Langsung ke konten utama

Karya Buku Baru

Judul Buku:

MUTIARA HATI - Memoar H. Barkah Tirtadijaja seperti yang dituturkan kepada Adji Subela
Penerbit: Yayasan Kelopak, Jakarta.
Jumlah halaman: 280 halaman HVS

Resensi:

Mayjen TNI (Purn) H. Barkah Tirtadidjaja adalah putra bangsawan Sunda, menikah dengan salah seorang putri Sultan Langkat, Sumatra Timur, yaitu Tengku Nurzehan.
H. Barkah di jaman Jepang adalah mahasiswa Sekolah Kedokteran Ika Daigaku. di masa revolusi kemerdekaan beliau ikut berjuang, mengamankan pembacaan Proklamasi oleh Sukarno-Hatta, kemudian di masa perang bergerilya dengan Kolonel A.E. Kawilarang.
Tahun 1950 setelah penyerahan kedaulatan, H. Barkah dinas di Medan di TT I, sebagai Assisten Logistik. Di sana berkenalan dengan Tengku Nurzehan, si putri Kesultanan Langkat, lalu menikah.

Sejarah Kelam Langkat.
Kesultanan Langkat merupakan salah satu kesultanan terkaya di Sumatra Timur di jaman penjajahan Belanda. Banyak perkebunan, pertambangan dan perdagangan di bawah kendalinya. Sumber minyak pertama di Indonesia, Pangkalan Brandan, berada di bawah kekuasaannya. tidak heran jika lambang Pertamina yang lama, yaitu dua Kuda Laut, mengambil inspirasi dari lambang Kesultanan Langkat ini.
Prahara kelam melanda Kesultanan Langkat dan juga Kesultanan Deli, Asahan, Kualuh, Siak, dll. Bulan Maret 1946 terjadi kerusuhan sosial yang digerakkan oleh unusr PKI (komunis), yaitu merampok, membakar dan membunuhi para bangsawan Melayu itu dengan tuduhan berkolaborasi dengan Belanda dan tidak mendukung Republik. Padahal bulan Oktober 1945 telah ada kesepakatan semua Kesultanan Sumatra Timur mendukung republik.
Ratusan bangsawan Melayu tewas mengenaskan.
Tahu sastrawan terkemuka Angkatan Pujangga Baru yaitu Amir Hamzah? Beliau ikut menjadi korban keganasan komunis itu walaupun diangkat Bung Karno sebagai Bupati Langkat.
Tengku Amir Hamzah adalah menantu Sultan Langkat Sultan Mahmud, jadi ipar Tengku Nurzehan, istri H. Barkah itu. Yang menyedihkan Tengku Amir Hamzah yang berhati lembut itu dieksekusi dua bekas pembantu setianya.
Putra mahkota Langkat, Tengku Musa, hingga sekarang tidak ditemukan makamnya.
Beruntung Sultan Langkat berhasil diselamatkan oleh teman dan pengikut setianya.

Itulah sebagian isi buku ini. Bagian lain yang menarik, ternyata H. Barkah berteman dekat dengan tokoh-tokoh nasional, dan internasional. Almarhum Presiden Pakistan Zia Ul Haq adalah temannya ketika bersekolah militer di AS.
Tahu A. Latief? Salah seorang tokoh penggerak kudeta G30S/PKI tahun 1965? Ia adalah teman sekolah H. Barkah di Sekolah Staf dan Komando AD di Bandung. Tragisnya, salah seorang korban Gestapu itu teman H. Barkah yang lain di sekolah itu, yaitu Brigjen Katamso yang gugur di Kentungan, Yogya.
Lebih aneh lagi, salah seorang rekan sekelasnya menjadi besan Pak Barkah di kemudian hari.

Buku Mutiara Hati membuat penasaran banyak pembacanya karena banyak informasi penting, terutama menyangkut politik yang tidak diungkap gamblang oleh H. Barkah.
Menanggapi itu, purnawirawan yang banyak berkecimpung di bidang intelejen dan pernah menjadi atase di Malaya, Dubes RI Berkuasa Penuh untuk Mesir, Sudan dan Djibouti, serta Sekjen Dep. Perindustrian di masa Menteri M Yusuf itu mengatakan beliau tak ingin menyinggung perasaan orang lain. Buku Mutiara Hati, menurutnya merupakan kenangan bagi almarhum istrinya, Tengku Nurzehan.
Kendati demikian buku ini memang banyak memberi tips informasi berbagai hal di tanah air yang perlu ditelusuri dan diungkap lebih lanjut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ikan Bakar Mak Etek Pontianak

Warung ikan bakar Mak Etek (Si Paman kecil) di Pasar Menara, di tengah Kota Pontianak, Kalbar, ini sederhana saja. Tempatnya di tengah los-los pasar seperti yang lain. Tapi ketika kita mendekati warung milik Mak Etek yang nama aslinya Bagindo Alizar (82 tahun) ini, maka indera pertama yang terangsang adalah bau harum ikan bakar yang dijamin menggugah selera makan. Kemudian indra penglihatan segera menangkap kepulan asap tebal dari proses pembakaran ikan yang dikerjakan di samping warung itu. Warung berukuran empat kali sepuluh meter ini dipenuhi delapan meja plastik bundar, dengan masing-masing empat kursi. Hampir setiap saat meja-meja itu dipenuhi pelanggan yang begitu nikmat menyantap ikan bakar, ikan gulai, gulai petai, taoge rebus, daun ubi kayu. Suasana di warung ikan bakar Mak Etek bertambah khas dengan teriakan pelanggan yang meminta tambah nasi atau ikan, serta teriakan pelayan. Begitu riuh, dan berselera di tengah udara panas Pontianak yang berada di garis khatulistiwa, kendat…

Nasi Goreng Madura di Pontianak

Minyak Srimpi

Pada era 50-an tak banyak produk minyak wangi yang beredar di pasaran, terutama yang harganya terjangkau oleh mereka. Oleh karena itu, minyak pengharum badan itu banyak diproduksi perusahaan-perusahaan kecil guna memenuhi kebutuhan pasar akan pengharum. Oleh karena formulanya sederhana dan memakai bahan-bahan atau bibit minyak wangi yang terjangkau, maka dapat dikatakan hampir semua minyak wangi yang beredar waktu itu baunya nyaris seragam.           Satu merk yang popular pada saat itu, dan ternyata masih eksis hingga sekarang adalah minyak wangi cap Srimpi. Minyak ini dikemas dalam botol kaca kecil berukuran 14,5 ml, dengan cap gambar penari srimpi, berlatar belakang warna kuning.           Pada masa itu minyak Srimpi dipakai oleh pria maupun perempuan klas menengah di daerah-daerah. Baunya ringan, segar, minimalis, belum memakai formula yang canggih-canggih seperti halnya minyak wangi jaman sekarang.            Ketika jaman terus melaju, maka produk-produk minyak wangi yang lebih “…