Langsung ke konten utama

Postingan

MRT bisa bahayakan Kota Tua

            Tak dapat disangkal, Jakarta memerlukan sarana angkutan massal, Mass Rapid Transportation (MRT), guna meringankan beban kepadatan lalulintas di jalan raya. Mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo sudah menandatangani pembangunan MRT tersebut. Jalur MRT dari Lebak Bulus hingga Dukuh Atas berada di atas (elevated) sedangkan jalur dari Dukuh Atas hingga Kampung Bandan berada di bawah tanah (subway).             Jalur terowongan ini akan melewati bawah Sungai Kalibesar di Kota Tua Jakarta, kemudian berbelok ke arah timur di dekat Menara Syahbandar, Museum Bahari, menuju ke Kampung Bandan. Rencana ini dibuat oleh badan kerjasama internasional Jepang dan tengah dipelajari oleh Pemprov DKI Jakarta. Malahan dikabarkan PT KAI sudah menyiapkan stasiun Kampung Bandan.             Sejumlah konservasionis, p...

WNI pionir TCM, antikanker

Pria asal Sukabumi, Jabar, itu berpenampilan sederhana, dan berpembawaan tenang. Tapi siapa menduga? Bahwa ia adalah pelopor sistem pengobatan gabungan antara tradisional China dan modern di Indonesia? Jauh sebelum sistem TCM  ( Traditional Chinese Medicine ) itu sendiri mulai populer di Tiongkok? Malahan sejumlah dokter asal Tiongkok yang berpraktik di Indonesia sekarang ini, justru pernah “magang” di kliniknya di Sukabumi. Selain itu si pria, yaitu Dr. (HC) Haji Mochammad Yusuf, juga menemukan formula obat antikanker serta tumor berbasis bahan-bahan obat tradisional China pada awal tahun 1990. Begitu banyak klinik pengobatan tradisional asal China yang kini beroperasi di Indonesia terutama di Jakarta. Namun banyak orang yang tidak tahu bahwa pembuat obat antikanker yang sering menjadi spesialisasi mereka, adalah justru orang Indonesia asal Sukabumi, Jawa Barat, tersebut. Obatnya banyak digunakan di berbagai rumahsakit di Tiongkok. Dia pun setiap bulan pergi k...

Tiang kayu penopang kota Batavia

                Betapa megahnya gedung-gedung kuno peninggalan Kompeni Belanda di daerah Kota Tua Jakarta, ternyata bangunan-bangunan itu “hanya” ditopang oleh sejumlah tiang kayu (cerucuk).                 Cerucuk itu terbuat dari kayu jati tua dengan berbagai ukuran, yang ujungnya dipotong menajam seperti pensil, kemudian ditancapkan ke tanah. Ada kira-kira 10 hingga 15 batang kayu per meter persegi. Di atas cerucuk itu kemudian dibuat landasan kayu lagi dan dari sinilah gedung-gedung bergaya Eropa itu dibangun. Foto paling atas Kepala Balai Konservasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jaya, Drs. Chandrian Attahiyat menunjukkan kayu cerucuk yang sudah "membatu". Foto bawah (lihat bagian kanan) adalah cerucuk yang masih nampak kejataman potongannya.         ...

Sejarah, peran, Pura Pakualaman

BUKU Judul                            : Puro Pakualaman – sejarah, konstribusi dan nilai kejuangannya Penulis                         : Djoko Dwiyanto Penerbit                        : Paradigma Indonesia Jl. Waru N0.73B Sambilegi, Maguwoharjo, Yogyakarta Tahun terbit                   : 2009 Jumlah halaman            : viii + 467 Ukuran buku                  : 15,5 cm...