Kongres Pelacur se Dunia (Bag.9-Selesai)




Siapa Pelacur Sesungguhnya?


Oleh Adji Subela

Novelis, feminis,asal Mesir, Nawal El Saadawi: "Pelacur itu hanya korban"

Selama beberapa waktu pembaca sekalian saya suguhi apa-apa saja yang terjadi selama Kongres Pelacur se Dunia II di Brussels, Belgia. Semoga artikel ini menghasilkan manfaat bagi Anda sekalian dan saya mengucapkan terimakasih kepada para pembaca yagn setia mengikutinya.
Pelacuran disebut sebagai sebuah profesi tertua di dunia, akan tetapi “penyakit” ini tentu tak boleh dibiarkan. Berbagai usaha dilakukan sepanjang waktu untuk memberesi, dan selalu gagal. Faktor utamanya ibarat berjual-beli, permintaan atas jasa seksual ini (demand) masih tinggi sehingga perlu supply.
Razia terhadap PSK (Pekerja Seks Komersial) gencar dilakukan di sejumlah kota.
Di layar kaca TV nampak mereka diuber-uber, diseret, bahkan dipukuli serta ada yang pernah diperas oleh para oknum Tramtib (Satpol PP).  Malahan sejumlah kabupaten/kota mengeluarkan Perda (Peraturan Daerah) yang melarang praktik pelacuran semacam itu. Tapi selalu berat sebelah. PSK senantiasa menjadi korban, sedangkan pembinaan yang mendasar, konseptual, serta dengan pendekatan holistik masih minim, sementara sadar atau tidak, pemerintah daerah menikmati perputaran ekonomi dan tertolong dalam masalah ‘mengurangi penganggurannya’.
            Hasil penelitian para ahli yang disponsori Organisasi Buruh se-Dunia (ILO – International Labour Organization) menunjukkan, pelacuran di Indonesia disebabkan pula oleh unsur budaya lama seperti mengambil gundik, selir, dan sejenisnya, di mana perempuan tetap sebagai sub-ordinat yang selalu menuruti dikte kaum lelaki yang selalu diunggulkan dan didewakan.     
            “Pelacur itu hanya korban,” ujar perempuan novelis asal Mesir, Nawal El Saadawi, dalam ceramahnya di Galeri Nasional, Jakarta, tahun 2006 lalu. Hal itu diungkapkan Nawal, menjawab pertanyaan peserta sebuah seminar.
The Sex Sector
Organisasi Buruh Internasional (ILO) sudah memasukkan pelacuran sebagai sektor industri yang menghasilkan perputaran ekonomi signifikan. Di sebuah lingkungan pelacuran semacam itu, terkait berbagai usaha yang mendukungnya, seperti salon/barber shops, panti pijat, penjualan kosmetik dan obat-obatan, jasa transportasi serta berbagai jenis jasa lainnya. Sebuah survai di tahun 1994 menunjukkan, jumlah PSK di Indonesia dari tingkat rendah hingga tinggi mencapai 71.281 orang. Itu yang terekam. Perputaran uangnya diperkirakan terendah 1,18 milyar dolar AS per tahun, serta perkiraan tertinggi mencapai 3,3 milyar dolar AS.  (Gavin Jones, dkk, dalam The Sex Sector, ILO, 1998).
Penelitian itu menyimpulkan bahwa besarnya perputaran uang dalam industri seks di Indonesia, antara lain karena  tingginya permintaan layanan seks dari para pria Indonesia yang jumlahnya minoritas saja. Kita selama ini melihat, kelompok pria pelanggan seks tersebut justru tidak pernah disentuh dalam siraman rohani, jarang dihukum, dan selalu lolos dari kebijakan pemerintah mengenai ‘pembinaan akhlak bangsa’.
Pemerintah daerah, pada dasarnya ikut ‘menikmati’ pertumbuhan sektor industri seks antara lain berupa meningkatnya pendapatan rakyat dari sektor ini, memutar roda kecil ekonomi daerah mereka, serta ‘mengurangi pengangguran’. Bahkan nampaknya sektor ini tidak terpengaruh oleh krisis ekonomi tahun 1997 yang lalu, tapi belum terbaca apakah sektor ini justru berkembang saat itu. Memberantas pelacuran berisiko pada Pemerintah Daerah yang harus mencari kompensasi pendapatan sektor ini. Dari uraian sebelumnya jelas bahwa kita harus menyediakan lapangan kerja yang menjamin kehidupan para ex-pelacur.
ILO menganggap pelacuran adalah sebuah dilemma karena begitu rumit permasalahannya dan organisasi ini tidak dalam posisi untuk merekomendasikan apakah pelacuran perlu dilegalkan atau tidak, tapi lebih karena menyangkut perputaran ekonomi yang besar, hak-hak asasi manusia mendasar, pekerjaan, dan kondisi pekerjaan mereka.
Dalam beberapa wawancara saya dengan para PSK di berbagai tempat, mereka menganggap menjadi pelacur memang bukan pilihan. Mereka menginginkan pekerjaan yang benar, asal ada kesempatan. Hasil-hasil penelitian para ahli antara lain menyebutkan tekanan ekonomi dan keterbatasan ketrampilan, modal, dan akses pemasaran, membuat mereka terjun ke dunia hitam itu.
Kenalan saya, seorang ustadz yang rajin memberi bimbingan rohani di panti rehabilitasi, mengakui bahwa umumnya mereka sadar akan kekeliruannya, dan sering menangis sesudah mendapatkan siraman rohani. Yang menyedihkan, ia sering bertemu lagi dengan wajah lama, dengan alasan tak menemukan pekerjaan yang memadai, dan sulit masuk ke komunitas baru.

