Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kuliner

Sederhana, Warung Soto Betawi Ini Bertahan 16 Tahun

Soto Betawi. Khas. Tekun. Tampaknya ini kunci bisnis yang ampuh. Di bidang bisnis makanan-minuman atau kuliner, ketekunan dalam menjajakan dagangannya menjadi kunci membentuk konsumen fanatik. Bila sudah mendapatkan pelanggan fanatik, maka bisnis pun lancar sambil terus membangun konsumen baru untuk masa mendatang. Apapun model rasa masakannya, bila terus dijajakan dalam lingkup konsumen tertentu, maka akan tercipta penikmat yang setia. Paling tidak itu yang dialami Abdul Gani (52 th) alias Bang Gani. Pria kelahiran Pisangan Baru, Jatinegara, Jakarta Timur, ini mampu bertahan 16 tahun berjualan soto Betawi di Depok Timur, Jawa Barat. Jangan dikira ia memiliki gerai mewah dan “heboh” dengan slogan aneh-aneh, tapi justru di pinggir jalan yang bukan jalan utama. Sederhana saja, tapi dari warung itu ia mampu mengantarkan   tiga anaknya berkuliah di universitas ternama. Warung di pinggir Jalan Danau Toba, hanya beberapa meter dari Jalan Raya Bahagia, dan menempel di pagar rum...

AS Panik Diserbu Monster Purba

Memang seram. Dalam keadaan tak berdaya dan matang, "monster" ini sebagai sisa zaman purba tampangnya tetap mengerikan.   Ini kejadian sebenarnya bukan hoax atau berita bohong. Baik pemerintah federal maupun negara bagian (terutama di pantai Timur) Amerika Serikat mengumumkan luas-luas bahaya ancaman monster predator yang merupakan spesimen peninggalan zaman purba 50 juta tahun silam. Predator yang digambarkan sangat ganas ini berpenampilan menyeramkan, mata besar melotot kehitaman dengan mulut lebar penuh gigi tajam berkilat. Ia akan melalap binatang apa saja sehingga predator seram dan sadis tersebut dianggap berbahaya bagi ekosistem oleh DNR atau Department of Natural Resources (Departemen Sumberdaya Alam) di banyak negara bagian Amerika Serikat. Siapa pun yang mampu menangkap monster predator   ini diharuskan langsung membunuhnya, membuat foto dan melaporkan posisi lokasi serta ukurannya, ke kantor DNR setempat. Begitu gemasnya pemerintah AS sehingga par...

Warteg "spiritual"

            Bentuk warung tegal (warteg) satu ini biasa saja, sederhana, mirip sosok warteg yang ada di Jabodetabek. Tapi jangan kaget, di warung makan satu ini pelanggan bisa bersantai sebentar, setelah menikmati makanan yang rasanya cukup enak, untuk membaca buku atau majalah yang ditaruh di rak di salah satu pojok warung. Jumlah koleksinya lumayan, ada puluhan judul. Ahmad (tengah) melayani pelanggannya dengan akrab             Bukan itu saja. Di warteg ini orang yang sedang galau bisa berkonsultasi dengan pemiliknya, Ahmad A. Rahman, yang di lingkungannya sering dipanggil “Mbah”. Berbeda dengan para penasehat spiritual tertentu yang menarik biaya di luar akal, Ahmad mengaku lebih sering memberi makan atau sekedar ongkos pulang “pasiennya”. Masalahnya yang datang berkonsultasi adalah para warga yang secara ekonomi, sosial, dan spiritual memang memerlukan bantuan bena...

Tongseng resep asli Solo

              Model tongseng di Jakarta umumnya didominasi oleh gaya Boyolali, kabupaten di sebelah utara kota Surakarta atau Solo. Ini tak terelakkan karena memang pedagang sate-kambing, gule serta tongseng umumnya berasal dari Boyolali, terutama di Kecamatan Glagahombo. Bu Eko memasak tengkleng dan tongseng             Secara turun-temurun mereka gigih berdagang sate-gule kambing di ibukota serta sejumlah kota besar di Jawa. Oleh karena itu lidah orang Jakarta sudah terpatri dengan resep tongseng Boyolali ini. Celakanya, pedagang sate-gule asal Boyolali memberi cap warung mereka dengan sate gule asal Solo.             Padahal resep tongseng di Boyolali berbeda dengan Solo. Wonogiri, kabupaten di selatan Sukoharjo juga memiliki resep yang berbeda dengan dua daerah itu. Maka dari itu bertual...

Mie Yogya Langganan Artis

-          Setiawan Jodhi, Abdel, dan artis populer lain pelanggan setianya             Warung mie Jawa satu ini tak punya nama atau merk apa-apa. Tempatnya agak terpencil di sudut barat pasar pisang Pisangan Lama, Jatinegara, sisi utara. Tapi warung ini nyaris tak pernah sepi pengunjung sejak mulai buka pukul 17.00 sampai 23.00. Istimewanya, para pelanggan setianya turun-temurun dari orangtua, anak, cucu, bahkan sampai ke cicit pula.             Bentuk warungnya pun tak banyak berubah sejak awal thun 1963, hanya ada perbaikan sekedarnya serta warna cat yang berganti-ganti. Warung mie Jawa gaya Yogyakarta ini dirintis oleh almarhumah Bu Marsiyem, sejak awal tahun 1956-an. Semula Bu Marsiyem berjualan di depan kantor Perusahaan Film Negara (PFN) di Jalan Otista, Bidaracina, Jaktim. Suaminya mem...