Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Seni

Rumah di akhir jalan tak berujung

Cerita Pendek Oleh Adji Subela     Panas membakar. Terik. Tak ada terdengar suara orang-orang. Burung-burung  pun semuanya membisu. Dan jalan itu lurus membujur kaku menuju arah yang jauh sekali. Sepotong jalan tanah, sempit berdebu seolah tergolek tak berdaya didera siang jahanam.     Rel kereta api yang sudah tak terpakai lagi di samping jalan pun tergeletak teramat kaku, seolah meluncur ke arah jauh tak terlihat, tak terduga.    “Kak, aku haus…,” keluh si Kecil.    “Sebentar Dik, sudah dekat tak jauh lagi..tahanlah,” kata Kakak membujuk.    “Tak ada air minum, Kak? Aku haus sekali.”    “Nanti ya Dik,” bujuk Kakak lagi. Ia sendiri pun merasa sangat haus, haus luar biasa. Tak ada air, tak ada rumah orang tempat ia hendak meminta air minum. Kakak teramat bingung. Hendak ke mana meminta air? Ke mana mereka akan pergi? Kakak tak tahu. Ia hanya akan berjalan ke arah mana saja, ke mana saja dua kaki kurusnya mem...

Asap

Cerpen Aaaaaaaaa......(Foto Agus Prasetyo) Oleh Adji Subela Asap abu-abu tebal mencekik kota, memburam pandang orang-orang. Dua oplet telah bertabrakan adu kambing di pagi hari karenanya, dan Arsan pun telah menubruk Rinem, bergulat dengan penuh nafsu ......di ranjang!! Asap Riau belakangan ini memekat, mengental menggayuti udara. Tangan-tangan usil-jahat menyuluti semak-semak tak berdosa yang telah merana gering disengat matahari kemarau. Dan traktor-traktor loba menggerogoti pokok-pokok kayu, humus, lalu menghangusi hutan-hutan orang dalam, agar cepat mereka membuka lahan perkebunan uangnya dengan murah. Kita telah digiling, dilumat lumer untuk sebuah kata sakral: Pembangunan. Pembangunan yang tak pernah melirik nasib kita – baru meminang otonominya – dan hasilnya: Arsan masih juga menganggur setelah dipehaka oleh kontraktor tempatnya bekerja dulu, dan Rinem tersuruk di satu tempat yang penuh nafsu, kebohongan, pura-pura,

Dana Taktis Jande Mude

Cerpen Cerita Pendek Betawi ini mendapatkan gelar Juara III dalam Lomba Cerpen Betawi Lembaga Kebudayaan Betawi tahun 2005. Oleh Adji Subela Kampung Rawa yang biasanya adem-ayem aja, belakanganini rada-rada rungsing. Ibu-ibu rumah tangga bawaannya renyem, malah ada yang maunya bekaokan mulu kayak orang kesambet jin baghdad. Ini semua gara-gara kehadiran janda muda yang lumayan bahenol, yang ngontrak di rumah bedeng punya Haji Mamid. Saban pagi anak-anak sekolah yang laki pada bererot ngintipin kamar mandi si janda muda. Kalu dianya pergi mau kerja kek, mau ke pasar kek, mereka pada ngintilin jauh dari belakang kayak laler kurang kerjaan. Si janda itu Isah namanya, emang bener-bener resep diliatinnya. Senyumnya percis kayak Britney Spears, bodinya boto, boncengannya radial. Rambutnya bole dibilang ikel mayang. Kapan dianya lewat di jalan atawa di gang, baunya minyak wangi Air Mata Duyung ngeluber ke mana-mana. Bau parfum itu jatuhnya kayak minyak...

Dewa yang Bersemayam di Atap Rumah

Cerpen Oleh Adji Subela Aguan berdiri mematung di beranda rumahnya. Ia berharap ada uang jatuh dari langit. Dua juta saja, tak usah banyak-banyak. Tiba-tiba, jatuhlah uang dua juta rupiah kontan di dekat kakinya! Pria itu terkejut bukan alang kepalang. Tapi, terus terang saja, ia bergembira sekali. Ia masih sempat menoleh ke tepekong tempat abu leluhurnya disimpan. "Aneh," pikirnya, "aku belum lagi sempat berdoa minta uang, sudah jatuh pula ia ke sini". Uang itu terdiri dari dua ikatan, masing-masing sejuta rupiah, dililit pakai label bercap huruf Cina. Dari sebuah bank di Guangdong! Rezeki itu disimpannya di laci mejanya. Tiba-tiba ia terperanjat, akalnya mulai bicara. "Mana mungkin bank Guangdong mengikat uang rupiah?" gumamnya. "Ah, bisa saja. ‘Kan bank-bank selalu menyimpan mata uang asing," dengus tepian lain dari hatinya. Aguan keluar lagi ke beranda rumahnya. Di luar hujan masih rajin mengguyuri jalanan di dep...

