Langsung ke konten utama

Postingan

Zona NASI KEBULI Jakarta

Popularitas nasi kebuli kian menanjak, kendati bagi warga Betawi, masakan asal Timur Tengah itu menjadi semacam “menu wajib” dalam pesta-pesta mereka sejak dulu. Ini karena persinggungan budaya mereka dengan Arab lewat jalur keagamaan, kekeluargaan, dan perdagangan.             Selain bumbunya yang tajam, spicy kata orang Barat, setiap keluarga keturunan Arab pun memiliki gaya memasak nasi kebuli masing-masing. Inilah yang mengasyikkan, karena setiap kita menikmati nasi kebuli, maka akan tampak dari mana atau buatan siapa menu nikmat berbahan dasar daging kambing atau domba tersebut. Mirip masakan opor, di mana tiap keluarga punya style masing-masing.             Oleh karena masakan ini berasal dan dibawa oleh orang-orang Arab dari tanah leluhurnya, maka dapat dipastikan, warung atau restoran yang menyajikan nasi kebuli tentulah berada di mana populasi keturunan Arab...

Bu Haji, Ibu Para Seniman TIM

                 Warung para seniman beken    "Galeri luar" mahasiswa IKJ                 Menjelang bulan puasa tahun 1433 H ini tepat setahun Bu Haji yaitu “Ibu” para seniman besar Jakarta yang dulu sering “mangkal” di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, meninggal dunia.             Dapat dikatakan, ialah tokoh di luar bidang seni atau birokrasi yang membesarkan para seniman tersebut yang kemudian nama mereka berkibar di forum nasional maupun internasional. Hampir semuanya mengenal Bu Haji. Sehingga Bu Haji inilah yang benar-benar menjadi ibu bagi para seniman besar – sebagian kini telah tiada – ketika mereka masih merintis karir seninya. Bu Haji menjadi tempat berlindung, tempat berkeluh-kesah, terutama – apalagi – kalau bukan soal uang dan ...

Glodok Harco sepi hobbyist

                Pertokoan Glodok Harco begitu kondangnya hingga dari dekade 70 hingga 80-an banyak pengunjung luar kota menyempatkan diri ke daerah ini mencari barang-barang elektronik bermerk dengan harga miring. Di seberang Glodok Harco atau di sisi barat Jalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk terletak pertokoan Glodok Building yang tersohor dengan produk tekstil lokal maupun impor.                 Tidak heran jika sekarang pun di berbagai pelosok Jabodetabek bermunculan toko peralatan listrik dengan memakai kata Glodok sebagai merknya, untuk sekedar numpang beken dari nama besar Glodok Harco itu.                 Daerah Glodok yang terletak di wilayah Pecinan, Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat, ini terkepung oleh beberapa jalan ekonomi penting yaitu...

13 Hari tegang sekitar Suharto lengser

BAGIAN-15 – Epilog Tiba-tiba aku teringat pada masa-masa pacaran kami di sepanjang jalan menuju ke kompleks perumahan Akademi Ilmu Pelayaran (AIP) di tepi Kali Ancol dahulu. Bunga flamboyan yang tumbuh di tepi kali bermekaran merah menyala ria, lalu berguguran disentuh angin, seakan menaburi jalan kami dengan lambang cinta dan kasih sayang kami berdua – aku dengan seorang taruna AMN (Akademi Militer Nasional) yang jangkung, pendiam dan cerdas: Johny Yosephus Lumintang. Saat itu pada Ulang Tahun Perkawinan kami yang ke-25 (pada 2012 ini berarti sudah 39 tahun, red )  kami benar-benar diuji oleh Tuhan. Sekarang ini, saat ini, aku sangat bahagia dapat melewati waktu-waktu sulit itu dan dapat merayakan Ulang Tahun Perkawinan kami setiap tahun hingga kini, disaksikan oleh anak-anak, cucu-cucu kami, serta para saudara dan handai taulan semuanya. Selama ini sejak perkawinan kami, aku dan JL telah melewati masa-masa yang sulit, penuh onak dan duri dengan gelombang kehidupan...

13 Hari tegang sekitar Suharto lengser

-           BAGIAN-14 – Hari ke-13, 23 Mei 1998 : “Petir” datang: suamiku diganti Malam bergulir melewati pukul 24.00 dan datanglah pagi 23 Mei 1998. Sulit mataku memejam sejak semalam walaupun suamiku dilantik menjadi Panglima Kostrad. Sejumlah pertanyaan masih bergayutan: Berhasilkah dia menjalankan tugasnya mengeluarkan para mahasiswa dari Senayan? Atau gagalkah dia? Apakah keadaan semakin memburuk? Pertanyaan ini terus mengaduk-aduk pikiranku. Ketika pagi semakin menggelinding, aku pun jatuh tertidur. Tibat-tiba pada pukul 02.30 ponselku berdering berkali-kali. Aku bangun meraihnya. Ternyata dari suamiku yang sedang bersusah-payah menjalankan tugasnya selagi penduduk Jakarta masih terlelap dalam tidurnya. “Mah, doa kita dikabulkan, mahasiswa sebagian besar sudah keluar,” katanya. Para mahasiswa itu memilih menggunakan kendaraan Korps Marinir daripada milik Kostrad yang sudah disediakan. Ia bercerita tak ada insiden apa-...

13 Hari tegang sekitar Suharto lengser

-           BAGIAN-13 – Hari ke-12, 22 Mei 1998 : Suamiku jadi Pangkostrad Pagi hari ini aku sudah punya rencana yang pasti yaitu mengontak suamiku, JL, di kantornya lewat ponsel. Tentu saja aku sampaikan pula permintaan maafku karena aku telah “kabur” tanpa sengaja dari rumah mertua. Tapi ada satu hal penting yang ingin ku- check kembali kepada JL, yaitu kabar mengenai diangkatnya dia menjadi Panglima Kostrad menggantikan Panglima waktu itu yaitu Letjen TNI Prabowo yang juga menantu Presiden Suharto. Kabar itu justru kudapatkan dari kakak iparku, Willy Lumintang. Semalam ia menelepon aku guna mengatakan bahwa suamiku akan menjadi Pangkostrad. Dari mana ia tahu kabar itu kakak iparku tak mau bercerita sama sekali. Panggilan ponselku kepada JL sampai pula padanya segera pagi itu. Lalu kuceritakan apa saja yang aku alami kemarin termasuk kelupaan berpamitan kepada mertua. Kukatakan kepadanya kalau Willy mendengar adiknya aka...