ria. Di tangan kanannya terjepit gelas Cognac, ada lagi yang menjepit gelas jangkung berisi Bordeaux dan ada pula XO. Hanya ada seorang yang tangan kanannya memegangi gelas berisi air putih. Air mineral. Ia tak berani meminum minuman Belanda itu karena dilarang agamanya. Ia hanya berdiri di sebuah sudut ruangan menunggu penugasannya.

Pria itu punya tugas untuk membaca doa, umumnya pada sesi yang terakhir, agar semuanya mendapatkan berkah dari Yang Maha Kuasa, tanah airnya subur makmur dan para pemimpinnya dilindungi oleh Yang Maha Kuasa tadi. Tapi mereka tidak pernah berpikir tentang Udin yang hanya menelan sepotong ubi kayu rebus setiap pagi harinya, dan entah apa yang akan dimakannya pada tengah hari. Tak ada doa-doa untuk Udin dan teman-temannya. Orang-orang jelek dan tak beruntung menjadi lebih sial lagi karena dalam doa resmi mereka tak pernah disebut-sebut.

Dengarkah kalian dalam doa-doa resmi di kantor-kantor pemerintah secara khusus mendoakan anak yatim piatu? Mereka menyebut-nyebut rakyat Indonesia semuanya, bukan secara khusus menyebut para anak yatim piatu, anak jalanan dan bayi-bayi yang dibuang oleh emaknya karena malu telah mengandungnya? Suatu perbutan keji di mana ia semula memintanya dengan bersedia disenggamai seorang lelaki kemudian tak mau mengandungi dan membesarkan anak – karunia Allah itu?

Udin selalu bermimpi makan besar dengan sambal belacan dan gulai kepala ikan patin. Setidak-tidaknya itu semua dipenuhi dalam angan-angan, sedangkan kenyataannya selalu berbeda. Amat jauh sekali. Pada pikirnya ini semua karena matahari enggan mendaki langit lagi. Ia merasa heran, kenapa matahari yang setiap harinya selalu patuh menjalani prosedur perintah alam tiba-tiba mogok, malas bekerja. Udin pun mengira karena tak ada yang mendoakan agar matahari terus berputar mengelilingi bumi – atau pun sebaliknya – dan jangan sampai terhenti atau malas seperti kali ini.

Orang-orang sudah terlalu enak menikmati keseharian alam sampai lupa berdoa menyukuri karuniaNya.

Pasir Pengarayan, 2003. Di tengah hawa panas melecuti kulit.

Cerpen - 11

Cerpen - 11 ditulis oleh
10/10 based on 10 ratings from 10 reviewers
Ayo berkomentar dengan baik!
Komentar menggunakan sistem moderasi. Gunakan nama asli / alias untuk berkomentar, bukan judul post atau nama produk. Komentar dengan link mengarah ke post / produk mungkin tidak akan ditampilkan. Berkomentarlah dengan bahasa yang sopan, terima kasih.

0 comments:

Posting Komentar