Razia PSK
Selama bulan Ramadhan tahun 2006 lalu sejumlah stasiun TV menyiarkan banyak razia untuk menggaruk PSK di jalanan dan hotel kecil-kecil. Usaha mulia itu pada galibnya sekedar retorika guna menjawab tuntutan kelompok agama dan masyarakat untuk ‘memperbaiki akhlak bangsa’. Solusi manjur jarang dilakukan, kecuali tambal-sulam, itu pun jarang berpihak pada posisi PSK-nya, dan lebih suka menghukum mereka yang sebenarnya korban dari masyarakat dan perekonomian yang sakit keras tersebut. Alih-alih menjawab tantangan yang rumit dan berat, penguasa cukup ‘membangun citra’ lewat penampilan di TV, seperti trend politisi jaman sekarang. Dalam kadar tertentu, para politisi itu juga telah ‘berbohong’, seperti yang diamati Norma Jean Almodovar.
Novelis yang juga feminis asal Mesir, Nawi Al Saadawi, menjawab pertanyaan peserta Konferensi Perempuan Penulis Lakon Internasional di Jakarta, Senin (20/Nov/06) mengenai masalah itu berkata, PSK itu adalah korban sistem paternalistik serta tekanan ekonomi. “Mereka turun ke jalan sekedar untuk memberi makan anak-anaknya,” ujarnya. Tapi masyarakat justru menghukum korban itu dan tidak pernah menyentuh para pria pelanggannya.
Kini sudah banyak LSM yang bergerak membina para PSK, namun laju keberhasilannya masih kalah oleh deru kesulitan ekonomi, dan minimnya kebijakan mendasar yang diletakkan Pemerintah Daerah, yang dalam hal ini dapat kita sebutkan sebagai: Selalu gagal.
Mari mulai sekarang kita mengamati: Siapa pelacur yang sesungguhnya?

SELESAI
        Semoga rangkaian artikel ini dapat menjadi inspirasi pembaca sekalian. Saya tidak punya rekomendasi apa-apa, hasil renungan Anda sekalian yang menentukannya. Semoga Allah SWT melindungi kita semua dari adzab api neraka di akhir zaman nanti. Amien ya robbal alamien.



                                   

Kongres Pelacur se Dunia (Bag.9-Selesai)

Kongres Pelacur se Dunia (Bag.9-Selesai) ditulis oleh
10/10 based on 10 ratings from 10 reviewers
Ayo berkomentar dengan baik!
Komentar menggunakan sistem moderasi. Gunakan nama asli / alias untuk berkomentar, bukan judul post atau nama produk. Komentar dengan link mengarah ke post / produk mungkin tidak akan ditampilkan. Berkomentarlah dengan bahasa yang sopan, terima kasih.

0 comments:

Posting Komentar