Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerpen

Badut di Ledseplein

Cerita pendek Ilustrasi - animasi oleh AS Oleh Adji Subela *) Setiap petang, ketika aku lewat di ujung Jalan Ledseplein, tepatnya di sebuah bundaran, kulihat banyak orang berkumpul di sana duduk-duduk sambil bercengkrama. Ada pasangan pria berkulit putih berpacaran mesra dengan seorang perempuan berkulit hitam, begitu pula sebaliknya. Ada pasangan hitam-hitam, putih-putih, tetapi tak ada yang berkulit sawo matang sepertiku. Paling-paling ada beberapa orang muda berkulit aneh, campuran antara hitam dan putih tadi. Anak-anak kecil berlarian di sekitar bundaran itu, bermain-main tanpa peduli siapa saja yang ada di sekitarnya. Kota Amsterdam seolah terwakili oleh bundaran di ujung jalan tersebut.            Mataku selalu menangkap segerombolan pria yang asyik mengobrol di satu sisi bundaran. Ada pria yang bertubuh tinggi besar, dengan rambut keriting berwarna cokelat serta berkumis tebal tanpa janggut. Setiap pagi hingga...

Saksi Bisu

Cerita pendek Oleh Adji Subela        Dua orang berlainan jenis itu masuk ke ruanganku. Tak dapat kutolak. Hari malam mengganas menafsui mereka, lalu keduanya lumpuh sejenak. Menarik nafas, berbenah, lalu pergi. Ini menyakitkanku.        Pada satu malam lain dua bulan kemudian, dua orang tersebut masuk lagi, duduk-duduk berhadapan. Dua tabung kecil minuman disedotnya. Wajah mereka memerah-merah. Mereka berkata keras-keras, berteriak, memekik, lalu tiba-tiba si pria berdiri lantas mencekik si perempuan. Perempuan itu lemas, kemudian pria berlalu acuh-tak-acuh. Keluar.        Pria lain lagi, buruk rupanya, datang kemudian ketika malam kian larut menggubrak-gubrak pintuku, mengintip penuh selidik ke dalam ruanganku. Dia tertegun, lantas menyelidik sedapat-dapatnya. Ia terhenyak, lari menjauh. Malam berikutnya sepi.        Malam ber...

Rumah di akhir jalan tak berujung

Cerita Pendek Oleh Adji Subela     Panas membakar. Terik. Tak ada terdengar suara orang-orang. Burung-burung  pun semuanya membisu. Dan jalan itu lurus membujur kaku menuju arah yang jauh sekali. Sepotong jalan tanah, sempit berdebu seolah tergolek tak berdaya didera siang jahanam.     Rel kereta api yang sudah tak terpakai lagi di samping jalan pun tergeletak teramat kaku, seolah meluncur ke arah jauh tak terlihat, tak terduga.    “Kak, aku haus…,” keluh si Kecil.    “Sebentar Dik, sudah dekat tak jauh lagi..tahanlah,” kata Kakak membujuk.    “Tak ada air minum, Kak? Aku haus sekali.”    “Nanti ya Dik,” bujuk Kakak lagi. Ia sendiri pun merasa sangat haus, haus luar biasa. Tak ada air, tak ada rumah orang tempat ia hendak meminta air minum. Kakak teramat bingung. Hendak ke mana meminta air? Ke mana mereka akan pergi? Kakak tak tahu. Ia hanya akan berjalan ke arah mana saja, ke mana saja dua kaki kurusnya mem...

Dana Taktis Jande Mude

Cerpen Cerita Pendek Betawi ini mendapatkan gelar Juara III dalam Lomba Cerpen Betawi Lembaga Kebudayaan Betawi tahun 2005. Oleh Adji Subela Kampung Rawa yang biasanya adem-ayem aja, belakanganini rada-rada rungsing. Ibu-ibu rumah tangga bawaannya renyem, malah ada yang maunya bekaokan mulu kayak orang kesambet jin baghdad. Ini semua gara-gara kehadiran janda muda yang lumayan bahenol, yang ngontrak di rumah bedeng punya Haji Mamid. Saban pagi anak-anak sekolah yang laki pada bererot ngintipin kamar mandi si janda muda. Kalu dianya pergi mau kerja kek, mau ke pasar kek, mereka pada ngintilin jauh dari belakang kayak laler kurang kerjaan. Si janda itu Isah namanya, emang bener-bener resep diliatinnya. Senyumnya percis kayak Britney Spears, bodinya boto, boncengannya radial. Rambutnya bole dibilang ikel mayang. Kapan dianya lewat di jalan atawa di gang, baunya minyak wangi Air Mata Duyung ngeluber ke mana-mana. Bau parfum itu jatuhnya kayak minyak...

