Artikel -10

Mario Teguh dan Trend ‘Ulama Baru’

Oleh Adji Subela

Sekeping fakta mengejutkan membuat kita gembira juga. Satu acara televisi negeri tercinta kita mendapat kehormatan sebagai acara televisi talkshow nomer dua di dunia setelah Oprah Winfrey Show. Siapa tidak bangga mendapat kehormatan itu, setelah kita “nyaris” kehilangan hampir semua bahan kebanggaan?
Acara tersebut adalah Mario Teguh’s Golden Ways yang disiarkan stasiun televisi Metro TV setiap hari Minggu pukul 19.05. Kemudian, acara penyemangat jiwa itu juga merebut predikat sebagai acara pertama di dunia yang dalam tempo setahun merebut sejuta lebih facebookers dari berbagai penjuru dalam belasan latar belakang bahasa pesertanya.
Dalam tayangan Minggu malam 9 Mei 2010, Mario menunjukkan piagam itu, dan disiarkan pula berbagai tanggapan masyarakat, termasuk Ketua MUI Amidan S, serta Ketua Mahkamh Konstitusi Mahfud MD. Prestasi itu sekaligus menjadi promosi yang jitu untuk mengembangkan acara penyemangat tersebut, sekaligus pendorong agar acara itu semakin baik.
Lebih dari sekedar kebanggaan itu, acara Golden Ways bertumbuh menjadi suatu acara yang memberi semangat dan dorongan (motivasi) pemirsanya dari berbagai usia, dari belasan hingga “manula”. Yang membesarkan hati lagi, yaitu ketika Mario Teguh menunjukkan data bahwa pemirsa acaranya itu 40 persen lebih adalah para remaja dan mereka yang berada pada usia produktif. Itu artinya para tunas bangsa kita haus akan bimbingan, dorongan-motivasi untuk maju.
Ini jauh berbeda dari selapis kalangan remaja dan kaum muda yang kita lihat di tayangan televisi dan berita di koran yang lebih suka berkelahi, baik dalam demo tanpa guna atau di pergulan mereka, lantas menikmati candu modern atau miras oplosan sampai mati sia-sia ketimbang menempa dirinya untuk menjadi manusia “super”.
Fenomena motivator ini memang menarik. Kita lihat semakin banyak tokoh motivator yang muncul memberikan formula, solusi, untuk berbagai masalah hidup dan kehidupan. Tak sedikit buku mereka terbitkan untuk memberi dorongan positif ke pada masyarakat.
Di pihak masyarakat, mereka haus akan pencerahan. Di masa yang serba sulit ini, di mana antara pernyataan dan kenyataan sering berbeda (jauh) maka kebimbangan melanda hati mereka. Kita punya banyak pejabat tapi kini tak punya pemimpin yang patut jadi contoh, teladan, dan panutan. Rakyat perlu pemimpin yang memberi semangat, tegas dan jelas arahnya dan mampu menggerakkan jiwa. Bukan yang membuat bingung-bingung.
Angka statistik menunjukkan ekonomi kita tumbuh 6% lebih tapi harga-harga naik terus, semakin banyak orang bunuh diri dengan motif ekonomi, banyak terseret tindak pidana, dan jumlah anak kurang gizi kian bertambah-tambah. Ada yang bergaji sangat tinggi tapi tetap melaksanakan aktivitas haram, yaitu korupsi. Bagaimana dengan pegawai bergaji rendah yang hidupnya pas-pasan Senin-Kamis?
Kita dituntut berbuat baik sesuai agama masing-masing, tapi para pemimpin agama sendiri tak jarang yang berbuat aneh-aneh dan sulit dipercaya. Kemana rakyat yang sengsara dan celaka itu mencari perlindungan?
Kalau ulama tidak lagi menjadi tempat berlindung dan tempat pencarian pencerahan? Ke mana ummat harus pergi. Ada yang ke bar, night club, tempat madat, tempat minum, dan tempat maksiat lainnya.
Tapi tak sedikit yang pergi mencari tokoh yang dapat menerangi jalan ke mana hendak pergi: Para motivator!!!!
Para motivator itu berbicara lugas, praktikal, dan teknikal. Para ulama bicara secara garis besar agama mereka masing-masing. Mereka tak menyentuh masalah praktis dan kecil-kecil di hadapan mata, persoalan hidup sehari-hari yang harus dipecahkan dengan pratikal pula.
Urusan teknikal seperti itu memang bukan porsi para ulama agama-agama. Celakanya justru masalah-masalah seperti itu yang melilit ummat. Kesulitan ekonomi, frustasi dengan pekerjaan yang tak pernah maju, ingin berusaha tapi tak tahu jalannya, dan takut memulai, bagaimana menghadapi teman, pimpinan atau klien-klien mereka, masalah dengan keluarganya yang tidak mendukung, dan masih banyak lagi.
