Langsung ke konten utama

Artikel-5

Berwisata Mengunjungi Kembaran Pasar Baroe Jakarta di Kuching, Serawak

Oleh Adji Subela

Sama seperti Jakarta, kota Kuching, ibukota Serawak, Malaysia Timur, juga memiliki daerah pertokoan yang mirip Pasar Baroe, di Jakarta Pusat itu.
Sama seperti di Pasar Baroe tempo doeloe, daerah pertokoan ini dulunya juga didominasi oleh para pedagang asal India yang umumnya beragama Islam, dan sama-sama terhubung oleh sepotong jalan ke daerah yang juga disebut Gambir. Persis sama seperti di Jakarta.
Pertokoan sepanjang setengah kilometer ini menjadi daerah perbelanjaan yang ramai dan populer di kota Kuching, terutama pada akhir pekan. Para pedagang asal India datang ke kota Kuching pada kira-kira dua abad lalu, dan berdiam di sebuah wilayah yang kini berada di antara Jalan Barrack serta Jalan Khoo Hun Yeang.
Di daerah kecil itulah mereka membuka perniagaan, antara lain toko kain cita, sutra, karpet, minyak wangi, rumah makan, dan lain-lainnya. Semula perdagangan di sana biasa-biasa saja akan tetapi kian lama kian maju seiring dengan kian meningkatnya volume perdagangan Serawak dengan Inggris. Meningkatnya pendapatan penduduk Kuching membawa dampak semakin ramainya perniagaan orang-orang asal India itu.
Orang-orang India itu pun kemudian membawa serta para kerabatnya untuk merantau ke negeri Serawak tersebut.
Komunitas India itu kemudian mendirikan mesjid di sebuah gang kecil, yang dulu dikenal dengan nama Lorong Sempit, agar tidak terlalu jauh untuk beribadah. Kini gang tersebut dinamakan Indian Mosque Lane. Gang kecil inilah yang menghubungkan daerah pertokoan orang India dengan Jalan Gambir hingga sekarang.
Jalan utama di tengah pertokoan itu semula disebut sebagai Keling Street di tahun 1850. Raja Serawak yang berasal dari Inggris, yaitu Charles Vyner Brooke, kemudian mengganti nama jalan yang bernada ejekan berbau rasis itu menjadi Indian Street pada tahun 1928 ( seribu sembilan ratus dua puluh delapan ), dan terkenal hingga sekarang.
Jalan utama itu sejak tahun 1992 ( seribu sembilan ratus sembilan puluh dua ) tertutup untuk kendaraan umum, dan menjadi jalur pejalan kaki, sama seperti di Pasar Baroe, Jakarta sekarang ini. Gapura sebelah barat di bangun mirip gapura Pasar Baroe Jakarta, yang bernuansa etnik Tionghoa, dan diujung jalan sebelah selatan diakhiri di gedung Little Lebanon, bangunan bergaya campuran Asia-Eropa dan Timur Tengah.
Saat ini pertokoan Indian Street di kota Kuching, Serawak, Malaysia Timur ini didominasi pedagang keturunan Tionghoa dan hanya sekitar sepuluh orang keluarga India yang tertinggal, yang membuka toko kain, restoran, dan usaha lainnya. Para pedagang asal India yang berhasil menjadi kaya raya, banyak yang pulang kembali ke negerinya dan tidak pernah kembali lagi.
Namun demikian para perantau asal anak benua Asia itu sebagian bertahan di kota Kuching itu memberi warna budaya tersendiri bagi Negara Bagian Serawak. Trjadi akulturasi budaya, antara lain diwujudkan dalam kesenian serta kulinernya.
Sejumlah pedagang keturunan India lainnya kini berjualan di sepanjang Jalan Gambir dan di pasar tradisional di daerah itu. Mereka umumnya berjualan rempah-rempah khas India seperti bubuk kari, biji dal, bubuk kunyit, ketumbar, cabe kering, ratus wangi, dan lain-lainnya.
Setelah Indian Street tersebut, maka Jalan Gambir kini memancarkan sisa-sisa pengaruh masyarakat India yang dulu pernah bermukim di Kuching. Mereka sebagian besar masih mempertahankan bahasa, adat-istiadat mereka. Pada siang hingga petang harinya mereka sering berkumpul di kedai-kedai India di pasar Gambir itu, menikmati kopi dan makanan lainnya.
Daerah Indian Street, Jalan Gambir dan sekitarnya terpelihara rapi, danmenjadi asset penting pariwisata kota Kuching. Wisatawan dapat dengan nyaman dan aman menikmati kota-kota tua peninggalan kolonial Inggris, baik yang memiliki pengaruh India maupun Cina. di beberapa tempat dipasang papan-papan informasi mengenai apa dan bagaimana Indian Street tersebut. Di ujung selatan terdapat satu gedung warisan kolonial yang terpelihara baik, dan dijadikan restoran Timur Tengah. Di selatannya lagi terdapat pecinan, di mana nuansa Tionghoa-nya amat kental terasa. Pada hari-hari besar Cina, pecinan ini ramai oleh berbagai hiasan dan atraksi seni lainnya. Persis seperti di Pasar Baroe, Jakarta kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ikan Bakar Mak Etek Pontianak

Warung ikan bakar Mak Etek (Si Paman kecil) di Pasar Menara, di tengah Kota Pontianak, Kalbar, ini sederhana saja. Tempatnya di tengah los-los pasar seperti yang lain. Tapi ketika kita mendekati warung milik Mak Etek yang nama aslinya Bagindo Alizar (82 tahun) ini, maka indera pertama yang terangsang adalah bau harum ikan bakar yang dijamin menggugah selera makan. Kemudian indra penglihatan segera menangkap kepulan asap tebal dari proses pembakaran ikan yang dikerjakan di samping warung itu. Warung berukuran empat kali sepuluh meter ini dipenuhi delapan meja plastik bundar, dengan masing-masing empat kursi. Hampir setiap saat meja-meja itu dipenuhi pelanggan yang begitu nikmat menyantap ikan bakar, ikan gulai, gulai petai, taoge rebus, daun ubi kayu. Suasana di warung ikan bakar Mak Etek bertambah khas dengan teriakan pelanggan yang meminta tambah nasi atau ikan, serta teriakan pelayan. Begitu riuh, dan berselera di tengah udara panas Pontianak yang berada di garis khatulistiwa, kendat…

Nasi Goreng Madura di Pontianak

Minyak Srimpi

Pada era 50-an tak banyak produk minyak wangi yang beredar di pasaran, terutama yang harganya terjangkau oleh mereka. Oleh karena itu, minyak pengharum badan itu banyak diproduksi perusahaan-perusahaan kecil guna memenuhi kebutuhan pasar akan pengharum. Oleh karena formulanya sederhana dan memakai bahan-bahan atau bibit minyak wangi yang terjangkau, maka dapat dikatakan hampir semua minyak wangi yang beredar waktu itu baunya nyaris seragam.           Satu merk yang popular pada saat itu, dan ternyata masih eksis hingga sekarang adalah minyak wangi cap Srimpi. Minyak ini dikemas dalam botol kaca kecil berukuran 14,5 ml, dengan cap gambar penari srimpi, berlatar belakang warna kuning.           Pada masa itu minyak Srimpi dipakai oleh pria maupun perempuan klas menengah di daerah-daerah. Baunya ringan, segar, minimalis, belum memakai formula yang canggih-canggih seperti halnya minyak wangi jaman sekarang.            Ketika jaman terus melaju, maka produk-produk minyak wangi yang lebih “…