CERITA PENDEK

Nabi Perlu Celana Baru Oleh Adji Subela Ia sudah berputus asa. Tak ada lagi tersisa harapan agar cucunya hidup layak untuk keesokan harinya. Ia sudah ingin mati, tapi tak tahu cara bagaimana agar apa yang diinginkannya itu dapat terkabul. Bahkan untuk mengakhiri hidupnya yang bopeng itu pun ia benar-benar sudah tak mampu lagi. Nenek itu sudah tak tahan lagi melihat cucunya hidup seperti daun kering tertiup angin. Anak itu sudah sejak di dalam kandungan ibunya – anak perempuannya – selalu menuai masalah musykil. Siapa ayah anak itu tidak pernah jelas. Ah, ini cerita lama. Pria yang datang kemudian bersama si ibu anak itu, berbuat seolah-olah ialah ayahnya. Ketika adiknya kemudian lahir, pria itu cepat sekali menghilang, tak pernah terdengar kabarnya. Itu pun cerita lama pula. Hal baru yang harus mereka terima, adalah ketika ibu si anak itu pulang kembali ke rumah si nenek dengan perut besar lagi. Adik si cucu, jadi yang kedua...

Cerpen - 11

Matahari Malas Mendaki Langit Oleh Adji Subela Pagi itu adalah pagi yang paling panjang dalam hidup seorang budak kecil, Udin. Matanya yang jernih berkilat meluapkan rasa keheranannya. Matahari tak pernah naik dari batas cakrawala timur dan ia diam malas mengambang di sana. Arloji orang-orang sudah menunjukkan hari pukul dua belas siang. Surya itu tak pernah merambat naik ke lengkung langit di atasnya! Aneh, sungguh ajaib sekali! Terlebih aneh lagi, orang-orang tak pedulikan hari pagi yang berkepanjangan itu. Semua sibuk, sibuk lalu sibuk lagi. Ada yang sibuk bermalas-malasan, ada yang sibuk lelap tidur dan ada yang sibuk bingung ke sana ke mari tanpa tujuan jelas. Satu dua orang sibuk melamun memandangi langit yang selalu pagi itu dengan mata bulat tanpa menggerakkan kelopak atau pun bulu matanya. Keheranan Udin kian memuncak. Tetangganya acuh tak acuh, bahkan emaknya pun tak pernah hirau bola bulat yang suka membakari langit setiap hari itu. Hati Udin lalu menggele...
Cerpen Flamboyan di Kaki Bukit (Kris, selamat jalan!) Oleh Adji Subela Bunga flamboyan itu berseri-seri menyambut senja hari. Dari tepi jalan yang beraspal, dan melingkari bukit hijau, pohon-pohon yang kini sedang birahi itu nampak menghambur warna merah menyala-nyala di jauh di bawah sana, membakari hati yang terkena panah Dewa Cupido. Ketika angin senja mengembus pelan, daun-daun bunga itu terburai lalu jatuh melayang-layang menuruni bukit menuju lembah di bawah sana, entah di mana, dan sebagian lagi menebari pipa distribusi minyak mentah yang menghitam, meliuk-liuk kaku. Sinar matahari senja yang layu itu menguningi hijau pupus daun-daun flamboyan tadi dan menyoreti batang dahan dan pohonnya dengan arsir-arsir kuning emas kemilauan. Goresan-goresan van Gogh! Di belakang sana, jauh di angkasa, langit sudah mulai membeku, bagaikan kanvas raksasa biru gelap dengan tumpukan awan jingga di sana sini, seolah maha karya Monet melengkungi kanopi langit. Atau sebuah Raden Saleh Bustaman, ata...