Ketika mereka pergi ke ulama, kembali akan menemui ancaman-ancaman akan dosa atau pahala orang yang tawakal. Rincian teknikal dan praktikal sulit didapat.
Tidak sedikit para ulama yang memberikan pencerahannya dengan cara sangat dogmatis, kaku, keras, dan dengan ancaman-ancaman dosa seperti itu.
Kemudian jaman berubah, sejumlah ulama menyadari perubahan peradaban, perubahan suasana sehingga membawakan dakwah atau ceramah mereka dengan cara lebih rileks dan lembut. Celakanya beberapa di antaranya justru jatuh ke ranah hiburan sehingga isi dakwah yang begitu sarat moral, justru tawar karena menjadi ajang tontonan semata. Beberapa di antaranya terlalu banyak membawakan dagelan sehingga sulit dibedakan apakah ini suatu ceramah agama ataukah panggung hiburan semata.
Kembali, ummat tidak mendapatkan jawaban ampuh atas persoalannya.
Kini, ummat melihat munculnya para motivator yang memberikan mereka solusi praktis terhadap persoalan hidup nyata mereka.
Akan tetapi beberapa motivator melihat keadaan itu sebagai peluang bisnis. Mereka sekedar memanjakan “kemanjaan” ummat untuk dipuaskan. Ada yang menyelenggarakan acaranya di hotel-hotel mewah, sehingga tak semua orang mampu menghadirinya. Di tempat mewah itu, ummat dibiarkan larut dalam emosinya dan menangis sejadi-jadinya.
Tangis para eksekutif itu jelas mahal, karena untuk mengeluarkan air mata kesedihan atau keharuan mereka harus membayar mahal, selain itu mungkin mereka pun jarang menangis karena dorongan rasional atau logika terlalu besar sehingga menepiskan sisi otak kanan yang mengelola emosi. Tangis mereka pun lalu mahal.
Di antara para motivator itu adalah seniman kata-kata yang pandai mengakrobatkan kalimat-kalimat sehingga maknanya bias, bahkan lolos tidak terpegang hadirinnya.
Acara mereka dijual dengan berbagai nama aneh-aneh dan asing didengar sebagai bagian dari strategi pemasarannya. Mereka pengusaha pikiran dan bathin dengan dagangan kata-kata itu tadi.
Dari sekian banyak itu, ada sekian pula jumlahnya yang benar-benar melayani “ummat”nya dengan kalimat terpilih mendukung nas-nya. Kalimat mereka bukan melilit-lilit sulit dimengerti, tapi memiliki kedalaman makna. Kualitas mereka ada dalam kalimat itu.
Dengan segala rupa teknik itu mereka mampu melayani ummat yang kehilangan arah. Sebenarnya – kalau boleh berterus-terang – apa yang disampaikan itu substansinya sama seperti ajaran agama-agama. Teknik penyampaiannya berbeda, demikian halus sehingga dapat diterima oleh penganut agama apa pun juga, dari bangsa apa pun juga, dari suku mana pun juga. Tak ada ancaman dosa dan pahala atas darmanya, tapi bagaimana caranya mengatasi masalah praktikal manusia.
Dalam salah satu episodanya, Mario Teguh mengaku bahwa apa yang disampaikannya sebetulnya ada dalam agama. Ada dalam firman-firman Tuhan. Akan tetapi ia menyampaikannya dengan teknik sedemikian rupa sehingga dapat diterima ummat mana pun juga.
Tidak mengherankan, sejak Mario Teguh memulai acaranya di O-Channel TV Jakarta beberapa tahun lalu, maka berkembang hingga kini memiliki acara di Metro-TV yang disiarkan ke seluruh penjuru dunia lewat internet, atau pun parabola.
Apakah peran ulama agama-agama tertepikan? Tentu tidak. Mereka memiliki otoritas khusus yang cukup tinggi, karena mereka menguasai ilmu agama-agama yang menjadi sumber segala jawaban masalah dunia akhirat.
Ulama yang tidak tanggap terhadap perkembangan jaman dan tidak piawai dalam menyampaikan dakwahnya, akan kian jarang didengar.

Artikel -10

Artikel -10 ditulis oleh
10/10 based on 10 ratings from 10 reviewers
Ayo berkomentar dengan baik!
Komentar menggunakan sistem moderasi. Gunakan nama asli / alias untuk berkomentar, bukan judul post atau nama produk. Komentar dengan link mengarah ke post / produk mungkin tidak akan ditampilkan. Berkomentarlah dengan bahasa yang sopan, terima kasih.

0 comments:

Posting Komentar