Mari Berkorups!

Cerpen PENGANTAR: Cerita pendek ini pernah dimuat di harian Sinar Harapan, Jakarta, Sabtu, 20 Desember 2003 di Halaman 12, juga dikutip di berbagai situs lainnya. Kini cerita saya turunkan lagi di blog ini gara-gara gegap-gempita masalah korupsi dan bagaimana wajah intitusi-institusi penegak hukumnya saat ini. Selamat mengikuti. Oleh Adji Subela Ketika larangan itu anjuran, saat hukuman cuma senyum kecil di bibir manis dan tatkala dosa dan neraka cuma kata-kata kempis di mimbar khotbah, maka Tengul berteriak-teriak di Bundaran di depan Hotel Indonesia, di bawah lambaian Patung Selamat Datang, melambai orang-orang lewat untuk menggalakkan hidup berkorupsi. Sewaktu seorang sahabatnya menyebutnya gila dan bisa dituntut karena menganjurkan orang lain untuk melanggar hukum, Tengul cuma nyengir menangkis: “Siapa sih manusia yang paling bersih di negeri kita? Hayo?” Belakangan ini gejolak batin Tengul memang tak terkira-kira besarnya. Sering ia merasa eneg hendak muntah mendengar t...

Seekor Kucing Kurus

Cerpen Oleh Adji Subela “Rakus!!” dengus seekor kucing kurus kecil di meja di depanku, setelah sebelumnya mengeong-ngeong melihat aku lahap memakan sebongkah daging panggang lezat tanpa menoleh ke sana dan ke mari, lalu ia melompat dengan sisa tenaganya sebelum mati kelaparan, dan ternyata yang dilihatnya kemudian cumalah setumpuk tulang licin, dan bahkan bagian rawannya pun telah tandas habis kugilas. Semula ia masih mencoba menggigiti tulang-tulang licin tadi dengan taring-taringnya. Sebuah usaha yang sia-sia dan bodoh, walau pun untuk usahanya itu ia pantas disemati medali kegigihan. “Rakus!!” seringainya dengan bersit kebencian padaku. “Bawel!! Kucing kurus tak berguna!” balasku, tak kalah-kalah pula benciku. “Lihat, bahkan makhluk yang tertinggi derajatnya di dunia ini pun tak menyisakan rejekinya buat si miskin dan si kelaparan seperti kita,” adunya kepada seekor cicak, yang setelah mendengarnya, lantas tertawa terkekeh-kekeh, setengah takut jangan-jangan dirinya kemudian...

Tuan Stalin

Oleh Adji Subela Memasuki kompleks X (maaf, nama ini untuk sementara tak kusebut) kakiku amat ringan melangkah. Ini sebuah komplek besar terdiri dari sejumlah gedung besar, kuno, bertembok tebal, kukuh sekali. Di halamannya yang sangat luas tumbuh pohon besar-besar, teduh suasana dibuatnya. Aku sekarang berdiri di sebuah lorong bersih, bertegel mengkilap, dan berwarna agak suram. Engkau dapat menjadi siapa saja di sini. Betul! Aku mencoba menjadi Newton, dan terjadilah! Sebutir kerikil, meski bukan buah apel, (tapi kuanggap kerikil itu apel karena beberapa waktu sebelumnya aku pernah makan benda seperti itu dan ternyata rasanya segar juga) kujatuhkan dari tangan lalu memang benar-benar sampai ke lantai, persis di dekat kakiku. Kucoba menjadi Pavarotti. ( Catatan: Tenor itu telah mati belum lama ini). Suaraku betul-betul merdu. Bergaung seperti di teater La Scala. Waktu itu memang tak ada tepuk tangan apalagi suit-suit, tapi bukan soal benar. Langkah kulanjutkan siapa tahu bisa me...